CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Kegelisahan Alarik dan Syadev


__ADS_3

Deby rupanya juga memiliki sebuah tempat yang ada beberapa alat canggih, walaupun tidak secanggih milik Sagara akan tetapi sudah cukup lumayan.


"Pertama kita harus bagaimana?" tanya Deby pada Saga.


"Kalian cukup duduklah, biar aku saja yang bertindak," jawab Sagara santai.


Yudis memilih tidur, sedangkan Arka memainkan game di ponselnya.


Sagara mencoba meretas komputer milik Roji, rupanya keamanan semakin diperkuat sehingga Sagara yang otaknya jenius masih kesulitan.


"Saga, apa kamu butuh bantuan?" tanya Deby.


"Sudah abaikan saja, tidak ada yang tidak mungkin untuk Sagara," sela Arka fokus pada game nya.


"Sebaiknya kita susun rencana bagaimana?" saran Yudis terbangun dari tidurnya.


"Kamu benar," jawab Deby.


"Karena markas Roji merupakan tempat yang biasa digunakan untuk perjudian, sebaiknya dua orang berperan sebagai sepasang orang kaya dan juga duanya lagi sebagai pengawal," saran Yudis.


"Aku mau jadi orang kaya, karena nanti saat judi aku nggak mau ambil resiko kalah. Karena taruhannya pasti besar. Dan posisinya sekarang kita sedang tidak ada simpanan uang," sela Arka.


"Yah benar, soal kelicikan aku tahu kamu jagonya," jawab Yudis langsung setuju.


"Jadi aku dan Saga menyamar sebagai pengawal biar kalian tampak keren dan kaya raya," balas Yudis.


"Tapi uangnya dari mana untuk judi?" tanya Arka.


"Kita minta pada Pak Martin lah," sergah Yudis.


"Jadi kapan kita beraksi?" sela Deby gak sabar.


"Kita tunggu hasil Saga dulu," jawab Arka.


"Tapi malam ini waktunya begitu mepet, bagaimana kalau besok saja? Mumpung malam Minggu jadi kita tidak masuk sekolah dan siangnya istirahat panjang," saran Yudis.


"Iya, karena kita juga harus membawa banyak persiapan," balas Deby.


"Saga, bagaimana? Sudah belum?" tanya Arka.


"Sebentar," jawab Sagara masih fokus.


"Hacker yang bekerja di kepolisian saja masih belum berhasil, wajar kalau Sagara juga kesulitan," ujar Deby.

__ADS_1


"Kamu belum mengenal Sagara," ejek Arka.


"Yups... Aku dapat. Ternyata lumayan jauh juga. Kita harus menyeberangi lautan. Karena letaknya di sebuah pulau terpencil," teriak Saga puas.


"Wow, hebat," puji Deby.


"Apa aku bilang, jangan meremehkan cucunya kakek Syauqi," jawab Arka bangga.


*******************************


Hari berikutnya pukul tujuh malam ketiga generasi Syauqi sudah dijemput oleh bawahan Martin.


"Di mana Deby?" tanya Arka pada sopir.


"Sedang dandan, kalian juga diminta untuk berganti pakaian," jawab sopir tersebut.


Sesampainya di rumah Martin, betapa terkejutnya ketiga generasi melihat tampilan Deby. Karena biasanya gadis tersebut tomboy tapi kali ini memakai gaun merah yang sangat seksi.


"Astagfirulloh," ucap Yudis.


"Kenapa berpakaian seperti ini?" tanya Arka tak rela tubuh Deby di lihat orang lain.


"Aku kan Nyonya kaya, tentu saja berpakaian seperti ini," jawab Deby santai.


"Santai saja, aku pakai stoking," jawab Deby membuka ujung gaunnya, dan di antara pahanya ada dua pistol yang terselip.


"Wih, berbahaya sekali," gumam Yudis.


"Kalian juga gantilah," ucap Martin harap-harap cemas.


Ketiga generasi Syauqi segera berganti pakaian, Arka memakai jas merah senada dengan warna gaun milik Deby. Sedangkan Yudis dan Sagara memakai jas hitam layaknya body guard.


"Siapa yang menyangka jika kalian ini masih SMA. Kadang bapak berharap kalian bisa bergabung dalam kepolisian pasti akan keren," gumam Martin.


"Kami belum minat, karena misi ini hanya hoby untuk bersenang-senang," jawab Arka.


"Semua yang kalian butuhkan sudah ada di dalam mobil. Pakailah jam tangan ini, yang lampu merah untuk merekam sedangkan yang biru untuk menyambungkan telepon," sela Martin. Petugas kepolisian akan menunggu di dalam kapal selam, termasuk aku juga akan segera menyusul. Jika ada apa-apa langsung kabari!" perintah Martin.


"Siap," jawab mereka serempak.


Begitu mobil yang membawa ketiga generasi Syauqi dan juga Deby. Martin yang hendak masuk ke dalam rumah justru di sergap dengan pisau tajam.


"Di mana anakku?"

__ADS_1


Martin langsung berkeringat dingin melihat sosok yang berdiri di sampingnya.


"Tuan Syadev, Tuan Alarik," balas Martin meringis.


"Pak Martin, kenapa Anda melibatkan anak-anak yang masih sekolah dalam tugas yang sangat berbahaya ini?" tanya Alarik lebih kalem.


"Maaf, tapi hanya mereka yang sepertinya mampu melawan kelicikan Roni," jawab Martin ketakutan.


"Tapi mereka masih kecil dan belum berpengalaman,"


Sergah Syadev dingin.


Untung saja Kaysa tadi mamancing anak-anak, jika tidak maka hal ini tidak akan diketahuinya.


Tadi Syadev berniat ke asrama, akan tetapi melihat anak-anak seketika langsung curiga dan mengajak papinya Arka untuk menyusul.


"Sekarang mereka di mana?" tanya Syadev tidak sabar.


"Mereka sudah berangkat menuju markas Roji," jawab Martin.


"Astaga... Anda ini sebagai kepala kepolisian kenapa begitu ceroboh. Berikan alamatnya sekarang juga!" pekik Alarik mulai marah.


"Saya lagi mau berganti seragam, mari kita pergi ke sana," balas Martin.


Syadev langsung menyimpan lagi pisaunya. Sebagai orang tua tentu saja tidak bisa untuk tidak khawatir melihat putra mereka dalam keadaan bahaya.


"Kak Al, aku ada firasat buruk. Sebaiknya kita panggil pengawal kita juga. Karena Roji bukan orang sembarangan, entah kenapa si tua ini sampai ceroboh mengirim anak-anak ke sana," pinta Syadev menahan amarah.


"Iya," jawab Alarik langsung setuju.


Kedua orang tua tersebut sampai heran kenapa anak-anak memiliki hoby yang berbahaya. Padahal sudah diajari ilmu agama dan juga di kurung dalam asrama yang memiliki pengawasan ketat tapi masih saja bisa kebobolan.


Beberapa saat kemudian Martin keluar sambil menyerahkan dua pistol dan peluru untuk Alarik dan Syadev.


"Apa-apaan ini? Kami ini hanya ingin menjemput anak-anak. Bukan untuk ikut berperang," sergah Syadev.


"Hanya untuk jaga-jaga," balas Martin.


"Kami ini seorang pembisnis, bukan tentara atau polisi yang biasa memegang senjata," timpal Syadev.


"Kali ini saja, karena ini kesempatan terakhir untuk menangkap Roji dan bawahannya. Kalian tentu tahu keresahan orang tua mengenai anak mereka yang kecanduan obat terlarang, bahkan anak SMP juga menjadi korban sasaran. Kalian seharusnya bangga memiliki putra seperti mereka, aku saja Deby yang seorang perempuan aku relakan unik berjuang demi negara," bujuk Martin.


Syadev dan Alarik terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Siapa sangka jika putra mereka memiliki jiwa ksatria, meskipun begitu sebagai orang tua sangat mengkhawatirkan keselamatan anak - anak jika ikut suatu hal yang berbahaya.

__ADS_1


Rupanya sudah lama jika anak-anak mengelabui mereka dengan pura-pura menjadi anak patuh dan berprestasi. Selain rasa bangga memiliki anak yang cerdas, juga ada perasaan repot dan cemas yang tiada henti memiliki anak yang kelewat cerdas dan berbakat. Karena sesuatu yang berlebihan terkadang juga bisa menjadi hal yang paling membahayakan.


__ADS_2