
**Selamat datang di season kedua. Author mengucapkan banyak terima kasih atas dukungan kalian selama ini, sehingga Author sangat semangat melanjutkan lagi.
Cerita cinta yang terpaksa di season dua ini bertema "HOKY TWINS" mengisahkan tentang Kedua anak kembar dari Tuan Syauqi Malik dan Zhiaadatul Kaysa. Jadi ceritanya lebih segar karena mereka berdua masih remaja.
Season pertama dan kedua sengaja di gabung, karena Author takut jika ada yang membaca langsung di season kedua jadi tidak mudeng, karena keduanya saling terkait.
Selamat membaca dan semoga kalian semua suka.
Salam dari Author🤗😍**
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Kediaman rumah Tuan Syauqi Malik tidak ada yang berubah. Masih sama seperti tahun-tahun berlalu.
Malam ini di rumah yang megah itu tengah diadakan pesta ulang tahun untuk anak bungsunya. Sangat mewah, ruang tamu yang luas itu di hias seperti kerajaan sesuai temanya. Bahkan para tamu diwajibkan memakai gaun seperti seorang Puteri sedangkan yang laki-laki memakai pakaian layaknya Pangeran.
Tak terkecuali dengan Tuan Syauqi Malik dan Nyonya Zhia, Ketampanan juga kecantikan mereka tak pernah pudar walau di makan usia.
Di tengah kerumunan orang berdiri seorang anak perempuan yang memakai gaun berwarna putih, wajahnya cantik dan kulitnya mulus. Sorot matanya menandakan jika gadis itu sangat lembut dan lugu.
Di depan gadis kecil itu ada kue besar yang di atasnya terukir nama Flora Maliky. Lilin yang sedang menyala juga membentuk angka sembilan tahun.
“Tiup lilinnya... Tiup lilinnya... Tiup lilinnya sekarang juga... Sekarang juga... Sekarang juga...”
Wussss
Langsung terdengar gemuruh suara tepuk tangan yang memenuhi ruangan.
“Selamat ulang tahun, Adik kecilku,” ucap seorang gadis remaja yang terlihat paling cantik di antara semuanya.
“Selamat ulang tahun, “ timpal pemuda yang juga terlihat sangat tampan itu.
“Terima kasih, Kak Kaysa. Kak Syadev,” jawab Flora dengan senyuman riang.
Acara sangat meriah, apalagi sampai ada pertunjukan teater tentang Puteri salju.
Semua tamu sampai ikut terhanyut dan bersedih saat Puteri Salju itu tertidur karena memakan buah apel dari nenek sihir.
“Semua ini pasti ide darimu,” kata seorang pemuda remaja pada Kaysa.
“Kok kamu bisa tahu, Darren?” tanya Kaysa penasaran.
“Karena tidak mungkin syadev melakukan hal sampai seperti ini,” jawab Darren tertawa lirih.
“Dia sangat pemalas,” Kaysa ikut tertawa.
“Bukan pemalas, aku hanya tidak suka melakukan hal-hal yang bodoh,” sergah Syadev yang tiba-tiba ikut bergabung.
“Jadi bagimu menyenangkan adik sendiri itu sesuatu yang bodoh?” sindir Kaysa kesal.
“Tidak, maksudku yang bodoh itu caramu. Kenapa harus diwajibkan memakai pakaian seperti ini. Sangat merepotkan dan tidak nyaman,” jawab Syadev ketus.
“Itu tandanya kamu tidak pantas menjadi seorang pangeran,” balas Kaysa.
“Karena aku hidup di jaman modern,” jawab Syadev tidak mau kalah.
Jam di dinding terus berganti, tidak terasa malam semakin larut. Akan tetapi kedua anak kembar Syauqi Malik itu masih saja terus berdebat di segala hal.
“Kalian ini sudah besar masih saja suka berantem, ayo kita menemui para tamu yang sudah mulai berpamitan,” tegur Bunda Zhia dengan suara yang lembut, tapi itu sudah cukup membuat anak-anaknya ketakutan.
“Terima kasih sudah hadir di acara kami, hati-hati di jalan ya!” ucap Kaysa ramah pada setiap tamu.
Sedangkan Syadev hanya tersenyum simpul sambil menganggukkan kepalanya.
Kini yang tersisa hanyalah kerabat dan keluarga Dony saja.
“Kak Alifya, sebaiknya tidur di sini saja,” pinta Kaysa setengah memaksa.
“Terima kasih, Dek Kaysa. Tapi aku harus pulang karena besok pagi mau mendaftar kuliah,” jawab Alifya santun.
“Mau mendaftar di mana?” tanya Zhia yang ikut penasaran.
“Di Universitas tempat Bibi Zhia kuliah dulu,” jawab Alifya tersenyum senang.
“Di sana juga bagus kok, dekat juga dengan rumah,” tutur Kaysa yang juga ikut merasa senang. Mengingatkan dirinya pada saat-saat yang lalu.
“Kami pamit pulang dulu ya?” kata Rian dan Tia secara bersamaan.
Selepas kepergian mereka, Keluarga Dony juga ikut berpamitan.
“Kamu besok mau mendaftar di mana?” tanya Darren sebelum keluar rumah.
“ SMA Nusantara. Kamu di sekolah mana?” tanya Kaysa.
“Di mana pun aku tidak masalah, yang terpenting ada kamu,” jawab Darren sambil tertawa.
Meskipun tertawa, sebenarnya Darren mengucapkan kata itu dengan serius. Namun Kaysa hanya menganggap sebagai gurauan.
“Sampai bertemu besok, Bro,” ucap Dony masih seperti dulu pada Syauqi.
Syauqi hanya tersenyum lebar sambil melambaikan tanganya.
“Hati-hati di jalan ya!” kata Zhia pada Nindya.
“Iya, Terima kasih sudah mengundang kami. Ide pestanya sangat hebat,” puji Nindya tulus.
Kaysa tersenyum bangga, dia melirik ke arah saudara kembarnya untuk memamerkan pujian itu.
Syadev hanya melengos karena kesal dengan tingkah Kaysa yang menyebalkan.
“Zahra, kamu besok mau mendaftar di mana?” tanya Zhia pada keponakannya yang pendiam.
__ADS_1
“Sama dengan Kaysa dan Syadev, Tante,” jawab Zahra malu-malu.
“Kalau begitu besok kalian bertiga mendaftar bersama saja!” kata Elly tersenyum senang.
“Iya,” jawab Kaysa, Syadev dan Zahra secara bersamaan.
“Sudah malam, ayo kita segera istirahat!” ucap Syauqi mengajak keluarganya untuk masuk ke dalam rumah.
“Dekorasinya sangat bagus, rasanya sayang kalau harus di bongkar,” kata Elly.
“Iya, Kaysa memang berbakat,” timpal Fauzi.
“Ini semua juga dibantu Zahra,” jawab Kaysa yang juga berniat menyindir Syadev karena sama sekali tidak mau membantu.
“Sindir saja terus, aku tidak akan pernah merasa kok,” Sergah Syadev dingin.
“kalau tidak merasa kenapa kamu merespons?” tanya Kaysa dengan nada angkuh.
“Karena aku bisa membaca pikiran bodohmu itu,” balas Syadev tidak mau kalah.
“Aku bodoh? Bukankah selama ini aku selalu juara satu terus?” cetus Kaysa menyombongkan diri.
Syadev tertawa terbahak-bahak.
“Baiklah, karena kebaikanku selama ini disalah artikan maka aku akan menjelaskan agar kamu tidak bisa bersombong lagi di depanku,” kata Syadev yang mulai kesal.
“Katakanlah!” tantang Kaysa.
“Apa kamu ingat saat kita kelas satu SD dulu? Karena kamu dapat juara dua kamu tidak mau makan selama seminggu. Semenjak itu aku selalu mengalah padamu, sengaja aku tidak mengisi satu jawaban agar kamu bisa dapat juara satu, karena bagiku juara itu tidak penting,” kata Syadev serius.
Kali ini giliran Kaysa yang tertawa lebar, gadis remaja itu tidak percaya. Karena tidak mungkin ada orang bodoh yang mau mengalah sampai bertahun-tahun.
“Kalau kalah ya kalah saja! Tidak perlu mencari alasan yang kuno seperti itu, memangnya kamu pikir kalau kamu itu pangeran berkuda putih yang selalu mengorbankan apapun untuk sang Puteri?" ejek Kaysa dengan suara lantang.
“Ya sudah kalau tidak percaya. Tunggu saja, mulai sekarang aku tidak akan mengalah padamu lagi,” kata Syadev serius kemudian naik ke tangga menuju kamarnya sendiri.
Syauqi dan Zhia tersenyum, mereka sebagai orang tua sangat mengenal watak anak mereka masing-masing. Mereka berdua tahu, jika apa yang dikatakan Syadev barusan adalah suatu kebenaran. Karena di balik sikap Syadev yang cuek itu sebenarnya dia selalu menyayangi dan melindungi Kaysa secara diam-diam.
“Zahra, kamu tidur di kamarku ya!” ucap Kaysa riang.
“Iya, Kaysa,” jawab Zahra tersenyum ramah.
“Kak, aku ikut,” timpal Flora.
“Tentu boleh sayangku,” jawab Kaysa sambil merangkul pundak adik perempuannya yang lebih pendek.
Ketiga anak perempuan itu langsung naik ke lantai dua menuju kamar Kaysa.
“Kaysa tidak pernah berubah, keras kepalanya mirip denganmu, Syauqi,” kata Elly sambil tertawa.
"Menurutku yang lebih mirip dengan Syauqi adalah Suadev. Terlihat pendiam tapi sekali bicara susah di kalahkan, tapi dua-duanya juga saling keras kepala sih," timpal Fauzi.
“Tapi sepertinya kali ini Syadev sudah hilang kesabaran. Aku takut jika Kaysa kalah nanti dia akan mogok makan lagi,” timpal Zhia cemas.
“Tidak kuduga, Syadev yang terlihat selalu kesal dengan Kaysa ternyata sangat perhatian. Hanya saja anak itu tidak pernah mengakuinya,” ucap Fauzi tersenyum riang.
“Aku yakin, akan ada saatnya Kaysa bisa menyadari jika Syadev sangat menyayanginya,” jawab Zhia tersenyum senang.
“Yups, semoga mereka setelah masuk SMA bisa cepat dewasa dan tidak membuat ulah lagi. Mari kita tidur,” kata Syauqi mengakhiri percakapan mereka.
Syauqi dan Zhia segera berpamitan, Elly dan Fauzi juga ikut masuk ke kamar tamu.
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Di dalam kamar Zhia mulai melepas jilbabnya, saat ibu beranak tiga itu ingin melepas gaunnya, Syauqi mencegah.
“Tunggu!” kata Syauqi.
Tangan Syauqi mulai membelai rambut Zhia yang panjang. Di ciuminya tengkuk istrinya.
“Mas, aku ingin melepas gaun ini dulu, berat,” protes Zhia manja.
“Sini aku bantu lepaskan,” ucap Syauqi tersenyum nakal.
“Tidak!” sentak Zhia, dia sangat tahu apa yang ada di pikiran suaminya itu.
“Baiklah, kalau begitu aku akan tidur,” jawab Syauqi santai, setelah Daddy tampan itu mengganti pakaiannya sendiri, dia segera berbaring ke ranjang.
Hampir lima menit tapi Zhia masih kesulitan membuka resleting di punggungnya.
Syauqi hanya tersenyum mengejek melihat istrinya.
“Memohonlah! maka aku akan bantu,” ucap Syauqi lirih.
Awalnya Zhia menolak, tapi karena memang tidak bisa akhirnya dia menyerah.
“Mas, kumohon tolonglah aku,” pinta Zhia lembut.
Mendengar suara istrinya yang seperti mendesah membuat Syauqi langsung bernafsu. Lelaki berusia empat puluh lima itu langsung berdiri dan membantu istrinya. Saat melihat punggung Zhia yang putih dan mulus, Syauqi langsung mencium dan menghisapnya.
“Mas,” protes Zhia.
Tapi Syauqi tidak peduli, dia langsung melepaskan gaun istrinya kemudian menarik tubuh Zhia hingga terjatuh bersama di ranjang yang empuk.
Syauqi langsung menindih tubuh istrinya yang hanya memakai daleman saja.
“Mas, kamu ini semakin tua malah semakin menjadi,” kata Zhia.
“Kamu juga sama, semakin tua justru semakin menggoda. Sampai aku ketagihan terus,” jawab Syauqi mesra.
Mereka berdua langsung berciuman dengan cinta yang membara. Seakan mereka berdua melupakan usia dan selalu merasa seperti penganti baru.
__ADS_1
💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜
Di dalam kamar yang lain anak putri bungsu dari Syauqi Malik sudah tertidur pulas. Namun Kaysa dan Zahra masih belum terpejam.
“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Kaysa lirih pada Zahra.
“Aku belum bisa,” jawab Zahra juga lirih karena takut membangunkan Flora.
“Aku tiba-tiba merasa lapar lagi, sepertinya kuenya masih ada. Kita makan saja yuk,” ajak Kaysa.
“Iya,” jawab Zahra menurut.
Kedua gadis remaja itu mengendap-endap keluar dari kamar. Kemudian turun ke bawah menuju dapur.
“Mungkin disimpan di kulkas sama pelayan,” kata Zahra.
Kaysa langsung membuka pintu kulkas, dan benar saja jika apa yang di cari ada di dalam kulkas.
“He Kucing, malam-malam mencuri kue,” kata Syadev sambil menyalakan lampu dapur
Kaysa dan Zahra sangat kaget, bahkan kuenya hampir tumpah.
“Ngapain kamu ke sini?” tanya Kaysa ketus.
“Yang seharusnya bertanya itu aku,” jawab Syadev juga ketus.
“Kamu tidak lihat jika aku sedang mengambil kue?” tanya Kaysa kesal.
“Kue itu jatahku,” jawab Syadev menahan marah.
“Kuenya juga masih banyak, ayo kita makan bersama saja,” ajak Zahra menengahi.
Kedua saudara kembar itu terpaksa menyetujui saran sepupu mereka.
Mereka bertiga duduk di ruang keluarga sambil menyalakan televisi.
“Trans,” kata Syadev.
“RCTI,” sergah Kaysa.
Klik...
Zahra mematikan televisinya karena tidak ingin perkelahian antara Kaysa dan Syadev terus berlanjut.
“Ini yang adil,” ucap Zahra kesal.
Tiba-tiba ponsel Kaysa yang di saku bergetar. Gadis cantik itu segera membukanya
Darren
Sudah tidur?
Kaysa
Belum
Panggilan dari Darren langsung masuk, Kaysa segera mengangkatnya.
“Kenapa malam-malam telepon?” tanya Kaysa.
“Tidak apa-apa, pengen mengobrol saja, kamu sedang apa kenapa belum tidur?” jawab Darren dari seberang.
“Makan kue dengan Syadev dan Zahra,” jawab Kaysa.
“Tumben akur,” ledek Darren.
“Ya ampun, kuenya habis!” Kata Kaysa kesal pada Syadev
“Salah sendiri ditinggal pacaran,” jawab Syadev.
“Gara-gara kamu telepon tuh,” kata Kaysa pada Darren kembali.
“Iya, Besok aku belikan lagi yang lebih enak. Mau rasa apa?” tanya Darren perhatian.
“Strowberry,” jawab Kaysa riang.
“Siap,” balas Darren bersemangat.
“Sudah malam, aku mau tidur,” kata Kaysa.
“Semoga mimpi indah ya,” ucap Darren lembut. Kemudian telepon di tutup.
Syadev tanpa permisi langsung berdiri dan kembali ke kamarnya.
“Kaysa, sebenarnya hubungan kamu dengan Darren itu apa?” tanya Zahra penasaran.
“Teman, sama seperti kamu dan dia,” jawab Kaysa santai.
“Tapi sepertinya Darren menyukaimu,” kata Zahra serius.
Kaysa tertawa, tapi kemudian mulutnya di dekap tangan Zahra.
“Kamu ingin semua orang bangun?” protes Zahra, kemudian melepaskan tangannya dari mulut Kaysa.
“Habisnya kamu lucu sih, mana mungkin dia menyukaiku. Kita kan memang akrab dari kecil. Sudah seperti saudara sendiri,” jawab Kaysa riang.
“Seandainya dia menyukaimu bagaimana?” tanya Zahra semakin penasaran.
“Aku tidak tahu, selama ini aku belum pernah merasa tertarik pada cowok. Seorang lelaki yang dekat denganku cuma Kak Alarik, Syadev dan Darren,” jawab Kaysa tenang.
“Ya sudah, kita segera tidur yuk, biar besok tidak kesiangan bangunnya,” ajak Zahra.
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti. Supaya Author semakin bertambah semangat up terus🤗