CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Keresahan Dua Saudara


__ADS_3

Liburan sekolah akhirnya habis sudah. Dan hari ini merupakan hari pertama para murid untuk memulai belajar lagi.


Sebelum kelas di mulai, tentu saja diadakan upacara di lapangan yang sangat luas. Pada saat itu semua murid lelaki dan perempuan jadi satu.


Arkananta adalah murid yang paling bersemangat, tak lain sebab dia ingin segera bisa bertemu lagi dengan Deby. Namun, saat tanpa sengaja keduanya saling berpapasan Deby tampak cuek dan mengabaikan Arkananta.


Arkananta ingin mengejar, tapi dia segera di tarik Yudistira untuk berbaris di urutan paling belakang sebab ada pohon yang sangat besar sehingga ketika semakin siang tidak kepanasan.


Sepanjang upacara Arkananta hanya bengong saja, dia terus mencari kesalahannya sendiri tapi tidak menemukan juga.


"Kenapa Deby marah padaku? Jelas - jelas terakhir kita bertemu dia masih tersenyum padaku," batin Arkananta keheranan.


Setelah upacara berakhir Arkananta mencoba mencari Deby lagi, tapi gadis itu rupanya sudah menghilang entah kemana.


"Hey, kamu kenapa celingak celinguk begitu kaya orang oon?" tegur Yudistira.


"Deby, dia tadi saat melihatku malah mengabaikan dan seperti marah. Padahal terakhir ketemu juga baik - baik saja," jawab Arka lemas.


"Kamu tanya Jamila saja, pasti dia tahu. Bukankah kata kamu mereka satu kamar?" saran Yudistira.


"Aku tidak begitu kenal dengan Jamila, mana mungkin aku tiba - tiba aku menanyakan hal seperti itu. Bagaimana kalau kamu saja? Kamu kan dekat dengan Jamila?" pinta Arkananta.


"Eh, meskipun aku lumayan dekat tapi Jamila satu kelas denganmu. Kalau aku tiba - tiba ke kelas kamu dan menemuinya tentu saja akan menjadi kabar buruk dan gosip," sergah Yudistira.


"Terus bagaimana?" ucap Arkananta bingung.


"Bukankah Deby satu kelas dengan Sagara? Kenapa tidak minta tolong dia saja untuk bertanya langsung dengan Deby?" saran Yudistira.


"Kamu benar, dimana Sagara sekarang?" tanya Arkananta kembali bersemangat.


"Dia tadi keburu ke toilet," jawab Yudistira.


"Baiklah aku cari dulu," ujar Arkananta selera menuju ke toilet khusus laki - laki.


Saat Arkananta sudah sampai di sana rupanya Sagara juga baru keluar dari tolilet.


"Sagara, aku minta tolong dong," pinta Arkananta.


"Apa?" tanya Sagara datar.


"Kamu kan sekelas dengan Deby, kamu tanya ya kenapa dia marah padaku. Dan apa salahku gitu?" pinta Arkananta dengan nada memohon.


"Baiklah, tapi mau dapat imbalan apa aku?" tanya Sagara serius.


"Kamu ini perhitungan sekali," sergah Arkananta kesal.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu tidak jadi," jawab Sagara berlalu pergi.


"Eh, tunggu! Iya deh, kamu mau apa?" tanya Arkananta agak merengut.


"Sebuah barang kecil, untuk keperluan penelitianku. Harganya hanya dua juta saja kok. Kamu kan kaya selalu diberi uang oleh mamimu banyak," jawab Sagara bersemangat.


"Astaga, kamu kan juga dapat jatah dari papamu kan? Masa iya dua juta meminta padaku," sergah Arkananta kesal.


"Bulan ini aku di kasih pas - pasan untuk jajan saja. Papa menyuruhku fokus sekolah dan melarang aku untuk membeli barang - barang yang aneh - aneh," keluh Sagara.


"Oke deh, nanti aku kasih," jawab Arkananta mendengus kesal.


Arkananta kemudian memutuskan untuk kembali ke kelasnya sendiri, tapi di tengah jalan dia bertemu lagi dengan Yudistira.


"Hey, apa Sagara mau?" tanya Yudistira penasaran.


"Sagara sekarang perhitungan sekali, aku hanya minta tolong sedikit saja dia sudah minta imbalan dua juta untuk beli barang," keluh Arkananta.


Yudistira tertawa, sebab tidak menyangka jika Sagara menjadi menyebalkan begitu.


"Syukur deh, jadi uangku aman kalau begitu," balas Yudistira sambil menepuk bahu Arkananta dan berlalu pergi menuju kelasnya sendiri.


"Ah... Kamu juga sama - sama menyebalkan," batin Arkananta kesal.


***************************************


Sebenarnya Sagara juga sangat malas harus menanyakan hal yang baginya sangat tidak penting itu.


Setelah jam istirahat Sagara segera menemui Deby.


"Hey, kamu akhirnya masuk sini juga," sapa Sagara basa - basi.


"Iya," jawab Deby kurang semangat.


"Deb, ada hal penting yang mau aku tanyakan," ucap Sagara canggung.


"Ada apa?" tanya Deby merasa aneh, biasanya Sagara jika tidak di sapa duluan juga hanya diam saja.


"Aku disuruh menanyakan kenapa kamu marah pada Arkananta?" tanya Sagara.


"Kamu bilang pada Arka ya, mulai sekarang jangan hubungi aku lagi. Urusi saja calon istirnya itu," jawab Deby ketus.


"Calon istri? Bukankah yang disukai Arkananta adalah kamu?" tanya Sagara tak mengerti.


"Tapi dia dijodohkan dengan Sarah, kamu tidak tahu? Seluruh asrama putri sudah heboh dengan kabar ini," jawab Deby merengut.

__ADS_1


"Apa? Arka dan Sarah di jodohkan?" pekik Sagara semakin syok.


"Iya, karena orang tua mereka berteman. Bahkan kemarin saat Sarah sakit maminya Arka loh yang menjemput dan mengantar Sarah ke Asrama," jelas Deby.


Sagara sudah tidak fokus lagi dan tidak bisa mendengar apa yang selanjutnya dikatakan oleh Deby.


"Kok bengong sih, ya sudah aku mau ke kantin dulu," sela Deby berlalu pergi.


Sagara duduk lagi di kursinya, dia sangat tidak rela dan merasa begitu sakit saat tahu jika Sarah akan dijodohkan dengan sepupunya sendiri.


"Bagaimana mungkin ini terjadi? Kenapa aku marah? Sarah bukan siapa - siapa aku, memangnya kenapa kalau dijodohkan dengan Arkananta? Harusnya itu bukan urusanku?" batin Sagara.


Seorang pemuda yang begitu jenius menjadi frustrasi hanya karena cinta.


Sagara segera menuju kantin untuk menemui sepupunya.


Sesampainya di sana Arkananta dan Yudistira malah sudah makan duluan.


"Kamu lama sekali, kami makan duluan deh," ucap Yudistira.


Namun, Sagara cuek dan tidak mempedulikan masalah makanan.


"Arka, apa kamu tahu apa yang membuat Deby marah padamu?" tanya Sagara serius.


"Kamu ini aneh, kalau aku tahu bagaimana mungkin aku meminta bantuan kamu dan bahkan sampai membayar dua juta," sergah Arkananta kesal.


"Deby marah karena kamu mau dijodohkan dengan Sarah, bahkan kabar itu sedang heboh di asrama putri," bisik Sagara.


"Apa? Pasti ini ulah mami," pekik Arkananta terkejut.


"Wah... wah... Semakin menarik ini. Arka cinta Deby, Sagara cinta Sarah. Tapi Malah Arka dan Sarah di jodohkan. Kalau begitu lebih baik Sagara bersama Deby saja kan lebih bagus," canda Yudistira.


"Tidak!" bentak Arkananta dan Sagara bersamaan.


"Yo! Kompak sekali kalian," balas Yudistira tertawa.


"Sagara, intinya aku sama sekali tidak tertarik dengan wanita lemah lembut seperti Sarah," jelas Arkananta berterus terang.


"Lalu kamu mau bagaimana? Katanya orang tua kamu dan orang tua Sarah sudah membuat perjanjian itu?" tanya Sagara merasa senang sekaligus resah.


"Ya aku harus bicara sama mami, jika tidak nanti Deby akan semakin menjauh dariku," tekad Arkananta.


"Kamu memang harus segera menyelesaikan masalah itu," balas Sagara juga merasa kesal.


Yudistira hanya senyum - senyum sendiri dan fokus menikmati makanannya.

__ADS_1


Sedangkan Arka dan Sagara menjadi tidak nafsu makan.


__ADS_2