
Apa kabar semuanya? Karena banyak banget pembaca yang minta extra part, jadinya Author berusaha untuk menuruti permintaan kalian. Terima kasih banyak sudah membaca karya saya dan mendukung saya🙏🙏🙏
Tapi jujur saja sebenarnya Author juga sangat merindukan Syauqi Malik, apalagi Visualnya Wang Yibo suami haluku. Astagaaa.... Rasanya sampai mau mimisan tiap melihat senyuman tampan aktor idolaku🤣🤣🤣
Tuh kan, jadi semangat banget Authornya🤗🤗🤗.
Apalagi di hati terasa ada yang mengganjal juga, sebab belum publish visual Flora dan Dewa. Dan juga belum membuat si Dewa bucin parah nih.... Jadi selamat membaca🤗 Jangan Lupa Like dan Vote sebanyak - banyaknya. Biar Author semakin tambah bersemangat. Jangan lupa kritik dan sarannya, bagaimanapun juga Author manusia biasa yang pasti banyak kesalahannya. Semoga kedepannya bisa membuat karya lebih baik lagi😘😘😘😘
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Visual Flora Maliki
Visual Daichi / Dewa
Sudah hampir tiga bulan Flora dan Dewa pergi ke negara yang di di dambakan oleh Flora. Flora sendiri sudah mulai membuat menulis karya.
"Sayangku, ini sudah malam. Waktunya istirahat," ucap Dewa sembari menutup laptop istrinya pelan.
"Kok di tutup, masih sedikit lagi ini," rengek Flora manja.
"Besok - besok kan waktunya masih banyak, jangan lupa jaga kesehatan!" tutur Dewa lembut sambil mencium kepala Flora.
"Sebentar saja... Nanti aku jadi tidak tenang kalau masih ada sesuatu yang belum beres," pinta Flora yang jika melakukan sesuatu selalu ingin tuntas.
"Kalau begitu akan aku tenangkan dirimu," balas Dewa mengangkat tubuh istrinya dan membaringkan di ranjang yang empuk.
"Mau apa?" pekik Flora.
"Mau memuaskan istriku dulu," jawab Dewa memandang Flora penuh gairah.
"Tapi... Tadi siang kan sudah," jawab Flora memerah wajahnya.
"Aku mau lagi, habisnya kamu enak," balas Dewa sambil mencium dada Flora yang masih memakai pakaian lengkap.
"Memangnya aku puding?" sela Flora.
"Pokoknya lembut kenyal dari puding," goda Dewa.
Saat Dewa menindih tubuh istrinya tiba - tiba saja Flora mual, dengan reflek dia mendorong tubuh suaminya dan berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
Dewa begitu cemas, dia mengejar istrinya yang masih mual - mual seperti mau muntah.
"Apa kamu masuk angin?" tanya Dewa yang belum berpengalaman, sebab masa hidupnya di gunakan untuk berlatih fisik pertarungan dengan Pamannya di Jepang.
"Sudah tiga hari ini kepalaku pusing, mual - mual terus," jawab Flora.
"Apa karena kurang tidur ya? Kamu begadang terus sih," kata Dewa memarahi dengan nada mesra.
"Yang membuat aku begadang setiap malam siapa? Padahal ngetik novel juga berhenti jam sembilan malam," jawab Flora menjadi kesal.
Biasanya Flora selalu lembut, tapi akhir - akhir ini dia mudah emosi. Apalagi dengan suaminya yang suka seenaknya sendiri mengerjainya.
Dewa malah tertawa, dia merasa jika istrinya kelelahan karena setiap hari selalu ajak bercinta, kadang malah bisa sampai dua kali.
Pagi harinya Flora juga merasakan hal yang sama, dia mual - mula dan ingin muntah lagi. Sungguh perasaan yang tidak nyaman.
"Sebaiknya kita periksa ke rumah sakit saja," ucap Dewa.
"Iya, aku tidak tahan lagi mau muntah terus," jawab Flora jujur.
Saat sarapan Flora juga tidak bisa memakan makanan, dia takut jika makan nanti akan kambuh lagi. Akhirnya Flora hanya minum air hangat dan sedikit kue untuk mengganjal perutnya.
Sesampainya di rumah sakit Flora di suruh melakukan beberapa pemeriksaan, setelah itu dia di beri selembar kertas mengenai pemberitahuan hasil tes.
Flora merasa penasaran bercampur takut, dia tidak siap jika ternyata dirinya memiliki penyakit yang mematikan. Setelah di intip rupanya sesuatu yang mengejutkan terjadi. Flora positif hamil di usia mudanya yang bahkan belum sampai selesai kuliah.
Dewa yang menanti di depan ruangan menjadi heboh saat melihat istri tercintanya menangis.
"Ada apa, sayang? Kenapa kami bersedih?"
Tanpa basa - basi Dewa memeluk erat tubuh istrinya karena dia mengira jika istrinya tersebut memiliki penyakit seperti Bundanya.
"Jangan takut, walau apapun yang terjadi aku akan memberikan seluruh sumsum tulang belakangku agar kamu bisa sembuh," bujuk Dewa sambil mencium kepala Flora yang dibalut jilbab.
Flora kaget, dia justru tertawa mendengar ucapan suaminya barusan.
"Hay... Siapa yang penyakitan? Aku ini hamil bukan sakit," kata Flora menahan tawa.
Kedua mata Dewa sampai membulat besar karena dugaannya itu salah. Apalagi begitu mendengar jika istrinya hamil Dewa sampai berteriak senang. Dan akhirnya di tegur oleh beberapa dokter yang kebetulan lewat sebab mengganggu pasien yang lain.
"Ya Tuhan... Aku sangat bahagia sekali. Terima kasih sayangku. Ternyata Kerja keras kita selama beberapa bulan ini tidak sia - sia," kata Dewa mencium mesra kening istrinya.
"ish... ish... Ini di tempat umum, jangan begini dong. Aku malu," tegur Flora.
"Kalau begitu kita harus buru - buru pulang," ajak Dewa merangkul istrinya seperti pada seorang adik.
"Mau ngapain?" tanya Flora curiga.
__ADS_1
"Kita memberitahukan kabar bahagia ini pada orang tua kita, memangnya mau ngapain lagi?" sindir Dewa yang tahu kemana arah pikiran istrinya.
"Oh.. Pulang ke Indonesia ya?" ujar Flora menahan malu.
"Apa kamu masih belum puas? Santai saja, setelah bekerja lagi aku tidak akan pulang malam - malam. Jadi kamu tidak akan kesepian," goda Dewa yang membuat Flora menjadi gemas ingin mencubit pipi suaminya.
"Eh, sudah berapa bulan usia anak kita?" tanya Dewa sangat bersemangat.
"Hampir empat Minggu," jawab Flora.
"Ibu hamil tidak boleh kecapean ya?" kata Dewa sambil menggendong istrinya untuk meninggalkan rumah sakit menuju tempat parkiran.
"Turunkan, aku malu di lihat orang," protes Flora.
"Kita ini berada di tempat asing dan di antara antara orang - orang asing. Lagi pula setelah ini kita juga belum tentu bertemu degan mereka lagi," jawab Dewa santai sambil tertawa.
Flora hanya bisa pasrah, sebab mana mungkin dia bisa melawan suaminya yang sudah seperti ini.
Flora sendiri juga sudah tidak sabar pulang, keluarga tercintanya pasti akan sangat bahagia mendengar kabar ini.
"Sebaiknya kita pulang ke mana dulu? Ke Bunda atau Ibuk," tanya Flora.
"Kita ke rumah Ayah dan Bunda dulu, setelah itu baru pulang ke Aceh biar tidak bolak - balik," jawab Dewa.
Flora tersenyum senang karena suaminya itu sangat manis padanya.
"Sayang... " ucap Flora lembut.
"Apa?" jawab Dewa yang tersihir suara merdu istrinya.
"Sebentar lagi suami tampanku ini sudah mau menjadi seorang Ayah, alangkah baiknya mulai sekarang belajar menjadi kepala rumah tangga yang baik," bujuk Flora.
"Apa aku masih kurang baik padamu?" tanya Dewa.
"Baik, tapi masih kurang satu," jawab Flora merayu manja.
"Apa?" tanya Dewa penasaran.
"Sholatnya," bisik Flora sambil mencium pipi suaminya mesra.
Hati lelaki siapa yang tidak akan runtuh jika memiliki istri secantik dan selembut Flora.
"Iya..." jawab Dewa tersenyum manis.
Dewa senang memiliki seorang istri yang begitu sempurna di matanya. Dia akui semenjak tinggal di Jepang bersama pamannya itu dia mulai melupakan apa yang sudah diajarkan oleh kedua orang tua angkatnya. Kini dia benar - benar ingin kembali ke jalan yang benar.
Terima kasih sudah membaca karya saya🤗🤗🤗
__ADS_1