
Pagi harinya perban yang menutupi kedua mata Zhia dibuka oleh Dokter.
Zhia membuka matanya secara perlahan, dia mencoba mengerjab tapi masih saja hanya hitam dan gelap.
"Dok, kenapa saya tak bisa melihat?" tanya Zhia panik.
Belum sempat Dokter memberi jawaban Syauqi langsung mengisyaratkan Dokter tersebut keluar ruangan.
"Tenanglah! aku akan mencari Dokter terhebat di dunia sampai matamu bisa kembali seperti semula," bujuk Syauqi lembut.
"Apa yang sebenarnya terjadi denganku?" kata Zhia terisak menangis.
"Ya Alloh, mengapa engkau menguji hamba dengan cobaan yang berat ini. Pundak hamba sudah merasa tak kuat memikul beban dunia.
Karena hambamu ini hanyalah mahluk mu yang sangat lemah dan tak berdaya," batin Zhia pilu.
Zhia menangis terisak karena masih belum bisa menerima kenyataan.
"Sekarang aku hanyalah perempuan cacat, aku tak pantas lagi untukmu, jika Mas Syauqi mau membatalkan pernikahan aku rela," rintih Zhia.
Syauqi langsung memeluk tubuh Zhia.
"Jangan katakan apapun lagi! Cintaku tak sedangkal yang kamu kira. Kita tetap akan menikah dan hidup bahagia. Jangan kamu sesali lagi apa yang sudah terjadi, yang terpenting anak kita sehat dan baik-baik saja. Aku akan selalu menjagamu selamanya dengan taruhan nyawaku sendiri," bisik Syauqi di telinga Zhia.
Syauqi meneteskan air matanya, hatinya tersayat mendengar rintihan tangis calon istrinya.
Zhia mencoba melepaskan diri dari pelukan Syauqi. Namun Syauqi malah semakin erat mendekap Zhia. Dia tak punya energi lagi, diapun pasrah di tengah keputus asaannya.
Dalam kehangatan pelukan Syauqi Zhia mulai merasa tenang, damai dan aman. Dia sendiri juga bingung, padahal dulu merasa jijik setiap Syauqi menyentuh dirinya secara paksa. Tapi kini dia mulai merasa nyaman.
Zhia merasakan detak jantung Syauqi yang kencang, begitu pula sebaliknya. Syauqi bisa merasakan detak jantung Zhia yang berdebar.
"Kenapa aku merasa nyaman dan damai dalam pelukan Mas Syauqi?
Bukankah aku membencinya?
Bukankah dia sudah melakukan hal keji terhadapku sampai aku terpaksa menerima lamarannya.
Apakah aku mulai bisa menerimanya?
mengingat Mas Syauqi yang dihajar pasrah membuatku hatiku ada perasaan takut kehilangannya," bisik Zhia dalam hati.
Syauqi melepaskan pelukannya karena mendengar suara salam dari Tia.
__ADS_1
Zhia dan Syauqi hanya menjawab lirih.
Jujur saja Syauqi merasa malu karena ketahuan memeluk Zhia yang tengah sakit.
"Kenapa aku harus malu begini? Mbak Tia sudah tahu Zhia hamil, berarti dia juga tahu kalau aku pernah melakukan hal yang lebih dari sekedar memeluk Zhia," batin Syauqi konyol.
Tetapi Tia tak berkomentar apapun, dia fokus mendekati Zhia yang kini tak bisa lagi melihat.
Tia menangis semalaman sampai matanya bengkak, kakak iparnya itu sangat bersedih karena adik yang disayanginya mendapat ujian yang bertubi.
"Kamu adikku yang kuat, keimanan dan ketakwaaanmu bisa mengalahkan segala cobaan," bisik Tia sambil memeluk Zhia yang masih duduk di ranjang.
"Bagaimana keadaan Ibuk?" tanya Zhia lemah.
"Ibu hanya Syok saja, sekarang sedang istirahahat. Mas Rian dan Alifya menjaga Ibuk di rumah.
"Apakah kalian sudah tahu jika Iyas dan Nayla kecelakaan?" tanya Tia hati-hati.
"Apa?" teriak Syauqi dan Zhia bersamaan, mereka berdua memang tidak tahu.
"Barusan Aku melihat kedua orang tua Iyas. Katanya Iyas baru sadar dari koma sedangkan Nayla yang belum sadar-adar tadi pagi sudah dipindahkan ke rumah sakit luar negeri sama keluarganya," ungkap Tia yang juga merasa sedih.
"Antarkan aku kesana!" pinta Zhia.
Syauqi jadi tahu semalam yang menyebabkan macet parah adalah kecelakaan Iyas dan Nayla. Meskipun hubungan Syauqi dan Iyas tidak baik tapi Syauqi juga merasa khawatir dan sedih, bagaimanapun juga Iyas telah mencoba menyelamatkan Zhia.
Di sana Zhia mendengar suara Abah Iyas yang sedang berdebat.
"Maaf, Pak. tapi kondisi Anda tidak memungkinkan untuk mendonor darah, nanti bisa membahayakan Anda sendiri," kata Dokter.
"Aku tidak perduli, yang terpenting putraku selamat," jawab Abahnya Iyas memaksa.
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Tapi semua ada prosedurnya sendiri dan kami sebagai Dokter tidak berani melanggarnya. Pihak rumah sakit kami juga sudah menghubungi rumah sakit lain semoga bisa mendapatkan darahnya," kata Dokter tegas.
Syauqi yang baru tahu permasalahannya langsung bertanya pada dokter darah apa yang dibutuhkan.
Setelah itu Syauqi menghubungi salah satu kenalannya yang bekerja sebagai kepala Unit Donor Darah.
Syauqi tersenyum dan memberi kabar baik pada Dokter dan keluarganya Iyas jika dalam satu jam lagi darah yang dibutuhkan akan segera sampai.
Semua merasa senang dan bersyukur.
Tia dan Uminya Iyas yang dari tadi sudah di dalam keluar lagi dari ruangan.
__ADS_1
"Nak Zhia, Nak Syauqi... kalian dipanggil Iyas," tutur umi yang sudah merasa lega karena dari dalam kamar bisa mendengar percakapan diluar.
Syauqi segera menuntun Zhia memasuki ruangan. Pemuda itu menyuruh Zhia duduk dan dirinya sendiri hanya berdiri di belakang Zhia.
Syauqi tak tega juga melihat kondisi Iyas yang kakinya patah sebelah, sebagian kepalanya juga dibungkus perban.
Suasana di dalam pun sangat hening karena semuanya diam dalam pikiran masing-masing.
Kemudian Zhia menangis karena dia merasa bersalah.
"Maafkan aku, Mas Iyas. Semua salahku," isak Zhia perlahan, dia sudah tak tahu lagi bagaimana caranya untuk meminta maaf. Karena sudah terlalu banyak kesalahan dan penderitaan yang dia berikan pada orang yang selama ini selalu melindunginya.
"Maafkan aku juga Iyas. Karena aku sudah menjadi duri dalam hidupmu. Akan tetapi aku sendiri juga tidak mampu mengontrol hatiku yang sangat mencintai Zhia," timpal Syauqi juga merasa bersalah.
Iyas meneteskan air mata, bukan karena kecemburuan akan tetapi meratapi keadaan Zhia yang sekarang.
Meskipun Iyas pernah membenci Syauqi, kini perasaan itu luntur dalam sekejap. Dia merasa tenang ada yang menggantikan dirinya untuk menjaga Zhia. Iyas yakin jika Syauqi akan memperlakukan Zhia dengan baik.
Seluruh tubuhnya kini penuh luka dan tak berdaya, bahkan untuk menggerakkan jari pun lyas merasa sulit. Iyas hanya bisa melihat Zhia yang menangis terisak.
Iyas merasa jika napasnya semakin sulit, detak jantungnya lemah dan nadinya tak beraturan.
Syauqi memaksakan dirinya sendiri untuk membuka mulutnya.
"Zhia... Kuper...Sem..bah..kan... kedu..a.. ma..taku..untuk..mu... tapi..tak ..ku..izin..kan .di..gu..na..kan un..tuk..me..na..ngis... Allohu ..Akbar,"
kata Iyas nafasnya sudah tersengal - sengal. Kemudian pemuda penuh luka itu menghembuskan napasnya untuk yang terakhir kalinya.
Syauqi panik dan berteriak - teriak memanggil Dokter. Semua orang yang di luar juga berhamburan masuk memanggil nama Iyas.
Saat itu juga Zhia sudah tergeletak tak sadarkan diri. Tapi langsung di tangkap dalam pelukan Syauqi.
****************************
Jiwa lyas telah melayang meninggalkan raganya yang penuh luka.
Segala rasa sakit, cemas, kecewa dan penderitaan hidupnya sudah terlepas.
Dia pergi dengan hati yang tenang, karena di akhir hidupnya dia masih bisa berkorban untuk Zhia.
Meskipun dia mati akan tetapi kedua matanya masih bisa melihat keindahan dunia lewat tubuh Zhia.
Iyas meninggal dengan senyuman manis di bibirnya.
__ADS_1