
Deby setelah tersadar dari pingsannya langsung menangis histeris mengingat jika papanya sudah meninggal. Gadis itu mengurung diri di kamar tamu keluarga Syadeva dan sama sekali tidak mau makan.
Anggun ikut prihatin, sebagai anak yang pernah hidup di panti asuhan karena yatim piatu hal itu sangat menyedihkan.
Malam harinya kepala rumah sakit yang hendak menjadikan Deby anak angkat menyusulnya. Namun Deby masih enggan bicara sebab belum bisa menerima kenyataan.
"Maaf, Pak. Biarlah Deby di sini dulu saja, dan karena di sini banyak teman - temannya biar Deby tidak merasa kesepian dan sedikit terhibur," saran Anggun.
"Baiklah, Nyonya. Saya paham semua ini memang ujian yang sangat berat," balas Kepala rumah sakit tersebut kemudian berpamitan pulang.
Sementara Arkananta masih tidak mencoba membujuk Deby untuk makan, tapi gadis itu hanya melamun dan bengong saja.
‘’Deby, kamu gadis yang kuat. Dan kamu jangan merasa sendiri lagi, karena masih banyak orang yang menyayangimu,’’ bujuk Arka.
‘’Entahlah, setelah ini aku tidak memiliki harapan hidup lagi,’’ jawab Deby.
Hanya itulah sebaris kalimat yang diucapkan oleh Deby, setelah itu Deby berbaring lagi. Deby lebih suka hidup di alam mimpi, sebab di sana dirinya bisa merangkai segala kehidupan sesuai kemauannya sendiri.
Arka tak berani mengganggu Deby lagi, diapun membawa kembali makanan ketiga yang sudah dingin dan belum berkurang sama sekali.
Deby merasa sudah tidak memiliki rumah lagi, baginya akan teramat menyakitkan jika pulang dan setiap sudut rumah akan mengingatkannya tentang papanya. Dalam hidup ini hanya papanya yang dia miliki, bahkan disaat terakhir pemakamannya Daby tidak bisa ikut sebab masih dalam kondisi pingsan.
Pagi harinya Deby sudah mau bangkit dari kamar tidurnya, setelah mandi dia pinjam milik baju Sarah sebab hanya miliknya saja yang muat dengan ukuran badannya.
Semua baju Sarah adalah gamis modrn, jadi Arkananta terkejut setngah mati melihat penampilan baru Deby. Meskipun tidak memakai jilbab tapi Deby tampak Anggun.
‘’Deby ayo sarapan bersama,’’ ajak Anggun lembut.
Setelah selesai makan, Syadev menatap Arka dengan serius.
‘’Arka, besok sudah mulai masuk Asrama. Hari ini kamu diminta pulang terlebih dahulu,’’ ucap Syadev berwibawa.
‘’Iya, Om,’’ jawab Arkananta tak tega meninggalkan Deby yang masih dalam keadaan sedih.
__ADS_1
‘’Valerio, Fayyola, tadi orang tua kalian mengirim uang. Dan kalian nanti sore suruh berangkat duluan menemui kakek dan nenek!’’ timpal Syadev.
‘’Iya, Om,’’ jawab kedua anak kembar Flora.
‘’Sarah kamu mau ikut Fayyola atau di sini dulu menemani Jamila saja tidak apa – apa, besok bisa di antar supir sekalian. Dan nanti biar kebutuhan Jamila di urus Tante Anggun ya,’’ kata Syadeva lagi.
‘’Saya ikut Fayyola saja, Om,’’ jawab Sarah.
‘’Terima kasih, Om,’’ jawab Sarah.
Kemudian Syadev menatap Deby yang tengah menunduk, sungguh malang sekali nasib gadis itu. Syadev sudah tahu apa yang terjadi, ingin menyarankan Deby masuk ke asrama tapi di sana hanya menerima muslim saja.
‘’Deby, kalau kamu masih tidak enak badan sebaiknya kamu di sini dulu menemani tante Anggun. Lagian sebentar lagi anak – anak berangkat ke asrama sedangkan Om juga akan ke luar kota,’’ bujuk Syadev.
‘’Terima kasih, Om. Tapi saya sudah merepotkan di sini, sebaiknya saya pulang saja,’’ tolak Deby lemah.
‘’Tidak merepotkan kok, lagi pula Tante malah senang jika kamu di sini,’’ balas Anggun.
‘’Deby, bagaimana kalau kamu masuk ke asrama saja? Dengan begitu kita bisa selalu bersama dan kamu tidak akan kepian lagi,’’ ajak Jamila yang tidak tahu jika Deby beda agama.
Deby hanya terdiam, sedangkan yang lainnya juga penasaran dengan jawaban gadis tersebut. Bahkan Arkananta juga sampai tegang.
‘’Aku pikir – pikir dulu,’’ jawab Deby yang masih bimbang.
‘’Kamu pikirkan baik – baik ya, Deby. Tapi om berharap kamu bisa bergabung dengan yang lainnya di asrama,’’ timpal Syadev.
Setelah itu Syadev berpamitan untuk berangkat kerja pada istri dan anaknya tercinta.
‘’Deby, kamu mau pulang ke rumah kamu dulu apa langsung ke kepala rumah sakit itu? Biar aku antar sekalian, karena sopirku juga sudah datang menjemput,’’ tawar Arkananta.
‘’Aku pulang saja dulu ke rumah,’’ jawab Deby.
Kemudian Arkananta dan Deby juga berpamitan pulang, di speanjang perjalanan keduanya hanya diam. Deby yang biasanya ceria kini tampak murung dan gelisah.
__ADS_1
Tiba – tiba ponsel Arkananta berbunyi, ternyata panggilan Video dari maminya. Arkananta berusaha untuk tidak membuat Deby terlihat di layar ponsel maminya.
‘’Ada apa, Mi? Ini lagi diperjalanan,’’ tanya Arkananta datar.
‘’Mami kangen tahu, besok kamu sudah berangkat lagi ke asrama. Eh, kamu tahu tidak ternyata Mami dan mamanya Sarah itu berteman loh. Mami baru tahu kalau teman mamimu ini punya gadis cantik seperti Cleopatra, Alangkah senangnya jika Mami punya mantu gadis selembut dia dan hapal Al qur’an lagi,’’ ujar Kaysa antusias.
Arkananta langsung syok, melirik ke arah Deby yang terlihat murung.
‘’Ih, Mami. Jaman apa ini pakai jodoh – jodohkan segala, lagian Arka juga punya selera sendiri,’’ sergah Arka.
‘’Apapaun seleramu carilah yang seperti Sarah itu, menantu idaman banget,’’ balas Kaysa.
‘’Ya sudah, kalau begitu Arka tutup dulu ya, sampai ketemu nanti di rumah,’’ sela Arka langsung mematikan ponselnya.
Arkananta mengembuskan napas panjang, biarpun maminya orang santai jika sudah memiliki keinginan pasti berubah keras kepala
Kemudian Arkananta menatap Deby dan menggenggam lengan gadis tersebut erat. Walaupun Arka tahu itu hal terlarang tapi hatinya sudah kalah oleh perasaan iba.
"Deby, aku akan selalu ada untukmu. Segala hal yang pernah aku katakan itu adalah kebenaran dan tulus. Aku mencintaimu, apapun yang terjadi nanti jangan pernah merasa sendiri. Aku siap berjuang dan mendukungmu," bisik Arka.
"Terima kasih," jawab Deby lemah.
Bibir Deby mulai tersenyum kecil, ada perasaan nyaman dan damai saat Arka mengatakan hal itu.
Deby baru menyadari ternyata sosok Arka baginya menjadi begitu berharga. Di saat dirinya merasa terpuruk dan putus asa ada Arka yang tetap menemaninya.
Awalnya Deby mengira jika dia menyukai Sagara, tapi setelah menyadari ternyata itu hanya sebatas kagum sebab Sagara memiliki kelebihan yang sangat diinginkannya.
Tetapi kemudian saya mendengar obrolan Arkananta dan Maminya tadi membuat dirinya minder dan tidak percaya diri. Jangankan Hapal Al Qur'an, menyentuh saja dia belum pernah. Terlebih lagi mereka berbeda keyakinan pasti kedepannya akan menjadi hal yang sulit.
"Arka, Terima kasih karena kamu sudah baik padaku. Tapi kita berbeda, kita hanya bisa ditakdirkan untuk berteman saja," ucap Deby lirih.
"Jangan berpikiran jauh, sebaiknya kita jalani saja saat ini. Apalagi kita berdua juga masih sekolah, kita tidak tahu kedepannya akan seperti apa. Meskipun begitu kamu hanya perlu ingat satu hal, aku akan selalu ada untukmu," jawab Arkananta serius.
__ADS_1