CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 115


__ADS_3

Di dalam pesawat Dewa memikirkan banyak hal, pemuda itu ingin sekali menghancurkan keluarga Syauqi Malik. Namun, saat melihat Flora yang kecil dan begitu lugu tiba - tiba ada perasaan simpati.


"Kenapa aku lemah begini? Apa karena Flora masih kecil lalu aku tidak tega menjadikannya alat balas dendam agar Syauqi hancur?"


Dewa sendiri semenjak tahu tentang kematian orang tuanya setiap malam menjadi tidak tenang. Dalam mimpi dia sering dihantui orang tua kandungnya, mereka menyuruh Dewa untuk balas dendam. Apalagi Pamannya yang di Jepang juga selalu mengingatkan tentang semua itu.


Sesampainya di rumah Dewa langsung di sambut hangat oleh Ayah dan Ibu angkatnya.


"Kamu ini kalau sudah main sering lupa waktu!" tegur Ayahnya dewa.


Biarpun tanpa tersenyum Dewa tahu jika Ayahnya tersebut sebenarnya sangat peduli.


"Lihatlah! Ibumu sampai sakit karena ditinggal kamu," timpal Ayahnya Dewa.


"Ibu, maafkan aku," ucap Dewa merasa bersalah.


"Sini, Nak. Peluk ibumu ini," pinta Ibu Dewa sambil mengelus kepala Dewa.


Dalam pelukan Ibunya dia merasa sangat damai.


"Kamu sudah makan belum?" tanya Ayahnya.


"Sudah, ayah." jawab Dewa masih dalam pelukan ibunya.


Tiba - tiba ponselnya berbunyi, ternyata nomor baru yang belum sempat di save. Tapi dia tahu jika nomor itu dari Kaysa.


"Ada apa, Kak?" tanya Dewa.


"Kak Alarik ingin mengucapkan terima kasih padamu, bagaimana kalau malam ini kita makan malam bersama? Kamu masih di kota ini kan?" tanya Kaysa terdengar antusias.


"Maaf, Kak. Aku sudah di Aceh lagi," jawab Dewa.


"Kalau begitu kapan kamu balik ke sini?" tanya Kaysa kecewa.


"Belum tahu, Kak. Nanti aku kabari lagi," jawab Dewa.


"Ya sudah... Bye.. Jangan lupa kabari aku ya?" pinta Kaysa seperti sudah mengenal lama.


Begitu sambungan telepon terputus Dewa langsung meminta izin untuk ke kamar terlebih dahulu.


"Ibu, Ayah. Aku tiduran dulu ya?" pinta Dewa.


"Iya, istirahat dulu," jawab Kedua orang tua angkatnya secara bersamaan.


Dewa langsung menghempaskan tubuhnya sendiri ke atas ranjang. Dia begitu lelah. Antara benci dan tidak tega.


"Harusnya aku senang. Bukankah ini tujuanku? Mendekati mereka dan mencari celah lewat kelemahan keluarga Syauqi Malik?"


Sebenarnya kedua mata Dewa sudah terpejam, akan tetapi suara getaran tanda pesan masuk membuat dia tersadar kembali. Segera dia membaca pesan dari pamannya.


Paman Eiji


Daichi, mangsa sudah di depan matamu kenapa kamu lepaskan lagi?


Dewa


Paman, aku sudah punya rencana sendiri. Jadi paman jangan khawatir.


Paman Eiji


Apa kamu mau menunggu si kecil dewasa? Nikahi dia dan rebut seluruh harta Syauqi Malik. Dengan begitu seluruh keluarganya akan mendapatkan kehinaan yang lebih menyakitkan dari kematian?


Dewa


Itu ide bagus, paman. Sekarang aku akan fokus pada orang tua angkatku. Mereka tidak bisa aku tinggal lama - lama.


Eiji


Akan aku atur sehingga mereka tidak bisa menolak pernikahan denganmu!


Dewa sudah terlalu mengantuk untuk membalas pesan pamannya, dia sendiri juga heran kenapa tidak menolak saat disarankan menikah dengan flora kelak.


Yang jelas saat ini dia lebih mementingkan kondisi orang tua angkatnya terlebih dahulu.


"Kita akan bertemu lagi di kemudian hari,"


🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼🌼


Sudah hampir dua bulan tinggal di rumah keluraga Alifya membuat seorang Bima yang dulunya hidup bebas kini bisa menjalani kehidupan sederhana dan teratur.


Meninggalkan kesenangan dan hanya memikirkan tentang akhirat. Dia bahkan rela pindah kuliah di universitas Alifya.


Suatu ketika saat Bima mengantarkan pesanan makanan. Di toko Rian tengah terjadi pembicaraan yang serius.


"Apa kita suruh Bima jangan tidur di sini lagi ya? Aku takut terjadi fitnah. Karena kita juga memiliki anak gadis," ucap Rian.


"Kasihan juga, dia selama sudah berusaha belajar sebaik mungkin," jawab Tia.


"Aku takut jika nanti tetangga pada membicarakan yang tidak - tidak," balas Rian cemas.


"Sebenarnya Bima pemuda yang baik, kenapa tidak terima saja lamarannya itu. Lagi pula Alifya juga sudah dewasa. Kaysa dan Syadev yang jauh lebih muda juga sudah mau punya anak," bujuk Tia.


"Aku akan tanya Alifya dulu, kira - kira dia mau apa tidak menikah dengan Bima," kata Rian bijaksana.


Dulu Rian menentang, tapi begitu mengenal secara langsung dia menjadi yakin biarpun Bima lebih muda dari Alifya tapi mereka jika menikah akan saling rukun.


Alifya yang baru pulang sekolah langsung di suruh kedua orang tuanya duduk terlebih dahulu.

__ADS_1


"Ada apa, Ibu, Bapak?" tanya Alifya.


"Nak, apa kamu mau menikah dengan Bima? Pikirkan keyakinanmu sendiri, jangan karena Ibu dan Bapak," tanya Rian.


Alifya sangat tegang mendapatkan pertanyaan secara tiba - tiba seperti itu. Apalagi suara berat bapaknya membuat orang lain merasa segan.


"Pak, Alifya baru saja pulang. Sebaiknya masalah ini kita bahas nanti malam saja," bujuk Tia menengahi.


"Baiklah, tapi kamu pikirkan baik - baik. Bapak rasa tidak baik juga memberikan harapan kosong pada orang lain.


Alifya hanya mengangguk lalu berpamitan pada kedua orang tuanya untuk masuk ke dalam rumah.


Setelah mandi dan Sholat, Alifya malas makan dan berniat mengambil beberapa kue di toko. Akan tetapi sesampainya di sana hanya ada Bima seorang yang juga sedang makan.


"Alifya, mari makan bersama?" ajak Bima tersenyum ramah.


"Iya, di mana Bapak dan Ibu?" tanya Alifya heran.


"Mereka mengantarkan Isnaini membeli seragam baru," jawab Bima.


Alifya menjadi canggung, karena baru kali ini mereka saling berduaan seperti ini.


"Kamu mau makan apa? Biar aku yang mengambilkan," tanya Bima lembut.


"Tidak, aku sedang ingin makan kue ini saja," jawab Alifya gugup.


"Silahkan..." balas Bima menahan tawa karena gadis di depannya itu sangat lugu sekali.


Bima diam - diam melirik wajah Alifya yang cantik alami.


"Keluarga Syadev memang cantik - cantik. Alifya, Tante Zhia, Flora dan yang paling unggul Kaysa. Itupun karena dia yang paling pinter dandan. Seandainya Alifya dandan mungkin gadis ini juga akan semakin cantik," batin Bima membayangkan ssambil senyum - senyum sendiri.


Baru saja Alifya makan satu gigitan, tiba - tiba datang Mahen dengan membawa buku mata pelajaran.


"Assalamu'alaikum," sapa Mahen.


"Wa'alaikumsalam, silahkan duduk dulu! Akan aku ambilkan kue dan minuman," jawab Alifya ramah.


"Itulah yang membuat aku suka ke rumahmu, kue buatan ibu enak sekali," balas Mahen tertawa riang.


Alifya tersenyum manis dan langsung masuk ke dalam rumah.


Bima yang melihat keakraban mereka berdua merasa cemburu, apalagi Alifya saat mengobrol dengan Mahen bisa bersikap biasa dan santai.


"Kamu Bima kan? Yang waktu itu melamar Alifya?" tanya Mahen.


"Iya," jawab Bima mencoba bersikap tenang.


"Kamu kuliah di mana?" tanya Mahen.


"Iyakah? Kenapa aku tidak pernah melihatmu ya?" tanya Mahen heran.


"Bima seangkatan Syadev, tentu saja kamu tidak pernah melihat dia," sela Alifya sambil menyajikan hidangan.


"Oalah... Jadi Bima seangkatan kita ya?" ujar Mahen tersenyum.


Bima sangat tidak suka mendengar obrolan ini, sebab hatinya terasa tidak enak ketika mereka menganggap jika dirinya masih kecil.


Kemudian datang seorang pelanggan, Bima merasa senang bisa menghindar dari mereka berdua.


"Silahkan mengobrol dengan temanmu dulu, aku yang akan melayani pelanggan," ucap Bima.


Bima langsung beranjak meninggalkan Alifya dan Mahen berduaan.


"Apa usahaku ini sia - sia? Kelihatannya Alifya lebih nyaman dan menyukai Mahen. Apalagi aku ini jauh lebih muda."


Mahen mulai minder, tapi dia juga tidak rela jika menyerah begitu saja.


Cukup lama Alifya dan Mahen mengobrol membahas tentang pelajaran.


"Susah sekali, aku tidak begitu paham," ucap Alifya.


"Bagaimana kalau kita ke rumah Dosen saja? Kita bisa meminta penjelasan sedikit agar kita bisa lebih paham?" tanya Mahen.


"Aku tidak bisa keluar, orang tuaku sedang tidak di rumah," jawab Alifya bingung.


"Sudahlah tidak apa - apa. Nanti kalau aku sudah dapat informasi nanti akan aku beritahu kamu," kata Mahen mengibur.


"Benarkah? Terima kasih banyak ya?" ucap Alifya senang.


"Kalau begitu sekarang aku pamit duku, aku akan langsung ke Dosen," ujar Mahen.


"Iya, hati - hati ya?" kata Alifya tersenyum lega.


"Sip, Assalamu'alaikum," kata Mahen.


"Wa'alaikum salam," jawab Alifya.


Setelah kepergian Mahen, Alifya masih melihat - lihat buku yang baginya sulit untuk dipahami.


Begitu melihat celah Bima langsung datang lagi menemani Alifya.


"Apa sudah selesai?" tanya Bima perhatian.


"Belum, susah sekali," jawab Alifya mulai gugup.


"Coba aku lihat," sela Bima meraih buku lembaran kertas milik Alifya.

__ADS_1


Bima membacanya, sedangkan Alifya membiarkan saja.


"Oalah, ini aku bisa mengerjakannya," kata Bima tersenyum senang.


"Jangan bercanda. Kamu kan adik kelasku," ucap Alifya tidak percaya.


"Aku memang adik kelasmu di sini, tapi sebenarnya aku sudah mempelajarinya di luar negeri. Karena aku selain kuliah juga ikut berbagai pelajaran tambahan," jawab Bima meyakinkan.


"Kalau begitu coba terangkan!" kata Alifya minta bukti.


Bima dengan tenang dan santai mulai menerangkan dari awal sampai akhir. Alifya terkejut, biarpun usia Bima lebih muda tapi dari segi pengetahuan dan pengalaman pemuda itu jauh lebih darinya.


"Aku tidak percaya kamu bisa pelajaran di kelasku," puji Alifya tulus.


"Lain kali kalau ada kesulitan bisa minta tolong padaku," jawab Bima merasa bangga.


Tiba - tiba mobil milik Rian memasuki halaman, Mereka segera turun dan terkejut melihat Alifya yang sedang berduaan dengan Bima.


"Assalamu'alaikum," ucap Rian, Tia dan Isnaini.


"Wa'alaikum salam," jawab Alifya dan Bima.


"Kak, ini oleh - oleh untuk Kak Alifya dan Kak Bima," ucap Isnaini memberika bungkusan makanan.


"Terima kasih," jawab Bima dan Alifya.


"Kenapa kalian berduaan di sini?" tanya Rian langsung menyelidik.


"Tadi aku dan Mahen kesusahan menggarap tugas sekolah, siapa sangka Bima bisa mengerjakannya dengan mudah," jelas Alifya.


Rian terkejut juga, sebab putrinya termasuk anak teladan yang pintar. Tapi jika Alifya saja merasa kesulitan, berarti pelajarannya sulit. Rian semakin suka dengan Bima.


"Ya sudah, sekarang kamu siapkan piring! Mari kita makan ketoprak ini bersama," perintah Rian.


"Isnaini, kamu bisa bantu kakakmu menyiapkan ini ya?" timpal Tia pada putri bungsunya.


Kini hanya ada ada Bima dan kedua orang tua Alifya saja.


"Bima, Nanti malam kamu jangan menginap di sini lagi!" kata Rian tegas.


Bima kaget sekaligus kecewa, dia mengira jika usaha untuk membuktikan kesungguhan melamar Alifya gagal.


"Iya, paman. Aku tidak akan menerimanya. Aku sadar aku memang tidak layak untuk putri Anda," jawab Bima mencoba tegar.


"Maksudku jangan menginap di sini agar tidak menimbulkan fitnah. Apa kata orang jika kamu dan Alifya belum menikah tapi tinggal serumah? Meskipun begitu kamu setiap sore tetap mengaji di sini seperti biasanya," kata Rian.


Bima masih bingung dengan dengan ucapan Bapaknya Alifya tersebut.


"Nak, maksudnya kami sudah setuju jika kamu dan Alifya nanti menikah," ralat Tia lembut.


Bima langsung terperanjat tak percaya.


"Benarkah? Benarkah aku diterima menjadi menantu kalian?" tanya Bima memastikan lagi.


Saat itu Alifya dan Isnaini sudah datang dengan piring yang sudah berisi ketoprak.


"Tapi semua itu juga tergantung Alifya, apa dia mau atau enggak," sela Rian lagi.


Bima langsung menoleh dan memberanikan diri untuk menanyakan langsung pada Alifya.


"Alifya, kedua orang tuamu sudah memberikan izin. Maukah kamu menikah denganku?" tanya Bima memohon.


"Tapi aku belum lulus kuliah," jawab Alifya ragu.


"Aku akan menunggumu. Menunggumu sampai kamu siap," bujuk Bima.


Alifya hanya menunduk karena merasa malu.


"Kalau kamu diam saja berarti tandanya setuju," kata Bima.


Biarpun Bima lebih muda darinya, Alifya sadar jika pemuda tersebut jauh lebih unggul darinya. Dia yakin jika Bima nanti bisa bertanggung jawab dan menjadi kepala rumah tangga yang baik.


Alifya menyunggingkan senyuman yang indah dengan wajah merona merah.


Tida dan Rian yang juga tahu maksud semua itu merasa senang.


"Terima kasih, aku akan berusaha dan belajar lagi agar nanti bisa menjadi imammu yang baik, biarpun aku nanti belum lulus kuliah tapi jangan takut aku tidak bisa menafkahimu," kata Bima senang.


"Mari kita makan," kata Rian berubah ramah.


Semenjak itu Bima tidak lagi tinggal di rumah Alifya. Meskipun begitu setiap sore dan waktu senggang Bima akan ke rumah Rian untuk mengaji dan membantu pekerjaan seperti biasa.


Sikap Rian yang dulu tegas kini juga mulai lunak, apalagi dia yang tidak memiliki seorang putra jadi menganggap Bima sebagai putra sendiri.


**Maaf sekali saya lama tidak up karena di dunia nyata juga memiliki kesibukan, terima kasih yang sudah setia menunggu. Jangan lupa like dan Vote ya? Dan komentar dari kalian semua selalu menjadi hiburan dan penyemangat. walaupun tidak bisa saya balas satu persatu tapi saya pasti baca semuanya.


Terima kasih banyak saya ucapkan, apalagi ada yang sudah download aplikasi In*no*vel dan selalu memberikan dukungan kepadaku. Semoga kalian semua selalu sehat dan diberi kelancaran dalam segala urusan🙏🙏🙏🙏


Oh iya, saya mau memperkenalkan diri terlebih dahulu pada kalian🤗 Biar kita bisa saling mengenal dengan baik.


Hallo, nama asli saya Lina Dwi Haryani. Kelahiran Magelang Jawa tengah. Nama pena Lina Lutfiana. Saya berusia 25 tahun dan sudah punya satu putri yang baru berusia dua tahun. Hobi saya sejak kecil membaca dan menulis. Baru awal tahun 2020 ini kesampaian jadi penulis novel. walaupun hanya di novel Online tapi sudah bahagia dan bersyukur.


Karya saya yang kontrak di Aplikasi Mangatoon / Noveltoon adalah CINTA YANG TERPAKSA dan SCORPIO.


Sedangkan di aplikasi lain DRE*AM / IN*NO*VEL adalah Rantai Pernikahan Berkarat.


Terima kasih banyak ya🤗🤗🤗🤗**

__ADS_1


__ADS_2