CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Kelahiran prematur


__ADS_3

Kedatangan Nindy di rumahnya membuat Zhia senang, karena dia memiliki teman mengobrol sesama wanita.


"Zhia, kamu beruntung ya bisa memiliki anak kembar," ucap Nindy iri.


"Iya, rasanya baru kemarin aku putus sekolah tau-tau sekarang sudah memiliki dua anak," jawab Zhia yang seakan juga tak percaya.


"Tapi kamu juga beruntung, karena suamimu sangat perhatian. Aku jadi teringat dulu kamu sangat membenci Syauqi," ledek Nindya mengingat masa lalu.


"Itu karena dia orang yang paling menyebalkan yang pernah kutemui," jawab Zhia kesal.


"Tapi sepertinya sekarang kamu sangat mencintai dia," balas Nindya.


"Tentu saja, dia adalah suamiku. Bagaimanapun sikapnya aku harus mencintai dia," kata Zhia tertawa kecil.


"Memangnya sikapku kenapa?" tanya Syauqi yang tiba-tiba sudah merangkul tubuh Zhia dari belakang.


Zhia terkejut dan mukanya langsung memerah karena menahan malu.


"Ah tidak, Mas Syauqi. Hanya membahas masa lalu saja," jawab Zhia gugup.


"Masa lalu yang mana?" goda Syauqi walaupun sebenarnya tadi sudah mendengarkan percakapan istrinya.


Zhia tahu, jika dia jujur pasti suaminya akan menghukumnya di ranjang. Zhia tidak ingin di permalukan di depan temannya.


"Nindya kamu mau makan apa? Biar aku ambilkan," kata Zhia mengalihkan pembicaraan.


"Apa kamu ada buah jeruk? Rasanya perutku mual pengen sesuatu yang segar-segar," jawab Nindya penuh harap.


"Ada banyak, aku ambilkan dulu," ucap Zhia riang.


Namun saat Zhia berdiri tubuhnya langsung di peluk lebih erat dari belakang.


"Kamu punya hutang banyak padaku, mulai sekarang harus sering-sering dicicil biar segera terlunasi," kata Syauqi percaya diri.


Zhia semakin merasa malu, wajahnya sangat merah. Apalagi ketika Nindya nyengir membuat Zhia tersenyum canggung.


"Nindya, ini sudah malam. Kamu istirahatlah di kamar, nanti aku suruh Bik Tri untuk membawa buah-buahan ke kamarmu," usir Syauqi secara halus.


Istri Dony itu tahu situasi, Nindya segera masuk ke kamar karena tak ingin mengganggu kemesraan tuan rumah.


Setelah Syauqi menelpon Bik Tri, suami tampan Zhia itu segera menarik istrinya ke kamar.

__ADS_1


"Mas, tadi siang kan sudah," protes Zhia.


"Aku ingin lagi," bisik Syauqi sambil mencium bibir istrinya dengan mesra.


Baru beberapa menit mereka pemanasan, terdengar suara ketukan yang lumayan keras.


Syauqi menghentikan aktifitasnya, karena biasanya kedua pembantunya tidak pernah berani mengetuk pintu.


"Tuan Syauqi, Nyonya Nindy kesakitan. Sepertinya mau melahirkan," ucap Bik Tri cemas.


Zhia yang mendengar langsung ikut ke luar kamar, dia sampai lupa tidak memakai jilbab.


Nindy sedang berbaring sambil menangis.


"Zhia, perutku sakit sekali. Aku tidak tahan lagi," keluh Nindy memegangi perutnya.


"Mas Syauqi, ayo bawa Nindya ke rumah sakit sekarang. Aku khawatir, Nindy belum waktunya melahirkan," kata Zhia setengah berteriak.


"Baiklah, Kamu pakai jilbabmu dulu. Dan Aku akan menyiapkan mobilnya," kata Syauqi yang juga merasa cemas.


Nindya di bantu Bik Tri dan Buk Mus berjalan ke bawah menuju mobil.


"Bik Tri, Bik Mus. Kalian berdua jagain Kaysa dan Syadev di kamar ya! Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku," perintah Syauqi tegas.


Zhia duduk di belakang menemani Nindya yang merintih kesakitan.


"Sabar ya, Semoga tidak terjadi apa-apa dengan kandungan mu," ucap Zhia menenangkan temannya.


Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di rumah sakit. Itupun Syauqi menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sampai di rumah sakit Dokter mengatakan kalau Nindya akan melahirkan. Zhia menemani Nindya sedangkan Syauqi yang menunggu di luar ruangan terus menghubungi Dony. Tapi gagal terus karena nomornya di luar jangkauan.


Lima belas menit kemudian terdengar suara bayi yang menangis keras, proses persalinan Nindya tergolong sangat cepat. Tapi karena bayi Nindya lahir prematur maka harus di rawat secara intensif.


Pagi harinya Dony baru bisa di hubungi, mantan cowok playboy itu langsung meninggalkan tugasnya dan menyusul istrinya yang masih di rawat di rumah sakit.


Sesampainya Dony di rumah sakit, di sana sudah ramai orang. Ada keluarga Dony, keluarga Nindya dan kerabat lainnya.


"Terimakasih, Bro, Zhia. Karena kalian sudah membantuku merawat istriku," ucap Dony.


"Jangan sungkan Don, selama ini aku sudah menganggap mu seperti saudaraku sendiri," jawab Syauqi sambil menepuk bahu kanan Dony.

__ADS_1


"Iya, Mas Dony. Mulai sekarang kamu harus lebih memperhatikan Nindya lagi," timpal Zhia.


"Don, karena kamu sudah di sini kami pamit pulang dulu ya. Takut nanti persediaan ASI Kaysa dan Syadev habis," pamit Syauqi.


"Iya, terimakasih banyak," jawab Dony langsung masuk ke kamar inap menemui istrinya.


*****************************


Hampir semalaman Zhia dan Syauqi tidak bisa tidur, mereka berdua terus menjaga Nindya yang terbaring lemah.


Sesampainya di Vila, Syauqi dan Zhi langsung ke kamarnya menemui kedua anaknya.


Di dalam kamar hanya ada Bik Mus, Karena Bik Tri sedang memasak di dapur.


"Apa semalam mereka rewel, Bik Mus?" tanya Zhia.


"Tidak, Nyonya. Tadi pagi setelah mandi minum ASI, kemudian mereka tidur lagi," jawab Bik Mus.


Beberapa menit kemudian Kaysa menangis. Anak kembar yang lahir duluan itu memang selalu mencari perhatian saat Ayahnya pulang dari bepergian. Kaysa akan berhenti menangis kalau sudah di timang Syauqi.


"Uluh... uluh... Putri ayah yang cantik ini kangen Ayah ya," kata Syauqi langsung menimang Kaysa.


"Sayang, kamu makanlah duluan. Supaya ASI-nya penuh," pinta Syauqi.


Zhia mematuhi perintah suaminya. Dia segera turun ke bawah dan sarapan.


Zhia sangat suka oseng-oseng daun pepaya yang sebelumnya di rebus dahulu. Meskipun agak pahit tapi Zhia merasa ASI-nya menjadi lebih banyak setelah makan sayuran itu.


Selesai makan Zhia segera menyiapkan sarapan untuk suaminya. Dengan membawa nampan yang berisi makanan dan segelas teh manis Zhia masuk ke kamarnya.


Kaysa sudah tertidur dan baru saja di letakkan di box nya sendiri. Kemudian giliran Syadev yang terbangun dan menangis, tapi suaranya tidak sekencang Kaysa.


"Sarapan dulu, Mas Syauqi. Biar aku yang menggendong Syadev," ucap Zhia lembut.


Syauqi mengangguk pelan tanda setuju. Syauqi makan sambil duduk di sofa. Pemuda yang berusia 30 tahun itu diam-diam memandang istrinya yang tengah menggendong putranya.


"Zhia, semoga selamanya kita bisa bahagia seperti ini. Aku sangat mencintaimu. Setiap hari rasa cinta itu kian bertambah besar. Aku akan selalu membuatmu dan keluarga kecil kita bahagia tanpa kekurangan apapun. Terimakasih, karena kamu telah hadir di hidupku.


Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like dan Vote ya🙏


Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.

__ADS_1


Mohon kritik sarannya juga, semoga novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi.


__ADS_2