CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Salah Sasaran


__ADS_3

Karena tidak ada saudaranya, pagi ini Yudistira hanya tiduran dan sudah selesai menonton semua film dalam daftar pencariannya. Setelah itu dia bermain game, tapi lama - lama dia merasa bosan juga.


"Ya ampun, Sagara dan Arkananta sibuk semua. Aku jenuh jika seperti ini," batin Yudis.


Tiba - tiba ponselnya berbunyi, dan yang melakukan panggilan video adalah Deby.


"Tumbenan, ada apa ini anak?" batin Yudis heran.


Setelah di angkat Deby tanpa basa - basi mengajak ke bioskop.


"Aneh, tumbenan kamu mengajak aku?" tanya Yudis curiga.


"Aku malas nonton sendiri, bukannya kamu juga suka? Ini film terbaru yang baru tayang loh," bujuk Deby.


"Aku sih mau - mau saja, tapi mana mungkin aku diijinkan pergi malam - malam begini? Dengan seorang perempuan lagi," keluh Yudistira.


"Kamu contohlah saudaramu yang jenius itu, selalu punya banyak akal dalam menyelesaikan berbagai masalah," sindir Deby kesal.


"Baiklah, walaupun aku tidak jenius tapi aku pandai berakting," sergah Yudistira yang tidak ingin diremehkan.


Malam ini Yudistira pura - pura tidak enak dan minta izin tidur lebih awal, karena tidak ada Saga dan Arka Syadev dan Anggun tentu saja tidak curiga.


Setelah agak malam Yudistira menghubungi Deby mengkonfirmasi jika keadaan sudah aman. Sebenarnya Yudistira merasa ada sesuatu yang menjanggal dalam hatinya, entah kenapa bepergian seorang diri tanpa kedua saudaranya tidak ada semangat apapun. Hanya saja Yudistira tidak mau diremehkan oleh Desy.


Dengan melewati jendela, dia turun dari lantai dua memakai tali. Di luar Deby sudah menunggu dari dalam mobil.


"Ini baru namanya lelaki, aku saja yang perempuan bebas keluyuran malam hari," ejek Deby.


"Keluarga kita beda," balas Yudis kesal.


Deby memang anak yang bebas, sebab papanya tidak pernah menuntut Apapaun selain menginginkan putrinya bahagia. Makanya Deby menjadi sosok gadis tangguh dan memiliki jiwa kuat seperti lelaki.


Deby tidak ingin buang waktu lagi dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk ke sebuah tempat.


"Eh, ini dimana? Katanya mau ke bioskop?" tanya Yudis heran.


"Ayo kita berdua segera ganti pakaian yang formal," ajak Deby memaksa.

__ADS_1


"Loh, ngapain? Wah tidak beres ini," ujar Yudistira curiga.


"Sudah jangan protes lagi, waktu kita tidak banyak," bujuk Deby.


"Katakan yang sejujurnya dulu, kalau tidak aku mau pulang," ancam Yudis.


"Aku ingin kamu menemaniku ke tempat pelelangan," kata Deby penuh harap.


"Pelelangan apa?" tanya Yudis penasaran.


"Elektronik antik jaman dulu," jawab Deby setengah tertawa.


Yudistira langsung mendengus kesal, sebab dia sama sekali tidak minat dengan hal seperti itu.


"Sangat tidak menarik, aku mau pulang," jawab Yudistira balik arah.


Deby langsung menarik baju Yudis dan membawa pemuda itu masuk untuk berganti pakaian.


"Sekali ini saja tolong aku kenapa sih, jadi teman kok perhitungan amat," omel Deby.


"Baiklah lepaskan aku dulu," jawab Yudistira mengalah.


Sasaran mereka yang sebenarnya adalah Sagara, hanya karena wajah Saga dan Yudis mirip jadinya mereka tidak bisa membedakan.


Yudistira yang sudah selesai duluan memilih menunggu di luar, sebab menunggu di dalam sangat membosankan baginya.


Tak lama kemudian dari belakang dia disergap dan dibius. Langsung saja Yudistira pingsan dan dibawa ke dalam mobil.


Beberapa data setelah Deby selesai di make up, gadis itu mencari Yudistira kemana-mana, tapi tidak ditemukan juga. Deby sudah mencoba menelepon berkali - kali, tapi sama sekali tidak ada jawaban.


"Apa dia sudah pulang? Seharusnya dari awal aku tahu jika Yudistira tidak bisa diandalkan," gumam Deby marah.


Karena sudah tanggung, diapun memilih datang ke tempat pelelangan seorang diri dan sama sekali tidak curiga mengenai penculikan Yudistira.


****************************


Yudistira tersadar dan dia tahu jika sedang di dalam mobil dalam kondisi terikat dan mulut di lakban.

__ADS_1


"Sial, siapa yang sudah berani menculik aku?" batin Yudistira pura - pura masih pingsan.


Diam - diam Yudistira menguping pembicaraan para penjahat untuk mencari informasi.


"Kita sudah berhasil menculik Sagara, setelah ini posisi kita akan aman dan tidak akan tergeser,"


"Iya, setelah bos Roji di tahan kita tidak memiliki pendukung. Sekarang kita hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk tetap bertahan,"


"Tapi kapan bos Roji akan dikeluarkan?"


"Tetua masih menunggu waktu yang tepat, Jia dilakukan saat ini pasti keberadaan tetua akan dicurigai,"


"Benar, karena selama ini mereka mengira yang menjadi pimpinannya adalah bis Roji, jadi polisi yang berpikir sudah menangkap bos Roji pasti akan merasa sudah berhasil dan menghentikan penyelidikan,"


Yudistira terkejut, tidak disangka jika dia mendapat informasi yang begitu besar.


"Mereka menyangka aku Sagara? Ada apa ini? Ah sial, aku mau melepaskan diri saja susah. Sebaiknya untuk berjaga-jaga aku berakting menjadi Saga saja, aku mulai yakin mereka berniat menangkap Sagara karena dia cerdas dan bisa meretas," batin Yudistira.


Yudistira tertawa dalam ketakutannya, andaikan dia disuruh melakukan itu tentu saja dia tidak bisa. Palingan dia berpura - pura jenius dan justru menggunakan kesempatan itu untuk melapor ke pusat kepolisian meminta pertolongan


"Lain kali kalau bepergian harus berpamitan pada orang tua, ini nih sialnya jadi anak durhaka," gumam Yudistira menyesal juga.


Sebagai tokoh utama yang sedang di culik kunci utama adalah ketenangan, mengamati sekitar dan pendengaran harus dipertajam biar bisa mengorek informasi dan mencari celah. Itulah yang sering Yudistira amati dari film laga kesukaannya.


Tapi yang namanya Film dan kenyataan tentu saja berbeda, mana mungkin dia bisa tenang saat sendirian menghadapi orang yang jauh lebih banyak serta membawa senjata api.


"Ah sial, kalau tahu begini aku lebih baik tiduran di rumah saja dengan damai. Atau tadi aku tak perlu keluar duluan, jadi bisa menonton pelelangan yang membosankan bersama Deby. Tapi kira - kira gadis itu sadar kalau aku diculik atau tidak ya?" batin Yudistira resah.


"Eh, tapi aku dengar jika Sagara itu memiliki kembaran. Kira - kira kita salah tangkap atau tidak?" ucap salah seorang dari mereka.


"Entahlah, kita bawa saja dulu. Kalau salah sasaran tinggal kita bunuh saja dan menculik lagi yang satunya,"


"Kamu benar, lagian jika keliru juga bukan sepenuhnya kesalahan kita. Karena mereka memang benar - benar mirip dan sulit dibedakan,"


Yudistira semakin merasa ngeri mendengar pernyataan itu. Jika tidak berhasil melepaskan diri maka nyawanya benar - benar akan melayang.


"Bagaimana ini... Bagaimana ini?" batin Yudistira panik.

__ADS_1


Setelah cukup lama berpikir Yudistira akan menyamar dan mengaku sebagai Sagara, hanya dengan begitu dia bisa mengukur waktu.


"Sial banget sih nasipku, untung saja aku punya bakat akting. Jadi mereka pasti tidak akan bisa menyadarinya," batin Yudistira.


__ADS_2