CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Balas Budi


__ADS_3

Yudistira tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan Jamila, apalagi gadis itu sangat berbeda dengan saat pertama kali dilihatnya.


Jamila kesehariannya memakai pakaian sederhana dan tertutup, tutur bahasanya juga halus.


"Jamila, kamu seumuranku kan? Kenapa tidak sekolah?" tanya Yudis penasaran.


"Sebenarnya aku juga mau sekolah, tapi kenaikan kelas tiga ini aku berhenti sebab sudah tidak ada biaya lagi. Dari pada memaksakan diri aku lebih memilih untuk membantu bekerja," jawab Jamila.


"Kerja apa?" tanya Yudis penasaran.


"Aku bekerja di pembuatan ikan asin bersama ibuku. Walaupun gaji tak seberapa tapi setidaknya sudah tidak punya hutang jadi tetap cukup untuk kebutuhan sehari - hari dan biaya sekolah adikku," balas Jamila tersenyum riang.


Yudis tidak mengira orang yang hidup sederhana saja masih bahagia, ada perasaan kasihan jika selamanya Jamila akan berakhir seperti ini.


"Kamu tidak punya keinginan untuk merubah nasip?" tanya Yudis lagi.


"Tentu saja ada, mana mungkin orang tidak ingin hidup lebih baik lagi. Tapi untuk saat ini aku belum diberi jalan, jadi ya hanya sekedar mengikuti alur,"


Yudis terdiam, dia mencoba memikirkan cara supaya Jamila bisa lanjut sekolah lagi.


"Kamu memiliki prestasi apa? Atau keahlian apa?" tanya Yudis serius.


"Nilai aku pas - pasan saja, tapi aku memiliki banyak piala dari lomba renang dan lompat indah. Maklum anak laut, sejak kecil sudah bersahabat dengan ombak dan air," jawab Jamila jujur.


Yudistira tersenyum, setidaknya masih ada sedikit harapan agar Jamila bisa masuk sekolah lagi di sekolah Andromeda.


"Yudis, sebaiknya kamu tiduran saja. Aku dan ibuku mau berangkat bekerja," pamit Jamila.


"Pak Bisri dimana?" tanya Yudis heran sebab sejak tadi pagi belum melihat.


"Mencari umpan untuk memancing nanti malam bersama teman kerjanya. nanti siang jam dua kami pulang kok. Kalau mau makan tinggal ambil saja, tidak usah sungkan!" ucap Jamila memakai topi Capil biar tidak panas.


"Nak, kami tinggal dulu ya?" timpal ibunya Jamila.


"Iya," jawab Yudis.


Sore harinya anggota keluarga Jamila berkumpul lagi, walaupun hidup apa adanya tapi mereka tampak bahagia.


"Yudis, kira-kira kapan keluarga kamu sampai di sini?" tanya Bisri.


"Palingan nanti malam, Pak," jawab Yudis.

__ADS_1


"Berapa orang yang datang menjemput?" tanya Bisri lagi.


"Tiga orang pak, Papa dan kedua om aku," balas Yudis.


Kemudian Bisri mengajak istrinya ke dalam, walaupun sudah bisik - bisik Yudis bisa mendengar Bisri menyuruh istrinya untuk membeli persiapan jamuan.


Setelah itu Bisri keluar lagi ke ruang tamu, sedangkan ibunya Jamila sudah pergi dari pintu belakang.


"Pak Bisri kan memiliki lahan kosong di samping rumah. Kenapa tidak dijadikan usaha untuk membuat ikan asin sendiri? Kemudian di goreng sampai kering, di kemas dan diberi merk sendiri. Kemudian di jual ke kota dengan harga yang terjangkau pasti laris manis, atau dititipkan ke warung - warung dan di edarkan ke penjual di pasar," saran Yudis memberi ide.


"Ide kamu ini cemerlang sekali, tapi pastinya membutuhkan modal yang banyak. Untuk membeli bahannya, peralatannya dan juga belum lagi alat transportasinya," jawab Bisri.


"Selagi kita berdoa pasti ada jalan," balas Yudis.


Keluarga Jamila menunggu sampai larut malam, sampai Bisri tidak ikut bekerja ke laut hanya demi menunggu keluarga Yudistira. Namun, baru pukul tiga pagi keluarga Yudis sampai di sana.


Yudis yang sedang tiduran di ruang tamu bersama langsung memeluk papanya dan meminta maaf.


"Pa, maafkan aku," tangis Yudis.


"Kamu ini!" sergah Syadeva tidak bisa marah lagi.


Keluarga Jamila ikut terbangun semua, setelah dihidangkan minuman dan beberapa kue mereka saling mengobrol.


"Adikmu sedang mencari kelemahan mereka, semoga saja bisa segera ditangkap," ucap Syadev.


"Iya, Pa. Karena mereka sangat membahayakan sekali, banyak kejahatan yang sudah mereka lakukan!" balas Yudis.


Mereka semua begadang sampai langit terang. Akhirnya Syadev memutuskan untuk pulang di malam harinya untuk istirahat.


Yudis diam-diam meminta tolong pada papanya tersebut. Menceritakan soal Jamila yang putus sekolah dan juga Bisri yang bekerja menaruhkan nyawa. Yudispun memohon papanya agar mau membantu keluraga Pak Bisri.


"Iya, papa setuju. Karena mereka sudah menyelamatkan nyawamu. Ini pakai kartu papa, kamu bisa gunakan untuk membeli keperluan usaha mereka. Sial Jamila nanti papa akan memasukkan ke sekolahan Andromeda," jawab Syadev suka cita.


Yudis memeluk papanya dengan erat, betapa bahagianya bisa bertemu dengan orang tuanya lagi.


"Kalau begitu papa dan Om Dewa Om Alarik tiduran dulu, Yudis mau mengajak Pak Bisri keluar," ucap Yudis.


"Ini kunci mobilnya," sela Dewa melemparkan benda tersebut.


"Terima kasih, ya om," balas Yudis senang.

__ADS_1


Yudis segera menemui Pak Bisri yang sedang di belakang.


"Pak, mari aku ajak jalan - jalan?"


"Kemana?" tanya Bisri penasaran.


"Ke kota, sekalian dengan Ibu dan Jamila juga," balas Yudis.


"Biar ibu di rumah saja, nanti kalau adik - adik Jamila pulang sekolah kasihan mereka," balas Ibunya Jamila.


"Memangnya mau kemana?" Sela Jamila.


"Rahasia, ini kejutan," balas Yudis sengaja tidak memberitahu, sebab nanti keluarga Bisri akan menolak.


"Ya Ayuk, mumpung kamu di sini sekalian bisa melihat daerah sini," jawab Bisri setuju.


"Ayo deh," balas Jamila juga setuju.


Dengan naik mobil yang mewah, akhirnya Yudistira membawa Bisri dan Jamila ke kota.


Sesampainya di sana Yudistira langsung membelikan motor Tosa untuk yang bisa mengangkut barang, setelah itu peralatan pembuatan ikan asin, penggorengan besar dan juga alat untuk pengemasan.


"Nak, sudah. Ini sudah terlalu banyak," ucap Bisri cemas.


"Bapak jangan khawatir, tenang saja! Semua ini papa aku kok yang menyuruh," jawab Yudistira menenangkan Bisri.


Siang harinya semua sudah terbeli, mereka akhirnya pulang.


Bisri langsung mengucapkan terima kasih banyak kepada keluarga Syadev.


"Tidak perlu sungkan, ini tidak seberapa dibanding Anda yang sudah menyelamatkan putra saja. Dan kami juga mau menawarkan bantuan beasiswa untuk Jamila agar bisa melanjutkan sekolah di Sekolahan Andromeda. Di sana sekolah yang sangat menjamin masa depan," jawab Syadev tersenyum ramah.


Bisri langsung menangis terharu, tentu saja dia merelakan putrinya agar bisa melanjutkan sekolah lagi. Sebagai orang tua batinnya juga tersiksa melihat anaknya berhenti sekolah karena kekurangan biaya.


Syadev kemudian memberikan uang tunai sepuluh juta lagi, agar bisa untuk membeli ikan agar bisa segera memulai usaha.


Bisri sudah menolak, tapi Syadev tetap memaksa.


"Semangat memulai usaha ya, Pak. Setelah ini jangan bekerja ke laut lagi karena sangat beresiko jika ada ombak yang besar. Dengan begini juga Bapak bisa meningkatkan ekonomi keluarga," ucap Syadev.


Jamila yang berada di paling ujung menangis, sebab dia sebentar lagi bisa melanjutkan sekolah dan nasip keluarganya juga akan membaik.

__ADS_1


"Nak Jamila, kamu bisa bersiap-siap sekarang. Nanti malam ikut kami ke kota. Di sana ada asrama. Jadi kami hanya perlu belajar saja tidak usah memikirkan apapun," kata Syadev.


"Iya, terima kasih banyak," jawab Jamila menghapus air matanya.


__ADS_2