
Di tengah acara pesta, Syauqi mendapat laporan dari supirnya di rumah. Syauqi tertawa, karena dia merasa mendapat mainan baru.
"Kamu kenapa, Mas Syauqi?" tanya Zhia penasaran.
"Tidak apa-apa, Istriku sayang. Kamu bergabunglah dengan Nindya dan Kak Elly. Aku ada urusan sebentar dengan Dony," ucap Syauqi santai.
"Iya, Mas Syauqi," jawab Zhia patuh.
Syauqi segera menelpon Dony, tak lama kemudian orang yang dicarinya muncul di hadapannya.
"Ada apa, Bro?" tanya Dony.
"Ada pekerjaan penting untukmu, cepat kamu buat perusahaan Mandala kacau. Ini hanya peringatan kecil saja, sebagai hukuman mengirim mata-mata ke rumahku," ucap Syauqi.
"Siap!" jawab Dony riang, pemuda itu senang jika di beri tugas yang seperti ini, baginya sangat mengasyikkan mempermainkan orang lain.
Selepas kepergian Dony, Syauqi segera menelpon Rendra.
"Rendra, Kirim Alarik ke Jerman! Di sana dia akan tinggal bersama Mama aku. Nanti segala kebutuhan sudah disiapkan," ucap Syauqi.
**********************************
Malam semakin larut, Syauqi mengajak keluarga kecilnya pulang ke rumah.
Di dalam mobil Kaysa dan Syadev sibuk memainkan ponsel baru mereka. Akan tetapi gadis kecil itu merasa gusar.
"Kamu kenapa, Kaysa?" tanya Syauqi penasaran.
"Kenapa Kak Alarik tidak bisa dihubungi, Ayah?" rengek Kaysa.
"Oh iya, Ayah lupa memberi tahu kalau Kak Alarik pindah belajar ke Amerika," ucap Syauqi.
"Istri dan anak-anakku tidak pernah bisa berbohong, untuk sementara aku sembunyikan dulu kebenarannya," bisik Syauqi dalam hati.
"Pindah? Kenapa?" Zhia terkejut, karena kemarin saat anak angkatnya menelpon tidak mengabari apa-apa.
"Alarik anak cerdas, dia tidak akan puas jika hanya belajar di satu tempat. Tenanglah! Di sana semua sudah diatur," jawab Syauqi tenang.
Sedangkan Zhia yang polos bercaya begitu saja.
*********************************
Sesampai di vila Syauqi segera mengangkat tubuh Kaysa yang sudah tertidur di mobil. Sedangkan Syadev masih bisa berjalan sendiri meskipun matanya setengah terpejam.
Setelah Syauqi meletakkan putri kecilnya di kamarnya sendiri, dia segera menyusul Ke kamar anak yang satunya. Di sana istrinya masih menemani Syadev supaya segera pulas.
Syauqi ikut berbaring tapi di belakang tubuh istrinya, tangannya memeluk Zhia dan Syadev secara bersamaan.
"Mas, jangan seperti ini dong," protes Zhia.
"Kenapa? Aku sedang memeluk putraku," jawab Syauqi santai.
"Kalau mau memeluk putramu tidurlah di sampingnya! Bukan di sampingku," jawab Zhia kesal.
__ADS_1
"Aku juga mau di Nina Bobo seperti Syadev," bisik Syauqi lembut tepat di telinga Zhia.
Zhia langsung merasa merinding. terlebih lagi suaminya yang mulai menggigit punggungnya secara perlahan.
"Mas, jangan seperti itu," protes Zhia yang sudah merasa kesal.
"Ayah, Budha. Kalau kalian berantem terus aku jadi tidak bisa tidur," kata Syadev.
Zhia merasa malu, sedangkan Syauqi malah tersenyum senang.
"Bunda, Syadev sudah besar. Dia ingin tidur sendirian," sindir Syauqi.
"Mas Syauqi ini mukanya tebal sekali," bisik Zhia dalam hati.
"Selamat bobok sayang, Bunda sama Ayah kembali ke kamar dulu," ucap Zhia sambil mencium kening putra tampannya.
Tapi syadev tidak menjawab, karena anak itu sudah tertidur pulas.
********************************
Di kamar Syauqi tidak bisa diam, entah tangannya, mulutnya, terus-terusan mengganggu istrinya.
"Apakah Mas Syauqi ini tidak lelah? Dari pagi kerja, terus bolak-balik perjalanan jauh," ucap Zhia setengah kesal.
"Kenapa? Kamu takut jika suamimu ini tidak memuaskanmu?" goda Syauqi dengan senyuman nakal.
Zhia terkejut, dia menyesal karena menanyakan hal seperti itu. Karena ujung-ujungnya dirinyalah yang akan merasa malu sendiri.
"Aku hanya ingin mengambil hutangmu yang kemarin malam," bisik Syauqi mulai mencium istrinya.
**********************************
Hari Minggu adalah hari bersantai, karena Syauqi tidak masuk kerja dan kedua anaknya juga libur sekolah.
Zhia sebagai Ibu baik menyiapkan hidangan untuk sarapan pagi.
"Hemm... masakan Bunda memang yang paling enak," ucap Kaysa puas.
"Makanya kalau sudah besar belajarlah memasak seperti Bunda," nasihat Syauqi.
"Nggak mau, aku lebih suka belajar ilmu bela diri saja," jawab Kaysa.
Selesai makan Putra Syauqi bermain game sambil duduk di sofa, sedangkan Kaysa menghubungi Kakak pertamanya yang masih di luar negeri.
"Ayah, Kenapa Kak Alarik masih tidak bisa dihubungi?" teriak Kaysa dengan nada manja.
"Sudahlah, mungkin Kakakmu sedang sibuk. Sebaiknya jangan mengganggu dulu," jawab Syauqi menenangkan putrinya yang mudah kesal.
Isti langsung terperanjat saat mendengar nama Alarik, pembantu itu segera mengambil piring kotor di atas meja kemudian membawanya ke dapur untuk dicuci.
Di sana kebetulan ada Zhia yang sedang memasak, pembantu tersebut tersenyum senang mencari kesempatan.
"Nyonya, apakah Tuan Muda Alarik itu putra Nyonya yang pertama?" tanya Isti.
__ADS_1
"Iya, kok kamu bisa tahu?" jawab Zhia ramah.
"Barusan tidak sengaja mendengan dari Nona Kaysa," kata Isti sopan.
"Tapi sekarang dia sedang belajar di luar negeri," timpal Zhia.
"Di mana, Nyonya?" tanya Isti semakin penasaran.
"Di Amerika," jawab Zhia sambil menggoreng donat dan keripik nanas.
Isti terkejut, raut wajahnya berubah aneh. Pembantu itu buru-buru menyelesaikan pekerjaannya kemudian diam-diam keluar dari vila.
Di belakang Vila Isti menelpon seseorang, pembantu tersebut tidak sadar kalau di belakangnya juga sedang di intai seseorang.
**********************************
Syauqi yang sedang menemani kedua anaknya bersantai di ruang keluarga tertawa keras karena baru saja menerima rekaman video dari supirnya.
Dari video tersebut pembantunya tampak pucat dan gemetar karena telah memberikan informasi yang kurang akurat.
"Setelah puas liburan ke London sekarang pindah ke Amerika. Aku hanya sedang berbaik hati supaya kalian bisa piknik mengelilingi dunia," batin Syauqi yang masih tidak bisa berhenti tertawa.
Zhia yang baru saja datang merasa heran dengan suaminya.
"Ada apa, Mas Syauqi? Sepertinya kamu bahagia sekali sampai tertawa seperti itu," tanya Zhia sambil meletakkan dua piring besar di atas meja.
Syauqi segera menarik tubuh istrinya ke pangkuannya.
"Anak-anak, ayo kita beri hadiah bunda ciuman karena sudah membuat cemilan enak," teriak Syauqi.
Kaysa dan Syadev langsung meninggalkan ponselnya dan berlarian berebut mencium Bunda mereka.
Zhia hanya memejamkan matanya saat dirinya di keroyok tiga orang.
"Curang! Masa tiga lawan satu?" protes Zhia.
"Kalau begitu bagaimana kalau satu lawan satu seperti semalam?" ucap Syauqi menggoda.
Meskipun Syadev dan Kaysa fokus pada cemilannya tapi Zhia takut jika sampai terdengar anak-anaknya, Zhia langsung mencubit pinggang Syauqi lumayan keras.
"Aduh! Kaysa, Syadev. Tolongin Ayah dong," teriak Syauqi yang kesakitan.
"Maaf, Ayah. Tapi masakan bunda terlalu enak. Kaysa takut jika melawan Bunda nanti tidak di izinkan memakan ini lagi," ucap Kaysa polos.
Sedangkan Syadev hanya tersenyum nyengir tanda setuju dengan ucapan kakak perempuan barusan.
Merasa diabaikan Syauqi merasa kesal, tapi tangannya tetap meraih keripik nanas yang masih hangat.
Zhia tertawa lepas karena merasa menang. Namun melihat ejekan dari istrinya Syauqi bukannya kesal tapi justru merasa senang.
Syauqi puas menatap istri dan anak-anaknya yang sedang tersenyum ceria.
"Takkan kubiarkan ada seseorang yang merusak senyuman dari wajah istri dan anak-anakku."
__ADS_1
Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa like, Vote dan beri rating Bintang 5 ya🙏 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.
Mohon kritik dan sarannya juga, semoga novel CINTA YANG TERPAKSA bisa berkembang lebih baik lagi🤗