CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Makan Bersama


__ADS_3

Arkananta hari ini akan mengikuti pertandingan renang, putra pertama Kaysa dan Alarik memang merupakan atlit muda yang berbakat.


Yudistira sengaja mengajak Jamila sebab teman barunya itu juga berbakat di bidang renang. Dengan begitu kedepannya Jamila memiliki pengetahuan mengenai perlombaan.


"Kak Yudis, bisakah aku ikut menonton pertandingan kak Arka? Lagian besok pagi aku sudah kembali ke Aceh?" bujuk Fayyola.


"Bisa," jawab Yudis.


"Kalau begitu aku ajak Kak Sarah sekalian ya," sela Fayyola.


"Silahkan saja," jawab Yudistira santai.


Sagara yang baru turun dari kamarnya langsung mengajak saudaranya untuk berangkat.


"Ayo, setengah jam lagi pertandingan di mulai!" ajak Sagara serius.


"Ayo," jawab Yudistira.


Yang menyetir mobil adalah supir pribadi keluarga Syadeva. Sedangkan Yudistira memilih duduk di depan dekat sopir.


Jamila dan Fayyola sudah masuk duluan di belakang. Kini hanya tinggal Sagara dan Sarah yang belum masuk, mereka mau tak mau akhirnya duduk berduaan di tengah.


Sarah berdekatan dengan Sagara merasa gugup dan salah tingkah, sedangkan Sagara sendiri cuek seolah sedang duduk sendirian.


"Kita ke rumah Deby dulu," ujar Sagara.


"Loh, yang bisa menonton bukannya hanya anak sekolah Andromeda?" tanya Yudis heran.


"Kamu tahulah siapa Deby, mana peduli dia dengan hal seperti itu," balas Sagara cuek.


Kebahagiaan yang dirasakan oleh Sarah begitu singkat, tapi dalam beberapa menit sudah runtuh.


Deby beneran ikut, setelah mobil sampai di rumahnya Deby tanpa sungkan duduk di samping Sarah.


"Akhirnya aku bisa ikut menonton juga," ucap Deby puas.


"Apa mobil kamu masih belum jadi?" tanya Sagara.


"Sudah sih, tapi aku modifikasi biar lebih cepat lagi," jawab Sarah.


"Kamu mau secepat apa lagi? Mobilmu ini sudah berbahaya jika di lakukan di jalan raya!" Sindir Yudistira sambil menoleh ke belakang.


"Itu mobil khusus untuk lari dari musuh," elak Deby tidak mau kalah.


"Kadang aku merasa kamu lebih cocok jadi anak Mafia dibanding anak kepala polisi," sindir Yudistira.


"Sagara, lihatlah kakakmu itu mengejekku," rengek Deby manja pada Sagara.

__ADS_1


"Yang dia katakan ada benarnya juga sih," balas Sagara membela saudara kembarnya.


"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan memperlihatkan barang yang aku dapatkan semalam," sela Deby.


"Barang apa?" tanya Sagara berubah antusias.


"Rahasia dong," balas Deby.


"Arkananta, aku rasa yang kamu katakan tadi salah," sergah Sagara.


"Ck.. ck... Tidak aku sangka di matamu aku tidak lebih berharga dari mesin kuno," gumam Yudistira kesal.


"Deb, apa yang semalam kamu dapatkan?" tanya Sagara setengah memaksa.


"Aku kirim fotonya yah, kamu pasti lebih tahu," jawab Deby mulai mengotak - Atik ponselnya.


Sagara tersenyum cerah begitu menerima pesan gambar dari Deby.


"Wih, darimana kamu dapatkan ini?" tanya Sagara penasaran.


"Semalam papa berhasil menangkap orang yang sudah menculik Yudistira, dan di sana banyak sekali alat - alat canggih," ujar Deby.


"Benarkah? Kok kami tidak diberitahu?" tanya Sagara heran.


"Papa sudah tidak berani lagi mengikut sertakan kalian dengan masalah ini, karena Om Syadev dan Om Alarik sudah memberi peringatan," jawab Deby adanya.


"Lalu, barang barang milik mereka bagaimana?" tanya Sagara penasaran.


"Benarkah? Nanti setelah nonton pertandingan aku lihat ya?" pinta Sagara.


"Oke," jawab Deby dengan senang hati.


Sarah yang berada di antara Deby dan Sagara merasa seperti patung pajangan, sangat kikuk dan hanya bisa mendengarkan obrolan kedekatan mereka.


Selanjutnya Deby dan Sagara membahas soal sesuatu yang sangat tidak dimengerti olehnya, Sarah benar - benar minder dan merasa tidak cocok untuk Sagara. Apalagi Deby dan Sagara saat mengobrol tampak begitu nyambung.


Setelah sampai, ruangan sudah dipenuhi oleh penonton. Dan semuanya merupakan anak Andromeda. Tapi Deby tanpa rasa sungkan gabung ikut mereka. Kepercayaan dirinya memang selalu menarik perhatian.


"Wih, akhirnya datang juga," sapa Arka.


"Iya, dong. Aku gitu loh," jawab Deby.


"Ya sudah aku lomba dulu," pamit Arka.


"Kalau menang traktir kami ya?" teriak Deby.


"Sip," balas Arkananta mengacungkan jempolnya.

__ADS_1


Lomba berjalan dengan meriah, Jamila mengamati para pemain dengan wajah yang serius.


"Jamila, apa kamu yakin mau menjadi atlit renang?" tanya Yudistira.


"Memangnya kenapa?" balas Jamila balik bertanya.


"Tidakkah kamu lihat? Pakaian renang begitu ketat, nanti bentuk tubuhmu akan dilihat oleh orang umum," jawab Yudistira.


"Aku tidak punya keahlian lain selain di fisik, kalau otak aku pas - pasan," jawab Jamila apa adanya.


"Selain renang olah raga apa yang pernah membuatmu memiliki prestasi?" tanya Yudis.


"Buku tangkis," jawab Jamila.


"Nah, itu lebih mending. Aku sarankan sebaiknya kamu ambil yang buku tangkis saja," ujar Yudistira.


"Baiklah, aku ikut kamu saja," jawab Jamila.


"Setelah ini berjuang ya, aku yakin kamu pasti bisa!" ucap Yudistira.


"Iya, eh saudaramu menang tuh," pekik Jamila.


"Sudah biasa, setiap pertandingan tidak kaget kalau dia menang," jawab Yudistira acuh.


"Wih, makan enak ni kita," ucap Deby antusias.


Sore harinya pertandingan usai, sesuai janji Arkananta mengajak mereka ke tempat makan yang mewah.


"Ini baru namanya Arkananta," ucap Deby.


"Makanlah sepuasmu," balas Arka.


Sedangkan Jamila merasa minder sendiri sebab memang bekum pernah ke tempat yang mewah, merasa menjadi orang ada perasaan takut.


"Jamila, kamu kenapa tegang? Santai saja. Makanlah sepuasmu," bujuk Yudistira.


"Iya," jawab Jamila mencoba tenang.


"Ayo kak Sarah, mari dimakan," sela Fayyola pada temannya. Sebab sedari tadi Sarah hanya diam dan melamun saja.


"Sarah, tidak baik banyak melamun. Bukankah kamu sedang dalam proses menghafalkan Al Qur'an? Jangan pikirkan apa yang tidak perlu dipikirkan!" sela Sagara kalem tapi terkesan cuek.


"Iya," jawab Sarah semakin gugup.


"Wih, keren menghafalkan Al Qur'an. Aku baca saja tidak bisa," cetus Deby.


"Makanya, jangan hanya belajar mesin saja. Tapi belajar mengaji dan ilmu agama itu juga penting," sindir Arkananta.

__ADS_1


"Yah, akan aku coba belajar," jawab Deby tertawa lepas.


Arkananta sendiri bisa membayangkan jika Deby memakai pakaian dan jilbab yang syar'i pasti tampak lebih cantik.


__ADS_2