
Malam semakin larut, tapi hujan tidak kunjung reda. Syadev sudah merasa kasihan pada istrinya yang kedinginan.
Kemudian datang sepasang suami istri pemilik kios yang berumur sekitar di atas lima puluh tahun itu naik untuk melihat keadaan Syadev dan Anggun.
"Hujannya masih belum berhenti, bagaimana kalau kalian tidur di bawah saja yang tidak dingin terkena angin," saran Bapak tua dengan senyuman ramah.
Syadev tahu, jika ruangan di bawah lebih sempit karena banyak perabotan. Meskipun ada dipan kecil tapi hanya cukup untuk dua orang yang pastinya tidak bisa bergerak dengan leluasa.
"Terima kasih, Pak, Buk. Kami di sini saja tidak apa-apa," tolak Syadev dengan sopan.
"Baiklah, kalau begitu Bapak dan Ibu tidur dulu ya?" ucap Bapak itu lembut. Kemudian sepasang suami istri itu turun lagi ke bawah.
Beberapa detik kemudian Ibu pemilik kios naik lagi sambil memberikan selimut yang lumayan tebal.
"Ini masih baru, belum kami pakai," ucap Ibu itu dengan ramah.
"Terima kasih, Bu. Tapi sebaiknya di pakai ibu saja, kasihan jika ibu nanti kedinginan," jawab Anggun lembut.
"Di bawah masih ada satu lagi, kami memang menyediakan selimut untuk berjaga-jaga jika hujan deras kami menginap di sini," ujar Ibu tersebut.
"Baiklah, terima kasih banyak ya, Bu," ucap Syadev dan Anggun bersyukur.
Segala hal walaupun terlihat sepele tapi jangan pernah diremehkan. Seperti bantuan selimut yang tidak mahal itu, tapi bagi Syadeva putra kongkomerat sangat berguna dalam kondisi seperti ini.
Ibu tua itu tersenyum puas karena bisa membantu pelanggannya, dengan senyuman ramah pemilik kios itu langsung turun ke bawah.
"Anggun, maafkan aku karena menyebabkan kamu tidur di tempat seperti ini," ucap Syadev.
"Syadev, aku sudah terbiasa seperti ini. Aku ini bukan seorang putri," jawab Anggun riang.
Yah, Syadev baru ingat jika Anggun yatim piatu yang pernah tinggal di panti asuhan. Dia ikutan sedih dan penasaran, hal pahit apakah yang pernah dilewati istrinya selama ini?
Namun Syadev tidak ingin mengungkit masa lalu yang bisa mengingatkan istrinya akan penderitaan.
"Mulai sekarang aku harus bisa membuat dia bahagia."
"Anggun, marilah tidur. Kamu bisa menggunakan lenganku sebagai bantal," ucap Syadev dengan suara yang lembut.
Antara malu dan senang anggun pun patuh.
Gadis itu berbaring di samping tubuh Syadev di bawah satu selimut.
Meskipun hanya beralas karpet, dan ruangan yang tanpa dinding. Mereka tetap merasa bahagia. Hanya saja sayangnya hujan, seandainya tidak mungkin mereka bisa sambil menikmati bintang-bintang yang menghiasi langit malam.
Anggun dan Syadev tidur saling berhadapan, bahkan mereka bisa merasakan hembusan napas satu sama lain.
Walaupun hanya diterangi lampu murah yang tidak terlalu terang, tapi Syadev masih bisa melihat wajah cantik Anggun dengan jelas.
Anggun sendiri hanya tersenyum terpesona dengan ketampanan suaminya.
"Syadev, padahal kamu adalah saudara kembar Kaysa. Kaysa sangat mirip Tante Zhia, tapi jika dilihat sedekat ini kamu justru mirip Om Syauqi," ucap Anggun.
"Aku baru kali ini melihat seorang menantu yang memanggil mertuanya dengan sebutan Om dan Tante," cetus Syadev merasa geli.
Seketika wajah Anggun memerah karena merasa malu. Syadev puas juga mengerjai istrinya seperti itu.
"Syadev, aku takut jika nanti keluarga kamu marah karena pernikahan kita," ucap Anggun yang berubah cemas.
"Diamlah! Jangan pikirkan hal yang hanya membuat kamu bersedih. Sekarang kamu hanya boleh berbahagia saja, sebagai seorang istri sudah menjadi kewajiban untuk mematuhi ucapan suaminya," kata Syadev manis.
Anggun langsung memeluk suaminya karena terlalu bahagianya.
Syadev lelaki normal, meskipun matanya belum pernah melihat perbuatan mesum tapi nalurinya juga bisa memiliki hasrat jika berduaan seperti ini dengan seorang perempuan cantik yang bahkan merupakan istrinya sendiri. Namun karena tempatnya yang tidak nyaman Syadev tetap menahan gelora cinta yang membara itu, meskipun dia tahu jika saat ini Syadev meminta apapun panti Anggun akan memberikannya.
"Apa kamu kedinginan?" tanya Syadev.
"Lumayan," jawab Anggun.
"Kalau begitu Aku hangatkan dulu," ucap Syadev langsung mencium bibir Anggun dengan mesra.
Kali ini Anggun tidak merasa tertekan atau takut, gadis itu terlihat mulai menikmati belaian dan ciuman dari suami tampannya.
Kini kaki Anggun juga tidak merasa kedinginan, sebab syadev menggosok-gosokkan telapak kakinya pada kaki Anggun yang mulus.
Syadev terus menikmati bibir Anggun yang manis dan lembut, tangannya mulai melepaskan jilbab istrinya dan langsung menyerang leher Anggun sampai ke tengkuknya.
Anggun sangat merinding, tapi gadis itu hanya memejamkan matanya menikmati setiap kecupan dari bibir Syadev.
__ADS_1
"Apa sudah hangat?" tanya Syadev dengan suara setengah berbisik.
Ahh, Anggun tidak bisa menjawab sebatas dengan kata-kata. karena bukan hanya sekedar hangat, tapi seluruh tubuhnya sudah memanas dan jantungnya juga berdegup kencang.
"Jangan gugup begitu, aku tidak akan memaksamu untuk melakukan itu. Karena aku tahu kamu masih ingin fokus kuliah," ucap Syadev.
Anggun merasa malu, karena seolah dialah yang sedang berharap.
"Terima kasih ya Alloh, karena engkau memberikan hamba suami yang baik dan yang sangat aku cintai."
Selama ini Anggun hidup menderita, tiada keluarga juga selalu di bully karena kemiskinan. Siapa yang menyangka jika seorang seperti dirinya bisa mendapatkan suami seperti Syadev.
"Sekarang tidurlah, ayo," ucap Syadev yang ingin istrinya istirahat.
Syadev merasa jika yang dikatakan Bundanya itu memang benar, tidak perlu pacaran, selain berdosa juga nanti setelah menikah dengan orang lain terkadang bisa menyakiti pasangan. Sebab ada kalanya seseorang yang sudah berumah tangga bisa saja mengenang masa lalu bahkan sampai merindukan mantan.
Namun jika belum pernah pacaran, menikah menjadi hal yang paling indah dan istimewa. Beruntungnya juga yang kini menjadi istrinya adalah cinta pertamanya.
Hujan yang masih mengguyur deras, petir yang yang mulai menyambar. Membuat Anggun semakin erat memeluk tubuh suaminya yang hangat.
Syadev sendiri sebenarnya tidak tahan juga, tapi dia hanya sekedar memeluk sambil mencium rambut Anggun yang berantakan.
πππππππππππππππ
Kaysa kesal sekali, sebab saudara kembarnya itu malah pergi di saat malam terakhir. Padahal dia ingin sekali malam ini mengobrol dengannya.
Sampai larut malam Kaysa belum bisa tidur, sudah beberapa kali menghubungi nomor Syadev tapi tidak diangkat.
"Kenapa kamu resah begitu?" tanya Zhia.
"Bunda, kenapa nomor Syadev dari tadi tidak aktif?" rengek Kaysa.
"Coba hubungi Darren," saran Zhia yang jadi ikutan gelisah.
Kaysa merasa bodoh juga, kenapa dia tidak melakukannya dari tadi?
Kaysa segera beralih memanggil sahabatnya itu.
"Darren, di mana Syadev? Kenapa nomornya tidak aktif?" tanya Kaysa blak-blakan.
"Sudah tidur dari tadi, ponselnyanya sedang di charger," jawab Darren berbohong.
"Bagaimana?" tanya Zhia penasaran.
"Sudah tidur dari tadi," jawab Kaysa melengus kesal.
"Besokkan Syadev melakukan perjalanan jauh. Sebaiknya sekarang kamu juga segera tidur," tutur Zhia sambil membelai kepala Kaysa.
"Ada apa ini? Kenapa pada belum tidur?" tanya Syauqi yang baru masuk ke dalam rumah bersama Rian dan Alarik.
"Tidak ada apa-apa," jawab Zhia tenang.
"Kaysa, tadi Ayah mendapat telepon. Kapan kamu akan masuk kuliah?" tanya Syauqi.
Karena terlalu bersedih atas meninggalnya neneknya Kaysa sampai dia bolos tanpa izin. Apalagi sebagai murid baru banyak hal yang masih belum diurus.
Syauqi dan Alarik juga sibuk masing-masing. Mereka meskipun berada di rumah Rian tapi di saat tidak ada tamu mereka bekerja lewat laptop.
"Ya sudah, Ayah dan Bunda tidur dulu ya? Kamu juga segera tidur sayang," ucap Syauqi.
"Kaysa, kamu dari tadi siang belum makan kan?" tanya Alarik memastikan.
Kaysa hanya meringis saja, sebab dia sama sekali tidak selera makan.
"Alarik, suapi dia supaya mau makan. Ayah tidak mau putri Ayah yang cantik jadi kurusan," perintah Syauqi pada Ayahnya.
"Iya, Ayah," jawab Alarik patuh.
Kaysa hanya menurut saja saat tangannya di genggam oleh suaminya. Kemudian Alarik menyuruh Kaysa duduk di ruang keluarga, pemuda itu segera masuk ke dapur dan mengambil makanan dengan piring besar.
"Aku bukan ****! Kenapa ngasih makan
sebanyak ini?" tanya Kaysa kesal.
"Aku juga mau makan, masa iya cuma melihat kamu saja!" jawab Alarik.
Suasana di rumah sudah sepi, karena semuanya sudah pada tidur kecuali Kaysa dan Alarik.
__ADS_1
Selesai makan, Alarik mengambilkan air minum untuk istrinya juga.
"Mulai besok kamu harus belajar jadi istri yang baik ya? Tidak boleh nakal lagi," kata Alarik.
"Iya."
"Tidak boleh dekat-dekat dengan lelaki lain!"
"Iya."
Kaysa bilang iya tapi dengan mimik wajah yang tidak serius, Alarik kesal juga, sebab istrinya itu tidak semudah ini bisa patuh. Jangankan pada dirinya, pada orang tuanya saja terkadang suka memberontak secara diam-diam.
"Besok sore kita pulang ya? Aku sudah terlalu lama tidak masuk kantor dan kamu juga masuk kuliah," pinta Alarik.
"Iya tidak apa-apa, karena terlalu lama di sini aku merasa seolah-olah nenek ada di sampingku dan setiap malam seperti memanggilku," jawab Kaysa.
"Itu karena kamu yang belum merelakan kepergian nenek, sebaiknya kamu ikhlaskan saja dan jangan pernah lupa berdoa ya? Ayo sekarang kita tidur" tutur Alarik.
Kaysa segera menuju kamar Alifya, tapi rupanya di sana sudah ada Flora. Biasanya Flora tidur dengan Ayah dan Bunda, tapi sepertinya adik Kaysa itu ketiduran karena tadi asyik ngobrol dengan kakak sepupunya.
Karena kamar Alifya tidak terlalu besar, Kaysa jadi bingung mau tidur dimana.
Alarik sendiri setiap malam tidur di kursi panjang bersama Syadev, karena memang rumah orang tua Zhia terlalu besar.
"Tidak bisa tidur ya?" tanya Tia.
"Iya, Bi. Sudah Ada Flora," jawab Kaysa.
"Satu-satunya kamar yang kosong hanyalah kamar Ibu," jawab Tia.
"Aku takut," ucap Kaysa.
Tia juga tahu, jika Kaysa setiap tidur sering menjerit-jerit menyebut neneknya.
"Yasudah, kamu tidur di kamar Bibi ya? Nanti biar Bibi dan Paman yang pindah ke kamar ibu," kata Tia lembut.
"Aku takut tidur sendirian," rengek Kaysa.
"Minta ditemani Kak Al, kalian kan sudah menikah. Jadi tidak ada yang melarang," ucap Tia sembari menggoda.
Kaysa langsung cemberut karena malam-malam malah dikerjai.
"Cepat kamu panggil suamimu, biar Bibi membangunkan Paman," kata Tia berlalu pergi.
Sebenarnya Kaysa merasa malu jika mengajak suaminya tidur bersama. Dulu dia sering menggoda karena dia tahu jika Alarik selalu berusaha menahan diri.
Sekarang keadaan sudah berbeda, mereka kini adalah pasangan suami istri yang resmi, di goda sedikit pasti Alarik tidak sungkan ataupun takut lagi.
Kaysa berjalan secara diam-diam mendekati suaminya, Alarik sedang tiduran sambil bermain ponsel.
"Kaysa," ucap Alarik kaget.
"Kak, flora tidur di kamar Kak Alifya," kata Kaysa pelan.
"Terus?" tanya Alarik yang sebenarnya sudah tahu maksud istrinya.
"Bibi menyuruh aku tidur di kamarnya, tapi aku takut sendirian," jawab Kaysa malu-malu.
"Minta di temani?" tanya Alarik lagi.
Kaysa hanya mengangguk pelan.
"Semenjak menikah kita belum pernah merasakan malam pertama ya?" goda Alarik.
Kaysa seketika merinding dan malu, tanpa berkata apa-apa lagi Alarik dengan semangat menggandeng Kaysa menuju kamar Bibi dan Paman.
`Alarik langsung mengunci pintu dari dalam.
"kenapa di kunci?" tanya Kaysa gelisah.
"Takut ada yang mengintip," jawab Alarik sambil memegang kedua lengan istrinya.
"Memangnya kita mau apa?" tanya Kaysa pura-pura bodoh.
"Mau apa lagi? Kita ini sudah suami istri. Dimana Kaysa yang dulu suka nakal menggodaku?" tantang Alarik dengan senyuman yang mempesona.
Maaf baru sempet update ya, Jangan Lupa Like dan Vote sebanyak-banyaknya.
__ADS_1
Baca juga SCORPIO, kisahnya tidak kalah romantis dan bikin gregetπ€