CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Tamu tak diundang


__ADS_3

 


Tiga hari semenjak lamaran Iyas sama sekali tak menampakkan diri, bahkan walau hanya sekedar mengirim pesan juga tidak.


 


Zhia menjadi resah dan gelisah, dia berpikir mungkin Iyas kecewa dan marah padanya.


Zhia merasa bosan karena dilarang ibunya membantu memasak di ruko, sedangkan Alifya sedang tidur siang.


Zhia duduk termenung di bangku kayu. Dia teringat kisah manis saat bersama Iyas selama empat belad tahun.


Iyas sosok pemuda lembut namun jagoan.


Karena saat Iyas di dekatnya tak ada satupun yang berani mengganggu Zhia semasa sekolah.


"Ya Alloh... dosakah hamba merindukan Mas Iyas? Sedangkan hamba sendiri sudah memiliki calon suami," gumam Zhia pada diri sendiri.


Zhia berusaha mengalihkan pikiran tapi bayangan wajah Iyas tak mau beranjak dari hatinya.


Dari arah ruko datang seorang perempuan sebaya dengan Zhia, rambutnya lurus sepundak dan wajahnya juga cantik.


Zhia seperti pernah melihat tapi masih samar.


Gadis itu tersenyum dan mendekati Zhia.


"Assalamu'alaikum" sapa gadis tersebut.


"Wa'alaikum salam, mari silahkan masuk ke dalam" jawab Zhia ramah mengajak tamunya masuk rumah.


"Terimakasih, tapi sepertinya lebih nyaman duduk di dini" jawab gadis itu sopan.


"Maaf ini dengan siapa ya? Dan ada keperluan apa?" tanya Zhia.


"Saya Nayla, teman kuliah Iyas. Namun mungkin anda tidak mengenal saya karena saya mahasiswi pindahan setelah Mbak Zhia berhenti kuliah," ucap Nayla.


"Karena kita sebaya sebaiknya panggil Zhia saja tidak perlu terlalu formal, biar di antara kita tidak canggung," jawab Zhia tersenyum ramah.


"Baiklah," jawab Nayla tersenyum.


"Sebentar ya, aku mau ke dalam mengambil minuman dulu" pamit Zhia.

__ADS_1


Dia segera berdiri dan masuk ke kerumah.


Nayla menatap kepergian Zhia, ternyata memang benar kata teman-temannya.


Jika Zhia gadis yang sangat cantik dan lembut. Pantas saja Iyas sangat mencintai Zhia dan selalu mengawal Zhia kemanapun Zhia berada. Sampai-sampai tak ada lagi pemuda yang berani mendekati Zhia juga tak ada perempuan yang percaya diri mendekati Iyas. Nayla merasa bodoh dan malu sendiri.


Kemudian Zhia datang membawa minuman dan cemilan.


"Ayo silahkan dicicipi, ini buatan sendiri lo," kata Zhia mencoba mengakrabkan diri.


Nayla mengangguk dan mencoba memakan kue yang disajikan Zhia, membuat Nayla semakin iri saja.


"Hem... enak sekali," puji Nayla jujur.


"Hobi aku memang memasak dari kecil. Biasanya juga memasak di ruko tapi sekarang disuruh santai saja jadi bosan," kata Zhia riang.


Zhia merasa terhibur karena ada teman mengobrol.


"Sebenarnya aku ke sini mau meminta maaf karena kelakuan bodohku," ucap Nayla menunduk.


"Maaf untuk apa?" tanya Zhia tak mengerti.


Nayla menangis menyesal. Namun gadis itu juga tak bisa menghilangkan rasa cinta pada Iyas.


Zhia hanya tersenyum getir, dia mengingat saat malam kejadian itu Zhia juga sedang di setubuhi secara paksa oleh Syauqi.


"Ya Alloh... jika memang engkau tak meridhoi hubungan hamba dengan Mas Iyas kenapa harus dengan cara yang sangat menyakitkan seperti ini. Kami terpisah bukan karena kami yang meminta. Namun karena kedatangan orang-orang yang merampas secara paksa,"


gumam Zhia dalam hati, bibirnya terkunci sudah tak dapat berbicara lagi.


"Aku mohon maafkan aku, jangan membenci Iyas karena dia tak salah apa-apa. Akulah yang menjebaknya," kata Nayla memohon.


Nayla selalu merasa jika dirinyalah penyebab Iyas sampai depresi di rumah sakit.


Zhia menjadi tak tega dengan orang yang baru ditemuinya, dengan senyuman yang tulus Zhia berkata,


"Tenanglah dan jangan menangis lagi! Aku tak pernah membenci Mas Iyas. Dari awal aku sudah tahu jika Mas Iyas tak mungkin melakukan itu. Mas Iyas selalu menjaga jarak dengan perempuan kecuali denganku, itupun dia selama mengenalku belum pernah menyentuhku sama sekali."


Nayla semakin merasa takjub dengan kisah cinta Iyas dan Zhia.


"Maafkan aku yang telah berani mencintai iyas," timpal Nayla lagi.

__ADS_1


"Tak apa-apa, bukankah sudah kodrat manusia untuk mencintai? Dan semua orang juga mempunyai hak untuk mencintai siapapun. Apalagi sekarang hubunganku dengan Mas Iyas tak seperti dulu lagi karena aku sudah memiliki calon suami. Justru aku berharap Mas Iyas bisa segera mendapatkan pengganti agar dia juga bahagia,"


Zhia menghibur Nayla.


Sedangkan kalimat yang barusan dia ucapkan sendiri menggores luka dihati.


Nayla sangat kaget, kini gadis itu tau kenapa Iyas sakit.


"Zhia... apakah kamu tau Iyas di rumah sakit?" tanya Nayla pelan.


"Apa?" ucap Zhia setengah berteriak.


"Beberapa hari yang lalu ketika aku pulang kuliah aku di cegat segerombolan orang meminta tolong untuk mengantar seseorang yang lama tak sadarkan diri ke rumah sakit, ternyata dia adalah Iyas," cerita Nayla.


Gadis itu malah merasa heran kenapa Zhia tidak tau sama sekali.


"Dia sakit apa?" tanya Zhia lemah, air matanya mulai membasahi pipi.


"Kata Dokter sebab tekanan yang terlalu besar sehingga jiwanya terguncang. Tubuhnya juga lemah dan dehidrasi karena sama sekali tak mau makan ataupun minum. Aku tadi baru saja ke sana, tapi keadaannya semakin buruk dan tiba-tiba aku kepikiran untuk ke sini menemuimu. Kukira sakit Iyas gara-gara kamu marah padanya karena kesalahanku," jawab Nayla panjang lebar.


"Tunggulah di sini sebentar! Aku mau membuat bubur dan aku minta tolong antarkan aku ke Rumah sakit."


Zhia segera masuk ke rumah. Sedangkan Nayla merasa senang semoga dengan kedatangan Zhia membuat Iyas semakin membaik.


Di sisi lain Nayla juga bahagia karena masih ada celah untuk mendapatkan hati Iyas, sebab sekarang Zhia sudah memiliki calon suami.


Lima belas menit kemudian Zhia keluar membawa tempat makan, dia segera mengajak Nayla kerumah sakit.


Dalam perjalanan Zhia terus berdoa semoga Iyas diberi kesembuhan, Zhia merasa separuh jiwanya mati kaku.


"Mas Iyas... maafkanlah aku yang tak berdaya ini. Disaat aku menerima lamaran justru kamu terbaring di rumah sakit, sedangkan aku tak tahu sama sekali. Dari kecil kamu selalu ada saat aku butuh dan disaat kamu seperti ini, aku....?"


Zhia tak bisa meneruskan bisikan hatinya. Sepanjang perjalanan air mata Zhia terus mengalir.


Nayla merasa kasihan juga terhadap Zhia. Gadis itu menjadi penasaran apa penyebab Zhia menerima lamaran orang lain. Namun Nayla tak berani karena takut membuat Zhia semakin bersedih.


Tanpa mereka berdua sadari, ada mobil yang terus mengikuti mereka dari belakang.


Terimakasih sudah berkenan membaca karya saya. Jangan lupa Like dan Vote ya🙏 Karena dukungan dari kalian sangat berarti bagi Author.


Mohon kritik dan sarannya juga, semoga novel CINTA YANG TERPAKSA ini bisa berkembang lebih baik lagi.

__ADS_1


__ADS_2