CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 125


__ADS_3

Saat dokter sudah selesai memeriksa Flora, Dewa langsung mengajak Flora ke sebuah rumah kontrakan kecil.


"Ini rumah siapa?" tanya Flora.


"Aku menyewa untuk beberapa hari, ayo makan dulu nanti setelah ini minum obat," jawab Dewa.


"Aku harus segera kembali ke perkemahan, kalau tidak guru dan teman - temanku akan cemas sekali," pinta Flora.


"Aku sudah menyuruh seseorang untuk izin pada gurumu jika saat ini kamu di bawa keluargamu untuk berobat," jawab Dewa.


"Mana keluargaku?" tanya Flora menoleh ke kanan dan ke kiri.


Dewa tertawa, sebab reaksi Flora sangat lucu.


"Gadis konyol, semua itu hanya tipuan agar mereka tidak mencarimu. Nanti malah dikira aku menculikmu," ujar Dewa.


Tampak kecewa di raut wajah Flora yang manis dan cantik itu. Seketika Dewa ikut merasakan apa yang dirasakan oleh gadis kecil tersebut.


"Ayo makan, aku suapin," bujuk Dewa.


"Ini apa?" tanya Flora.


"Bubur ayam," jawab Dewa.


"Aku tidak suka bubur," tolak Flora halus.


"Baiklah, masih ada nasi kuning dan nasi padang. Mau pilih yang mana?" tanya Dewa sabar.


"Nasi kuning saja," jawab Flora tersenyum senang.


Dewa segera mengembalikan bubur Ayam yang masih hangat ke atas meja dan dia menukar dengan nasi kuning sesuai keinginan Flora. Dia tidak menyangka jika merawat seseorang rasanya seindah ini.


"Ayo buka mulutmu!" perintah Dewa.


"Aku mau makan sendiri, sangat memalukan jika aku di suapi oleh kak Dewa," pinta Flora memerah wajahnya.


"Kenapa malu? Anggap saja aku seperti kakakmu," jawab Dewa tertawa.


Dewa semakin lama merasa semakin asyik juga mengobrol dengan Flora, sikap flora yang lugu dan polos sangat lucu dan menggemaskan.


Flora akhirnya mau juga membuka mulut, kali ini dia beneran menganggap jika Dewa seperti kakaknya sendiri. Sebab dia masih terlalu kecil untuk mengenal apa arti sebuah cinta. Yang Flora tahu hanya sekedar cinta antara Orang tua dan anak juga cinta dia dengan saudaranya.


"Kak Dewa sudah makan?" tanya Flora lembut.


Dewa menatap mata Flora yang bulat indah dan bening itu dengan perasaan yang mendalam.


"Flora... Jika begini terus aku akan semakin lemah. Sebaiknya aku harus segera pergi jauh darimu. Baru setelah kamu dewasa mungkin aku tidak akan memiliki belas kasihan padamu," batin Dewa.


"Kak Dewa, kenapa melamun?" timpal Flora lagi.


Dewa terkejut, dia memang sedari tadi tidak bisa fokus dan sedang dilema.


"Kak Dewa belum lapar, ayo makanlah! Sebentar lagi habis," ucap Dewa tersenyum manis.

__ADS_1


Selesai makan Dewa juga membantu Flora untuk minum obat.


"Flora, setelah ini akan ada guru yang menjemputmu. Kamu jangan bilang pada keluargamu jika semalam Kak Dewa yang menolongmu ya?" pinta Dewa.


"Kenapa, Kak?" tanya Flora tak mengerti.


"Kamu tahu sendiri jika Kakakmu Kaysa pasti nanti akan merasa berutang budi. Aku tidak ingin merepotkan hanya karena sesuatu yang kecil ini," jawab Dewa mengelabuhi Flora.


"Iya, Kak Dewa. Aku juga tidak akan menceritakan tentang semalam aku yang tersesat. Nanti seluruh Ayah bisa marah pada guru, padahal semua karena kecerobohan ku sendiri," balas Flora patuh.


"Anak pintar," ucap Dewa sambil mengelus kepala Flora pelan.


"Kak Dewa tidak boleh sembarangan menyentuhku!" protes Flora lembut.


Dewa terkejut, dia lupa jika gadis kecil ini sangat taat pada peraturan Agama.


"Kenapa? Bukankah sekarang aku menjadi kakakmu?" jawab Dewa tertawa.


"Tapi tetap tidak boleh, Kak Dewa," jawab Flora.


Konyol... Dewa sebahagia ini bisa menggoda gadis kecil itu. Dia merasa lama - lama akan menjadi gila.


"Flora, andaikan kamu tahu jika semalam kamulah yang menciumku bagaimana?" batin Dewa.


Tapi Dewa juga masih memiliki batas diri, dia tidak mungkin bisa tega berkata seperti itu.


🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗


Ninis dan Murni menyebarkan rumor jika semalam ada hantu, dan mereka mengira jika Flora diculik oleh hantu.


Untung saja anak buah Dewa datang, mereka bilang jika mereka adalah segerombolan pemburu yang menemukan Flora di tengah hutan.


Para guru menjadi cemas, seketika saat itu mereka menjemput Flora yang berada di pedesaan terdekat.


Murni dan Ninis yang merasa penasaran juga ikut untuk menjemput Flora.


"Flora... Apa kamu baik - baik saja?" tanya Ninis dan Murni hampir menangis.


"Iya, bagaimana dengan kalian?" jawab Flora mencoba tenang.


"Kami baik - baik saja, tapi tadi pagi kami terbangun di hutan secara terpisah," ujar Ninis.


"Dan kamu sendiri bagaimana? Aku benar - benar lupa kenapa kita bertiga bisa pisah secara tiba - tiba. Tau - tau saat bangun aku sudah sendiri," timpal Ninis.


Flora terdiam, dia menjadi gemetar mengingat kejadian semalam.


"Flora... Kamu baik - baik saja?" tanya wali kelas Flora menjadi panik.


Flora segera memeluk Bu Winda erat sekali.


"Ada apa? Coba ceritalah!" bujuk wali kelas Flora.


"Semalam aku, Ninis dan Murni mendengar ada suara minta tolong. Begitu kami sekali ternyata suaranya ada di dalam hutan. Saat aku menoleh ke belakang tiba - tiba Ninis dan Murni sudah tidak ada, karena takut aku berniat balik arah dan kembali ke tenda. Tapi..." belum sempat melanjutkan ceritanya Flora sudah menangis sampai dia tak mampu untuk berbicara.

__ADS_1


"Bu, kumohon biar Flora menenangkan diri terlebih dahulu. Kalau nanti sudah tenang baru di tanya apa yang terjadi," pinta Dewa sambil memberikan air putih pada Flora.


"Baiklah, kamu siapanya Flora?" tanya Bu Winda penasaran.


"Saya teman dari kakaknya Flora. Kebetulan saya dan saudara saya sedang berburu. Tapi di tiba - tiba saja kami menemukan Flora yang sedang menangis sendirian. Saat kami dekati dia sudah pingsan dan kami bawa ke sini," jawab Dewa lancar.


"Untung saja Flora bisa bertemu dengan kalian," ucap Bu Winda geleng - geleng kepala merasa miris dengan kejadian yang dialami oleh murid - muridnya.


Flora yang sudah menghabiskan air putih segelas menjadi tenang dan bisa mengatur napas.


"Bisa kamu lanjutkan ceritanya?" tanya Bu Winda yang masih penasaran.


Flora mengangguk patuh dan mencoba bersikap tenang.


"Saat saya berbalik badan mau kembali ke arah tenda. Tiba - tiba dari atas saya ada hantu yang terbang. Memakai baju pakaian putih dan rambut panjang. Saya tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena saya sudah sangat syok. Akhirnya saya berlari ke dalam hutan sampai saya kelelahan dan pingsan," kata Flora masih saja ketakutan jika terbayang malam itu.


Bu Winda sampai meringis ikut merinding, begitu juga dengan kedua teman Flora. Biarpun Ninis dan Murni tidak ingat apa - apa tapi mereka berdua mengira jika semalam mereka diculik oleh hantu.


Bu Winda dengan panik langsung mengambil ponsel dan menelpon guru yang lain.


"Sebaiknya acara perkemahan di bubarkan sekarang. Kita ganti berkemah di sekolah saja!" saran Bu Winda sambil menceritakan kejadian yang di alami oleh Flora dan teman - teman.


Di sisi lain Dewa menahan tawa, sebab karena ulah dia dan anak buahnya bisa sampai seheboh ini.


Kemudian Dewa mendekati Flora.


"Flora, maaf ya Kak Dewa tidak jadi mengunjungi Kak Kaysa. Soalnya masih banyak urusan yang harus aku tangani. mengenai pertemuan kita juga jangan bilang pada Kak Kaysa. Takutnya nanti Kak Kaysa akan marah padaku," bujuk Dewa.


"Iya, Kak," jawab Flora patuh.


"Kalau begitu Kak Dewa pamit pulang ya? Kamu jaga kesehatan baik - baik," jawab Dewa sambil tersenyum manis.


"Hati - hati ya, Kak? Terima kasih karena sudah menolongku," jawab Flora tersenyum manis.


Dewa lalu memberikan sepuluh novel dan meletakkan pada pangkuan Flora.


"Kakak tahu kamu pasti masih trauma dengan kejadian semalam, biar pikiran kamu bisa teralih kamu baca novel ini saja ya? Semoga bisa membantu kamu melupakan tentang hal yang menyeramkan itu," kata Dewa perhatian.


Flora sangat senang sekali, dia memang paling suka baca novel.


"Terima kasih banyak ya, Kak?" ucap Flora riang.


Itulah terakhir kali Dewa melihat senyuman manis Flora.


Begitu juga dengan sebaliknya, itulah saat terakhir Flora melihat senyuman hangat serta perhatian Dewa.


Di masa depan, di saat Flora sudah dewasa Dewa baru akan menemui Flora kembali. Dengan membawa dendam untuk membalaskan kematian kedua orang tua kandungnya.


Terima kasih karena sudah membaca karya saya sampai di sini. Untuk sementara ini Kisah Dewa dan Flora harus terhenti karena Dewa ingin menunggu Flora besar dulu. Sebab setiap berhadapan dengan Flora kecil tiba - tiba Dewa menjadi lemah dan tidak melukainya.


Dari beberapa pembaca ada yang memberi saran untuk Kisah Flora dan Dewa di buat kisah sendiri. Bagaimana menurut kalian? sebaiknya tetap di lanjutkan di sini atau di buat sendiri saja? Author juga masih bingung baiknya bagaimana. Jadi saran dari kalian sangat berarti ya... 🙏🙏🙏


Oh iya, sesuai rencana CINTA YANG TERPAKSA INI akan tamat akhir bulan, jadi selanjutnya beralih ke SCORPIO ya🤗 Semoga kalian suka🙏😉😍🤗

__ADS_1


__ADS_2