CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 19


__ADS_3

Tengah malam Kaysa terbangun, tapi di kamarnya hanya ada dia seorang diri.


“Ke mana mereka? Katanya mau menemani aku,” batin Kaysa keheranan.


Saat Kaysa mencoba untuk bergerak, kakinya tidak terasa nyeri lagi.


“Wah, pijatan Anggun lumayan juga,” gumam Kaysa yang akhirnya bisa berjalan lagi tanpa rasa sakit.


Kaysa ke kamar Syadev, tapi tidak ada orang. Dia kemudian menelepon pelayan agar naik ke lantai dua. Karena Kaysa merasa malas untuk turun.


“Ada yang dibutuhkan, Nona Kaysa?” tanya pelayan itu.


“Di mana Syadev dan yang lainnya?” tanya Kaysa balik.


“Mereka masih berada di taman, Nona,” jawab pelayan dengan sopan.


“Buatkan aku nasi goreng dan susu hangat ya! Jangan lupa buah anggur juga,” perintah Kaysa.


“Iya, Nona Kaysa,” jawab pelayan tersebut undur diri.


Kaysa kembali ke kamar dan mengambil ponselnya. Tangannya iseng menelepon Kakak pertamanya.


“Assalamualaikum,” sapa Alarik dengan suara riang.


“Waalaikumsalam,” jawab Kaysa.


“Ada apa malam-malam begini menelepon?” tanya Alarik.


“Pengen curhat saja,” jawab Kaysa singkat.


“Sepertinya suasana hati adikku ini sedang buruk,” sindir Alarik.


“Hari ini Ayah, Bunda dan Orlin menginap di rumah nenek. Terus Darren, Zahra dan Anggun menginap di sini untuk menemaniku. Tapi ternyata aku di tinggal sendirian dan mereka malah pacaran taman,”


Alarik tertawa, Kaysa sangat kesal mendengarnya.


“Kak Al tidak asyik! Bukannya menghibur malah mengejek seperti itu,” rengek Kaysa manja.


“Apa kamu cemburu karena Darren dekat dengan gadis lain?” goda Alarik.


“Tentu saja tidak! Aku justru senang jika Darren dekat dengan Zahra, karena sepupuku itu diam-diam menyukai Darren sejak kecil,” jawab Zahra.


“Benarkah? Tapi sepertinya Darren lebih menyukaimu,” sergah Alarik.


“Itu karena dulu aku sering membantu dan membela Darren, makanya Darren selalu merasa berhutang Budi padaku,” jawab Kaysa tenang.


“Kamu ini polos sekali,” jawab Alarik.


“Biarin,” jawab Kaysa cuek.


“Bagaimana keadaan nenek?” tanya Alarik yang mulai serius.


“Aku tidak tahu, Bunda bilang sih cuma masuk angin biasa. Karena nenek sudah lanjut usia. Apa kakak tidak akan pulang?” ucap Kaysa.


“Tidak, Kaysa. Kakak di sini sangat sibuk sekali. Mungkin Minggu depan juga tidak bisa pulang,” jawab Kaysa.


“Kok gitu sih,” cetus Kaysa kesal.


Tiba-tiba ada suara ketukan dari pintu kamar.


“Masuklah, taruh saja nampannya di atas meja! Terima kasih,” ucap Kaysa lada pelayan itu.


“Iya, Nona. Saya pamit dulu,” jawab pelayan tersebut berlalu pergi.


“Malam-malam begini makan apa?” tanya Alarik.


“Nasi goreng dan susu. Setelah itu makan anggur,” jawab Kaysa.


“Bagus, makanlah yang banyak! Supaya cepat tumbuh besar,” ujar Alarik serius.


“Mau sebesar apa lagi, tubuhku ini tergolong tinggi ya!” balas Kaysa.


Alarik hanya tertawa saja mendengar adiknya yang mudah tersinggung.


Mereka berdua terus mengobrol, sampai makanan yang di piring Kaysa sudah habis.


Kemudian Syadev dan lainnya masuk ke kamar Kaysa, mereka kaget karena Kaysa ternyata sudah bangun.


“Kenapa kembali? Terus saja pacaran di taman sampai pagi! Aku sendirian di sini juga tidak apa-apa,” sindir Kaysa pada ke empat orang itu.


“Maaf, tadi setelah makan kami hanya melihat bintang di luar,” jawab Darren yang menyesal.


“Masa kita di suruh nunggu orang tidur,” sergah Syadev jutek.


Zahra dan Anggun hanya tertawa lirih, karena Kaysa terlihat sangat lucu.


Kaysa beralih ke teleponnya lagi.


“Kak Al, sebaiknya kamu tidur saja! Pekerjaan bisa dilanjutkan besok lagi. Yang terpenting di jaga kesehatannya,” ucap Kaysa lembut.


“Yo! Adikku rupanya sudah mulai bisa perhatian pada orang lain. Baiklah Kakak tidur dulu, kamu juga ya! Assalamualaikum,” kata Syadev.


“Waalaikumsalam,” jawab Kaysa riang.


Kemudian Kaysa menelepon pelayan disuruh mengambil nampan dan piring kotor.


“Anggun, terima kasih. Sekarang kakiku sudah membaik,” ucap Kaysa tersenyum senang.


“Benarkah? Aku turut senang kalau begitu. Besok kamu bisa kembali sekolah,” jawab Anggun.


“Aku juga sudah tidak sabar memberi perhitungan pada Siska dan Maya, bikin kesal saja mereka,” ujar Kaysa emosi.


“Kaki juga baru sembuh. Sudah mau bikin ulah! Kalau sakit lagi bagaimana?” tanya Syadev kesal.


“Minta di pijit Anggun lagi, kan beres,” jawab Kaysa seenaknya.

__ADS_1


“Masa bodo ah, aku mau tidur,” ucap Syadev berlalu pergi.


“Kaysa, aku tidur dulu ya!” timpal Darren berlari mengikuti Syadev.


“Ayo sekarang kita tidur,” ucap Zahra.


“Ayo,” jawab Kaya dan Anggun bersamaan.


Kemudian mereka semua beranjak tidur.


Malam itu, Syadev dan Anggun dipertemukan dalam mimpi yang indah.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Esok harinya


Adzan subuh berkumandang, mereka berempat segera bangun dan bersiap-siap melaksanakan sholat berjamaah.


Syadev menjadi imam, suaranya yang merdu sangat fasih dalam melantunkan ayat suci Al-Qur’an.


Anggun tidak menyangka jika Syadev yang terlihat sangar tapi juga bisa mengaji dan rajin beribadah, hatinya mulai terenyuh.


"Ternyata Syadev banyak kelebihannya, semakin aku mengenalnya semakin membuat aku ingin lebih dalam mengetahui semua tentang dirinya," batin Anggun sambil merapikan mukenanya.


Anggun merasa semakin minder, karena hanya dia sendiri yang tidak memakai jilbab.


"Aku memang jauh bila dibandingkan dengan Syadev, bahkan dalam akhlak dan ibadah aku juga masih di bawahnya," batin Anggun semakin pilu.


"Anggun, kenapa kamu dari tadi melamun?" tanya Zahra.


"Tidak apa-apa, aku hanya iri saja dengan kalian semua. Aku ingin sekali bisa hijrah," jawab Anggun.


Syadev hanya melirik sebentar ke arah Anggun, kemudian berpaling lagi.


Setelah itu mereka segera berkumpul di ruang keluarga.


"Syadev, pagi-pagi begini kalau main basket kayaknya seru ya?" ucap Darren.


"Ayo," jawab Syadev.


"Aku ikutan," rengek Kaysa.


"Tidak usah jadi, dari pada Kaysa sakit lagi nanti aku yang repot," cetus Syadev.


"Baiklah, aku hanya jadi penonton saja," jawab Kaysa merengut.


"Kaysa, nanti kalau kamu sudah sembuh kita main lagi ya?" hibur Darren perhatian.


Kaysa hanya tersenyum simpul.


Kemudian mereka berlima segera menuju halaman belakang yang tidak kalah luas dengan taman depan.


"Wah, ada kolam renangnya juga," ucap Anggun.


"Kamu bisa renang?" tanya Zahra.


"Sama, yang jago itu Kaysa," ucap Zahra.


"Kaysa, kamu beruntung terlahir dengan banyak bakat," puji Anggun tulus.


Kaysa hanya tertawa bangga, karena jika di pikir memang benar. Hidupnya sangat beruntung.


Ketiga gadis hanya duduk menonton di pinggir lapangan sambil menikmati segelas teh hangat dan pisang goreng.


Sedangkan Syadev dan Darren bermain basket di tengah lapangan.


"Menurut kalian pemenangnya siapa?" tanya Anggun penasaran.


"Jelas Syadev," jawab Zahra dan Kaysa secara bersamaan.


Mereka bermain sampai matahari muncul dan langit berubah terang.


Tiba-tiba datang seseorang yang membuat Kaysa terkejut.


"Kak Orlin?" ucap Kaysa.


"Hay, kita bertemu lagi," sapa Orlin tersenyum manis.


"Duduk sini, Kak," pinta Kaysa ramah.


"Tadi aku sudah bertanya pada pelayan, tapi Om Syauqi sama Tante Zhia tidak di rumah," ujar Orlin kecewa.


"Nanti siang juga sudah pulang, sebaiknya tunggu di sini dulu. Hari ini aku tidak masuk sekolah deh," jawab Kaysa.


"Oh iya, aku sampai lupa. Ini ada titipan dari Kakak kamu. Katanya Minggu depan belum bisa pulang," ucap Orlin.


"Terima kasih, kok bisa dititipin Kak Orlin?" tanya Kaysa penasaran.


"Kemarin aku ngelamar kerja di sana, dan Alhamdulillah di terima jadi Asisten," jawab Orlin tersenyum riang.


"Cie... selamat ya. Oh iya, aku kenalin ini Zahra, anaknya Tante Elly dan yang ini teman sekelas aku, Anggun," ungkap Kaysa.


"Salam kenal, nama aku Orlin," apa Orlin.


Anggun dan Zahra hanya tersenyum karena masih merasa malu.


Kaysa segera membuka bungkusan yang dari Kakaknya.


"Kalau aku sampai ketahuan Bunda minta ini pada Kakak, pasti aku dinasehati sampai berjam-jam," cetus Kaysa.


"Kenapa?" tanya Zahra dan Anggun bersamaan.


"Pasti karena harganya puluhan juta," tebak Orlin tertawa lirih.


"Iya," jawab Kaysa ikut tertawa.

__ADS_1


Anggun semakin merasa seperti debu di antara mereka. Seandainya uang itu ada di tangannya pasti sudah bisa untuk hidup selama setahun.


Syadev dan Darren berhenti bermain dan mendekati mereka.


"Sendirian, Kak?" tanya Syadev.


"Iya, Kalian segera mandi sana! Nanti telat sekolah," cetus Orlin.


"Iya," jawab Darren dan Syadev bersamaan.


Kedua lelaki tampan itu segera berpamitan masuk ke rumah.


"Syadev tampan sekali, sayangnya masih terlalu muda bagiku," gurau Orlin.


"Bukankah Kak Al jauh lebih tampan?" goda Kaysa.


"Kakakmu itu terlihat ramah, tapi sebenarnya susah didekati. Dalam pikirannya hanya ada pekerjaan," keluh Orlin.


Entah kenapa Kaysa merasa ada setitik kebahagiaan saat mendengan ucapan dari Orlin tersebut.


"Teganya aku, kenapa bahagia di atas kesedihan orang lain? Seharusnya sebagai adik aku harus mendukung mereka, karena Kak Orlin orang yang baik dan cocok untuk Kak Al," batin Kaysa.


"Kapan Kak Orlin mulai bekerja? Kerjanya jadi satu dengan Kak Al ya?" tanya Kaysa.


"Iya, satu kantor. Aku kerjanya mulai besok," jawab Orlin bersemangat.


"Eh, kalian mau sekolah tidak? Sudah jam enam lebih loh. Sebaiknya salah satu dari kalian mandi di kamar Flora saja, biar nanti tidak telat," tegur Kaysa pada kedua temannya.


"Haduh, sampai lupa waktu. Kak, Kaysa, Kita siap-siap sekolah dulu ya?" pamit Zahra kemudian menggandeng lengan Anggun untuk memasuki rumah.


Kaysa menertawakan kedua temannya itu yang sampai teledor.


"Kaysa, apa Kakakmu di sini dekat dengan seseorang? Maksudku perempuan," tanya Orlin di saat hanya berduaan dengan Adik alarik itu.


"Tidak, Kakakku hanya menghabiskan waktu dengan keluarga. Dan paling banyak untukku," jawab Kaysa polos.


"Sepertinya Alarik sangat menyayangimu ya?" tanya Orlin lagi.


"Tentu saja, karena aku adiknya," jawab Kaysa riang.


Orlin juga tertawa riang, karena merasa lega jika seseorang yang disukainya dari kecil tidak dekat dengan perempuan lain.


"Bagaimana kalau aku menelepon Kak Al, aku ingin mengucapkan terima kasih," ujar Kaysa antusias.


"Tadi sesampainya di sini sudah aku telepon tapi tidak diangkat," ucap Orlin sedih.


"Mungkin tadi masih tidur," jawab Kaysa sambil mengambil ponsel di sakunya.


Kemudian muncul di layar ponsel wajah Alarik yang tampan dan menawan.


"Assalamu'alaikum," salam Kaysa tersenyum riang.


"Waalaikumsalam, pagi-pagi sudah menyapa manis. Ada apa ini?" tanya Alarik yang pura-pura tidak tahu.


"Terima kasih ya, aku tidak menyangka jika Kak Al beneran membelikan Skincare itu. Padahal tadinya aku cuma becanda saja," jawab Kaysa.


"Apapun yang diminta adikku pasti akan Kakak turuti, tapi selama Kakak mampu ya?" ujar Alarik tersenyum manis.


"Ciehh... Enaknya yang punya Kakak," sela Orlin.


"Kamu sudah sampai situ?" tanya Alarik kaget.


"Dari tadi, aku telepon tapi tidak kamu angkat," jawab Orlin pura-pura kesal.


"Maaf, tadi aku bangun kesiangan. Jadi keburu-buru sholat subuh takut kehabisan waktu," ucap Alarik tertawa.


"Semalam setelah telepon terputus Kak Al tidak langsung tidur ya?" sergah Kaysa.


Alarik hanya tertawa, karena pemuda tampan itu tahu jika di jawab sejujurnya Kaysa bisa marah-marah.


Orlin terdiam, semalam gadis itu dua kali mengirim pesan pada Alarik tapi tidak di balas.


"Kenapa aku merasa di antara Alarik dan Kaysa bukan hanya sebatas Kakak adik ya? Ah, aku tidak boleh berpikiran buruk. Mungkin memang Alarik tipe cowok yang lebih mengutamakan keluarga dibanding urusan cinta. Karena dari dulu dia juga selalu mengabaikan perempuan yang mencoba mendekatinya," batin Orlin.


"Kak Al, sebentar lagi aku ulang tahun loh. Jangan lupa persiapkan hadiah yang paling istimewa," pinta Kaysa manja.


"Iya, Masih satu bulan kan? Nunggu Kak Al gajian dulu. Karena tabungan Kakak sudah bobol buat beli Skincare itu," jawab Alarik lembut.


Kaysa dan Orlin hanya tertawa mendengar penuturan Alatik. Namun Putri tunggal Tuan Rendra itu tahu jika Alarik berbohong. Karena Alatik sekarang sudah menjadi bos besar.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Anggun mengalah mandi di kamar Adiknya Kaysa. Ketika gadis itu membuka kamar mandi milik Flora, betapa terkejutnya dia karena berpapasan dengan Syadev yang hanya memakai handuk sepinggang.


"Ahh..."


Keduanya sama-sama berteriak karena terkejut.


"Maaf, aku tidak tahu!" ucap Anggun gugup.


"Masuklah!" jawab Syadev cuek sambil keluar dari kamar mandi.


Anggun segera masuk, jantungnya semakin berdegup kencang karena kejadian barusan.


Saat berangkat sekolah, Darren dan Zahra sudah pergi duluan.


Syadev dan Zahra hanya berdiri canggung di depan rumah.


"Aku yakin kalian akan telat jika hanya mematung seperti itu," tegur Kaysa setengah berteriak.


Syadev dan Anggun menjadi salah tingkah. Mereka bergegas masuk ke mobil karena tidak tahan di tertawakan Kaysa yang baru saja memasuki rumah dengan Orlin.


**Terima kasih yang sudah like dan Vote ya💜 Karena dukungan dari kalian semua sangat berarti bagi Author.


Bagi yang belum jangan lupa ya🙏 Beri rating bintang 5 juga.

__ADS_1


Semoga kita semua selalu diberi kesehatan, kebahagiaan dan Riski lancar🤗**


__ADS_2