CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Perbedaan


__ADS_3

Yudistira mengumpulkan buku - buku paketan miliknya untuk diserahkan kepada Jamila, sebab sebentar lagi Jamila akan mengikuti tes. Apakah nanti gadis itu bisa masuk di kelas berapa? Karena meskipun di sekolah lain sudah kelas tiga jika hasil tes kurang memuaskan nanti bisa saja di Andromeda berada di kelas satu.


Semua buku - buku miliknya terlihat masih baru, sebab memang jarang di buka karena Yudistira kurang suka belajar sejak kecil. Melainkan sebagian besar waktunya habis digunakan untuk melakukan hobinya.


"Hey, mau dibawa kemana semua bukumu?" tanya Sagara heran.


"Aku berikan kepada Jamila, biar dia bisa belajar dan nanti setidaknya masuk kelas tiga. Kalau enggak ya kelas dua lah," jawab Yudistira.


"Lalu nanti kamu akan memakai buku mana?" tanya Sagara lagi.


"Pinjam punyamu, lagian kamu tanpa perlu belajar juga sudah cerdas," jawab Yudistira pergi meninggalkan saudara kembarnya itu.


Sagara melirik penuh arti, pemuda itu memang tidak terlalu membutuhkan sebab semua isinya sudah sebagian di hafalkan. Tidak ada kesengajaan tapi setiap kali Sagara membaca buku pasti dengan sendirinya nyantol di otaknya.


Setelah makan siang Sagara hanya bengong saja,. yang lainnya sudah beranjak pergi dari meja makan sedangkan Sagara masih duduk terdiam di sana seorang diri.


Anggun yang melihat putranya seperti itu langsung duduk di samping Sagara.


"Sagara, kamu ada masalah apa?" tanya Anggun lembut.


"Eh, Mama. Tidak ada apa - apa kok," jawab Sagara terkejut.


"Jangan bohongi mama deh, jujurlah apa yang sedang menganggu pikiranku itu?" paksa Anggun yang penasaran.


Sagara bukan tipe orang yang mudah membicarakan urusan pribadinya pada orang lain, tapi karena hal ini benar - benar mengganggu pikirannya Sagara mencoba mencurahkan isi kepalanya kepada mamanya.


"Ma, Sagara diberi kelebihan dalam pikiran tapi kenapa tidak memanfaatkan dengan baik ya. Ada pikiran ingin menghafalkan Al Qur'an tapi di sisi lain juga belum siap meninggalkan kesenangan duniawi," ujar Sagara.


Anggun tersenyum, sebab putranya itu sudah mulai terbuka hatinya.


"Justru dengan kamu mencoba nanti semakin lama kamu bisa menghayati kandungan isi Al Qur'an. Dan lama - kelamaan nafsu dunia itu bisa hilang dengan sendirinya, yang perlu kamu lakukan hanyalah iklash karena Alloh. Bukan sebab pujian atau ingin menjadi yang terhebat," bujuk Anggun lembut.


"Aku hanya merasa kurang mensyukuri atas anugerah Alloh, sebab lainnya yang memiliki banyak kekurangan fisik maupun IQ rendah sangat berusaha, sedangkan aku yang normal bahkan di beri anugerah kecerdasan justru menyia-nyiakan," balas Sagara resah.

__ADS_1


"Mama senang akhirnya kamu bisa berpikiran seperti ini, jika papamu tahu tentu saja dia akan sangat bahagia sekali dan mendukungnya, " bujuk Anggun.


"Ma, terima kasih atas nasihatnya," ucap Sagara mulai merasa tenang.


"Iya, sama - sama," jawab Anggun.


Memang untuk hal ini Anggun dan Syadev tidak berani memaksa dengan kekerasan, sebab bukan hanya soal kecerdasan tapi juga persiapan mental kedua putra mereka. Mereka hanya sekedar menyarankan yang terbaik. Jika memang anak - anak mereka tidak mau ya tidak bis dipaksa lagi.


Seperti anaknya Kaysa dan Alarik. Di saat Arkananta memiliki sikap bandel justru sebaliknya adiknya yang sejak kecil pendiam dan lebih suka di rumah. Jadi semua memiliki watak sendiri - sendiri.


Tiba - tiba Yudistira datang dan terlihat tengah celingukan.


"Ma, Jamila kemana ya?" tanya Yudistira.


"Tadi diajak Fayyola dan Sarah keluar jalan - jalan, ada apa?" tanya Anggun.


"Tidak, hanya mau memberikan buku ini karena dia sebentar lagi mau ikut tes masuk," balas Yudis.


"Kamu tinggal taruh saja di dalam kamarnya," saran Anggun.


Yudistira biarpun tidak sejenius Sagara tapi memiliki kepedulian yang sangat tinggi, sedangkan Sagara lebih terkesan cuek dan malas mengurusi orang lain.


"Ma, mama merasa enggak kakak Yudistira menyukai Jamila?" bisik Sagara.


Anggun tersenyum, jika Sagara yang secuek ini sampai ikut penasaran berarti ada sesuatu. Namun, Anggun tidak masalah selama mereka tidak melakukan perbuatan yang tercela.


"Biasa saja, karena dia selama ini juga sering baik pada siapapun dan sering menolong mereka. Justru mama yang curiga jika kamu menyukai Sarah," jawab Anggun lembut tapi mampu membuat Sagara tercengang.


"Apa maksud Mama?" tanya Sagara terkejut.


"Selama ini kamu adalah orang yang cuek, tapi semalam dengan manisnya mengantarkan selimut sampai depan rumah untuk seorang perempuan. Dan paginya kamu juga ada pikiran untuk mulai menghafalkan Al Qur'an," goda Anggun.


"Apaan sih Mama, aku sama sekali tidak menyukai gadis kecil seperti itu. lagian aku juga sudah mau lulus sekolah," elak Sagara berlalu pergi.

__ADS_1


Tapi sebenarnya Sagara merasa sangat malu, sebab siapa sangka kelakuan semalamnya itu sampai ketahuan Mamanya. Bahkan sang mama juga menyangka jika dirinya menyukai Sarah.


"Memangnya kenapa kalau masih kecil?Seperti om Alarik dan Tante Kaysa mereka juga terpaut jauh usianya. Tapi kehidupan mereka sangat harmonis,"balas Anggun.


"Ma, jangan bahas hal yang tidak penting begini lagi Ah. Sagara malas sekali mendengarnya," sindir Sagara.


Anggun beneran mau menjitak kepala Sagara, kelakuannya yang seperti ini persis seperti papanya dulu sewaktu muda.


"Sagara, Mama ingatkan sekali lagi. Perasaan cinta itu wajar, karena kita adalah manusia yang tercipta memiliki hati. Tapi harus bisa mengendalikan ke dalam jalur yang benar. Kalau kamu menyayangi seseorang jangan kamu bersikap seolah tidak peduli, itu sangat menyakitkan bagi orang lain. Jika kamu begini terus kelak setelah kehilangan penyesalan itu yang akan menyiksamu," tutur Anggun lembut.


"Ma, kenapa mama tiba - tiba berbicara seperti ini?"tanya Sagara menahan rasa kesal.


"Mama hanya mengingatkan, belajarlah menghargai sesuatu meskipun itu dari hal terkecil," balas Anggun kemudian mengelus rambut putranya dengan lembut dan berlalu pergi.


Sagara kemudian mengingat - ingat setiap kata yang barusan diucapkan oleh mamanya.


"Menghargai hal yang kecil?" batin Sagara.


Ah... Sagara menjadi kesal, jika soal rumus yang rumit otaknya dengan mudah mampu mencerna. Namun, mengenai perasaan dia selalu bingung dan tidak tahu jawabannya.


"Kak, kakak sibuk enggak?" tanya Valerio yang baru datang.


"Tidak, ada apa?" tanya Sagara.


"Main game yuk," ajak Valerio.


"Kamu ini main game terus," sergah Sagara.


"Apaan sih kakak ini, justru sejak tadi aku belajar terus makanya sekarang butuh hiburan. Lagi pula nanti kalau sudah masuk ke asrama tidak akan bisa main lagi," gerutu Valerio.


"Okelah, ayo kakak temani," jawab Sagara tertawa.


Sagara benar - benar tidak mau ambil pusing lagi, sebab sesuatu yang terlalu dipikirkan justru akan menjadi sebuah beban. Seperti Valerio, dia begitu santai dan menikmati setiap kesempatan yang ada.

__ADS_1


"Tidak ada salahnya berpikiran seperti anak kecil, tidak perlu repot - repot memikirkan apa yang akan terjadi. Jadi nikmatilah waktu untuk saat ini," batin Sagara.


__ADS_2