CINTA YANG TERPAKSA

CINTA YANG TERPAKSA
Hoki Twins - BAB 77


__ADS_3

Sampai di rumah sudah larut malam. Kaysa meminta sopir keluarga Ayahnya untuk menginap dan pulang paginya. Kaysa tahu pasti sopir itu juga kelelahan.


Kemudian dengan pelan-pelan Kaysa membangunkan suaminya.


"Suamiku sayang ayo bangun," bisik Kaysa menepuk pipi Alarik lembut.


"Sudah sampai ya?" tanya Alarik sambil bangun dari pangkuan istrinya.


"Iya, ayo kita masuk ke rumah," jawab Kaysa. Akan tetapi saat dirinya hendak melangkah kakinya merasa nyeri. Berjam-jam pahanya di tindih jadi kram.


Alarik langsung menggendong istrinya dengan pelan, pemuda itu tersenyum melihat reaksi Kaysa yang kaget.


Para pelayan hanya senyum-senyum melihat majikan mereka yang selalu mesra.


Kaysa menjadi malu mendapatkan tatapan seperti itu.


"Lepaskan," pinta Kaysa.


"Diamkan!" jawab Alarik membawa istrinya naik ke lantai dua menuju kamar.


"Masih sakit?" tanya Alarik sambil meletakkan istri kecilnya di tempat tidur.


"Sudah tidak kok," jawab Kaysa.


Kaysa teringat sesuatu, dia langsung berdiri dan menuju ruangan tempat barang-barang pribadinya.


Kaysa membuka lemari tempat koleksi tas mewahnya, jika di jual pasti masih laku sekitar 30 jutaan karena kondisinya masih bagus.


Kaysa memiliki koleksi tas yang banyak, tapi harganya tidak lebih 50 juta. Karena Kaysa tidak tahan mendengar Bundanya yang akan terus-terusan mengomel.


Sedangkan setelah menikah dengan Alarik Kaysa membeli tas di atas 100 juta, ada sekitar tiga. Kaysa berniat akan melelang semuanya.


Alarik yang terbiasa tidur sambil memeluk istrinya langsung menghampiri Kaysa. Dengan mesra Alarik memeluk tubuh istrinya dari belakang.


"Apa yang kamu lakukan malam-malam begini, istriku sayang?" tanya Alarik lembut.


"Sedang melihat-lihat tas. kalau di jual semua mungkin bisa dapat uang satu milyar," jawab Kaysa.


"Kenapa di jual? Bukannya kamu suka mengoleksi tas?" tanya Alarik penasaran.


"Aku rasa jadi orang bodoh kalau mengoleksi barang-barang yang tidak digunakan lagi, sedangkan di panti anak-anak hanya sekedar untuk jajan saja menahan diri," jawab Kaysa.


Alarik langsung merasa senang sebab Kaysa pikirannya sudah mulai terbuka. Sebenarnya Alarik juga punya uang untuk diberikan pada panti. Namun pemuda itu takkan menghentikan keinginan istrinya. Alarik berharap setelah ini Kaysa bisa lebih bijak menggunakan uangnya.


"Dari pada hanya memberi uang sedikit-sedikit lebih baik aku berikan banyak sekalian untuk modal usaha kecil-kecilan. Mereka bisa membuka toko sembako, jadi sistemnya yang bertugas menjaga itu anak-anak secara bergantian. Tapi mereka juga tetap di beri gaji seperti pada umumnya biar semangat. Sedangkan nanti setiap keuntungan di bagi dua. Separuh buat menambah modal separuh lagi untuk kebutuhan," ujar Kaysa antusias.


"Iya, aku bangga sekali pada istriku ini. Mari sekarang tidur," ajak Alarik.


"Sebentar, aku mau melihat-lihat sepatu juga," tolak Kaysa dengan nada manja.


Alarik gemas atas penolakan tersebut, ditangkapnya tubuh Kaysa dan diciumnya bibir sexi itu.


"Besok saja!" bujuk Alarik menatap mata lembut indahnya Kaysa.


"Tapi aku belum mengantuk," rengek Kaysa.

__ADS_1


Alarik tahu jika Kaysa memiliki keinginan maka harus dilakukan sekarang.


"Besok biar di bantu pelayan, kalau belum mengantuk sebaiknya kita melanjutkan tadi yang belum selesai," jawab Alarik langsung menggendong istrinya ke ranjang.


Sebenarnya Alarik tahu jika dalam otak Kaysa fokus memikirkan tas dan sepatu yang hendak di jual. Namun Alarik tidak mau tahu. Keinginannya yang satu ini juga tidak bisa ditunda.


Ditariknya jilbab Kaysa sampai rambut miliknya tergerai. Diciumnya bibir dan leher mulusnya tanpa ampun.


"Sebentar, aku mau mandi dulu biar segar," pinta Kaysa.


"Ayo mandi bersama," ajak Alarik tersenyum nakal.


Kaysa yang melihat godaan suaminya itu merasa kesal, dia tidak ingin menjadi korban. Namun dialah yang akan menjadikan suaminya sebagai mangsanya.


Kaysa menarik kerah baju Alarik, diciumnya bibir suaminya penuh birahi. Alarik sampai kewalahan sendiri mendapat serangan yang ganas itu. Namun hatinya sangat girang mendapatkan kejutan dari istri nakalnya.


Kaysa menanggalkan pakaiannya satu-persatu, membuat mata Alarik melotot terpesona.


Segala yang ada dalam diri Kaysa memang memiliki keindahan, jangankan dirasakan, sekali di lihat saja sangat menagihkan.


Jika kenakalan Kaysa yang seperti ini Alarik girang sekali.


Mereka berendam air hangat bersama, Alarik tidak ingin tergesa-gesa. Dinikmatinya setiap detik dengan penuh kasih sayang.


Alarik tiba-tiba tertawa, sebab wanita yang kini sedang dicumbunya adalah bayi mungil yang dulu di timang-timang saat dirinya berusia tujuh tahun.


"Kenapa?" tanya Kaysa heran.


"Kamu cantik sekali, sampai aku tidak ingin ada orang lain yang melihat," jawab Alarik sambil memegang dagu Kaysa.


"Suamiku sexi sekali," balas Kaysa menatap dada Alarik yang mempesona.


💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜


Anggun dan Inge sudah bersiap-siap menuju pesta. Anggun terpukau dengan dirinya sendiri karena bisa berubah secantik itu. Inge mendandani Anggun ala Muslim barat, membuat dirinya semakin terlihat menarik.


Namun pesta yang yang dimaksud temannya tidak sama dengan apa yang dibayangkannya. Tidak seperti pesta yang pada umumnya di Indonesia. Anggun malah merasa takut melihat pemandangan di depannya, para perempuan memakai bikini. Sedangkan yang pemuda hanya memakai celana pantai saja. Anggun merasa aneh sendiri berada di tempat itu, semua orang juga memandang dia dan Inge dengan tatapan aneh.


Beberapa detik kemudian Inge dan seorang pemuda bule berkelahi, Anggun tidak tahu apa yang membuat mereka berdebat. Namun Anggun kini hanya seorang diri saja karena Inge sudah tidak lagi terlihat di kerumunan.


Anggun kebingungan mencari Inge, sedangkan dia sendiri di sana seperti orang linglung. Anggun memutuskan keluar dari ruangan karena dia tidak tahan dengan hiruk pikuk yang terjadi di sana. Anggun sadar ini bukan dunia dirinya, dia teringat kenapa dulu Syadev melarang dia untuk sembarangan bergaul dengan orang asing.


Acara pesta berada di samping kolam renang yang luas, banyak sekali gadis-gadis seumuran dia yang mandi dan bercumbu dengan masing-masing pasangan tanpa rasa malu di tempat umum.


Setelah Anggun di luar dia bingung mau bagaimana, ponsel tertinggal di kamar Inge sedangkan dia juga masih kaku berbahasa yang Inggris.


Tiba-tiba ada suara lelaki yang menyapa dia dari belakang.


"Gadis pesawat, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya lelaki itu.


"Kamu berbicara denganku?" tanya Anggun heran.


"Tentu saja, di sini hanya kita berdua. Apa kamu lupa aku? Kita pernah duduk berdampingan saat naik pesawat dari Indonesia," jelas lelaki itu.


"Oh iya, maaf aku baru sadar," jawab Anggun tersenyum senang bisa bertemu dengan orang sesama dari negara Indonesia.

__ADS_1


"Perkenalkan, namaku Bima. Nama kamu siapa?" tanya Bima mengulurkan tangan.


"Namaku Anggun," jawab Anggun sembari mengisyaratkan jika dirinya tidak bisa menerima berjabat tangan dengan Bima.


Bima hanya tersenyum, tapi hatinya merasa senang.


"Anggun, namanya secantik yang punya," jawab Bima ramah.


"Bima, apa kamu juga ikut pesta di sini?" tanya Anggun penasaran. Dia sama sekali tidak risih karena Bima memakai baju komplit.


"Iya, aku teman dekat dari orang yang mengadakan pesta ini. Sebenarnya aku tidak suka pesta seperti ini, tapi mau tak mau aku harus datang demi menghargai temanku," jawab Bima.


"Aku malah tidak kenal sama yang sedang ulang tahun, tapi aku ke sini karena di ajak Inge, kekasihnya yang punya pesta ini," timpal Anggun.


"Oh Inge, aku tahu dia," ujar Bima.


"Tapi sepertinya Inge dan kekasihnya tadi bertengkar, tapi aku tidak tahu apa penyebabnya karena aku tidak lancar berbahasa Inggris," cetus Anggun.


"Pasti karena Bob punya banyak teman wanita. Mereka hampir setiap saat berkelahi. Putus nyambung gitu deh," jawab Bima yang sepertinya sudah mengenal baik mereka.


"Oalah, tapi kalau memang Bob mencintai Inge sungguhan seharusnya dia berusaha menjaga hati hati agar tidak menyakiti Inge," timpal Anggun membandingkan Kekasih Inge dengan suaminya.


"Itulah, Bob mencintai Inge tapi juga tidak bisa meninggalkan teman-teman wanitanya. Mungkin memang sudah wataknya begitu," jawab Bima panjang lebar.


"Aku kok jadi tidak suka ya mendengar lelaki yang seperti itu, aku berharap semoga Inge mendapatkan pengganti yang lebih baik," ucap Anggun serius.


Bima tertawa lirih melihat kepolosan Anggun.


Tiba-tiba Inge datang dengan tergesa-gesa, dan di belakangnya ada Bob yang menyusul.


"Ayo Anggun, kita pulang saja," ajak Inge sambil menarik Anggun masuk ke mobil.


Belum sempat Anggun berpamitan pada Bima tapi Anggun sudah menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Anggun.


"Kali ini aku mau beneran putus," jawab Inge.


"Aku dengar dari Darren kalau kamu baru saja pindah di sini. Bagaimana kamu bisa mengenal Bob?" tanya Anggun penasaran.


"Aku dan dia dulu satu SMA, karena kebetulan papa kami rekan kerja jadi mereka menjodohkan kita. Awalnya aku beneran suka, karena dia tampan dan baik sekali. Hanya saja setelah lulus dia masuk Universitas di sini dan sejak itu kami jarang bertemu.Tak lama kemudian aku juga ikut pindah ke negara ini, aku baru tahu jika Bob punya teman kencan banyak. Aku sedih, dia di putus tidak mau tapi juga tidak bisa setia. Aku marah sekali padanya," kata Inge sambil menangis.


"Sabar ya, percayalah jika memang dia bukan yang terbaik pasti ada pengganti yang akan datang dan lebih baik darinya," hibur Anggun.


"Tapi aku mencintai dia, bagaimanapun selam dua tahun kami pernah bersama dan memiliki kenangan yang indah," rengek Inge.


"Kalau begitu beri dia kesempatan terakhir, jika memang dia tidak bisa berubah maka untuk apa kamu mempertahankannya? Di dunia ini masih banyak pemuda yang lebih tampan dan lebih baik," kata Anggun serius.


"Kamu benar, aku akan memberi dia kesempatan yang terakhir. Eh, kenapa tadi kamu bisa bersama Bima?" tanya Inge.


"Dulu kebetulan kami duduk bersebelahan di pesawat, apa dia satu universitas denganmu?" tanya Anggun.


"Lelucon apa, dia itu sepupu aku. Aku, Bob dan Bima dulu juga satu SMA. Namun karena Papa sibuk mengurus Mama jadi Bima pindah ke Universitas sini agar bisa membantu bisnis Papa," jawab Inge.


Anggun terkejut, siapa sangka jika orang yang pernah ditemui di dalam pesawat itu adalah sepupu Inge.

__ADS_1


Anggun ingat, jika Syadev bekerja di perusahaan milik Papa Inge. Berarti Bima jadi atasan Syadev di kantor.


Tolong dukung Author dengan cara Like dan Vote yaa🤗 Jangan sampai lupa😘😘


__ADS_2