
Bella, ibu Daniel menaiki tangga mengikuti Daniel yang masuk ke dalam kamarnya. Dengan perlahan dia membuka pintu dan masuk ke dalam. Pandangannya mengarah pada Daniel yang sedang duduk di pinggir tempat tidur sambil menunduk.
Bella pun menghela nafasnya pelan dan menghampiri Daniel dan duduk di sebelahnya,
"Kau baik-baik saja???" tanya Bella sambil menyentuh pundak Daniel dengan lembut.
Daniel hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan ibunya,
"Bisakah ibu tinggalkan aku sendiri..." ujar Daniel pelan tanpa mengangkat wajahnya.
Bella pun kembali menghela nafasnya dan melepaskan tangannya dari pundak Daniel,
"Daniel... Terkadang apa yang kita inginkan tidak selalu bisa kita dapatkan" ujar Bella lembut.
Daniel tidak menanggapi ucapan Bella dan masih memilih diam,
"Cinta sejati itu adalah tentang dua orang insan yang saling menyayangi, mengasihi, selalu ingin bersama dan saling menjaga satu sama lain untuk selamanya" ujar Bella.
"Cinta memang membuat hati seseorang berbunga-bunga dan merasa bahagia. Tetapi terkadang cinta juga bisa menjadi sangat menyakitkan dan membuat seseorang lupa diri" lanjutnya.
Bella pun menatap Daniel dengan lembut,
"Cinta juga terkadang tidak bisa di tebak kemana dia akan berlabuh. Tetapi... Cinta itu akan sempurna jika kedua insan dapat merasakan hal yang sama" ujarnya.
"Daniel, ibu tau kau sangat mencintai Anna. Tetapi kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk jatuh cinta pada kita dan membalas perasaan kita.." ujar Bella.
Daniel menghela nafasnya kasar lalu menatap Bella,
"Ibu tau bukan, selama ini aku selalu menunggunya!! Menjaga perasaanku untuknya!! Menunggu saat-saat untuk kembali melihatnya!!! Aku hanya ingin bersama dengannya bu... tidak dengan yang lain!!" ujar Daniel frustasi.
"Melihat dia bersama dengan pria itu membuat aku sakit..." ujarnya sambil menyentuh dadanya yang sesak.
Bella pun memeluk Daniel dan mengelus punggungnya. Dia sangat sedih melihat putranya patah hati seperti ini. Daniel sejak dulu adalah anak yang selalu ceria dan selalu tersenyum. Tetapi sekarang melihatnya seperti ini membuat Bella ikut merasakan kesakitan yang di rasakannya.
"Daniel.. Tuhan menciptakan manusia dengan satu hati. Manusia akan memberikan hatinya pada seseorang yang tepat dan dengan kehendak Tuhan juga mereka akan bersatu.. Anna telah memberikan hatinya pada orang lain, dia telah menentukan siapa yang berhak menerima hatinya. Kau tidak bisa memaksakan perasaan seseorang. Mungkin ini yang terbaik untukmu menurut Tuhan. Mungkin Anna bukanlah seseorang itu.. Suatu hari nanti kau juga pasti akan menemukan orang yang tepat. Jadi belajarlah untuk kuat dan menerima kenyataan" ujar Bella lembut.
Daniel melepaskan pelukan Bella dan berdiri mendekati jendela,
"Tapi aku tidak bisa!!! Aku hanya ingin bersamanya!!!" ujar Daniel tegas.
Bella pun menghela nafasnya dan menghampiri Daniel,
"Apa kau bahagia jika Anna bahagia???" tanya Bella.
Daniel terdiam sejenak lalu menutup matanya dan tidak menjawab pertanyaan Bella,
__ADS_1
"Jika kau memaksakan perasaanmu padanya, mungkin itu bisa menyakiti Anna. Bukankah kau tidak ingin melihatnya seperti itu???" tanya Bella.
Daniel kembali membuka matanya dan setetes air mata pun mengalir di pipinya.
Bella menyentuh pundak Daniel dengan pelan,
"Ibu tau kau tidak akan menyakitinya.. Tenangkanlah dirimu, dan pikirkan perkataan ibu" ujar Bella pelan lalu membalikkan badannya melangkah ke arah pintu.
Setelah keluar Bella pun menutup pintunya,
"ARGHHHH!!!!"
Terdengar suara teriakan dari dalam kamar Daniel. Bella pun menutup matanya dan meneteskan air matanya. Ibu mana yang tega melihat anaknya patah hati dan terluka seperti ini.
Namun, dia tidak ingin Daniel memaksakan perasaannya pada seseorang yang tidak mencintainya. Hal itu akan lebih menyakitkan untuk dirinya.
Bella pun mengusap air matanya dan kembali melangkah turun ke lantai bawah. Dia berharap Daniel bisa menenangkan pikirannya dan merenungkan perkataannya tadi.
-
Austin dan William tengah duduk di ruang kerja milik Austin. Sejak tadi mereka hanya terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Austin pun meneguk minumannya dan menatap pada William,
"Coba kau jelaskan padaku Will. Ku kira Anna dan Daniel akan bertunangan. Tapi tidak ku sangka, Anna sudah memiliki hubungan dengan pria lain" ujar Austin.
"Aku tidak tau bagaimana menjelaskannya padamu, ini terlalu rumit" ujarnya.
Austin pun terdiam dan kembali menatap William,
"Kau tau, kita ini sahabat sejak dulu. Kita tinggal di panti asuhan yang sama. Kau tidak perlu merahasiakan sesuatu padaku karena aku tau kau sedang memendam sesuatu. Aku tau dari tatapan mu Will.. Kau bisa cerita padaku jika kau mau.." ujar Austin.
William terdiam sesaat lalu menghela nafasnya pelan,
"Huhhh.... Kau memang selalu tau apa yang ada di dalam pikiranku" ujar William.
William pun mulai menceritakan segalanya pada Austin. Dari Alex yang mempunyai dendam padanya sampai menculik Anna. Dan sampai entah mengapa putrinya dan pria itu mempunyai sebuah hubungan.
Austin memang sudah tau tentang hubungan dirinya dan Diana sejak dulu. Sampai tentang dirinya yang menembak Frans karena Frans telah menembak Diana. William tidak menyembunyikan apapun dari Austin. Mereka sudah seperti kaka beradik sejak dulu.
Austin pun memijat keningnya setelah mendengar cerita William.
"Tidak ku sangka, ternyata takdir tidak pernah membuatmu jauh dari keluarga Wijaya" ujar Austin tak habis pikir.
William kembali meneguk minumannya dan bersandar di kursi.
__ADS_1
"Tuhan sepertinya sedang mempermainkan ku. Aku sudah berusaha untuk menjauhkan diri dari keluarga itu. Namun, tidak ku sangka Tuhan mengikat putriku dan putra Diana kali ini" ujar William frustasi.
Austin pun menatap William dan tersenyum tipis,
"Kau benar, Sepertinya kali ini kau tidak bisa menghindar" ledeknya.
Austin pun meneguk minumannya,
"Hey, kau tau. Saat aku melihat putra Diana itu aku seperti melihat dirimu dalam versi yang berbeda" ujar Austin tiba-tiba.
William mengernyitkan keningnya dan menatap Austin tidak mengerti,
"Apa maksudmu??" tanyanya.
Austin pun tersenyum pada William,
"Jika dulu kau menyerah mempertahankan hubunganmu dengan Diana karena ayahnya. Namun berbeda dengan pria itu... dia terlihat berani dan tidak gentar sedikit pun dengan dirimu. Walaupun kau menghalanginya dengan cara apapun, kurasa dia tidak akan menyerah sedikitpun" ujar Austin.
William pun tertegun sesaat lalu menghela nafasnya kasar,
"Jangan samakan aku dengannya!!" ujar William marah.
Austin pun terkekeh melihat reaksi William,
"Hahaha memang kalian tidak sama. Tetapi... Aku lebih menyukai pria pemberani itu hahaha" ujar Austin tertawa.
William pun mendengus kesal dan meneguk minumannya dengan kasar.
"Tapi... Kurasa mereka saling mencintai. Apakah kau tega memisahkan mereka??" tanya Austin.
William pun terdiam sejenak,
"Aku tidak ingin Anna tersakiti. Kau tau bukan Peter Wijaya orang yang seperti apa?? Aku tetap akan menjauhkannya dari pria itu" ujar William yakin.
Austin pun terdiam dan menatap William dengan serius,
"Jika kau lakukan itu, kau tidak jauh berbeda dengannya. Kau akan kembali mengulang masa lalu mu pada Anna" ujar Austin.
William pun seketika terdiam, dan kembali mengingat perkataan Anna yang sama dengan Austin saat di rumah sakit.
Benar...
Apakah dia tega masa lalunya yang menyakitkan itu akan di rasakan oleh Anna??? pikir William bimbang.
Bersambung...
__ADS_1
Halo, dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like dan komen yang banyak 🤗
Terimakasih 🙏❤️