Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Kidnap


__ADS_3

"Nona Anna.... sedang mengandung anak kembar.." lanjutnya yang membuat Erika terkejut.


Seketika Erika pun langsung membelalakkan matanya. Wanita itu menutup mulutnya dan merasa sangat bersalah.


Jika saja cairan tadi benar-benar telah jatuh ke makanan Anna, itu artinya dia bukan hanya mencelakai dua nyawa, tetapi tiga..


Erika menggigit bibirnya dan berusaha untuk terlihat tenang di hadapan dokter,


"Sebenarnya aku ingin memberitahukan ini langsung pada Tuan Alex, tetapi sepertinya Tuan Alex sedang sibuk hari ini.. Jadi, aku hanya dapat memberitahukan ini padamu saja sebagai anggota keluarganya.." ucap dokter itu.


"Kehamilan bayi kembar cukup beresiko. Jadi, aku ingin Nona Anna jangan terlalu banyak melakukan pekerjaan berat, apalagi terlalu banyak pikiran, karena itu akan beresiko terjadinya kelahiran prematur, bahkan kematian pada janin" lanjutnya.


"Pastikan asupan makanan dan kondisi mental Nona Anna sehat" ucapnya.


"Dan, Nona Anna bisa langsung pulang dan istirahat di rumah saja. Pastikan juga Nona Anna rajin meminum obatnya"


Erika menatap dokter itu dan mengangguk,


"Baik dokter, terimakasih atas informasinya" ujar Erika.


Dokter pun mengangguk dan menepuk pundak Erika,


"Kalau begitu aku permisi dulu" pamitnya.


Setelah dokter pergi, Erika pun memberanikan dirinya masuk ke dalam ruangan Anna. Wanita itu terdiam sejenak di depan pintu dan melihat Anna yang tengah tersenyum sambil menyentuh tangan Bibi Van yang terlihat khawatir.


Erika perlahan masuk dan menghampiri Anna,


"Apa... Sudah lebih baik??" tanya Erika pelan.


Anna mengarahkan pandangannya pada Erika dan mengangguk sambil tersenyum,


"Sudah.. Aku baik-baik saja. Dokter bilang itu hanya kontraksi kecil" ujarnya.


"Maaf telah membuat khawatir dan merepotkan kalian" lanjutnya.


Erika menggeleng cepat menanggapi ucapan Anna,


"Tidak.. Seharusnya, aku yang minta maaf" ucapnya refleks.


Anna seketika mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Erika. Erika yang sadar seketika menatap Anna dengan senyum canggungnya,


"Ma.. Maksudku.. Aku, Aku sangat khawatir.. Aku takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan" ujarnya pelan sambil menunduk.


Anna tersenyum melihat reaksi Erika dan menyentuh tangan wanita itu,


"Tidak usah khawatir, aku baik-baik saja. Dan bayi di dalam perutku juga baik-baik saja" ujar Anna sambil mengusap lembut perutnya.


Erika menatap perut Anna dan terdiam sejenak. Wanita itu menghela nafasnya dan menatap kembali pada Anna,


"Mulai sekarang banyaklah istirahat, makan yang banyak dan jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting" ucap Erika serius.


Anna tersenyum mendengar ucapan Erika dan mengangguk,


"Baiklah Nona" ucapnya sedikit meledek sambil tertawa pelan.


Erika yang mendengar hal itu pun ikut tertawa pelan.


Bibi Van seketika teringat sesuatu dan mengeluarkan ponselnya,


"Bibi akan menghubungi Tuan Alex lagi" ujarnya sambil mencari kontak Alex.


Namun dengan cepat Anna menahan tangan Bibi Van,


"Tidak usah Bi.. Jangan beritahu Alex. Lagipula ini hanya kram biasa. Aku tidak mau membuatnya khawatir" ujar Anna pelan.


Bibi Van terlihat berpikir sejenak dan akhirnya mengangguk mengerti,

__ADS_1


"Baiklah.." ujarnya pasrah.


Setelah itu, Anna pun diizinkan pulang setelah dokter memeriksanya kembali dan memberikan beberapa obat.


--


Saat ini Anna, Bibi Van, Erika dan dua pengawal yang sedang duduk di kursi depan pun telah kembali berada di perjalanan untuk kembali ke rumah.


Saat di sebuah jalanan yang cukup sepi, tiba-tiba saja mobil yang di tumpangi Anna pun berhenti mendadak.


CKIT!!!!


Supir mengerem cukup kuat saat tiba-tiba ada satu mobil yang menghalangi jalan mereka.


Anna, Bibi Van dan Erika cukup terkejut dan menatap ke depan,


"Ada apa??" tanya Anna pada pengawal.


Pengawal itu menggeleng pelan sambil menatap mobil di depannya,


"Maaf Nona.. Ada mobil yang tiba-tiba berhenti di depan" ujarnya sambil mengklakson dengan keras mobil di depannya.


Satu pengawal yang berada di samping supir langsung turun dari dalam mobil dan menghampiri mobil di depannya.


Pengawal itu menatap tajam mobil di depannya dan mengetuk keras kaca mobil itu,


"HEY!!! APA KAU TULI!! Cepat menyingkir!!!" teriaknya.


Namun orang yang berada di dalam mobil tak kunjung turun dan kaca mobil itu tidak dapat menembus ke dalam, kecuali orang yang berada di dalam dapat melihat keluar.


Satu pengawal yang masih berada di dalam mobil pun memutuskan untuk keluar,


"Nona tunggu disini sebentar, aku akan mengecek keluar" ujarnya pada Anna.


Anna hanya mengangguk dan menatap keluar. Entah hanya perasaannya saja atau bukan, Anna merasa mulai curiga pada mobil di depannya. Perasaan gadis itu mulai merasa tidak enak.


Benar saja, tidak lama setelah pengawal tadi menghampiri temannya, tiba-tiba terdengar suara tembakan yang cukup keras,


DOR!!


DOR!!


"Arrgghh!!!"


Seketika dua pengawal tadi jatuh dengan berlumuran darah di atas aspal.


Anna, Erika dan Bibi Van terlihat menutup telinga mereka setelah mendengar suara tembakan tadi,


"Tidak!! Pengawal John dan Dennis!!" ujar Bibi Van panik melihat kedua pengawal itu telah tergeletak berlumur darah di depan mereka.


"Ada apa ini???" tanya Anna yang mulai panik.


Erika mengarahkan pandangannya ke sekitar dan belum melihat seorang pun yang keluar dari dalam mobil di depan mereka.


"Kita harus pergi dari sini!!!" ujar Erika panik.


Wanita itu hendak berpindah ke kursi kemudi, namun.. belum sempat Erika bergerak, tiba-tiba segerombol pria yang memakai penutup wajah datang dari belakang mobil mereka,


"Cepat bawa Nona Anna pergi dari sini!!!!" ujar Bibi Van panik pada Erika saat menyadari bahwa sepertinya orang-orang itu mengincar Anna.


Mereka menghampiri mobil Anna dan dengan brutal membuka pintu mobil sambil menyeret Bibi Van keluar,


BRAK!!!


"Akkhhhh!!!" teriak Bibi Van mencoba memberontak.


"Jangan bergerak!!!!" teriak salah satu dari mereka.

__ADS_1


"NONA LARI!!!!" teriak Bibi Van pada Anna.


"BIBI!!!!!" teriak Anna saat melihat segerombol pria itu menyeret Bibi Van dan memukul pundak wanita paruh baya itu sampai Bibi Van tak sadarkan diri.


Erika menarik tangan Anna dan menyeretnya keluar dari mobil,


"AYO PERGI!!!" teriaknya pada Anna.


Namun saat mereka baru keluar dari mobil, tiba-tiba beberapa pria menghalangi jalan Erika,


"Jangan melawan atau aku akan menembakmu!!!!" ancamnya.


Erika terlihat berpikir dan membawa tubuh Anna ke belakang tubuhnya untuk melindungi gadis itu. Namun salah satu pria menarik tangannya kuat dan menahannya,


"Lepaskan aku!!!! Biarkan dia pergi!!!!" teriaknya sambil menatap Anna.


Tubuh Anna di tahan oleh salah satu pria. Anna mencoba memberontak dan menggigit tangan pria itu kuat,


"Aaarrrggghhhh!!!" teriak pria itu kesakitan.


Pria itu seketika mendorong tubuh Anna sampai tersungkur,


"Akkhh.." rintih Anna kesakitan saat tubuhnya jatuh ke aspal.


"****** sialan!!!!!" teriak pria itu hendak memukul Anna.


Namun satu pria lain menahan tangannya dengan kuat,


"Tahan dirimu!!! Kita harus membawa wanita ini dengan utuh!!!" desis pria itu.


Si pria yang hendak memukul tadi seketika menghentikan niatnya dengan kesal,


"Cepat bawa wanita ini!!" perintahnya pada yang lain.


Para pria itu menarik tubuh Anna kembali dan menyeretnya masuk ke dalam mobil mereka. Anna yang masih merintih kesakitan mencoba memberontak, namun sayang tenaganya tidaklah sebanding dengan mereka,


"Lepaskan aku!!!" teriak Anna.


Erika yang melihat orang-orang itu membawa Anna seketika mencoba memberontak dan menahan mereka,


"LEPASKAN DIA BRENGSEK!!!" teriaknya sekuat tenaga.


Tangan Erika masih di tahan oleh seorang pria yang lain dengan kuat. Erika terus berteriak dan mencoba menolong Anna. Namun sayang, orang-orang itu telah berhasil memasukkan Anna ke dalam mobil. Bibi Van yang pingsan pun di bawa oleh mereka.


Si pria yang menahan Erika seketika tersenyum mencemooh,


"Aktingmu bagus juga" ujarnya.


Seketika Erika pun menatap tajam kearah pria itu. Dan si pria itu pun langsung membuka penutup wajahnya sambil menyeringai pada Erika.


Erika langsung membelalakkan matanya melihat pria itu,


"Kau????" ujarnya terkejut.


Pria itu... Pria itu adalah bawahan Leonard..


Jadi... Jadi ini semua rencana Leonard???? pikir Erika terkejut.


Bersambung..


Halo, support selalu cerita ini ya,


Jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️


Yuk, bikin author semangat lagi nulis dengan tinggalkan jejak di kolom komentar 🙏😁


Dan, jangan lupa kalau baca novel jangan lupa waktu ya, dan ibadah juga ☺️🙏

__ADS_1


__ADS_2