Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Pesta Reuni


__ADS_3

"APA KATAMU????" tanya Alex tajam.


Para petinggi disana menatap Alex dengan takut. Sedangkan pria paruh baya yang bertanya tadi masih menatap Alex dengan santai dan tidak gentar sedikit pun.


Alex melangkah cepat mendekati pria paruh baya tadi dengan emosi. Namun dengan cepat para petinggi lain menghampirinya dan mencoba untuk menenangkannya. Jika tidak, maka di pastikan akan terjadi keributan bahkan baku hantam disini.


"Tenang... Tenang.. Tuan Alex.. Jangan dengarkan dia" ujar salah satu petinggi yang bernama Mr. Felix.


Mereka terlihat mencoba menahan tubuh Alex yang terlihat sudah tersulut emosi. Sedangkan pria paruh baya yang meledek Alex tadi hanya tersenyum sinis melihat hal itu.


Dengan cepat pria paruh baya itu pun berdiri dari duduknya,


"Kurasa semua sudah melihat dengan jelas. Tuan Alexander ini bukanlah orang yang profesional!! Dia lebih mementingkan urusan pribadinya!!" ujarnya keras.


Lalu pria paruh baya itu pun menatap Alex dengan tajam,


"Tuan Alexander... Apa kau pikir hanya dirimu saja yang mempunyai seorang istri???" tanyanya tajam.


"Aku dan yang lain pun juga mempunyai anak dan istri!!! Kami datang jauh-jauh kemari secara profesional!! Kami juga meninggalkan keluarga kami di rumah hanya untuk pekerjaan ini!!! Apa kau pikir kita semua disini sedang bermain-main!!!!!!" lanjutnya.


Pria paruh baya itu mencoba mengatur nafasnya dan di bantu untuk kembali duduk oleh petinggi lain.


"Jelas aku sebut kau egois!!!! Kau juga harus memikirkan kami semua!! Ini bukan hanya tentang dirimu saja Tuan Alexander!!!!" ucapnya lagi.


Alex pun seketika terdiam mendengar ucapan pria paruh baya itu. Pria itu menutup matanya dan menghela nafasnya dalam.


Benar...


Alex merasa dirinya sangat egois sekarang...


Tidak seharusnya ia membawa masalah pribadi di dalam pekerjaannya. Dia juga harus memikirkan yang lain..


Alex pun melepaskan pegangan para petinggi lain yang sedang menahannya dan kembali berjalan kearah kursinya dalam diam.


Mereka semua sekarang terlihat terdiam dengan suasana yang mulai canggung. Alex memijit keningnya pelan dan mencoba untuk menenangkan pikirannya,


"Maafkan aku...." ujar Alex pelan.


Seketika para petinggi lain pun menatap kearah Alex dengan tatapan terkejut. Sejak kapan seorang Alexander Wijaya meminta maaf?? pikir mereka.


Se salah-salahnya pria itu dan sekeras kepalanya pria itu, sejak dulu dia tidak pernah mengucapkan kata maaf.


Mereka semua bekerjasama bukan setahun atau dua tahun. Tetapi sudah belasan tahun. Dan baru kali ini mereka semua mendengar kata 'Maaf' dari mulut pria dingin dan keras kepala itu.


Pria paruh baya yang semula berdebat dengan Alex pun juga ikut terkejut dan menatap Alex dengan tatapan tidak percayanya. Dia terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Alex pun berdiri dari duduknya dan menghadap kearah pria paruh baya tadi. Alex menatap pria paruh baya tadi sejenak,


"Maafkan aku Tuan Michael..." ujarnya pelan.


Seketika Tuan Michael pun membelalakkan matanya dan terlihat salah tingkah. Apakah pria itu baru saja meminta maaf padanya?? pikirnya tidak percaya.


Alex pun mengarahkan pandangannya kepada yang lain dan meminta maaf,


"Maaf karena telah membuat keributan di acara rapat penting ini.." ujarnya lagi.


Seketika para petinggi itu saling pandang dengan tatapan gugup dan mengangguk pelan sambil tersenyum dengan salah tingkah,


"Ti... Tidak apa-apa Tuan Alex.. Kami mengerti perasaanmu" ujar salah satu dari mereka.


Tuan Michael pun berdehem pelan dan mengelap keringatnya yang tiba-tiba muncul di keningnya. Entah mengapa dia merasa jauh lebih menakutkan melihat wajah Alex yang seperti ini dari pada wajah Alex yang penuh dengan emosi tadi,


"A... Aku juga minta maaf telah membuatmu merasa tersinggung dan marah" ujarnya pelan.


Alex pun mengangguk pelan dan kembali duduk di kursinya,


"Kalau begitu... mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita" ujar Alex.


Pria itu akan berusaha memfokuskan pikirannya pada acara rapat kali ini. Dan dengan begitu rapat ini akan cepat selesai dan dirinya bisa segera menyusul Anna ke tempat pesta reuni itu.




Sebuah mobil berhenti di depan sebuah gedung aula yang berada di salah satu sekolah.



Seorang pengawal terlihat turun dari mobilnya dan membukakan pintu untuk majikannya yang berada di kursi belakang.



Anna pun turun dari dalam mobil dan menatap gedung di depannya dengan tidak terlalu bersemangat,



"Nona, kami akan menunggu Nona di luar. Jika ada apa-apa Nona bisa mengatakannya pada kami. Kami siap berjaga disini" ujarnya.

__ADS_1



Anna pun tersenyum dan mengangguk pelan,



"Baiklah, aku masuk dulu" ujarnya.



Lalu Anna pun mulai melangkah masuk dan seorang penjaga di depan pintu gedung pun membukakan pintunya untuk Anna.



Setelah masuk, Anna pun mengarahkan pandangannya ke sekitar untuk mencari orang-orang yang mungkin di kenali.



Di dalam sini terlihat begitu banyak orang dengan pakaian modis mereka. Anna terlihat sedikit gugup karena orang-orang di dalam sini terlihat masih muda dan bersemangat.



Sebenarnya umur mereka semua itu hampir sama dengan Anna. Tapi entah mengapa gadis itu merasa sedikit lebih tua karena dia sedang hamil sekarang. Mungkin dalam satu angkatan teman-teman di sekolahnya, hanya Anna lah satu-satunya gadis yang telah menikah, dan sebentar lagi akan mempunyai seorang anak.



"Anna!!!!!!" teriak seseorang dari belakangnya.



Anna pun membalikkan tubuhnya dan tersenyum melihat kedua teman dekatnya saat di sekolah sedang melambai kearahnya.



Dengan berlari kecil, dua orang gadis itu menghampiri Anna dan memeluk tubuhnya,



"Ya Tuhan Anna!! Sudah lama sekali tidak bertemu!! Aku merindukanmu" ujar salah satu gadis.



Anna membalas pelukan gadis itu dan tersenyum,




Lalu Anna pun memeluk satu gadis yang lain di samping Bianca,



"Kau tidak rindu padaku???" ujar gadis yang satunya dengan wajah yang berpura-pura sedih.



Anna pun tersenyum dan menggenggam tangan gadis yang satunya,



"Tentu saja aku juga merindukanmu Jennie" ujarnya.



Tatapan Bianca pun mengarah pada perut Anna yang mulai terlihat menonjol,



"Ya ampun Anna... Kau hamil??? Sudah berapa bulan???" tanyanya terkejut.



Anna tersenyum dan mengusap pelan perutnya,



"4 bulan lebih" jawab Anna.



Jennie pun menutup mulutnya dan terlihat takjub,



"Ya Tuhan cepat sekali... Aku merasa baru kemarin kau menikah dan sekarang kau sudah hamil.." ujarnya.


__ADS_1


"Kurasa sepertinya kau dan suamimu sangat rajin bercocok tanam haha" lanjut Jennie bergurau.



Bianca pun tertawa mendengar ucapan Jennie sedangkan Anna hanya tersenyum canggung dengan wajah yang mulai memerah.



"Oh iya.. Bagaimana rasanya setelah menikah?? Kau sungguh membuatku iri.. Saat mendengar bahwa kau akan menikah dengan seorang pengusaha tertampan di negri ini aku merasa sangat terkejut. Kau tau, suamimu itu adalah incaran para wanita.. Tidak ku sangka kau bisa menaklukkannya.." ujar Bianca excited.



Jennie pun mengangguk cepat dan terlihat penasaran,



"Ayo ceritakan pada kami bagaimana awal mula kau bertemu dengan Tuan Alexander.. Dan bagaimana kau bisa membuatnya jatuh cinta dan tergila-gila padamu???" tanya Jennie.



"Ya, aku tau kau ini memang cantik. Tetapi pasti ada beberapa wanita yang lebih cantik dan sexy yang mendekati suamimu sebelumnya. Bagaimana bisa dia memilihmu?? Wanita yang terbilang masih sangat muda" lanjutnya.



Anna pun tersenyum tipis dan sedikit kebingungan untuk menceritakan perjalanan kisah cintanya dengan Alex dulu. Jika mereka tau bahwa awalnya Alex telah menculiknya dan berusaha untuk membunuhnya, pasti mereka tidak akan percaya, pikir Anna.



"Ceritanya cukup panjang, kapan-kapan saja aku akan ceritakan" ujar Anna.



Bianca dan Jennie pun terlihat menghela nafas kecewanya,



"Yah.. kau ini. Kami siap mendengarkannya.." bujuk Jennie.



Anna pun tersenyum melihat kedua temannya itu yang berusaha untuk membujuknya bercerita.



Namun, saat mereka sedang asik mengobrol. Tiba-tiba sekelompok gadis berjalan menghampiri mereka bertiga.



"Oh hay!! Lihat siapa disini???" ujar salah satu gadis cukup keras.



Gadis itu berambut pirang dan memakai pakaian yang cukup terbuka.



Anna, Bianca dan Jennie pun seketika mengarahkan pandangannya ke samping dan melihat segerombolan gadis-gadis itu.



Seketika Anna pun menghela nafasnya dengan malas.


Gadis menyebalkan itu...


Mengapa gadis itu senang sekali mengganggunya sejak dulu, pikir Anna malas.



Bersambung...



Halo, dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️


Banyakin komentarnya ya dan jempolnya juga 😁🙏



Oh iya, author juga mau minta dukungan buat novel kedua author ya, yg judulnya 'Mysterious Man' 🙏



Terimakasih..



Dan jangan lupa pesan author, kalau baca novel jangan sampai lupa waktu ya..

__ADS_1


Apalagi ibadahnya sampai terlewat 😁


__ADS_2