
Daniel menghentikan mobilnya tepat di halaman rumah William. Setelah itu dia pun bergegas turun dan membukakan pintu untuk Anna yang baru pulang dari rumah sakit.
Setelah dokter memeriksanya kembali, keadaan gadis itu sudah mulai membaik dan sehat. Dokter pun memperbolehkan Anna untuk pulang hari ini.
Dengan sigap Daniel pun mulai menuntun Anna untuk berjalan masuk ke dalam rumah. William tidak bisa ikut mengantarkan Anna pulang karena dia mempunyai banyak pekerjaan di kantornya. Entah mengapa sejak dia berbicara dengan Anna terakhir kali di rumah sakit. William mulai tidak banyak bicara dan seperti menghindari agar tidak berkomunikasi terlalu lama dengan putrinya itu.
Anna tidak mau ambil pusing dan mengacuhkan sikap William. Setelah seorang pelayan membukakan pintu untuk mereka. Daniel pun kembali menuntun Anna untuk menaiki tangga menuju kamarnya.
"Aku bisa berjalan sendiri Daniel" ujar Anna.
Daniel tidak mengindahkan ucapan Anna dan kembali menuntun gadis itu,
"Aku tidak ingin kau jatuh" ujar Daniel santai.
Anna menatap pria itu sejenak dan pasrah. Daniel menjadi sangat posesif padanya setelah mereka memutuskan kembali berteman dan melupakan pertunangan itu. Tetapi entah mengapa sikap Daniel padanya menjadi semakin posesif seperti ini.
Setelah sampai di kamar, Anna pun mendudukkan dirinya di atas tempat tidur,
"Terimakasih, maaf telah merepotkan mu, kau bisa kembali bekerja. Aku akan beristirahat" ujar Anna secara halus mengusir Daniel.
Daniel terlihat sedikit kecewa namun dia tetap tersenyum pada gadis itu,
"Aku akan pergi setelah kau meminum obatmu! Sekarang aku akan menyuruh pelayan membuatkan makanan untukmu. Setelah itu kau bisa minum obat" ujar Daniel.
Anna hendak membuka mulutnya untuk mencegah Daniel, namun pria itu dengan cepat menaruh telunjuknya di dekat bibir Anna.
"Ssshhh... Aku tidak menerima penolakan!! Sekarang, kau tunggu disini, aku akan ke bawah dan menyiapkan makan siang untukmu" ujar Daniel memaksa, lalu melangkah keluar kamar.
Anna menghela nafasnya pasrah dan mulai menyandarkan tubuhnya di atas bantal. Seketika pikirannya kembali mengingat Alex. Apakah benar pria itu telah tiada?? pikir Anna sedih.
Setetes air mata pun menetes di pipinya. Lalu Anna menyentuh dadanya yang terasa sesak. Mengapa rasanya sangat sakit.. jeritnya dalam hati.
Anna pun mulai menggigit bibirnya menahan isak tangis.
'Alex kau dimana??? Aku sangat merindukanmu....' ujar Anna sedih dalam hatinya.
Dan disisi lain, Alex juga tengah menyentuh dadanya, menahan rasa sesak karena kerinduan yang teramat dalam pada Anna. Lalu tatapannya mengarah pada langit gelap di luar jendela, membayangkan wajah Anna yang cantik sedang tersenyum padanya. Alex pun memejamkan matanya erat,
'Anna.... Tunggulah aku.. Aku sangat.. sangat merindukanmu' ujar Alex dalam hatinya.
-
Daniel kembali menaiki tangga sambil membawa se mangkuk sup dan nasi di nampan yang di bawanya. Setelah sampai di depan pintu kamar Anna, Daniel pun membuka pintunya. Tatapannya langsung mengarah pada Anna yang sedang tertidur di atas tempat tidur sambil memunggunginya.
"Anna.... Ayo makanlah dulu, setelah itu minum obat. Aku sudah membawa sup ayam untukmu" ujar Daniel sambil menyimpan sup itu di atas meja.
Tidak ada respon dari Anna, lalu dengan segera Daniel pun melangkah ke sisi lain tempat tidur untuk menatap gadis itu. Apakah dia tertidur?? pikir Daniel.
Setelah tiba disisi lain tempat tidur, Daniel menatap Anna yang sudah tertidur dengan air mata yang masih basah di pipinya. Daniel pun dengan segera duduk di atas tempat tidur sambil menatap gadis itu dengan sedih.
Daniel mengusap dengan lembut air mata Anna,
"Apakah kau begitu sangat terpukul karena kehilangan pria itu Anna???" ujar Daniel pelan.
Daniel menggertakkan giginya kuat menahan kepedihan di hatinya,
"Apakah benar-benar tidak ada kesempatan sedikitpun untukku???" bisiknya lagi.
__ADS_1
Perlahan tangannya menyingkirkan dengan lembut rambut yang menutupi wajah gadis itu,
"Aku mencintaimu Anna...." bisiknya lagi.
Namun Anna tidak merespon perkataannya karena gadis itu telah tertidur dengan lelap.
Perlahan mata Daniel menatap bibir merah muda Anna yang sedikit terbuka. Pikiran bejatnya seperti menyuruhnya untuk mengecup bibir merah muda yang menggoda itu. Perlahan wajah Daniel pun mulai mendekat pada Anna.
Daniel dapat merasakan hembusan nafas gadis itu di wajahnya yang membuat dirinya semakin mendekat pada gadis itu. Jarak bibirnya dan bibir Anna semakin tipis. Namun tiba-tiba wajah Anna terlihat cemas dalam tidurnya,
"A.... Alex" bisik gadis itu mengigau dalam tidurnya.
Seketika Daniel langsung menjauhkan wajahnya dengan kecewa. Dan menatap wajah resah Anna dalam tidurnya. Lalu dia pun tersenyum miris,
"Bahkan saat kau tertidur pun, hanya ada pria itu di dalam pikiranmu" bisik Daniel kecewa.
Daniel pun tersenyum miris dan mengacak rambutnya,
"Sial!!!!" gerutunya.
Dia pun dengan segera bangkit dari atas tempat tidur dan kembali menatap Anna.
"Maafkan aku Anna, tapi... sekarang pria itu sudah tidak ada. Aku tidak akan menyerah dengan perasaanku padamu. Aku akan berusaha membuatmu melupakan pria itu" bisik Daniel yakin.
Lalu dia pun melangkah pergi meninggalkan kamar Anna dengan kecewa.
-
Alex tidak bisa tidur malam ini, dia terus berjalan mondar-mandir sambil menunggu kabar dari Harry. Dia ingin segera berangkat ke Jepang untuk menemui Anna. Sayangnya ternyata Harry membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membereskan segala berkas-berkas untuk keberangkatannya.
CKLEK!!!
"Maaf, aku lupa mengetuk pintu hehe, apa aku mengagetkanmu??" tanya Roy merasa tak bersalah.
Alex pun menghela nafasnya dan mengacuhkan Roy yang mulai mendekat ke arahnya.
"Ada apa dengan ekspresi mu itu?? Kau seperti orang yang sedang mengalami depresi berat" sindir Roy.
Alex pun menatap Roy dengan mata tajamnya,
"Baiklah... Baiklah... Jangan menatapku seperti itu!! Kau sungguh mengerikan!!" ujar Roy pasrah.
Lalu Roy pun tiba-tiba tersenyum dan mengeluarkan sesuatu di dalam saku celananya,
"Aku punya sesuatu yang setidaknya akan membuatmu senang saat ini" ujar Roy.
Alex menatap pria itu sekilas dan kembali mendelik acuh. Roy yang melihat ekspresi pria itu seketika menjadi kesal,
"Hey!! Kau akan berterima kasih padaku setelah ini!! Selagi kau menunggu tiket penerbangan mu yang tak kunjung datang, aku punya sesuatu untukmu... Tadaaaa...." ujar Roy sambil memberikan sebuah kertas kecil pada Alex.
Alex menatap kertas yang bertuliskan sebuah nomor telpon di tangan Roy dengan datar dan kembali mengacuhkan pria itu. Roy pun seketika kembali kesal di buatnya dan kembali menarik tangannya.
"Ada apa dengan ekspresimu!! Apa kau tidak mau nomor ini?? Baiklah... Jangan menyesal setelah ini, aku hanya memberimu satu kesempatan. Kalau kau tidak mau maka aku akan kembali menyimpannya!!" ujar Roy sambil membalikkan badannya hendak keluar dari kamar Alex dengan kesal.
Alex mun menghela nafasnya kasar,
"Kau sama sekali tidak membantu!! Lagipula aku tidak membutuhkan nomor tidak jelas itu" ujar Alex kesal.
__ADS_1
Roy pun membalikkan badannya menghadap Alex sambil tersenyum licik,
"Oh.. Begitukah..... Baiklah, aku akan membuang nomor telpon rumah milik William ini. Sepertinya kau tidak membutuhkannya" ujar Roy.
Seketika Alex menatap Roy dengan tajam, rumah William?? pikirnya. Dengan cepat Alex pun menghampiri Roy dan merebut kertas itu. Nomor itu adalah nomor telpon dari Jepang. Seketika sebuah harapan muncul di hatinya untuk menghubungi gadis itu.
Namun dengan segera Roy kembali merebutnya dari tangan Alex,
"Enak saja!!! Bukankah kau tidak menginginkannya?? Kembalikan padaku!!!" ujar Roy kesal.
Alex pun menatap tajam pada Roy,
"Apa kau ingin mati???" ujar Alex dengan tatapan membunuhnya.
Roy pun seketika merasa bulu kuduknya bergidik ngeri, dan mengembalikan kertas itu ke tangan Alex lagi dengan ketakutan.
"Baiklah.. Baiklah... Ambil ini!! Kau benar-benar mengerikan" sindir Roy.
Dengan cepat Alex pun mengambil telponnya dan mencoba untuk menghubungi nomor itu.
-
Anna tengah sarapan di meja makan seorang diri dengan tidak berselera. Pandangannya menatap kosong pada makanan di piringnya. Ayahnya telah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali. Mungkin pria itu tengah menghindarinya, pikir Anna.
Seorang pelayan pun kembali menyimpan beberapa masakan di atas meja dan obat yang harus Anna minum. Namun tiba-tiba telepon rumah berbunyi.
KRING!!! KRING!!!
Pelayan pun dengan cepat mengangkat teleponnya,
"Hallo" ujar pelayan itu, namun tidak ada jawaban.
Pelayan itu pun mematikan telponnya. Namun beberapa detik kemudian telponnya kembali berdering. Dengan cepat pelayan itu kembali mengangkatnya.
"Hallo!!" jawabnya, namun tetap tidak ada jawaban dari si penelepon.
Dengan kesal pelayan itu menutupnya kembali. Anna pun menatap pelayan itu,
"Siapa yang menelpon??" tanya Anna.
Pelayan itu pun menggeleng,
"Aku tidak tau Nona, sepertinya hanya orang iseng saja" ujar pelayan itu.
Lalu pelayan itu pun kembali melangkah menuju dapur.
KRING!! KRING!!!
Telpon kembali berbunyi, dengan sedikit malas Anna pun menghampiri telponnya dan mengangkatnya.
"Hallo ini siapa????" tanya Anna.
Namun tidak ada jawaban, dengan kesal Anna pun hendak menutup telponnya. Tetapi suara di balik sana membuat matanya terbelalak seketika.
"Hallo, Anna......" jawab seseorang di balik sana.
Bersambung..
__ADS_1
Keep support this story ya, jangan lupa komen dan like nya ☺️
Aku seneng baca komen-komen pembaca hehe, jadi komen yang banyak ya 😁🙏❤️