
-
(Untuk Anna,
Dari Ayah..
Apa kabar Anna? Ayah harap putri ayah selalu dalam keadaan sehat.
Anna, pertama-tama ayah ingin meminta maaf padamu atas segala hal yang terjadi saat ini. Ayah tau kau banyak mengalami kesulitan dan penderitaan.
Bukan maksud ayah sengaja untuk meninggalkanmu sendirian dan menyelamatkan diri sendiri, tidak! Sungguh ayah tidak melakukannya dengan sengaja. Ada alasan lain mengapa ayah meninggalkanmu sampai kau tertangkap dan di bawa oleh pria itu, itu adalah rencana ayah.
Anna.. ayah ingin kau menjadi mata-mata disana dan memberikan informasi yang kau tau tentang pria itu. Setelah itu ayah akan menjemputmu dan membawamu pergi dari rumah itu.
Ayah akan menjelaskan padamu sebenarnya ada hubungan apa ayah dengan pria itu dan apa yang terjadi sesungguhnya di antara kami, ini semua terlalu rumit jika ayah menerangkannya padamu disini..
Yang jelas ayah ingin kau bekerjasama dengan ayah saat ini untuk memberitahu informasi apa saja yang kau tau tentang pria itu. Kau bisa mempercayai pria penjaga tadi, dia adalah orang suruhan ayah. Tidak perlu takut, ayah akan selalu menjagamu dan mengawasi mu dari sini.
Kita bisa melewati ini bersama-sama Anna..
Ayah sayang padamu..)
Anna meremas surat itu di tangannya. Jadi, ayahnya sengaja mengorbankan dirinya untuk menjadi seorang mata-mata disini?
Apakah ayahnya tidak tahu bahwa disini Anna melewati banyak sekali penderitaan?
Bahkan dia hampir mati di dalam hutan sendirian.. Keterlaluan!!
Air mata menetes membasahi pipi Anna. Kenapa ayahnya tega mengorbankan dirinya untuk urusan pribadinya. Yang bahkan Anna sendiri tidak tahu masalahnya..
Apakah hubungan ayahnya dan pria kejam itu bukan hanya sekedar saingan bisnis saja?
Mengapa ayahnya begitu rumit untuk menjelaskan semuanya pada Anna..
Bahkan sepertinya pria kejam itu mempunyai dendam yang lebih pada ayahnya. Sebenarnya ada masalah apa diantara mereka?
Anna memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Memikirkan hal itu membuatnya pusing dan lelah..
Yang perlu Anna lakukan saat ini adalah tetap bertahan hidup dan akan mencari tahu sendiri sebenarnya apa yang terjadi diantara ayahnya dan pria bernama Alex itu.
Untuk saat ini dia akan percaya pada ayahnya, dan mencoba untuk mencari tahu setiap informasi yang dia dapat tentang pria kejam itu.
-
Anna menatap dirinya di depan cermin memakai pakaian yang Alex berikan kemarin. Hari ini adalah hari pertamanya menjadi pelayan pribadi Alex. Anna tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dia akan mencari tau informasi apapun yang dia dapat hari ini tentang pria itu.
Anna menarik nafas dalam untuk menghilangkan kegugupannya. 'Anna, kau pasti bisa!' ujarnya dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri.
Setelah kegugupannya hilang Anna mulai melangkah keluar dari kamarnya.
Anna berjalan kearah pintu ruang pribadi milik Alex. Setelah berada di depan pintu, seketika Anna kembali gugup dan ragu. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah dia harus mengetuk pintunya?
Dengan ragu Anna mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu,
"Nona!" ujar seseorang yang membuat tangan Anna terhenti di udara.
Anna menatap kearah suara tersebut.
__ADS_1
Lidya menatap Anna dengan pandangan tidak sukanya..
"Lidya.." ujar Anna memandang Lidya.
"Apa yang sedang Nona lakukan?" tanya Lidya dingin.
Lidya menatap Anna dari atas sampai bawah. 'Apa-apaan gadis ini? kenapa dia berpakaian seperti itu? apakah dia ingin menggoda Tuan Alex?' geram Lidya dalam hatinya.
Lidya diam-diam mengepalkan tangannya, menatap tidak suka pada Anna.
"Oh.. Aku.."
"Kenapa Nona berpakaian seperti itu?" ujar Lidya memotong perkataan Anna.
"Pria itu bilang, mulai hari ini aku akan menjadi pelayan pribadinya" ucap Anna dengan tatapan polosnya pada Lidya.
Lidya memeras kuat rok baju nya mendengar ucapan Anna. 'Pelayan pribadi? Tidak mungkin!!' kesalnya dalam hati.
"Benarkah? Tuan Alex menyuruhmu menjadi pelayan pribadinya?" tanya Lidya menahan amarah.
Anna hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Lidya. Ada apa sebenarnya dengan Lidya? Anna merasa sepertinya Lidya tidak suka mendengar bahwa dia menjadi pelayan pribadi pria itu. Apakah Lidya cemburu? pikir Anna.
"Oh.. Maaf Nona, tetapi Tuan Alex tidak ada di ruangannya. Dia sudah berangkat ke kantor pagi-pagi sekali" ujar Lidya.
Anna mengangguk mengerti mendengar ucapan Lidya,
"Ohh begitu.. Baguslah.." ujar Anna sedikit lega.
Sejujurnya dia sedikit gugup dan takut untuk menghadapi pria itu saat ini. Tapi untungnya dia tidak ada di rumah sekarang.
"Apakah Nona sedang tidak sibuk?" tanya Lidya pada Anna.
Seringai licik muncul di wajah Lidya,
"Apakah Nona ingin membantuku?" tanya Lidya tersenyum.
Anna terlihat berpikir sebentar, lalu mengangguk pelan pada Lidya,
"Tentu.." jawab Anna balas tersenyum.
Lagipula Anna sangat bosan berdiam diri di kamar tanpa melakukan apapun. Melakukan beberapa kegiatan sepertinya akan mengurangi kebosanannya.
"Baiklah Nona, Ayo ikut aku ke bawah" ujar Lidya.
-
Alex sedang berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk di atas meja kerjanya. Sesekali Alex memijit kepalanya yang terasa sakit. Belakangan ini pekerjaannya sangat menumpuk. Setelah memecat beberapa karyawannya yang dirasa tidak becus dalam bekerja. Alex mengerjakan pekerjaannya dua kali lipat lebih banyak dari biasannya. Bahkan waktu tidurnya sekarang hanya 1 sampai 2 jam saja.
Suara ketukan pintu mengganggu konsentrasi Alex yang sedang fokus pada pekerjaannya.
Tok.. Tok..
"Permisi Tuan.." terdengar suara sekretarisnya dari luar,
Tok.. Tok..
Alex yang semula mengabaikan ketukan pintu itu kini mulai merasa terganggu.
__ADS_1
Alex membanting pulpen yang ada di tangannya ke atas meja.
"Masuk!!!" ujar Alex marah.
Sekertaris Alex yang bernama Harry masuk dengan gugup dan membungkukkan badannya. Dia tau Boss nya itu dalam suasana hati yang buruk. Namun seseorang memaksa untuk bertemu dengan Boss nya saat ini.
"Ma.. Maaf Tuan, Tapi.. Nona Gracia bersikeras ingin bertemu dengan Tuan" ujar Harry ketakutan.
Alex menatap Harry dengan tajam,
"Sudah ku katakan, aku tidak ingin di ganggu!!" geram Alex.
Harry tertunduk takut dan mulai berkeringat. Tiba-tiba Gracia masuk ke dalam ruangan Alex.
"Maaf Tuan Alex, aku yang memaksa untuk masuk dan ingin bertemu denganmu secara langsung" ucap Gracia tersenyum.
Alex menatap Gracia tajam,
"Apa yang kau inginkan?" tanya Alex dingin.
Gracia melangkah menghampiri meja Alex dan duduk di kursi sofa yang ada di samping meja kerjanya.
"Aku ingin mengantarkan dokumen penting dari ayahku yang perlu kau tanda tangani. Bukankah suatu kehormatan jika salah satu pemimpin dari perusahaan yang datang langsung mengantarkannya?" ujar Gracia santai.
Alex menatap dokumen itu, kemudian memberikan kode pada Harry untuk keluar.
Setelah Harry keluar, Alex mengambil dokumen itu dan mulai membacanya..
Gracia menatap lekat Alex dengan senyuman di wajahnya, memperhatikan setiap gerakan Alex dari samping.
"Hmm.. Oh iya.. Ku dengar, kekasihmu waktu itu adalah anak dari pengusaha yang bernama William Pratama, benarkan?" tanya Gracia.
Alex menghiraukan pertanyaan Gracia dan masih fokus membaca dokumennya.
"Yang ku dengar.. Perusahaan milik William Pratama sedang terkena berbagai masalah dan berada di ambang kebangkrutan?" ucap Gracia.
"Bukankah hal itu akan berdampak buruk untuk perusahaan mu?" sambungnya.
Alex menekan bolpoin nya kuat,
"Itu bukan urusanmu!!" ujar Alex marah dan melempar dokumen yang di bawa Gracia tadi di atas mejanya.
"Aku sudah menandatanganinya, sekarang kau boleh keluar!" tegas Alex.
Gracia menatap sebal pada Alex dan berdiri dari duduknya.
"Aku hanya memperingatkan mu! Jangan sampai karena hubunganmu dengannya, memberikan dampak yang buruk juga pada perusahaan lain yang bekerjasama denganmu!" ujar Gracia kesal sambil mengambil dokumennya.
"Kuharap kau pikirkan kata-kataku!!" ujarnya, lalu melangkah keluar dari ruangan Alex.
Alex menatap tajam ke arah pintu. Dia tidak menghiraukan perkataan Gracia tadi.
Lagipula yang membuat William bangkrut adalah dirinya. Dan itu hanyalah sebagian kecil dari rencanannya untuk menghancurkan seorang William Pratama..
Bersambung...
Support terus cerita ini ya, jangan lupa kasih komen dan like nya!! Ngasih saran juga boleh 😁
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 🤗