
"Alex... Aku mencintaimu, Aku menginginkanmu..." bisik Gracia penuh gairah.
Alex menggelengkan kepalanya kuat mencoba menyadarkan dirinya. Namun dia kembali menatap wajah Anna di atas tubuhnya yang membisikkan kata cinta padanya.
Rasa rindu yang membuncah seketika memenuhi hati Alex. Dia sangat merindukan gadis ini. Dia tidak akan pernah membiarkan gadis itu pergi lagi dari sisinya.
"Aku juga mencintaimu.... Anna..." bisik Alex tulus.
Lalu perlahan bibir Gracia pun mendekat pada bibir Alex...
Seketika Alex merasakan hembusan nafas yang berbeda di wajahnya. Ini bukan Anna!!! pikir Alex.
Lalu dengan cepat Alex pun tersadar dan mendorong kuat tubuh Gracia sampai terjatuh di atas lantai.
"Akkhh!!!" teriak Gracia.
Dengan emosi Alex bangkit dari tidurnya dan menatap Gracia dengan tatapan membunuhnya.
"****!!! Dasar ******!!! Beraninya kau menyentuhku!!!" geram Alex.
Gracia yang merintih di atas lantai pun dengan cepat menatap Alex yang terlihat marah padanya.
"A.. Alex, aku hanya...." ujar Gracia ketakutan.
Namun dengan emosi Alex berjalan melewati Gracia hendak keluar dari ruangan itu.
"Tu.. Tunggu!!! Alex!!!" teriak Gracia yang dengan cepat memeluk tubuh Alex dari belakang.
"Jangan pergi!!! Kumohon jangan pergi!!! Aku mencintaimu Alex hiks... Aku sungguh-sungguh mencintaimu!!" ucap Gracia yang mulai menangis.
Dia benar-benar mencintai Alex. Selama hidupnya Gracia belum pernah merasakan perasaan yang dia rasakan pada Alex. Dia akan melakukan apapun asalkan Alex bisa mencintainya dan menjadi miliknya.
Alex terlihat menggertakan giginya kuat saat dengan beraninya Gracia kembali memeluk tubuhnya. Dengan kasar Alex pun melepaskan tangan Gracia, lalu membalikkan badannya menatap pada tajam wanita itu.
Tangan Alex pun terangkat untuk mencengkram wajah Gracia dengan kuat.
"Aku tidak peduli tentang perasaanmu!! Aku bisa saja membunuhmu jika aku mau!!! karena kau telah berani mengambil kesempatan saat aku tidak sadar!!" geram Alex.
Gracia terlihat merintih kesakitan saat tangan Alex mencengkram wajahnya dengan kuat. Pria ini benar-benar mengerikan! Tatapannya seperti sudah benar-benar siap untuk membunuhnya saat ini juga.
"Tapi... Setidaknya aku masih menghormati ayahmu!! Maka menjauh lah dariku sebelum aku berubah pikiran!!!" ujar Alex tajam.
Lalu Alex pun melepaskan cengkraman tangannya dari wajah Gracia dengan kasar dan melangkah pergi.
Gracia yang terlihat syok pun seketika merasa tubuhnya lemas dan jatuh terduduk di atas lantai sambil menangis tersedu.
"Hiks... Kau jahat Alex... Hiks..." bisiknya sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak dan sakit.
Roy yang sedang berjalan menuju ruangan VIP tidak sengaja berpapasan dengan Alex yang terlihat baru keluar dari ruangan itu dengan wajah marahnya.
"Hey, kau kau kemana?? Apa yang terjadi??" tanya Roy mencoba memberhentikan langkah Alex.
Alex pun menatap tajam pada Roy dan mencengkram kerah baju temannya itu dengan kuat.
"Minggir!!!!!" ujar Alex tajam sambil menggeser tubuh Roy dengan kasar, lalu kembali berjalan pergi.
Roy yang kaget dengan sikap Alex pun seketika bergidik ngeri melihat perlakuan temannya itu. Ini pasti ada yang tidak beres!!! pikir Roy.
__ADS_1
Lalu dengan cepat Roy pun masuk ke dalam ruangan VIP itu dan melihat Gracia yang sedang terduduk di atas lantai sambil menangis tersedu.
"A.. Apa yang terjadi???" tanya Roy terkejut.
Namun Gracia tidak menjawabnya dan menangis dengan kencang.
Seketika Roy pun menghembuskan nafasnya dengan kasar. Pasti wanita ini yang membuat temannya marah seperti tadi. Roy tau bahwa Gracia sangat menyukai Alex. Tapi sepertinya wanita ini telah melakukan suatu hal di waktu yang tidak tepat. Roy masih bersyukur di dalam hatinya karena Alex tidak melukai wanita ini..
-
Anna sedang duduk termenung di dalam kamarnya sambil menatap keluar jendela. Sudah beberapa hari dia di kurung di dalam kamar ini. Hanya ada pelayan yang keluar masuk untuk memberikannya makanan. Rasanya seperti dejavu, saat dia pertama kali berada di rumah Alex.
Alex?? Pria itu.. Apa dia baik-baik saja??? pikir Anna sedih.
Tok.. Tok..
Terdengar suara pintu terketuk dari luar. Anna menghiraukan ketukan itu dan masih terus fokus pada lamunannya.
CKLEK!!!
Tiba-tiba pintu pun terbuka. Anna mengacuhkannya, karena mungkin itu adalah pelayan yang datang untuk mengantarkan makanan untuknya, pikir Anna.
Lalu terdengar kembali suara pintu tertutup. Anna masih tidak bergeming dari posisinya dan menghiraukan hal itu.
"Apa yang sedang kau lakukan??" tanya seseorang tiba-tiba menyadarkan Anna dari lamunannya.
Anna membalikkan badannya dan menatap Daniel yang berada di dekat pintu sambil membawa sebuket bunga dan tersenyum padanya. Seketika Anna pun kembali membalikkan wajahnya pada jendela.
"Aku sedang tidak ingin di ganggu oleh siapapun" ujar Anna dingin.
Daniel pun menunduk terdiam sesaat mendengar ucapan Anna. Lalu kembali memaksakan senyumnya dan mulai melangkah mendekati Anna.
Anna pun menatap sekilas bunga yang Daniel bawa. Bunga baby breath?? pikir Anna.
"Bukankah ini bunga kesukaanmu" ujar Daniel tersenyum.
Anna pun menatap ragu pada Daniel. Tidak ada orang yang tau bahwa bunga kesukaannya adalah bunga baby breath selain Daniel, teman kecilnya dulu.
Diam-diam sebenarnya Anna sudah mengetahui siapa Daniel sebenarnya. Saat di restoran waktu itu, Daniel menyuruh pelayannya menjauhkan makanan laut darinya. Yang mengetahui hal itu juga hanya orang-orang dekatnya saja.
Dan saat Anna memandang kembali wajah Daniel, dia mulai teringat dengan teman kecilnya dulu yang memang benar adalah Daniel.
Daniel menatap pada Anna yang hanya terdiam dan tidak mengambil bunga di tangannya. Lalu perlahan Daniel pun menghembuskan nafasnya.
"Apa kau begitu sedih karena berpisah dengan pria itu??" ujar Daniel pelan.
Anna tidak menjawab pertanyaan Daniel dan hanya fokus pada pemandangan di luar jendela.
"Pria itu bukanlah pria yang baik untukmu Anna!" tegas Daniel.
Seketika Anna pun menatap Daniel dengan tatapan tak percayanya.
"Kenapa kau bisa berbicara seperti itu! Kau bahkan tidak mengenalnya!" ujar Anna tajam.
Daniel pun membuang nafasnya kasar dan menatap Anna.
"Aku tau siapa dia!! Berbagai berita tentang sifatnya yang kejam, seorang pembunuh berdarah dingin dan tidak kenal ampun. Apa kau ingin bersama pria seperti itu???" ujar Daniel sedikit emosi.
__ADS_1
Anna pun menatap tajam pada Daniel di depannya,
"Dia melakukan semua itu karena dia memiliki alasan!!!" tegas Anna.
Daniel pun terdiam tidak percaya mendengarkan ucapan Anna.
"Kau benar-benar telah berubah Daniel!" ujar Anna tiba-tiba.
Seketika Daniel pun memandang Anna dengan terkejut. Apakah gadis ini sudah mengingatnya?? pikirnya.
"Aku ingat siapa kau!" ujar Anna pelan.
"Tapi aku tidak tau bahwa kau telah berubah seperti ini! Daniel yang ku kenal selalu mendukungku sejak kecil. Dia tidak pernah ingin melihatku sedih dan terluka! Tapi... kenapa sekarang kau melakukannya padaku??" ujar Anna sedih.
Daniel pun mengepalkan tangannya kuat mendengarkan ucapan Anna.
"Justru aku telah menyelamatkanmu Anna!!! Aku menyelamatkanmu dari pria kejam itu!!" ujar Daniel tegas.
Daniel pun memegang pundak Anna, dan mengarahkan pandangan gadis itu untuk menatapnya.
"Kau tau bagaimana perasaanku padamu sejak dulu Anna. Selama ini aku selalu menunggu... menunggu agar aku bisa kembali bertemu denganmu!!! Dan bisa kau bayangkan bagaimana sakitnya hatiku saat melihatmu bersama dengan pria itu??? Aku hancur..." ujar Daniel bergetar.
Anna pun menatap mata Daniel yang terlihat sangat terluka. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya. Namun, Anna ingin pria di depannya ini sadar bahwa dirinya selalu menganggap Daniel hanya sebatas teman sejak dulu, tidak lebih.
"Daniel....." ucap Anna terputus.
"Cukup!!!!" ujar Daniel.
"Istirahatlah! Aku akan pergi" ujar Daniel cepat lalu melangkah pergi dan menutup pintu kamar Anna.
Anna pun menatap sedih pada kepergian Daniel,
'Maafkan aku, Daniel' ujar Anna dalam hatinya.
-
Daniel terlihat menuruni anak tangga dengan cepat. Hatinya terasa sakit saat bertemu dengan Anna tadi. Gadisnya masih memikirkan pria yang bernama Alex itu. Dia tidak boleh membiarkan hal ini terus terjadi.
Saat sudah ada di lantai bawah Daniel pun berpapasan dengan William yang baru keluar dari ruang kerjanya.
"Kau sudah bertemu dengan Anna??" tanya William.
Daniel pun menganggukkan kepalanya pada William,
"Sudah...." Jawabnya.
Daniel terdiam sesaat, lalu menatap William di depannya dengan serius.
"Paman.... Aku ingin pertunangan ku dengan Anna di percepat!!" ujarnya.
William pun menatap mata Daniel yang terlihat sangat yakin dengan ucapannya. Lalu William pun hanya menghembuskan nafasnya perlahan.
"Baiklah.. jika itu yang kau mau" ujar William.
Bersambung...
Support selalu cerita ini, jangan lupa kasih like dan komen yang banyak ya 🤗
__ADS_1
Terimakasih 🙏❤️