Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Prière


__ADS_3

"oweekkkk!!!"


"oweeekkkk!!!"


Para perawat itu membelalakkan matanya dan kembali memeriksa kedua bayi itu,


"Dokter!!!!!! Mereka menangis!!!!" ucap perawat itu tidak percaya.


Dokter membalikkan tubuhnya dan kembali memeriksa kedua bayi itu. Ia bisa melihat kedua bayi itu menangis dengan kencang.


Dokter pun memeriksa detak jantung mereka dan menggelengkan kepalanya tidak percaya,


"Dokter!! Detak jantung pasien juga mulai membaik!!!" ucap salah satu perawat sambil menatap monitor di sampingnya.


Dokter itu menatap layar monitor yang memperlihatkan kondisi detak jantung Anna yang terkihat lebih membaik dari sebelumnya,


"Ya Tuhan.. Ini benar-benar keajaiban" bisik dokter itu.


"Cepat bawa bayi ini ke ruangan NICU untuk mendapatkan perawatan intensif!!" perintah dokter itu pada perawat.




Sudah beberapa jam Donna dan yang lainnya menunggu di kursi mereka.



Donna masih mondar-mandir di tempatnya. Ia terlihat tidak tenang dan masih terus menangis. Mata wanita itu terlihat sangat sembab. Mulutnya juga tidak berhenti memanjatkan doa sejak tadi.



Ia saat ini tengah menunggu operasi Anna..



Operasi sudah berlangsung beberapa jam, tetapi dokter belum juga keluar dari ruangannya, membuat Donna semakin cemas dan berpikir yang tidak-tidak.



"Ya Tuhan.. Selamatkanlah Anna dan cucu-cucuku..." bisiknya penuh harap.



Jonas menatap Donna yang terlihat tidak tenang sejak tadi dan menyentuh tangannya,



"Duduklah dulu sayang.. Kau harus tenang.." ucap Jonas mencoba menenangkan.



Seketika Donna mendelik pada Jonas sambil terisak,



"Bagaimana aku bisa tenang!!! Sejak tadi dokter belum keluar!!! Operasinya sudah berlangsung beberapa jam, tapi tidak ada kabar apapun!!!!" ucapnya terisak keras.



Key berdiri dari duduknya dan mencoba menenangkan Donna,



"Sudah bu.. Jangan seperti ini.." bujuknya pelan.



Donna kembali menangis dan duduk di kursinya. Bibi Van juga terlihat menangis dalam diam sejak tadi. Begitu juga dengan Roy yang terlihat menunduk lemas.



CKLEK!!!



Pintu ruangan pun terbuka..



Seketika Donna dan yang lainnya berdiri dan menghampiri dokter itu dengan cepat,



"Dokter, bagaimana keadaan Anna???? Apakah operasinya berhasil??? Bagaimana dengan cucu-cucuku?????" tanya Donna bertubi-tubi sambil terisak pelan.



Dokter membuka maskernya dan menghela nafasnya pelan,



"Syukurlah... Operasinya berjalan dengan lancar" ucap Dokter itu.



Seketika Donna dan yang lainnya pun menghela nafas mereka dengan lega,



"Benarkah???? Bagaimana kondisi Anna sekarang??? Dimana cucu-cucuku Dokter????" tanya Donna lagi tidak sabaran.



Dokter pun menatap Donna dan kembali menghela nafasnya pelan,



"Saat kedua bayi di keluarkan tadi.. Mereka sempat tidak menangis dan jantungnya pun tidak berdetak.." ucap Dokter itu yang membuat Donna seketika menutup mulutnya dengan sedih.



"Tapi... Syukurlah, Tuhan memberikan keajaiban.. Selang beberapa menit, kedua bayi itu akhirnya menangis" lanjutnya.



"Dan, saat ini kedua bayi harus di rawat di ruang NICU untuk mendapatkan penanganan yang intensif karena mereka lahir secara prematur dan pernafasannya masih belum sempurna" ucap dokter itu.



Donna seketika terduduk lemas sambil menangis penuh haru,



"Terimakasih Tuhan...... Terimakasih...." bisiknya tersedu.



Bibi Van dan yang lainnya pun bernafas dengan lega dan mengucap syukur,



"Lalu, bagaimana kondisi Anna sekarang???" tanya Donna lagi.



Dokter terdiam sejenak dan menatap kearah Donna,

__ADS_1



"Saat ini kondisi pasien sudah mengalami kemajuan walaupun ia belum sadarkan diri.. Pasien juga telah di pindahkan ke ruang rawat.." ucap dokter itu.



"Apakah kami boleh melihatnya ke dalam???" tanya Jonas pada dokter itu.



Dokter pun mengangguk pelan,



"Boleh.. Tetapi hanya beberapa menit saja, dan hanya dua orang saja yang boleh masuk. Kalian bisa bergantian untuk masuk ke dalam" jawab dokter itu.



Donna pun seketika berdiri dan maju kearah pintu,



"Aku akan masuk ke dalam!!" ucapnya tidak sabaran.



"Bibi.. Ayo kita masuk bersama" lanjut Donna pada Bibi Van yang sejak tadi masih menangis.



Bibi Van pun mengangguk dan masuk ke dalam ruangan rawat Anna..



CKLEK!!



Donna dan Bibi Van masuk ke dalam ruang rawat Anna.



Donna melangkah mendekati tempat tidur Anna sambil menangis pelan. Ia duduk di samping tempat tidur dan menatap wajah Anna yang masih belum sadarkan diri.



Begitu juga Bibi Van, ia duduk di samping Donna dan menatap Anna dengan matanya yang berkaca-kaca.



"Sayang... Ini Bibi.." bisik Donna tersedu sambil menyentuh tangan Anna.



"Maafkan Bibi, karena Bibi tidak bisa menolongmu saat kejadian itu.." lanjutnya merasa bersalah.



"Alex sama sekali tidak memberitahu apapun pada kami.. Dia memang pria yang egois.. Dia merasa bahwa, dia bisa menyelesaikan masalah apapun seorang diri" ucapnya lagi sedikit kesal dalam tangisnya.



Donna menghapus air matanya dan mengusap tangan Anna dengan lembut,



"Kau harus cepat bangun.. Kau harus lihat wajah anak kembarmu.." ucapnya lembut.



"Kami juga belum melihat mereka, karena sekarang mereka harus di rawat juga. Jadi, bangunlah cepat sayang.. anak-anakmu pasti membutuhkan ibunya sekarang" lanjutnya tersedu.




"Alex juga membutuhkanmu Anna..." bisiknya.



"Sekarang dia sedang kritis dan belum sadarkan diri juga.. Bibi mohon, bukalah matamu sayang.. Alex dan anak-anakmu membutuhkanmu.." lanjutnya tersedu.



Donna kembali menatap Anna dan tidak melihat ada pergerakan apapun dari gadis itu. Ia pun menghela nafasnya dan kembali menghapus air matanya,



"Cepatlah sadar... Kami semua disini menunggumu" ucapnya lagi.



Setelah waktunya habis, Donna dan Bibi Van pun akhirnya keluar dan bergantian dengan yang lain untuk menemui Anna di dalam.



Kini Roy dan Donna kembali ke depan ruangan Alex..



Belum ada perkembangan apapun dari kondisi Alex. Pria itu masih kritis dan belum sadarkan diri.



Donna hanya bisa duduk di kursinya dan masih menangis. Kondisi Anna, Alex dan anak-anaknya masih sama-sama belum membaik. Mereka yang menunggu disana belum merasa tenang dan masih diliputi rasa sedih.



Hari sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Donna menyuruh Bibi Van pulang untuk membersihkan diri sekaligus membawa beberapa barang yang di butuhkan Anna.



Sedangkan Roy dan Harry juga telah pulang karena mereka harus mengurus beberapa hal di kantor, termasuk menyelesaikan masalah yang di akibatkan oleh Leonard di kantor Alex.



Mereka juga harus pergi ke kantor polisi setelahnya untuk menjadi saksi tentang kejahatan Leonard, walaupun pria itu telah mati terbakar.



Polisi telah menemukan beberapa korban yang mati karena kebakaran gedung kemarin, termasuk Erika dan Leonard.



Polisi juga mengambil beberapa cctv yang masih berfungsi untuk di jadikan barang bukti.



Disisi lain..



Terlihat William yang baru saja tiba di rumah sakit. Ia berlari di koridor untuk menemukan dimana ruangan putrinya di rawat.



Pria itu menaiki lift dan berhenti di lantai 5, dimana ruang rawat Anna berada.

__ADS_1



Donna mengarahkan pandangannya kearah koridor dan melihat kedatangan William. Ia pun berdiri dari duduknya bersama Jonas,



"Akhirnya kau tiba juga.." ucap Donna lega.



William menatap Donna dan Jonas dengan tidak sabaran,



"Dimana Anna??? Bagaimana keadaanya???" tanyanya.



Donna menghela nafasnya dan menunduk,



"Ia sedang berada di dalam.." jawabnya sambil menunjuk salah satu ruangan.



William seketika berjalan kearah pintu dan terdiam sesaat dengan wajah sedihnya,



"Anna masih belum sadarkan diri.." ucap Donna lagi.



William menunduk sedih dan menghela nafasnya,



"Bagaimana kondisi cucuku dan Alex???" tanyanya lagi.



Donna menatap William sendu dan menggeleng pelan,



"Alex masih dalam kondisi kritis.. Sedangkan cucu kita... Cucu kita masih berada di ruangan NICU dan dokter belum membolehkan kita untuk melihat mereka" jawabnya sedih.



William seketika menghela nafasnya dengan sedih sambil menatap pintu di depannya,



"Aku ingin masuk.." ucapnya pelan.



Donna pun terdiam sejenak dan mengangguk pelan. William pun akhirnya masuk ke dalam ruang rawat Anna.



Setelah berada di dalam, pria itu melangkah pelan kearah tempat tidur Anna dan duduk perlahan di samping putrinya itu.



William mengusap rambut Anna dan mengecup keningnya pelan,



"Maafkan ayah sayang... Maafkan ayah yang datang terlambat..." ucapnya sedih.



William meraih tangan Anna dan menggenggamnya,



"Bangunlah nak... Kau harus cepat sadar.. Kami semua menunggumu disini, jangan membuat ayah sedih dan khawatir.." bisiknya lembut.



William mengecup tangan Anna dan menatap gadis itu penuh harap,



"Anak-anakmu membutuhkanmu..." ucapnya lagi.



"Sadarlah.. ayah mohon..." bisiknya.



William menutup matanya dan menangis pelan. Ia masih menggenggam tangan Anna dan membawa tangan itu kearah dadanya sambil berdoa agar Tuhan bisa segera membuat putrinya sadar kembali.



"Jangan tinggalkan ayah.. Ayah hanya memilikimu di dunia ini... Bangunlah sayang..." gumamnya lagi.



William membuka matanya dan menatap Anna kembali,



"Suamimu juga sedang kritis.. Dia pasti sangat membutuhkanmu sayang.. Jadi, bangunlah.. bangunlah..." bisiknya di telinga Anna penuh harap.



Seketika, sebuah pergerakan kecil pun terlihat dari jari telunjuk Anna yang tiba-tiba bergerak secara singkat.



DEG!!



William yang melihat hal itu seketika terkejut dengan ragu,



'Apakah ia tidak salah lihat??' pikirnya dalam hati.



Bersambung..



Hallo jangan lupa dukung selalu cerita ini ya ☺️


Author minta banget dukungannya seperti vote, hadiah, apalagi like dan komentarnya.. Selalu bikin semangat 😁



Jangan lupa bantu dukung juga novel kedua author yang judulnya "Mysterious Man" 👍

__ADS_1



Terimakasih banyak 🥰❤️🙏


__ADS_2