Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Rencana


__ADS_3

Setelah sarapan bersama, Erika pun akhirnya berpamitan pada Anna dan Alex. Mereka mengantar Erika sampai ke depan pintu rumah.


Erika membalikkan tubuhnya dan tersenyum pada pasangan suami istri itu,


"Terimakasih banyak atas makanannya.. Maaf, jika aku merepotkan kalian" ujarnya tidak enak.


Anna tersenyum dan menggeleng pelan pada Erika,.


"Tidak sama sekali.. Aku senang kau bisa bergabung sarapan bersama kami" ujar Anna.


Erika tersenyum senang mendengar ucapan Anna dan seketika mengambil sesuatu dari dalam tasnya,


"Oh iya, aku lupa.." ujarnya terputus.


Erika pun berjalan kearah mobilnya dan membuka pintu bagasi. Wanita itu mengambil sebuah bingkisan yang cukup besar dari dalam mobil dan berjalan kembali kearah Alex dan Anna,


"Ini... Aku ingin memberikan sesuatu padamu" ujarnya pada Anna.


Erika pun memberikan bingkisan itu pada Anna.


Anna mengambil bingkisan itu dengan kening yang berkerut,


"Ini ada beberapa pakaian untuk wanita hamil dan juga beberapa vitamin dan obat herbal yang sangat bagus untuk wanita hamil.." ujar Erika.


Anna pun menatap Erika dan tersenyum,


"Ah.. Terimakasih banyak.." ujarnya berterimakasih.


Erika mengangguk pelan dan menyentuh bahu Anna,


"Sama-sama.. Aku senang bisa bertemu dan mengenalmu. Kuharap kita bisa semakin dekat dan berteman" ujarnya sambil tersenyum.


Anna pun mengangguk dan menyentuh tangan Erika yang berada di bahunya,


"Aku juga senang bisa bertemu dan mengenalmu" ucapnya.


Erika tersenyum senang menanggapi ucapan Anna dan beralih menatap Alex,


"Kalau begitu, aku permisi dulu.." pamitnya.


Alex mengangguk pelan dan melihat kepergian Erika dengan tatapan datarnya.


Mobil Erika pun mulai menjauh dan keluar dari kediaman Alex. Pria itu mengalihkan pandangannya pada sang istri yang menatap kepergian Erika dengan tersenyum kecil.


Alex menyentuh tangan istrinya, membuat Anna seketika mengalihkan tatapannya pada sang suami,


"Maaf membuatmu lama menunggu tadi" ujarnya lembut.


Anna pun tersenyum dan balas menggenggam tangan suaminya,


"Tidak apa-apa" ujarnya.


Alex menyentuh rambut Anna dengan lembut dan mengambil bingkisan yang Erika berikan tadi dari tangan sang istri,


"Erika datang kemari untuk meminta bantuanku.." ujar Alex tiba-tiba.


Anna pun mengarahkan pandangannya pada Alex dengan penuh tanda tanya,


"Bantuan?? Bantuan apa??" tanya Anna penasaran.


Alex tersenyum mendengar pertanyaan Anna dan mulai merangkul pinggang istrinya,


"Ayo kita masuk dulu, aku akan menceritakannya padamu" ujarnya, lalu membawa Anna masuk kembali ke dalam rumah.


Setelah mereka duduk di ruang tamu, Alex pun mulai menceritakan apa yang Erika sampaikan tadi padanya,


"Jadi seperti itu..." ujar Anna pelan.


"Kasian sekali Erika, dia harus mendapatkan cobaan seperti ini.." lanjut Anna turut prihatin.


Alex tersenyum kecil melihat reaksi Anna dan mengangkat tangannya untuk mengusap pipi istrinya,


"Sudah.. Jangan dipikirkan. Aku akan menyerahkan semuanya pada pengacaraku" ucap Alex.


"Sebenarnya aku tidak suka ikut campur dalam urusan orang lain. Tetapi, setidaknya aku harus membalas budi pada Erika, anak dari Tuan Morgan yang telah membantuku dulu" lanjut Alex.


Anna menganggukkan kepalanya dan menyentuh tangan Alex yang berada di pipinya,


"Kita harus membantunya. Dia tidak mempunyai siapapun di dunia ini.. Setidaknya kita harus membuat dia merasa bahwa dia tidak sendirian" ujar Anna lembut.


Alex pun tersenyum mendengar ucapan istrinya dan mengecup bibirnya pelan,


"Baik sayang... Jika kau yang meminta, maka aku tidak bisa menolak" ujarnya.




Erika memasukan mobilnya ke halaman rumah. Wanita itu mengambil tas nya dan turun dari dalam mobil.


__ADS_1


Erika berhenti sejenak di depan pintu, lalu perlahan membukanya dan masuk. Di dalam rumah, terlihat seorang pria yang tengah menyeruput kopinya dengan santai. Pria itu menatap kearah Erika dan tersenyum lembut,



"Kau sudah kembali??" tanyanya.



Erika menghela nafasnya pelan dan duduk di samping pria itu. Tangan pria itu terangkat dan menyentuh lembut rambut Erika,



"Bagaimana??? Apa berhasil??" tanyanya lagi.



Erika menatap pria itu dan mengangguk pelan,



"Dia bersedia membantuku" ujarnya pelan.



Pria itu pun tersenyum senang mendengar jawaban dari Erika. Tangannya menarik tubuh wanita itu perlahan untuk bersandar di pundaknya,



"Syukurlah.. semua berjalan sesuai dengan rencana" ujarnya.



Erika hanya terdiam dan tidak berkata apa-apa lagi di dalam pelukan pria itu,



"Leonard... Sebenarnya, apa yang kau rencanakan??" tanya Erika tiba-tiba.



Leonard seketika terdiam dan membawa tubuh Erika untuk menatap kearahnya,



"Mengapa kau bertanya seperti itu?? Apa kau tidak percaya denganku??" tanyanya tidak suka.



Erika terdiam dan menundukkan pandangannya,




Leonard terlihat tidak suka mendengar ucapan Erika. Pria itu menghela nafasnya dan kembali menatap Erika,



"Sayang... Bukankah aku sudah katakan padamu bahwa semua yang kita lakukan ini untuk membalaskan dendam kita pada pria itu, dan mengambil semua yang seharusnya menjadi milikmu sejak dulu??" ujar Leonard pelan.



Pria itu mengangkat dagu Erika dan menatapnya lembut,



"Tujuan kita sekarang itu sudah jelas.. Aku juga ingin membantumu sayang, aku sudah rela menghancurkan reputasiku untukmu, untuk rencana kita ini.." lanjutnya.



"Jadi, sekarang yang harus kau lakukan adalah percaya padaku.." ucapnya lembut.



Erika mengangkat wajahnya dan menatap Leonard dengan tatapan yang masih terlihat ragu. Leonard seketika melepaskan tangannya dari dagu Erika dan sedikit menjauh,



"Sepertinya kau masih ragu padaku..." ujar Leonard kecewa.



Pria itu terdiam dan menunduk sambil tersenyum miris,



"Apa.. Apa kau mulai ragu dengan rencana kita untuk menghancurkan Alex??" tanyanya tiba-tiba.



"Atau.. sebenarnya selama ini kau menyimpan perasaan pada pria itu??" lanjutnya menatap Erika dengan sinis.

__ADS_1



DEG!!



Seketika Erika pun membelalakkan matanya dan menatap Leonard dengan terkejut,



"A... Apa maksudmu??" tanyanya.



"Ten... Tentu saja itu tidak mungkin!" lanjut Erika dengan suara yang sedikit bergetar.



Leonard menatap tajam pada Erika sambil menggertakkan giginya. Pria itu menelisik wajah Erika dan tersenyum tipis,



"Benarkah??" tanyanya lagi.



Erika pun menatap Leonard dan mengangguk yakin,



"Ten.. tentu saja.. Untuk apa aku berbohong" ujarnya.



Leonard pun mengangguk pelan dan tersenyum sambil mengusap pipi Erika,



"Baguslah kalau begitu.." ujarnya pelan.



"Aku hampir saja cemburu.." lanjutnya berbisik tajam.



"Kau tau bukan, bahwa pria itu adalah pembunuh berdarah dingin?? Dia telah membunuh beberapa orang di dalam rumahnya. Pria itu sangat licik dan juga tidak punya hati.." ujarnya tajam.



Leonard menjauhkan dirinya dari Erika dan kembali menyeruput kopinya,



"Setelah ini, aku ingin kau lebih sering berkunjung ke rumah Alex. Aku ingin kau memberitahu padaku tentang setiap sudut rumah itu dan apa saja yang dia miliki" ujarnya.



"Dan.. Aku juga ingin kau semakin dekat dengan istrinya. Jika perlu, buat dia semakin percaya padamu dan menganggapmu sebagai teman" lanjutnya tenang.



Erika hanya terdiam mendengarkan ucapan Leonard. Pria itu mengambil sebatang rokok di atas meja dan mulai menyalakannya.



Leonard terlihat menikmati hisapan rokoknya dan termenung seperti memikirkan sesuatu.



Tiba-tiba saja sebuah senyuman pun muncul di bibirnya,



"Sepertinya aku tau bagaimana caranya agar kau bisa lebih sering berada di rumah Alex.." ujar Leonard tiba-tiba.



Erika seketika menatap kearah Leonard dengan kening yang berkerut.


Apalagi yang akan di rencanakan oleh pria ini?? pikirnya dalam hati.



Bersambung..



Halo, dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️


Banyakin komentarnya ya dan jempolnya juga 😁🙏

__ADS_1



Terimakasih..


__ADS_2