Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Erika First Plan


__ADS_3

Langit pagi hari ini terlihat begitu cerah. Daun-daun yang basah karena hujan semalam pun perlahan mulai mengering.


Disebuah rumah yang megah terlihat sepasang suami istri tengah duduk di meja makan untuk sarapan bersama.


Alex duduk di samping istrinya dan mulai mengambilkan beberapa makanan di atas piring untuk Anna,


"Terimakasih.." ujar Anna.


Alex tersenyum lembut sambil membelai pipi sang istri,


"Sama-sama sayang.." jawabnya lembut.


Dari arah lorong masuk ke ruang makan, terlihat Erika tengah berdiri disana sambil menatap pasangan suami istri yang terlihat mesra itu.


Entah mengapa ada perasaan sesak saat melihat pemandangan di depannya. Erika mencoba kembali menjernihkan pikirannya dan menggeleng pelan.


Anna tidak sengaja mengarahkan pandangannya kearah Erika dan tersenyum padanya,


"Erika, ayo kemari.. Kita sarapan bersama" ajak Anna ramah.


Erika terlihat terdiam sejenak dan tersenyum pada Anna sambil mengangguk pelan. Wanita itu melangkah kearah meja makan dan duduk di depan Alex dan Anna.


"Ayo silahkan dimakan, tidak usah sungkan" ujar Anna sambil tersenyum.


Erika mengangguk pelan dan tersenyum pada Anna,


"Iya, terimakasih" ucapnya.


Wanita itu sedikit melirik kearah Alex yang terlihat memandang kearahnya sekejap dan kembali fokus pada makanannya.


Erika menunduk sejenak dan mulai mengambil makanannya,


"Siang ini aku ada rapat bersama para investor. Setelah itu rencananya aku juga akan menemui seseorang.. Mungkin aku akan pulang sore hari ini, apa tidak apa-apa??" tanya Alex pada Anna sambil menggenggam tangannya.


Anna mengangguk dan tersenyum pada Alex,


"Tentu saja tidak apa-apa" jawab Anna.


Alex tersenyum dan menyentuh pipi istrinya dengan gemas. Erika yang menatap pemandangan di depannya hanya dapat tersenyum pada pasangan suami istri itu.


Alex terlihat sangat berbeda jika sedang berbicara dengan istrinya. Pria itu benar-benar menjadi pria yang sangat lembut dan penuh perhatian. Sangat berbeda jika dia sedang berbicara dengan orang lain, termasuk dirinya, pikir Erika dalam hati.


"Oh iya Erika, rencananya aku akan membelikanmu tempat tinggal baru.." ujar Alex tiba-tiba yang membuat wanita itu langsung menatap kearahnya dengan terkejut.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan apapun, kau bisa tinggal disana nantinya. Dan kau juga bisa kembali memulai bisnismu. Aku akan menjamin semuanya" ujar Alex datar.


Erika seketika menatap Alex dengan tatapan yang sedikit gugup. Bukan seperti ini rencana yang diinginkan Leonard. Jika dia pindah ke tempat baru, maka rencananya dan Leonard untuk mencari tau tentang rumah ini akan gagal, pikirnya.


"Ah.. Ti.. Tidak perlu repot-repot Alex" ujar Erika sedikit gugup.


Alex menatap Erika sambil mengerutkan keningnya. Erika pun dengan cepat mengatur mimik wajahnya agar tetap tenang,


"Sebenarnya.. Aku malu datang kemari tadi malam. Aku tidak mau merepotkan kalian. Tapi, aku benar-benar tidak tau kemana lagi aku harus pergi.." ujarnya pelan.


"Rencananya.. aku akan mencari tempat tinggal sendiri. Aku masih punya beberapa perhiasan yang aku bawa, dan aku akan menjualnya nanti. Aku benar-benar tidak ingin merepotkanmu Alex. Jadi... Jadi... bisakah kau izinkan aku tinggal disini untuk beberapa hari lagi, sampai aku menemukan tempat tinggal baru??" lanjutnya memohon.


Alex terlihat menatap Erika dengan tatapan yang sulit diartikan, membuat wanita itu semakin gugup dan jantungnya berdegup dengan kencang.

__ADS_1


Apa Alex mulai mencurigainya?? pikir Erika.


"Tidak apa-apa.. Kau bisa tinggal disini untuk beberapa hari lagi.. ya kan sayang??" tanya Anna sambil menyenggol tangan Alex untuk mencairkan suasana.


Erika sedikit menghela nafasnya saat tiba-tiba Anna mengucapkan hal itu untuk membujuk suaminya. Alex menatap kearah Anna dan menghela nafasnya,


"Baiklah, aku tidak keberatan. Aku hanya mencoba untuk menawarkan bantuan" ujar Alex pelan sambil menatap datar pada Erika.


Erika pun tersenyum lega dan mengangguk pelan,


"Terimakasih" ujarnya.


Anna tersenyum pada Erika dan mengangguk pelan. Gadis itu bisa mengerti apa yang Erika maksud. Wanita itu tidak mau merepotkan Alex. Dia pasti ingin bangkit kembali dengan usahanya sendiri, pikir Anna.


Setelah selesai sarapan, Alex pun bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Seperti biasa, Anna menemani suaminya itu sampai ke depan pintu mobil. Para pengawal juga telah meninggalkan halaman depan untuk memberikan privasi kepada pasangan suami istri itu,


"Jangan lupa minum susu dan vitamin hari ini.. Dan makan yang banyak" ujar Alex lembut sambil membelai pipi istrinya.


Anna tersenyum sambil merapihkan dasi Alex,


"Jika aku banyak makan, nanti aku akan gemuk" ujar Anna sambil menggembungkan pipinya.


Alex tertawa pelan dan mencubit pipi Anna dengan gemas,


"Aku tidak peduli, yang terpenting istri dan calon anakku ini sehat" ujarnya sambil mengusap pelan perut Anna yang sudah cukup membesar.


Anna tersenyum saat Alex mulai berjongkok dan mengecup perut sang istri,


"Sehat-sehat ya sayang.." bisiknya lembut.


CUP!!!


"Tunggu aku pulang ya.." bisiknya.


Anna mengangguk pelan dan memeluk tubuh Alex. Setelah beberapa lama mereka berpelukkan, Alex pun mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Anna dan mengecup bibir istrinya dengan lembut dan lama,


CUP!!


Setelah beberapa menit, pria itu pun melepaskan ciumannya dan membuka matanya,


"Baiklah, aku berangkat" ujarnya sambil mengelus rambut Anna.


Anna kembali mengangguk dan melambaikan tangannya saat Alex mulai masuk ke dalam mobil dan menyalakannya,


"Hati-hati di jalan.." ujar Anna.


Alex tersenyum dan membalas melambaikan tangannya pada sang istri,


"Aku mencintaimu" ujarnya.


Anna tersenyum pelan dan membalas ucapan cinta dari sang suami,


"Aku juga mencintaimu" balasnya.


Setelah itu Alex pun melajukan mobilnya dan berlalu pergi meninggalkan kediamannya.


Dari sebuah jendela terlihat Erika sedang terdiam sambil menatap mobil Alex yang telah keluar dari gerbang. Wanita itu sejak tadi secara diam-diam telah melihat kemesraan Anna dan Alex.

__ADS_1


Ada rasa iri di dalam hatinya melihat hal itu. Apalagi ini baru kali pertama Erika melihat Alex tersenyum bahkan tertawa saat bersama dengan istrinya.


Selama dia kenal Alex, pria itu bahkan sekalipun tidak pernah melemparkan sebuah senyuman padanya. Pria itu selalu menatapnya dengan datar tanpa ekspresi. Bagaimana bisa orang kejam dan berdarah dingin seperti Alex bisa begitu lembut dan hangat pada istrinya, pikir Erika.


Erika menunduk sejenak dan kembali menggeleng. Sudah cukup Erika, perasaanmu pada Alex telah terkubur sejak lama. Bahkan sekarang dia telah memiliki Leonard, pria yang telah menyelamatkannya dan berkorban untuknya.


Bagaimanapun juga Alex lah orang yang telah dengan tega membunuh ayahnya. Dia harus membalaskan dendamnya pada pria itu.


Erika pun dengan segera membalikkan tubuhnya dan berjalan kembali kearah kamarnya, dia harus menghubungi Leonard dan menanyakan apalagi yang harus dia lakukan sekarang.


Wanita itu masuk ke dalam kamar dan mengambil handphonenya untuk menghubungi Leonard,


"Hallo.." ujar Erika pelan.


("Hallo sayang.. bagaimana kabarmu disana??") tanya Leonard.


Erika menghela nafasnya dan duduk di tepi tempat tidur,


"Aku baik..." jawabnya pelan.


"Leo, sekarang apa rencana selanjutnya?? Kau tau, hampir saja Alex menyuruhku untuk pindah ke rumah baru yang dia siapkan tadi.. Tapi, untung saja aku berhasil membujuknya untuk membiarkan aku tetap tinggal disini beberapa hari ke depan.." ujarnya pelan.


Terdengar suara Leonard yang tertawa kecil,


("Bagus sayang.. Selanjutnya, aku ingin kau bisa berkeliling ke setiap arah rumah pria itu dan memberitahuku setiap detail posisinya") ujar Leonard.


Erika kembali menghela nafasnya sambil menyentuh keningnya,


"Tapi, disini begitu banyak kamera pengawas.. Aku takut Alex akan mencurigaiku nanti" ujarnya gugup.


("Tenang sayang, tidak perlu takut seperti itu... Ingat rencananya bukan?? Aku mau kau lebih dekat dengan istri Alex dan buat dia percaya padamu. Dan jika perlu kau berkelilinglah bersama istrinya itu di sekitar rumah.. Kau mengerti maksudku bukan??") tanya Leonard.


Erika terdiam sejenak dan menghela nafasnya,


"Baiklah.. Aku mengerti" ucapnya pasrah.


Leonard terdengar kembali tertawa pelan,


("Bagus.. Aku menunggu kabar selanjutnya darimu sayang. Hubungi aku jika kau butuh bantuan") ujarnya.


Erika mengangguk pelan dan mulai mematikan panggilannya. Rencana ini sebenarnya cukup beresiko karena dirinya harus bermain di dalam kandang pria itu. Tetapi, Erika mencoba menguatkan keberaniannya,


"Baiklah.. Kau bisa melakukannya Erika!! Untukmu!! Dan untuk ayah!!!" ujarnya pada diri sendiri.


Bersambung...


Halo, dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️


Banyakin komentarnya ya dan jempolnya juga 😁🙏


Terimakasih..


Dan, kalau baca novel jangan sampai lupa waktu ya, apalagi buat ibadah 😁🥰


Yuk ramaikan kolom komentarnya, sepi nih.. 😔


Pembaca pada ngilang, bikin semangat juga ilang 🤧

__ADS_1


__ADS_2