
WIUU!!
WIUU!!
Terdengar suara sirine ambulan yang memekakkan telinga melaju dengan cukup cepat kearah rumah sakit.
Dua ambulan pun berhenti tepat di depan pintu IGD salah satu rumah sakit terbesar di kota itu. Dengan cepat, para perawat menghampiri mobil itu dan membukanya.
Terlihat seorang wanita muda yang tengah mengandung tergeletak di kasur yang berada di ambulan itu dengan kaki yang bersimbah darah dan tak sadarkan diri.
Dan satu ambulan lagi pun terbuka, memperlihatkan seorang pria yang tubuhnya juga bersimbah darah.
Roy seketika keluar dari dalam ambulan dengan mata sembabnya,
"TOLONG SELAMATKAN MEREKA!!!!" teriaknya tidak sabaran.
Dari sisi lain Bibi Van juga terlihat menangis tersedu sambil menatap wajah kedua majikannya yang sekarang tengah bertaruh nyawa.
Wajah Alex dan Anna terlihat sama-sama pucat..
Para perawat disana pun dengan sigap mendorong kasur Alex dan Anna ke dalam rumah sakit,
"AYO CEPAT!!" perintah perawat itu pada yang lain.
Mereka mendorong tubuh Alex dan Anna secara bersamaan. Roy terlihat sangat terpukul dan merasa bersalah,
"TOLONG SELAMATKAN MEREKA!!!" teriak Roy lagi sambil berlari mengikuti para perawat yang sedang mendorong Anna dan Alex.
Bibi Van juga terlihat sangat terpukul dan mengikuti para perawat itu sambil menyentuh tangan Anna yang terasa dingin,
"Nona!!!! Bertahanlah hiks..." ucapnya tersedu.
Dan saat mereka telah masuk ke ruang ICU, Anna dan Alex pun harus di bawa ke ruangan yang berbeda.
Roy mengikuti perawat yang membawa Alex dan Bibi Van mengikuti para perawat yang membawa Anna.
Para perawat itu langsung membawa Alex ke dalam ruangan ICU. Roy mencoba untuk ikut masuk namun, salah seorang perawat menahannya,
"Mohon maaf pak, anda tidak bisa masuk. Silahkan menunggu di luar" ujar perawat itu dan langsung menutup pintunya.
Roy seketika terdiam di depan pintu dan menangis sambil menjambak rambutnya,
"Aarrgghhh!!!" geram Roy.
Pria itu merasa sangat bersalah karena tidak bisa menolong Alex tadi. Ia sudah menduga bahwa pria yang menyerang mereka tadi adalah Leonard.
Tetapi karena kobaran api yang membesar membuat ia dan Alex harus terpisah..
"Ya Tuhan.. Tolong selamatkan mereka.. Kumohon.." rintih Roy sambil menyandarkan tubuhnya di tembok.
Disisi lain, Bibi Van pun di larang untuk masuk dan hanya bisa pasrah menunggu Anna di luar ruangan.
Wanita paruh baya itu duduk di kursi sambil menangis dan berdoa sejak tadi. Ia berharap tidak akan ada sesuatu hal yang buruk menimpa Alex dan Anna..
Di dalam ruang ICU itu, seorang dokter dengan cepat mengecek kondisi Alex yang bersimbah darah. Para perawat dengan cepat memasang beberapa alat medis di tubuh Alex dan juga oksigen di mulutnya,
"Pasien telah banyak kehabisan darah dok!!" ucap perawat itu.
Dokter memasang alat di telinganya untuk mendengar suara detak jantung Alex,
"Detak jantungnya melemah!" ucap dokter itu.
Dokter pun dengan cepat mengambil alat kejut dan menempelkannya di dada Alex,
TIT...
__ADS_1
Suara detak jantung Alex di monitor terlihat sangat lemah. Dokter tidak menyerah dan kembali berusaha keras untuk menyelamatkan Alex.
Disisi lain..
Seorang dokter juga tengah berupaya untuk memeriksa kondisi Anna. Para perawat juga memasangkan beberapa alat medis di tubuhnya dan juga oksigen di mulut Anna.
Dokter itu memeriksa kandungan Anna dan menghela nafasnya dengan pelan,
"Jantung kedua bayi di dalam perutnya mulai melemah!! Ini tidak bisa di biarkan, kita harus segera mengeluarkan bayinya!!" ujar dokter itu.
"Sekarang juga kita lakukan operasi untuk mengeluarkan kedua bayi ini!!" perintahnya.
Para perawat disana pun mengangguk dan mulai bersiap,
"Kondisi sang ibu juga sangat lemah, kita tidak punya waktu!!" ucap dokter itu panik.
Suara detak jantung Anna dan bayi di dalam perutnya sama-sama melemah. Dokter terlihat mulai cemas dan berusaha sebisanya.
Di luar ruangan Alex, Roy terlihat menunggu sambil berjalan kesana kemari dengan cemas. Ia terus berdoa untuk keselamatan sahabatnya itu dan juga istrinya.
"Bagaimana keadaan Tuan Alex???" tanyanya pada Roy.
Roy menggeleng pelan dan menatap Harry sekilas sambil mengusap wajahnya dengan kasar,
"Dokter sedang memeriksanya.." jawabnya pelan.
Harry menghela nafasnya pelan dan menunduk dengan sedih. Tiba-tiba pintu ruangan Alex pun terbuka dan memperlihatkan seorang dokter yang baru saja keluar.
Dengan cepat Roy dan Harry menghampiri dokter itu,
"Bagaimana keadaannya dok??? Apa dia baik-baik saja???" tanya Roy tidak sabaran.
Dokter terlihat membuka maskernya dan menggeleng pelan,
"Pasien saat ini sedang kritis.. Dia telah kehilangan banyak darah, dan sekarang kita membutuhkan donor darah secepatnya" ujar dokter itu.
Seketika Roy pun terlihat lemas dan menatap dokter itu dengan menuntut,
__ADS_1
"Ambil saja darahku dokter!!! Sebanyak apapun!!" ucap Roy tidak sabaran.
Dokter pun menatap Roy,
"Apakah golongan darah Tuan sama dengan pasien??" tanya dokter itu.
Roy pun seketika terdiam dan menunduk, ia baru sadar bahwa golongan darahnya dan Alex berbeda. Harry pun terdiam dan tidak bisa berbuat apa-apa karena golongan darahnya dan Alex juga berbeda.
Seketika Roy pun menegakkan tubuhnya dan menatap Harry,
"Kalau begitu.. Kalau begitu aku akan menghubungi pihak keluarganya!!" ucap Roy.
Ia pun mengambil handphonenya dan mencoba menghubungi Bibi Alex, Donna.
Roy berharap semoga setelah ia memberitahu Donna, wanita itu tidak akan pingsan..
CKLEK!!
Pintu ruangan pun terbuka, dengan cepat Bibi Van menghampiri dokter yang baru saja keluar dengan cemas,
"Bagaiman keadaannya dokter???" tanyanya tidak sabaran.
Dokter itu menghela nafasnya dan menatap Bibi Van,
"Kami akan melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi di dalam kandungannya. Detak jantung bayi dan ibu sangat lemah sekarang. Kita tidak punya waktu banyak.." ucap dokter itu.
"Apalagi.. Bayi yang berada di kandungannya adalah kembar dan bobot mereka masih cukup kecil karena usia kandungan pasien baru memasuki 7 bulan" lanjut dokter itu yang membuat Bibi Van seketika menutup mulutnya dengan terkejut.
"Ke.. Kembar???" tanyanya lagi memastikan.
Dokter mengangguk pelan menjawab pertanyaan Bibi Van,
"Benar.. Jadi, sekarang kami meminta izin pada anggota keluarga untuk menyetujui operasinya sekarang" ujarnya.
Bibi Van pun mengangguk dengan cepat pada dokter itu,
"Tolong dokter.. Tolong selamatkan Nona dan calon anaknya!!" ucap Bibi Van penuh harap.
"Tolong selamatkan mereka semua!!!" lanjut Bibi Van menahan tangisnya.
Dokter pun mengangguk menanggapi ucapan Bibi Van,
"Baik, kami akan lakukan yang terbaik.. Sekarang, hanya doa dan keajaiban lah yang bisa menyelamatkan mereka" ucap dokter itu.
Bibi Van mengangguk dan mengusap air matanya pelan. Dokter pun berpamitan pada Bibi Van dan kembali masuk ke ruangan untuk bersiap melakukan operasi.
Bibi Van menyentuh dadanya dan tersedu,
'Ya Tuhan... Selamatkanlah Nona Anna dan calon anak-anaknya, kumohon..' doanya dalam hati.
Bersambung..
Hallo, jangan lupa kasih komen, like, vote dan hadiahnya ya ☺️
Itu sangat-sangat berarti bagi author receh ini 🥲
Setidaknya kasih jejak juga di kolom komentarnya 😁
Author juga mau ngucapin terimakasih buat readers yang masih setia nungguin cerita ini, walaupun up nya agak lama hehe..
Terimakasih ya ❤️🙏
__ADS_1
Oh iya, author juga minta dukungannya ya buat novel kedua author yang judulnya 'Mysterious Man' ☺️🙏