
Saat ini Alex dan juga Peter sedang berada di ruang kerja pribadi milik Peter. Alex duduk di hadapan pria tua itu sedangkan Peter terlihat memandang ke luar jendela di sampingnya.
Sudah beberapa menit sejak mereka saling berhadapan seperti itu. Namun, belum ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka.
Peter menghela nafasnya sesaat dan berdehem sejenak,
"Saat aku kecil.... ayah dan ibuku bukanlah orang yang berada. Mereka hanya seorang karyawan swasta biasa dengan gaji yang tidak seberapa.." ujar Peter pelan.
"Ayahku adalah seorang yang pekerja keras. Dia bekerja dari pagi sampai malam untuk memenuhi kebutuhanku, ibuku dan adik-adikku. Saat itu ibuku jatuh sakit, dia terkena leukimia. Dia berhenti bekerja dan masuk ke rumah sakit. Saat itu kami hanya memiliki uang yang pas-pasan. Ayahku mencoba mengambil pekerjaan tambahan untuk perawatan ibuku. Tetapi... keadaan semakin memburuk.. Ayahku di pecat dari perusahaannya karena sering tertidur saat bekerja. Dan... tidak ada uang sedikit pun untuk biaya pengobatan ibuku. Sampai akhirnya dia meninggal dunia" lanjut Peter.
"Saat itu ayahku menjadi gila dan tidak punya pekerjaan. Dia sering mabuk dan berlaku kasar padaku dan adik-adikku. Dan.... saat itulah aku yang masih berusia 12 tahun berusaha untuk mencari pekerjaan dan menghasilkan uang untuk keluargaku. Aku adalah anak yang paling tua. Aku merasa harus menggantikan posisi ayahku untuk membiayai kehidupan kami"
"Aku mencoba mencari pekerjaan kesana kemari. Namun, tidak ada satu tempat pun yang mau menerima anak kumuh sepertiku. Sampai suatu hari, aku tidak sengaja menyelamatkan seorang pria paruh baya yang hampir di tembak oleh pembunuh bayaran yang mengincarnya. Pria itu selamat..... Dia memberiku imbalan dengan menjadikanku sebagai pegawai di perusahaannya. Walaupun usiaku masih muda, tetapi pria itu percaya padaku. Aku bekerja keras dan giat agar aku tidak di pecat dari tempat itu. Setelah beberapa bulan, pria tadi menaikan jabatanku dengan gaji yang cukup besar. Saat itulah aku memutuskan kembali ke rumah untuk mengunjungi keluargaku. Tetapi.... alangkah terkejutnya aku saat aku di beritahu bahwa ayahku telah tewas karena bunuh diri. Dan... sialnya lagi, dia juga membunuh adik-adikku sebelum dia mengakhiri hidupnya" ujar Peter dengan senyum sinisnya.
Alex menatap Peter yang terlihat sedang menahan rasa sakit di dalam hatinya. Selama ini dia baru tau bahwa kakeknya itu mempunyai masa lalu yang cukup kelam.
"Setelah itu, aku tidak ingin berlarut dalam kesedihan. Aku juga tidak ingin menjadi gila seperti ayahku. Aku mulai hidup seorang diri. Bekerja untuk memenuhi kebutuhanku sendiri. Sampai akhirnya.. Aku bisa memiliki perusahaan sendiri dengan bantuan pria tadi. Aku menjadi pria yang sukses dan bergelimang harta. Setelah itu aku pun menikah dengan nenekmu. Dan aku terus bekerja keras untuk istri dan anak-anakku kelak. Aku tidak ingin mereka merasakan kesusahan seperti yang aku rasakan" ujarnya.
Peter pun menghela nafasnya dan menatap Alex,
"Itulah alasanku, mengapa aku tidak mengizinkan ibumu bersama dengan William. Aku ingin dia menikah dengan orang yang sepadan. Begitu juga dengan bibimu"
"Saat kedua orang tuamu meninggal. Kakek dari ayahmu menyalahkan semuanya pada keluarga ini. Keluarga Boston sangat marah dan meminta pertanggung jawaban kami atas kematian ayahmu. Dia saat itu berencana akan membawamu pergi bersamanya. Tapi, dia tidak dapat menemukanmu karena saat itu kau lari entah kemana"
"Dan... Selang beberapa hari kau kembali ke rumah dengan keadaan yang cukup berantakan. Saat itu aku sangat takut kakek dari ayahmu akan kembali dan membawamu. Lalu.... Aku memutuskan untuk mengasingkanmu sementara, dan berkata pada keluarga Boston bahwa kau sudah meninggal" ujar Peter tertahan.
Alex mengangkat wajahnya dengan terkejut dan menatap Peter tidak percaya,
"Apa maksudmu????" tanyanya tajam.
Peter pun tersenyum getir dan menatap Alex dengan rasa bersalahnya,
"Aku tau, aku sangat egois... Aku tidak ingin kehilanganmu dan berbohong soal kematianmu pada keluarga Boston" ujarnya pelan.
"Saat itu aku tidak memberitahumu dan mengasingkanmu begitu saja ke dalam sebuah desa terpencil. Aku tidak tau bahwa kau akan berbuat nekat dan kabur dari sana. Saat aku mengetahui bahwa kau telah kabur, aku sangat menyesal...." ujarnya getir.
__ADS_1
"Aku selalu memerintahkan anak buah ku untuk mencarimu. Tetapi mereka tidak bisa menemukanmu. Sampai selang beberapa tahun, aku melihat namamu di salah satu majalah bisnis. Kau sudah menjadi pria dewasa yang tampan dan sukses. Aku tidak menyangka, kau bisa sejauh itu dengan usaha mu sendiri. Aku tau, kau pasti sudah banyak melalui berbagai rintangan dan kesusahan"
"Tetapi setelah aku berhasil menemukanmu dan mencari informasi tentangmu. Aku diam-diam selalu memperhatikanmu dan menyuruh orang-orangku setiap hari memberikan kabar tentangmu, mencoba membantumu tanpa kau ketahui" lanjutnya.
Alex menggertakan giginya kuat dan tidak mengatakan apapun. Peter tersenyum tipis dan menatap Alex dengan dalam,
"Aku tau, sejak saat itu kau pasti sangat membenciku...." ujarnya pelan.
"Maafkan aku.... Alex" lanjutnya.
Alex menundukkan pandangannya dan tersenyum sinis,
"Kau tau semuanya sudah terlambat bukan??" ujarnya tajam.
Peter pun menunduk dan mengangguk pelan,
"Aku tau...." bisik Peter.
Alex pun terdiam dan menatap Peter dengan tatapan tajamnya,
Alex pun bangkit dari duduk nya dan membalikkan tubuhnya hendak melangkah kearah pintu. Peter semakin menundukkan pandangannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Namun tiba-tiba sebelum mencapai pintu, Alex menghentikan langkahnya dan terdiam sesaat.
"Kau tau... Anna memintaku untuk memaafkanmu dan memulai kembali hubungan yang baik denganmu dan juga keluarga ini" ujar Alex tiba-tiba yang membuat Peter mengangkat wajahnya kembali.
Alex pun membalikkan wajahnya pada Peter,
"Dan..... Aku memutuskan untuk melupakan masa laluku dan memulai lembaran yang baru" ujar Alex.
Alex pun menghela nafasnya dan menatap Peter dengan serius,
"Aku memaafkanmu...." lanjut Alex sedikit berat.
Seketika Peter membelalakkan matanya dan menatap Alex dengan tatapan tidak percayanya,
__ADS_1
"Kau..... Kau bersungguh-sungguh???" tanya Peter tidak percaya.
Alex pun membalikkan kembali badannya dan mengangguk pelan,
"Anggap saja masa lalu itu tidak pernah terjadi!!" tegas Alex.
Alex pun melangkah kembali dan membuka pintu di depannya. Namun, pandangannya kembali mengarah pada Peter sebelum dia benar-benar pergi,
"Mari kita memulai hubungan yang baik.... Kakek" ujar Alex.
Lalu pria itu pun menutup pintu dan pergi. Terlihat Peter masih mematung tidak percaya di kursinya. Setetes air mata pun menetes di pipinya yang keriput. Dia menangis tersedu sambil tersenyum penuh haru.
'Terimakasih Tuhan....' bisiknya tiada henti di dalam hatinya.
Dari balik pintu Alex masih mematung dan menyandarkan keningnya pada pintu. Pria itu menutup matanya rapat dan menghela nafas beratnya. Tangannya menggenggam ganggang pintu dengan kuat untuk menahan berbagai macam emosi di dadanya.
Sebenarnya cukup berat bagi Alex untuk melupakan kesakitan hatinya. Tetapi Alex mencoba untuk menguburnya dalam-dalam dan berusaha untuk memulai kembali hubungan yang baik dengan kakeknya itu.
Sebuah tangan menyentuh pundak pria itu dengan lembut. Seketika Alex pun membuka matanya dan membalikkan tubuhnya. Terlihat Anna sedang tersenyum lembut padanya sambil mengusap pelan pundaknya.
Dengan cepat pria itu pun meraih tubuh Anna dan memeluknya erat. Anna pun membalas pelukan Alex dan mengusap pelan punggung pria itu.
"Aku telah mengatakannya...." bisik Alex lirih.
Anna pun mengangguk pelan dengan penuh haru,
"Aku tau kau bisa melakukannya Alex" ujar Anna lembut.
Alex pun menenggelamkan wajahnya pada pundak Anna,
"Terimakasih...." bisiknya lagi.
Bersambung...
Halo, support terus cerita ini ya, jangan lupa kasih like, komen, vote dan hadiah nya 🥰
__ADS_1
Kalau boleh tau, karakter siapa sih di cerita ini yang kalian sukai??? Pilih satu ya, boleh ramaikan di kolom komentar 😁 Terimakasih 🙏🙏❤️❤️❤️