
Perlahan Daniel melangkah ke arah meja dan melihat sebuah lencana emas disana. Dengan ragu Daniel mengambil benda itu dan melihatnya.
Matanya seketika terbelalak tidak percaya saat melihat sebuah tulisan di lencana itu.
"Wijaya????" bisik Daniel pelan.
Bukankah ini seperti sebuah lencana milik keluarga??
Dan sepertinya ini milik keluarga Wijaya, pikirnya.
Mengapa lencana ini ada pada Paman William??? pikir Daniel tidak mengerti.
CKLEK!!
Seketika Daniel membalikkan badannya terkejut mendengar suara pintu yang terbuka. Daniel pun menyembunyikan lencana itu di belakang badannya.
"Apa yang sedang kau lakukan??" tanya William tajam pada Daniel.
Daniel yang terlihat gugup pun menatap William dan tersenyum.
"Ma... Maaf Paman, aku tadi langsung masuk setelah mengetuk beberapa kali. Kupikir terjadi sesuatu dengan Paman" ujar Daniel gugup.
William terdiam sesaat lalu menatap tangan Daniel yang terlihat menyembunyikan sesuatu di balik badannya.
"Apa yang kau sembunyikan??" tanya William curiga.
Daniel menelan ludahnya dengan susah payah. Paman William memang mempunyai insting yang tajam, pikirnya. Dengan perlahan Daniel pun menarik tangannya ke depan, dan menunjukkan lencana yang tadi dia lihat.
"Maaf Paman, aku sudah lancang melihat dan mengambil benda ini" ujar Daniel merasa bersalah.
William pun menatap penyesalan di wajah Daniel lalu menghela nafasnya perlahan. Sebenarnya dia sangat tidak suka jika seseorang mengambil barangnya tanpa sepengetahuannya.
"Sudahlah, salahku juga karena meletakkan benda itu di sembarang tempat" ujar William lalu melangkah mendekati Daniel dan mengambil lencananya.
Daniel terdiam sesaat lalu menatap William dengan ragu. Sebenarnya dia ingin menanyakan tentang lencana itu, tapi entah mengapa melihat ekspresi William yang tajam seketika membuat keberaniannya menciut.
William duduk di kursi kerjanya, lalu memasukkan lencana itu ke dalam laci meja.
"Kau sudah menemukan dimana Anna berada??" tanya William tiba-tiba.
Daniel pun seketika terdiam dan menundukkan kepalanya,
"Sudah.. Anna saat ini berada di apartemen pria yang bernama Alex itu" ujar Daniel sambil mengepalkan tangannya menahan emosi.
"Lalu kenapa kau tidak membawanya pulang sekarang??" tanya William tajam.
Daniel pun menatap William dengan gugup,
"Aku kesulitan untuk masuk ke apartemen itu. Disana keamanannya sangat ketat dan sulit di tembus. Sejujurnya aku belum melihat Anna... Aku hanya bertemu dengan pria itu saja" ucap Daniel.
William menumpu tangannya di atas meja dan menatap Daniel dengan datar,
"Apa kau menyerah??" tanya William.
Daniel langsung menatap William dan menggertakkan giginya kuat,
"Tentu saja tidak!! Pertunangan aku dan Anna tinggal 3 hari lagi. Aku pasti akan membawa Anna pulang dan menyingkirkan pria brengsek itu!! Jika perlu, mungkin aku akan menghabisinya!!" kesal Daniel.
William pun bangkit dari duduknya dan mendekati Daniel,
"Kalau begitu... Aku akan melihat kesungguhan mu untuk mendapatkan Anna!! Lakukanlah sebisamu" ujar William sambil menepuk pundak Daniel dan berlalu pergi meninggalkan ruang kerjanya.
__ADS_1
Daniel mengepalkan tangannya kuat penuh tekad. Kali ini Paman William benar-benar mengandalkan semuanya padanya. Dia tidak boleh gagal dan membuat William meragukan kesungguhannya untuk mendapatkan Anna. Dia harus membuat sebuah rencana!!
-
Suasana serba putih menyelimuti pandangan William yang berada entah dimana.
Dimana ini??? pikirnya. Dia pun bangkit dan mencoba mencari jalan keluar. Tiba-tiba sebuah suara menghentikan langkahnya,
"William....."
Suara itu!!!
William membalikkan badannya mencoba mencari sumber suara itu. Pandangannya mengarah ke segala arah, namun nihil hanya ada warna putih yang mengelilingi pandangannya.
"Will...."
Kembali suara itu terdengar, membuat jantung William berdebar rindu mendengarkan suara wanita yang amat dia cintai itu.
Tiba-tiba sebuah cahaya menyilaukan pandangannya. William menutup matanya untuk menghindari cahaya itu. Perlahan cahaya itu pun menghilang dan William pun mulai mencoba membuka matanya.
"William...."
DEG!!!
William menatap Diana yang berdiri di hadapannya dengan tersenyum lembut. William membelalakkan matanya dan mencoba mendekati wanita itu dan menyentuhnya.
"Diana...." bisik William penuh kerinduan.
Perlahan William menyentuh pipi wanita itu dengan mata yang berkaca-kacanya.
"Aku merindukanmu..." bisik William dalam.
Namun, wajah cantik Diana tiba-tiba meneteskan air mata dan membuat William terkejut.
Diana menyentuh tangan William di pipinya dan menatap mata pria itu dalam.
"Aku mencintaimu Will..." bisik Diana.
William pun memeluk tubuh Diana dengan erat. Tidak terasa air mata pun menetes di pipinya.
"Kau tau, aku juga begitu mencintaimu Di... Selamanya..." bisik William sambil memejamkan matanya.
Namun saat William membuka matanya dan melepaskan pelukannya. Wajah Diana tiba-tiba berubah menjadi wajah Merry yang sedih dan berurai air mata.
"Kau sungguh menyakitiku William, kau tau aku begitu mencintaimu!! Mengapa... Mengapa kau tidak bisa melihatku sedikit saja!!" ujar Merry menangis tersedu.
William pun melepaskan Merry dari pelukannya dan berjalan mundur.
"Maafkan aku Merry... Sungguh aku tidak bermaksud menyakitimu!!" ujar William ketakutan.
Merry berjalan mendekat dan terus menangis,
"Kau jahat William!! Kau jahat!!!" teriak Merry.
William pun menggelengkan kepalanya kuat dan menutup telinganya. Suara Merry terngiang-ngiang di telinganya membuat kepala William sakit dan berputar.
"Maaf.... Maafkan aku Merry!!!" teriak William.
"Kau Jahat!!!!" teriak Merry.
"Tidak!!!"
__ADS_1
"Tidak!!!!!!!!!!!!"
William pun bangun dari tidurnya dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhnya. Dia bermimpi buruk lagi..
William duduk di atas sofa dan memijit kepalanya perlahan. Dia tertidur di atas sofa di ruang kerjanya sejak tadi.
William menatap jam di dinding, hari menunjukkan pukul tujuh malam. Dia pun berdiri dan hendak berjalan keluar dari ruang kerjanya.
Saat membuka pintu, William berpapasan dengan seorang pelayan yang hendak mengetuk pintu ruang kerjanya.
"Ada apa???" tanya William.
Pelayan itu pun membungkuk pada William,
"Tuan, Nona Anna sudah kembali. Dia datang bersama dengan seorang pria" ujar pelayan itu.
Seketika William memicingkan matanya mendengar ucapan pelayan itu.
"Pria??? Siapa???" tanya William.
Sebelum pelayan itu menjawab, William terlebih dahulu melangkah ke lantai bawah dengan cepat. Pandangannya seketika menajam melihat Alex dan Anna yang sedang berdiri menatap William di atas tangga.
Tatapannya mengarah pada tangan Alex yang menggenggam erat tangan Anna. Alex terlihat menatap tajam dengan berani pada William. Pria itu sedang menahan amarahnya menatap ayah dari gadis yang sangat dia cintai itu. Entah mengapa emosinya tiba-tiba membuncah saat berhadapan dengan William.
Berbeda dengan Anna yang terlihat menunduk dan menatap William dengan takut. William dan Alex menatap tajam satu sama lain. Jika diibaratkan dengan pedang. Mata mereka sudah saling menyerang dan menebas satu sama lain.
William pun turun dari tangga dengan perlahan,
"Ternyata kau cukup berani datang kemari!!!" ujar William sinis.
Alex terlihat tidak gentar dan malah tersenyum sinis mendengar ucapan William.
"Memangnya apa yang membuatku tidak berani menemuimu??" tanya Alex tak kalah sinis.
William menggertakkan giginya menahan emosi. Lalu pandangannya pun mengarah pada Anna.
"Kembali ke kamarmu!!!" perintah William tegas pada Anna.
Anna pun terdiam dan menatap William dengan ragu,
"Sayang, kembalilah ke kamarmu dulu. Ada yang ingin aku bicarakan dengan 'ayahmu" ujar Alex menekan kata ayahmu, lalu menyentuh pipi Anna dengan lembut.
Anna menatap Alex ragu lalu menganggukkan kepalanya. Sejujurnya entah mengapa Anna merasa bulu kuduknya bergidik saat melihat kedua pria ini berhadapan. Mereka terlihat bagaikan ingin membunuh satu sama lain. Anna berharap masalah di antara mereka bisa segera di selesaikan.
Sebelumnya Alex berkata padanya bahwa dia berjanji hanya akan berbicara saja dengan ayahnya dan tidak akan melakukan hal yang berbahaya. Anna pun melepaskan tangan Alex dan menatap ayahnya sejenak lalu berjalan ke arah tangga menuju kamarnya.
William menatap kepergian Anna dengan tajam, lalu kembali menatap Alex di depannya.
"Apa yang kau inginkan??" tanya William tajam.
Alex menaruh tangannya di dalam saku celana dan menatap William dengan seringai di bibirnya.
"Aku hanya ingin berbincang denganmu. Bolehkah kita berbicara secara pribadi???" tanya Alex dengan seringainya.
William pun memicingkan matanya menatap Alex dengan curiga.
Apa sebenarnya yang di rencanakan pria ini?? pikir William.
Bersambung....
Hai, jangan lupa tinggalkan like dan komennya ya 🤗
__ADS_1
Support terus cerita ini 🙏❤️❤️
Boleh di ramein kolom komentarnya ya 🤭😁