Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Querelle


__ADS_3

"Perutku......" rintih Anna.


Tes..


Tiba-tiba Anna merasa sesuatu yang basah keluar dari bawah tubuhnya,


Gadis itu pun menatap ke bawah dan membelalakkan matanya dengan terkejut,


"Da..... darah......"


Bibi Van yang melihat darah keluar dari kaki Anna pun seketika membelalakkan matanya dengan terkejut,


"Nona!!!!" ujarnya sambil mencoba untuk mendekati Anna.


Namun pria bertopeng di sebelahnya menahan Bibi Van dan tak membiarkannya bergerak mendekati Anna,


"Hey!!! Diam di tempatmu!!!" perintahnya tajam.


Namun Bibi Van yang mencemaskan kondisi Anna langsung menghempaskan kasar tangan pria itu dan melawannya,


"LEPASKAN!!!!" teriak Bibi Van.


Namun lagi-lagi pria itu menahan Bibi Van dan hendak memukulnya,


"****** TUA SIALAN!!!!" teriaknya sambil mengangkat tangannya ke atas.


Tapi, sebelum pria itu memukul Bibi Van, tiba-tiba segerombol pria bertopeng menghampiri mereka,


"BERHENTI!!!!" teriak salah satu pria bertopeng itu pada kedua pria yang sedang menahan Bibi Van dan Anna.


Mereka pun seketika membalikkan tubuhnya dan menatap segerombol pria bertopeng yang mereka kira adalah rekan mereka,


"Apa yang kalian lakukan???? Cepat tahan kedua wanita ini!!!!" Perintahnya pada segerombol pria yang baru tiba itu.


Namun dengan cepat, salah satu pria bertopeng yang baru tiba itu langsung mengarahkan senjatanya pada kedua pria yang sedang menahan Anna dan Bibi Van,


"Lepaskan mereka!!!!" geramnya tajam.


Pria itu pun melepaskan topengnya dan menatap kedua pria di depannya dengan tajam,


"Tu... Tuan Roy!!!" ujar Bibi Van terkejut.


Roy pun langsung memberikan kode pada anak buahnya untuk menyerang kedua pria bertopeng itu.


Dan dengan segera mereka pun melaksanakan perintah Tuannya,


BUGH!!


BUGH!!!


Mereka dengan cepat melumpuhkan kedua pria bertopeng itu dengan mudah.


Bibi Van langsung menghampiri Anna yang tengah merintih kesakitan sambil memegang perutnya,


"Nona!!! Nona baik-baik saja???" tanya Bibi Van khawatir.


Anna menggigit bibirnya kuat untuk menahan sakit yang dirasakannya,


"Bi.. Bibi.... Perutku... sa... sakit..." rintih Anna.


Roy dengan cepat menghampiri Anna dan terkejut melihat darah yang mengalir di kaki gadis itu,


"Apa yang terjadi????" tanya Roy khawatir.


Bibi Van terlihat mulai panik dan menatap Roy dengan tidak sabaran,


"Kita harus membawa Nona ke rumah sakit sekarang!!!!" ujarnya panik.


Anna kembali merintih kesakitan sambil memegangi perutnya,


"Tolong... Tolong selamatkan anakku..." ujarnya pada Roy sambil menahan sakit.


Roy yang ikut cemas dan panik pun seketika menggendong tubuh Anna,


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang!!!! Aku sudah menelpon polisi dan ambulan kemari!!" ujarnya cepat.


Namun Anna menyentuh pundak Roy dan menatapnya dengan tatapan khawatir,


"Dimana.... Dimana Alex?????" tanya Anna terbata menahan sakit.


Roy terdiam sejenak dan mencoba menenangkan Anna,


"Aku akan membawamu ke bawah, setelah itu aku akan mencari Alex!! Dia pasti baik-baik saja" ujar Roy mencoba menenangkan.


Anna mencoba untuk kembali berbicara pada Roy, namun perutnya terasa semakin sakit dan membuat gadis itu hanya dapat merintih kesakitan.


Dengan cepat, Roy pun menggendong tubuh Anna ke bawah dan menunggu bantuan datang..




Erika tengah memperhatikan benda yang berada di tangannya dengan seksama.



Namun seketika sebuah suara pintu terbuka membuat wanita itu langsung membalikkan tubuhnya dengan panik.



Erika langsung bersembunyi di balik meja sambil memegang benda yang di ditemukannya tadi.



BRAK!!



Leonard masuk ke dalam ruangannya sambil berjalan tertatih dengan sebelah kakinya.



Pria itu terlihat berantakan dengan wajah yang babak belur serta kakinya yang hanya sebelah. Kaki palsu Leonard telah hancur karena serangan Alex tadi. Pria itu pun mau tidak mau harus berjinjit dengan sebelah kakinya sekarang.



BRAK!!!



"BRENGSEK!!!!!" teriak Leonard emosi.



Pria itu mengacak apapun yang berada disana untuk meluapkan emosinya.



Leonard menatap pantulan wajahnya yang mengerikan dan berlumur darah. Pria itu merasa jijik dan putus asa melihat dirinya sendiri,



"BAJINGAN ITU!!!!! AKAN KU HABISI DIA!!!!" teriak ya lagi.



Di bawah meja, Erika terlihat mengintip kearah Leonard sambil mengepalkan tangannya kuat.



Ada rasa ingin menyerang dan membunuh pria itu sekarang, Namun, Erika sadar kekuatannya tidak sebanding dengan pria psikopat itu..



BRAK!!



BRAK!!!



"AARRGGHH!!!!" teriak Leonard lagi sambil mengacak-acak semua benda yang ada disana.



Erika yang berada di bawah meja hampir terkena lemparan benda yang di lempar oleh Leonard.



Wanita itu pun mencoba menghindar dan secara tidak sengaja menyenggol sebuah kursi di sampingnya.



BRUK!!!



Seketika Erika langsung menutup mulutnya dengan terkejut.



Leonard yang mendengar suara kursi yang terjatuh itu langsung membalikkan tubuhnya dan menatap kursi yang jatuh di bawah meja.



Pria itu menyipitkan matanya dan menatap kursi itu dengan tajam. Leonard yang curiga seketika melangkah pelan kearah kursi itu.



Erika yang menyadari kecurigaan Leonard langsung mundur perlahan agar tidak ketahuan oleh pria itu. Namun, jika dia bergerak sedikit lagi, maka keberadaannya juga pasti tetap akan ketahuan oleh Leonard.



Leonard semakin dekat kearah meja itu..

__ADS_1



Dan.. Dengan cepat Erika mengambil ancang-ancang dan mendorong kursi itu kearah Leonard, lalu keluar dari persembunyiannya,



BRUK!!!



Tubuh Leonard terdorong ke belakang, dan dengan cepat Erika keluar dari bawah meja sambil menatap Leonard dengan tatapan tajamnya,



"Huh!!! Kau!!!!" ujar Leonard tajam.



Erika mencoba mengatur nafasnya dan membalas tatapan Leonard tanpa gentar. Seketika Leonard menyeringai pelan dan melangkah kearah Erika,



"Ternyata kau cukup pintar bisa keluar dari penjara itu.." ledek Leonard sinis.



Erika menggertakkan giginya kuat dan menatap Leonard dengan tajam. Sedangkan Leonard merasa sedikit terhibur dengan tatapan Erika yang cukup berani padanya.



Namun, tanpa sengaja tatapan Leonard pun beralih menatap benda yang sedang di pegang oleh Erika.



Seketika pria itu langsung membelalakkan matanya tidak percaya saat mengetahui benda apa yang tengah di pegang oleh Erika sekarang,



"Benda itu????? Darimana kau mendapatkan benda itu??????" geram Leonard.



Pria itu pun tanpa basa-basi langsung menghampiri Erika dan mencoba untuk merebut benda yang berada di tangan Erika.



Erika yang menyadari hal itu seketika berjalan mundur sambil menyembunyikan benda itu di balik tubuhnya agar tidak dapat di rebut oleh Leonard.



Leonard yang gagal merebut benda itu seketika mengepalkan tangannya dan menatap Erika dengan tajam,



"Berikan benda itu!!!!!!!!" geramnya tidak sabaran pada Erika.



Erika menatap Leonard dan menyeringai pelan sambil menyembunyikan benda itu di balik tubuhnya,



"Tidak akan!!!!!" jawab Erika singkat dan tajam.



Leonard yang terpancing emosi dengan sikap Erika seketika mengarahkan tangannya kearah leher wanita itu dan mendorongnya kuat sambil mencekiknya,



BRUK!!!!



"JANGAN BERAMAIN-MAIN DENGANKU SIALAN!!!!!" teriak Leonard tidak sabaran.



Erika yang cukup terkejut dengan tindakan Leonard seketika menahan tangan pria itu di lehernya,



"LEPASKAN!!!!" teriaknya pada Leonard.



Leonard semakin menekan tubuh Erika ke tembok sambil mencekik leher wanita itu,



"BERIKAN BENDA ITU!!!!!" teriaknya lagi di depan wajah Erika.



Erika membalas tatapan tajam Leonard dan mulai mengangkat tangannya sambil menunjukkan benda itu di depan wajah Leonard,




Leonard menggertakkan giginya kuat dan hendak merebut benda itu dari tangan Erika, namun dengan cepat Erika melemparnya ke sembarang arah, dan membuat benda itu terjatuh ke bawah meja besar di ujung ruangan.



BRUK!!!



Leonard menatap benda itu dan kembali menatap Erika dengan emosi yang membuncah,



"\*\*\*\*\*\* SIALAN!!!!!" teriak Leonard sambil mencekik leher Erika dengan kuat.



Erika mulai terbatuk dan sesak dengan cekikan kuat tangan Leonard di lehernya. Wajah wanita itu mulai memerah dan terbatuk tanpa henti.



Erika menyentuh tangan Leonard dan mencoba melepaskan tangan pria itu. Namun, Leonard yang sudah emosi, semakin mencekik kuat leher Erika,



"AKAN KUBUNUH KAU!!!!" teriaknya.



Erika mulai kehabisan nafas dan hampir terjatuh ke lantai. Namun wanita itu meraih sebuah botol kaca di sampingnya dan dengan kuat memukulkannya kearah kepala Leonard,



BUGH!!!



PRANG!!!



"AARRGGHH!!!!" teriak Leonard terkejut.



Cekikan Leonard di leher Erika pun seketika terlepas, membuat Erika langsung merangkak mundur sambil terbatuk-batuk.



"Uhuk!!! Uhuk!!!"



Leonard menyentuh kepalanya yang berdarah dengan penuh emosi.



Erika mencoba menarik nafas dan mengatur kembali nafasnya. Wanita itu hendak bangkit dan menjauh dari Leonard. Namun, Leonard yang menyadari hal itu langsung menarik kaki Erika dan hendak kembali menyerang wanita itu,



"BEDEBAH SIALAN!!!!" teriak Leonard sambil menghimpit tubuh Erika dan mencoba kembali mencekik wanita itu.



Erika terlihat berteriak dan mencoba menghindari serangan Leonard.



Mereka saling bergulat dan mencoba menyerang satu sama lain. Namun tenaga Erika yang tak sebanding dengan Leonard membuat wanita itu kalah dan hanya berteriak saat dengan beringasnya Leonard menghajar wajahnya,



BUGH!!



BUGH!!!



"MATI KAU!!!" teriak Leonard.



BUGH!!!

__ADS_1



BUGH!!!



Erika mencoba menutup wajahnya dan menghindari serangan Leonard.



Wajah wanita itu terlihat berdarah dan babak belur setelah terkena pukulan Leonard.



Erika mencoba memberontak dan mengambil sebuah pecahan kaca bekas botol tadi di atas lantai, lalu menusukkannya pada wajah Leonard,



JLEB!!!



"AAARRRGGHH!!!!" teriak Leonard kesakitan.



Erika mengambil kesempatan itu untuk mendorong tubuh Leonard dan menghindari pria itu,



"KEPARAT!!!!" teriak Leonard emosi.



Erika berdiri tertatih ke sudut ruangan untuk menghindari Leonard dengan takut.



Wanita itu melemparkan benda apa saja kearah Leonard untuk menghindarinya,



BRAK!!



BRAK!!



Namun Leonard tidak memperdulikan hal itu dan terus mengejar Erika,



"KEMARI KAU \*\*\*\*\*\* SIALAN!!!!" teriaknya penuh emosi.



Erika dengan wajah babak belurnya berlari tertatih dengan ketakutan ke sudut ruangan. Wanita itu mencoba mencari jalan keluar untuk menghindari Leonard.



Erika pun sudah berada di depan pintu dan hendak membuka pintu itu, namun, pintu itu terkunci dan tak bisa di buka.



Leonard yang melihat hal itu seketika tersenyum puas,



"Kau tidak bisa lari dariku \*\*\*\*\*\*!!!!!!" geramnya.



Erika yang ketakutan pun berlari ke sudut ruangan lain dan menemukan jalan buntu. Wanita itu mengarahkan pandangannya ke sekitar untuk mencari sesuatu yang bisa menolongnya melawan Leonard.



Lalu tiba-tiba, pandangan wanita itu mengarah pada sebuah drum berukuran sedang berisi cairan seperti minyak.



Seketika Erika pun berlari ke arah sana dan mengambil cairan itu. Wanita itu membuka drum itu dan mengarahkannya kearah Leonard.



"Mundur atau aku akan menyiramkan minyak ini padamu!!!!!!" ancam Erika pada Leonard.



Leonard yang mendengar hal itu terlihat tertawa mencemooh dan semakin mendekat pada Erika,



"Memangnya apa yang akan kau lakukan dengan benda itu \*\*\*\*\*\*????" tanyanya sinis.



"Aku tidak takut!!!!!" lanjut Leonard tajam dan semakin mendekat pada Erika.



Erika pun dengan cepat membuka drum berisi minyak itu dan menyiramkannya kearah Leonard,



BYUR!!!



Seketika Leonard langsung membelalakkan matanya dan menahan tangan Erika,



"BEDEBAH SIALAN!!!!" teriak Leonard sambil menahan drum berisi minyak itu dan membuat keduanya sama-sama basah tersiram oleh minyak di dalam drum itu.



Leonard lun membuang drum kosong itu ke lantai dan hendak mencekik Erika,



"MATI KAU!!!!" teriaknya emosi.



Namun sebelum Leonard mencekiknya, Erika dengan cepat mengeluarkan sebuah korek dan menyodorkannya pada Leonard.



"MUNDUR!!!!" teriak Erika mengancam.



Leonard yang melihat hal itu seketika menyeringai sambil mengernyitkan keningnya melihat ancaman Erika,



"KUBILANG MUNDUR!!!" teriak Erika lagi.



"Atau..... Atau aku akan menyalakan korek ini!!!" ancamnya.



Seketika Leonard tertawa sinis mendengar ancaman Erika,



"\*\*\*\*\*\* bodoh!!!!! Jika kau menyalakan koreknya maka, kau juga akan membakar dirimu sendiri!!!" ujar Leonard tajam.



Erika yang mendengar hal itu pun seketika menyeringai kearah Leonard,



"Kau benar..." ucapnya pelan.



"Aku juga akan terbakar...." lanjutnya sambil menatap Leonard dengan tajam.



"Jadi.... Mari kita pergi ke neraka bersama-sama, Leo...!!" ucap Erika yang langsung membuat Leonard membelalakkan matanya.



Bersambung..



Hallo, tolong di bantu like, komen, vote dan hadiahnya ya ☺️



Tapi buat yang udah baca jangan lupa tinggalin jejak ya, dan kasih hadiahnya buat author walaupun recehan 🥲



Oh iya, novel kedua author yang judulnya Mysterious Man sudah up ya ☺️


Yuk bantu di ramaikan 😁🙏

__ADS_1



Terimakasih ❤️


__ADS_2