Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Hukuman


__ADS_3

-


-


Di tengah hutan yang gelap terdengar suara tembakan yang memekakkan telinga. Segerombol pria tengah berlari mencari keberadaan seorang gadis yang mereka incar.


"Sial!! Kemana perginya gadis itu!!" ujar salah satu pria.


"Mungkin dia sedang bersembunyi.. Ayo cepat cari sampai dapat!" ujar pria lainnya.


Langkah mereka terhenti ketika melihat sebuah mobil melaju dengan kencang dari kejauhan.


"Bukankah itu mobil Tuan Alex??" tanya seorang pria.


"Habislah kita!! Tuan Alex sudah kembali!! Cepat beritahu Gerald!!" ujar pria lain.


Salah satu pria mengambil handphone nya untuk menghubungi seseorang,


"Halo Gerald!! Tuan Alex telah kembali!!" ujarnya.


Disisi lain pria bernama Gerald berdiri kaget dari duduknya mendengar pemberitahuan dari salah satu penjaga.


"****!! Habislah kita!!" geramnya.


Gerald mendengar suara mobil yang berhenti di halaman rumah. Dengan cemas dia dan para penjaga lain menyusul ke halaman. Mereka berjajar di depan pintu dan membungkukkan badan memberi hormat pada boss mereka.


Alex keluar dari dalam mobil dan membuka pintu belakang mobilnya,


"Lepaskan!! Lepaskan aku!!!!" teriak seorang gadis yang membuat Gerald mengangkat sedikit badannya untuk melihat siapa yang berteriak. Dia membelalakkan matanya melihat gadis yang mereka cari sudah ada di tangan Tuan mereka.


Alex menarik keras tangan Anna dan mengeluarkannya dari dalam mobil. Dia menyeret Anna dengan satu tangannya dan menghampiri para penjaga rumahnya yang sedang membungkuk takut.


"Menangkap satu ekor tikus kecil saja kalian tidak mampu???" tanyanya dengan nada dingin yang menusuk.


Para penjaga itu bergidik ketakutan dan masih dalam posisi membungkuk, tidak berani untuk mengangkat badan sedikitpun.


"Bangun!!!" teriak Alex yang membuat para penjaga itu mengangkat badan mereka dengan takut. Keringat dingin membasahi tubuh para pria penjaga itu.


Alex mendorong Anna keras kearah para penjaga yang sedang berjejer disana.


"Akhh!!" teriak Anna jatuh tersungkur di atas tanah. Kedua lututnya masih berlumuran darah. Anna menahan rasa sakit pada sekujur tubuhnya.


"Kurung gadis itu di ruangan bawah tanah!! Jangan berikan dia makan ataupun minum tanpa perintah dariku!!" teriak Alex marah.


"Ba.. Baik boss" ujar salah satu penjaga.


Beberapa dari para penjaga itu menarik Anna lalu menyeretnya ke ruangan bawah tanah. Anna mencoba memberontak, namun tenaganya terlalu lemah, ia hanya bisa pasrah.


Para penjaga itu menyeret Anna menuruni tangga menuju ruang bawah tanah. Anna menatap ke sekitar, suasana disana sangat gelap dan pengap, hanya disinari oleh obor api yang di gantung di dinding. Tempat ini seperti penjara bawah tanah.


Anna menatap ke setiap ruangan, banyak sel yang masih berisi mayat orang-orang yang menjadi tahanan sebelumnya, bahkan sudah membusuk. Anna menahan perut nya yang mual karena bau busuk yang sangat menyengat.


Salah satu sel di buka, Anna di dorong masuk ke dalam sampai tersungkur. Anna menahan sakit lututnya yang terluka.

__ADS_1


"Dasar ****** kecil yang menyusahkan!! Akibat ulah mu kami semua dalam bahaya!! Sial.. pasti Tuan Alex akan menghukum kita habis-habisan" gerutu salah seorang penjaga.


"Sudahlah.. Biarkan dia mati kelaparan dan membusuk disini" ujar salah seorang lagi.


Mereka mengunci pintu sel dan meninggalkan Anna sendirian. Air mata perlahan mengalir di pipi Anna. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi, akhirnya Anna menangis sejadinya. Meratapi kemalangan hidupnya. Akibat ulah ayahnya dia harus menanggung siksaan ini. Seluruh luka di sekujur tubuhnya tidak sebanding sakitnya dengan luka di dalam hatinya. Mungkin ini memang takdirnya, mungkin akhir hidupnya memang seperti ini..


Sampai akhir hidupnya Anna tidak pernah merasakan sebuah kebahagiaan..


Anna terus menangis meluapkan seluruh beban dalam hatinya selama ini. Sampai tidak terasa dia pun tertidur di atas tanah yang dingin, dengan luka dan air mata yang mengering..


-


-


Alex menatap dingin para penjaga yang sedang bersimpuh menatap takut padanya. Sebuah cambuk besar berada di tangannya. Dia berjalan mengelilingi seluruh penjaga yang berjumlah 15 orang termasuk Lidya yang sedang berdiri ketakutan di samping para penjaga.


"Bagaimana gadis itu bisa keluar?" tanyanya dingin.


"Se.. Sepertinya ga.. gadis itu di bantu oleh orang dalam" jawabnya ketakutan.


"Orang dalam?" tanya Alex mencemooh.


"Ka.. Kami tidak tau pasti.. Ta.. Tapi Mark tidak ada di pintu belakang.. Kami menemukan dia pingsan di dekat hutan.. semua cctv mati saat kejadian" jawab si penjaga.


"Mana dia?" tanya Alex.


Salah satu penjaga membawa Mark yang masih tak sadarkan diri lalu meletakkannya di hadapan Alex.


Alex mengambil sebotol air, lalu menyiramkannya pada wajah Mark.


Mark terbangun sadar dari pingsannya. Dia menatap ke sekitar dengan tatapan kosong. Terlihat seperti orang yang linglung. Mark menatap Alex dengan tatapan kosongnya, Alex membalas tatapannya dingin.


"Dimana kau saat kejadian?" tanya salah satu penjaga yang membopong Mark tadi.


Mark hanya menatapnya sesaat. Lalu tersenyum seperti orang yang sudah kehilangan akal. Dia menunjuk semua orang yang berada disana lalu tertawa seperti orang gila.


"Jawab Mark jangan main-main!! Apa kau membiarkannya keluar??" geram si penjaga lain.


Mark hanya semakin tertawa sambil bertepuk tangan.


"Hahahahaha.. Aku.. Aku... Kenapa hahahaha.." celotehnya.


"Mark sadarlah!!" teriak Gerald di belakangnya.


"Ya.. Ya.. Aku... Aku.. Memangnya kenapa? Hahahaha.."


"Aku.. Aku.. Kenapa?.. Hahaha.." gerutunya sambil tertawa seperti orang gila.


Alex menggertakkan gigi nya keras menahan amarah melihat kelakuan Mark di depannya.


Para penjaga menatap takut kearah Mark yang sepertinya sudah membuat Alex marah. Lidya menatap kelakuan Mark dalam diam, obat yang dia berikan padanya sudah bereaksi. Mark sudah menjadi orang yang kehilangan akal. Obat yang dia berikan adalah obat yang dapat melumpuhkan otak, membuat seluruh syaraf yang ada di otaknya tidak berfungsi dengan baik, sehingga pengkonsumsi tidak dapat bersikap dan berbicara dengan jelas, persis seperti orang gila, hanya akan mengikuti ucapan-ucapan singkat yang dia dengar.


Mark masih terus tertawa-tawa sambil mengoceh, berdiri menghampiri Alex yang sedang duduk di kursinya dan menertawakannya. Seluruh orang disana merasakan ketegangan melihat adegan itu..

__ADS_1


Sampai terdengar bunyi tembakan..


Seketika Mark jatuh tersungkur dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya.


Alex memasukan kembali pistolnya ke dalam saku jas.


Mark tidak bergeming, seluruh orang disana bergidik ngeri melihat kejadian itu, Mark sudah mati..


"Jangan ada yang berani bermain-main denganku!" ujar Alex dingin.


Kemudian Alex mengeluarkan kartu kunci dari sakunya yang dia ambil dari Anna saat menangkapnya.


Lidya menatap kartu itu dengan ketakutan. Itu kartu kuncinya yang dia berikan pada Anna sebelumnya.


"Darimana gadis itu mendapatkan kartu ini?" tanyanya dingin sambil menatap Lidya.


"I.. Itu.. Nona itu merampasnya dariku setelah dia memukulku, sampai aku tak sadarkan diri" jawab Lidya gugup.


Alex memicingkan mata curiga padanya. Lidya menundukkan pandangannya tidak berani untuk menatap Alex..


Alex berdiri dari duduknya, menatap dingin pada seluruh bawahannya disana.


"Kalian semua akan di hukum atas kelalaian yang telah kalian perbuat" ujar Alex dingin. Alex mengambil sebuah remot kecil di sakunya, yang membuat seluruh orang disana ketakutan.


"Ti.. Tidak Tuan Alex.. Tolong ampuni kami!! Kami pastikan hal ini tidak akan terjadi lagi.." mohon salah satu penjaga.


Alex menyeringai menanggapi perkataan pelayan itu. Para penjaga tak terkecuali Lidya berlutut memohon ampun pada Alex.


"Ini adalah bayaran atas kecerobohan kalian" ujar Alex, lalu menekan tombol di remot itu dan keluar dari ruangan..


"Aaarrrrgggghhhh!!!!"


"Aarrrgghhh!!!"


Teriakan terdengar di seluruh ruangan itu..


Orang-orang di dalam sana tersungkur, berguling-guling menahan sakit yang teramat di sekujur tubuh mereka..


Rasa sakit itu muncul dari setiap chip yang tertanam di tangan mereka semua, yang terhubung dengan remot kecil milik Alex. Alex menanamkan chip itu pada setiap bawahan yang bekerja padanya.


Itulah cara Alex menghukum seluruh bawahannya..


Menyiksa mereka dengan caranya yang kejam..


Bahkan mungkin lebih baik langsung di bunuh saja dari pada di siksa berjam-jam seperti itu..


Rasanya seperti kau di tusuk oleh pedang berulang-ulang namun tidak membuatmu mati..


Bersambung..


Keep support this story ya..


komen dan like jangan lupa..

__ADS_1


Biar aku up nya bisa tiap hari, maklum moody an orang nya 🤭


__ADS_2