
Lidya menuntun Anna ke arah kolam berenang luas yang berada di belakang rumah.
Anna menatap kolam berenang yang sudah tidak terisi air itu. Lantai-lantai bawah kolam itu terlihat sangat kotor.
"Nona.. Sebenarnya aku tidak enak ingin meminta bantuan Nona" ujar Lidya tiba-tiba.
"Apakah Nona mau membantuku membersihkan kolam berenang ini?" ujar Lidya dengan wajah memelas.
Anna menatap kearah kolam berenang yang sangat kotor itu sejenak,
"Ten.. Tentu saja, tidak perlu sungkan" jawab Anna sedikit ragu.
Kolam berenang ini sangat luas dan kotor. Mungkin butuh waktu lama untuk membersihkannya..
"Maaf Nona, Badanku masih kurang fit setelah demam kemarin. Aku juga harus membersihkan halaman depan. Apakah tidak apa-apa jika Nona membersihkan kolam ini sendirian? Jika Nona lelah, Nona boleh beristirahat dulu" ucap Lidya.
"Tidak apa-apa, aku akan membersihkannya. Kau istirahatlah" ujar Anna tersenyum pada Lidya.
"Terimakasih Nona" balas Lidya tersenyum lalu melangkah masuk kedalam rumah.
Seketika senyuman Lidya hilang saat sudah berada di dalam rumah. Lidya menatap tajam Anna dari balik jendela.
"Aku akan menyiksamu perlahan-lahan" bisik Lidya geram dari balik jendela, lalu melangkah pergi.
Anna menatap kearah kolam berenang yang kotor dan halamannya yang di penuhi dengan daun-daun kering yang berguguran.
Anna menarik nafasnya dalam dan menghembuskan nya.
"Semangat!" ucapnya untuk menyemangati diri sendiri.
Kemudian Anna menguncir rambutnya untuk memudahkan pekerjaannya.
Anna memulai pekerjaannya dengan menyapu seluruh daun-daun yang jatuh di sekitar kolam.
Setelah menyapu bersih seluruh daun. Anna masuk ke dalam kolam dan mulai membersihkan setiap lantai dan dinding kolam yang kotor.
-
Anna mengelap keringat di wajahnya dengan tangan. Sudah beberapa jam dia membersihkan kolam ini, badannya sudah mulai merasa lelah dan pegal karena menggosok lantai.
Namun Anna memilih terus lanjut membersihkannya, tinggal setengah dari kolam ini lagi yang harus dia bersihkan.
Setetes air jatuh membasahi kepala Anna..
Anna memandangi langit di atasnya yang sudah mendung, sepertinya akan turun hujan..
Tetes demi tetes air turun dari langit, dan terus turun dengan derasnya. Anna yang mulai basah kuyup memutuskan untuk naik dari dalam kolam dan berlari kecil ke arah pintu rumah.
Suara petir terdengar begitu kencang membuat Anna menutup telinganya.
Anna sudah berada di depan pintu dan mencoba membuka pintu. Namun pintu itu tidak kunjung terbuka.
Anna mencoba membuka dan mendorongnya, namun tetap tidak bisa. Sepertinya pintunya terkunci dari dalam.
Anna mencoba mengetuk pintu, berharap ada seseorang yang membukanya.
Tok.. Tok..
"Lidya!!" teriak Anna.
"Lidya!! Tolong buka pintunya!" teriak Anna kembali.
Namun pintu itu tak kunjung terbuka. Hujan besar dan suara petir yang besar membuat Anna ketakutan.
Anna berjongkok di depan pintu memeluk tubuhnya yang menggigil kedinginan.
Sekelebat kenangan buruk saat dia masih kecil tiba-tiba muncul di pikirannya..
Saat itu Anna masih berusia 8 tahun. Saat sedang bermain di dalam kamarnya sendirian, Anna mendengar ibu dan ayahnya yang sedang berdebat di luar. Awalnya hanya sebuah cekcok biasa, namun lama-kelamaan mereka saling berteriak satu sama lain dan saling memaki. Bahkan dari dalam kamarnya Anna dapat mendengar beberapa barang yang pecah.
Anna menutupi telinganya mencoba untuk tidak mendengar apapun. Suara pertengkaran kedua orang tuannya lebih terdengar keras di telinga Anna daripada hujan lebat dan petir yang menyambar di luar.
__ADS_1
Tiba-tiba suara pertengkaran kedua orang tuannya tidak terdengar lagi. Anna berjalan kearah jendela menatap keluar, dia melihat ibu dan ayahnya ada di luar rumah lalu pergi dengan mobil yang berbeda meninggalkan rumah.
Anna berlari keluar kamar, mencoba mengejar kedua orang tuannya.
"Ibu!!!! Ayah!!!!" teriak Anna kecil sambil menangis menatap mobil kedua orangtuanya semakin menjauh dan keluar dari gerbang rumah ke arah yang berbeda.
"Ibu!!! Ayah!!! Jangan tinggalkan aku!!!" teriaknya sambil menangis kuat.
"Nona, jangan kesana!" ujar salah seorang pelayan yang menahan Anna agar tidak berlari keluar.
"Ibu... Ayah..." gumam Anna sambil terus menangis terisak.
Anna menutup telinganya kuat. Dia tidak ingin mengingat kenangan yang menyakitkan itu lagi..
Anna bersandar pada pintu dan mengetuknya kembali.
"Tolong buka pintunya.." gumam Anna sambil menangis.
-
Alex memarkirkan mobilnya di halaman rumah. Seorang penjaga rumah seperti biasa membukakan pintu untuknya.
Hari ini Alex pulang cukup larut. Dia harus lembur bekerja karena pekerjaannya yang menumpuk.
Hujan sudah reda beberapa jam yang lalu.
Alex melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Tubuhnya terasa sangat lelah dan lengket. Alex menaiki tangga menuju ruang pribadinya untuk membersihkan diri.
Lidya berpapasan dengan Alex di lantai 2. Seketika dia membungkukkan badannya pada Alex. Namun Alex terus melangkah menghiraukan keberadaannya.
Lidya menatap sedih pada punggung Alex yang menjauh dan masuk ke dalam ruang pribadinya.
Seandainya saja dia bisa menghilangkan lelah Tuannya, dan memijat tubuhnya. Namun itu semua hanya akan menjadi angan-angannya saja.
Tapi Lidya percaya suatu saat nanti itu semua bukan hanya sekedar khayalannya saja, dia akan membuat itu semua menjadi kenyataan.
Alex hanya untuknya, dan dirinya hanya untuk Alex..
-
Karena lelah menangis, Anna tidak sadar sudah terlelap sejak tadi. Baju dan rambutnya masih basah. Anna memeluk tubuhnya yang menggigil kedinginan dan mencoba untuk berdiri.
Hari sudah gelap, Anna menatap pintu di depannya yang masih tertutup.
Anna mencoba kembali mengetuk pintu,
Tok.. Tok..
"Lidya!! Apa kau mendengar ku? Tolong buka pintunya!!" teriak Anna.
Tok.. Tok..
"Lidya!!!" teriaknya lagi.
Namun tetap saja pintu itu tidak terbuka. Apakah Lidya lupa bahwa dirinya masih berada di kolam ini? Atau dia sengaja?
Anna menggelengkan kepalanya menyingkirkan kecurigaannya pada Lidya. Lagipula untuk apa Lidya sengaja menguncinya di luar seperti ini?
Anna mencoba kembali mengetuk pintunya lebih keras.
Namun suara gemercik dari balik daun menghentikan gerakan Anna saat hendak mengetuk.
Suara apa itu? pikirnya.
Anna memperhatikan daun kering yang bertumpuk di pinggir kolam tiba-tiba bergerak.
Anna memfokuskan pandangannya kesana. Suasana yang gelap membuat Anna tidak bisa terlalu jelas melihatnya.
Kembali daun itu bergerak, seperti ada sesuatu di balik dedaunan itu. Anna memperhatikan dengan waspada.
Tiba-tiba seekor ular cobra besar keluar dari tumpukan daun.
__ADS_1
Anna yang kaget refleks menutup mulutnya.
Ular itu sangat besar, Anna kembali mengetuk pintu dengan tidak sabaran.
Tok.. Tok.. Tok..
"Tolong siapa saja buka pintunya!!" teriak Anna.
Namun nihil, pintu tak kunjung terbuka. Anna menatap takut pada ular besar itu yang bergerak mendekat ke arahnya.
-
Alex berjalan keluar dari kamar mandi, mengelap rambutnya yang basah, dengan mengenakan handuk kimono nya. Setelah membersihkan diri, tubuhnya terasa lebih baik.
Alex duduk di atas sofa dan membuka laptopnya. Tiba-tiba dia sangat ingin minum segelas kopi malam ini.
Alex teringat gadis yang sudah dia tugaskan untuk menjadi pelayan pribadinya mulai hari ini. Kemana dia?
Alex melangkah keluar ruangannya kearah kamar yang di tempati Anna. Alex membuka pintunya yang tidak terkunci dan tidak menemukan Anna di kamarnya.
Alex berdecak kesal, seharusnya dia memberikan gelang perintah pada gadis itu agar dia tidak usah bersusah payah mencarinya. Sekarang gadis itu bertindak sesuka hatinya berkeliaran di rumah ini.
Alex kembali ke dalam ruangannya menekan tombol perintah yang akan di dengar oleh seluruh penjaga rumah.
"Cari dimana gadis tawanan ku sekarang, dan bawa padaku!!" tegas Alex.
Setelah mendengar perintah Tuannya para penjaga mencari keberadaan Anna di sekeliling rumah. Tak terkecuali Lidya, dia terlihat sedikit panik. Namun Lidya berharap tidak ada seseorang yang mencari ke arah kolam berenang. Dia akan menghalangi siapapun untuk pergi kesana..
-
Alex membuka laptopnya dan melihat semua cctv di setiap ruangan. Dia tidak menemukan gadis itu dimana pun. Apakah gadis itu kabur? geram Alex dalam hatinya.
Namun tiba-tiba pandangannya teralih pada cctv di kolam berenang. Alex melihat Anna berdiri di sudut tembok seperti sedang menghindari sesuatu.
Alex memperbesar layarnya dan mencoba melihat apa yang dihindari oleh gadis itu.
Alex melihat seekor ular cobra besar mengarah pada Anna yang sedang ketakutan.
"Mengapa gadis ini selalu merepotkan!!" kesal Alex, lalu melangkah pergi kearah kolam berenang.
-
Anna menatap ular cobra itu yang semakin dekat padanya. Langkahnya sudah buntu, sekarang dia sudah bersandar pada sudut tembok. Apa yang harus dia lakukan? Apakah ular itu akan melewatinya jika dia diam saja dan tidak bergerak?
Anna menahan nafasnya dan menutup mata, berharap ular itu hanya melewatinya saja.
Namun..
Suara tembakan mengagetkan Anna.
DOR!!
Anna yang kaget refleks berjongkok dan menutup matanya..
Terdengar suara langkah kaki yang mendekat kearahnya.
"Kenapa kau selalu menyusahkan!!!" ujar seseorang yang melangkah menghampirinya.
Anna membuka matanya menatap takut ular tadi yang sudah berlumuran darah dan hancur terbelah karena tembakan.
Lalu Anna menatap Alex yang sudah berdiri di hadapannya dengan wajah dingin namun terlihat memendam rasa kesal dan marah.
Namun, entah mengapa.. melihat pria itu datang kali ini membuat Anna merasa aman dan tenang.
Perasaan apa ini??
Bersambung..
Support selalu cerita ini ya, jangan lupa like dan komen yang banyak 😁🤗
Semoga makin suka ya sama ceritanya 🙌
__ADS_1