Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Let Me Go!


__ADS_3

"Dimana Anna!!!!!" teriaknya lagi.


Roy pun terlihat hanya pasrah dan menatap iba pada Alex yang terlihat frustasi di depannya.


"Dia tidak ada disini" ujar Roy pelan.


Seketika Alex pun melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Roy.


'Tidak ada???' pikir Alex bingung.


Alex pun kembali mengingat saat William tiba-tiba datang dan menyuruh anak buahnya untuk menyerangnya dan membawa Anna dengan paksa . Lalu setelah itu dia tidak ingat lagi apa yang telah terjadi.


Dengan kasar Alex mengacak rambutnya dengan kuat,


"Brengsek!!!!!" geramnya.


"Pria tua itu telah berhasil membawa Anna dariku!!!" lanjutnya frustasi.


Dengan cepat Alex mencoba bangkit dari duduknya. Namun kepalanya tiba-tiba terasa sangat pening dan sakit.


"Arghhh" rintih Alex kesakitan.


Roy pun dengan sigap menahan tubuh Alex agar tidak terjatuh.


"Alex!! Kau baik-baik saja???" tanya Roy khawatir.


"Argghhh!!!!!" teriak Alex kencang.


Sepertinya sakit kepala akut nya kambuh kembali. Roy yang tau tentang penyakit Alex itu dengan cepat mendudukkan Alex di atas tempat tidur.


"Tenanglah Alex! Sakit kepalamu bisa bertambah parah kalau kau terus seperti ini!!" ujar Roy.


Dengan kasar Alex menepis tangan Roy dan mencoba kembali berdiri, namun sakit kepalanya semakin bertambah parah dan membuat tubuh Alex tak bertenaga.


"Lepaskan aku!!! Aku harus membawa Anna kembali!!!" ujar Alex tidak sabaran.


Dia kembali bangkit dari duduknya dan berdiri dengan cepat mencoba untuk melangkah, namun seketika tubuh Alex ambruk ke atas lantai dan sakit kepalanya pun bertambah parah.


BRUK!!!


"Aaarggghhh!!!!" teriak Alex kesakitan sambil terus memegang kepalanya.


"Alex sudah cukup!!!!" teriak Roy khawatir.


Lalu dengan cepat dia mengangkat tubuh Alex dan menidurkannya kembali ke atas tempat tidur.


Roy dengan cepat mencoba mencari obat yang ada di dalam laci milik Alex. Setelah laci itu terbuka, Roy melihat sebuah obat yang berada di dalam sana. Lalu dia mengambilnya dan memberikannya pada Alex.


"Cepat minumlah!!" ujar Roy panik.


Lalu dia membantu menyuapkan obat itu pada Alex dan memberikannya segelas air.


Setelah Alex meminum obatnya, perlahan dia merasakan sakit di kepalanya mulai menghilang. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Matanya pun mulai terasa berat karena Roy juga memberikannya obat tidur.


Roy tidak ingin Alex melakukan hal-hal yang di luar batas saat ini. Setidaknya pria itu harus beristirahat kali ini. Dan Roy akan mencoba membantu sahabatnya itu agar bisa kembali bertemu dengan gadis yang dicintainya itu.


"Maafkan aku Alex. Aku berjanji akan membantumu bertemu kembali dengan gadis itu!!" bisik Roy pelan. Dia tidak tega melihat sahabatnya terluka seperti ini. Seumur hidupnya dia baru pertama kali melihat Alex terlihat lemah seperti saat ini. Dan itu sungguh membuat hatinya sakit..


-


Cahaya matahari masuk melalui celah jendela, membuat seorang gadis yang sedang tertidur mau tidak mau harus terbangun dari tidurnya.


Dengan perlahan Anna mengerjapkan matanya dan mencoba untuk membukanya.


Saat pandangannya sudah jelas, Anna mengarahkan pandangannya ke sekitar ruangan.


Dimana ini?? pikir Anna.


Seketika Anna langsung bangun dari tidurnya saat teringat dengan sesuatu.

__ADS_1


Alex!!!! pikirnya cemas.


Anna pun mencoba bangkit dari tempat tidurnya, namun suara pintu yang terbuka membuatnya berhenti.


CKLEK!!!


"Nona sudah bangun??" ujar seorang perempuan paruh baya yang baru masuk itu.


Anna pun terdiam sesaat. Lalu mulai menyadari pakaiannya sudah berganti dengan gaun tidur. Anna kembali menatap ke sekeliling kamar. Seingatnya kamarnya tidak seperti ini. Lalu pandangannya kembali menatap wanita paruh baya itu yang sedang meletakkan segelas susu dan roti di atas meja dekat tempat tidurnya.


"Dimana ini???" tanya Anna pada wanita paruh baya itu.


Wanita paruh baya itu kemudian menatap Anna dan tersenyum.


"Nona berada di rumah sekarang" jawabnya.


Rumah?? pikir Anna. Seingatnya rumahnya tidak seperti ini, pikirnya. Anna pun bangkit lalu berjalan ke arah jendela untuk melihat ke arah luar.


Anna pun mengerutkan keningnya saat melihat bunga sakura yang berada di luar. Sejak kapan bunga sakura bisa tumbuh di negaranya?? pikir Anna.


Dengan cepat Anna pun membalikkan badannya ke arah wanita paruh baya itu.


"Katakan padaku, sekarang kita berada dimana??" ujar Anna tidak sabaran.


Wanita paruh baya itu pun terdiam sesaat, lalu kembali menatap Anna.


"Kita berada di Jepang Nona" jawabnya.


Jepang???? pikir Anna terkejut. Lalu pandangannya kembali mengarah ke jendela. Tidak!! Ini tidak benar!!! risaunya.


Lalu Anna pun berjalan dengan terburu-buru keluar dari kamarnya.


"Nona!!! Nona mau kemana???" ujar wanita paruh baya itu.


Namun Anna menghiraukannya, dan terus melangkah untuk mencari seseorang yang ingin dia temui saat ini. Dia harus meminta penjelasan padanya.


Anna pun turun ke lantai bawah, namun tidak menemukan siapapun disana. Anna kembali melangkahkan kakinya dengan terburu-buru memasuki setiap ruangan yang ada.


BRAK!!!


Seketika pandangan William mengarah pada Anna yang terlihat memandangnya dengan nafas yang memburu dan tatapan tajamnya.


"Kau sudah bangun???" tanya William santai.


Anna menatap William dengan tajam lalu berjalan menghampiri meja kerjanya.


"Apa yang ayah inginkan??? Kenapa kau membawaku kemari???" ujar Anna marah.


William kembali menyeruput kopinya dan terlihat sangat santai mendengar pertanyaan putrinya itu.


"Aku hanya membawamu pulang" jawabnya.


Anna pun menatap tidak percaya pada ayahnya itu,


"Pulang??? Lalu kenapa kita ada di Jepang??? Ini bukan rumahku!!" ujar Anna tajam.


William hanya terdiam acuh mendengarkan pertanyaan Anna.


"Mulai saat ini dan seterusnya kita akan tinggal disini!!!" ujar William tegas.


"Aku tidak mau!!!" jawab Anna cepat.


William pun menatap putrinya itu dengan tajam,


"Kenapa??? Apa karena kau merasa jauh dari pria itu dan merasa tidak bisa bertemu kembali dengannya???" ujar William tajam.


Anna pun mencengkram tangannya kuat mendengar ucapan William.


"Apa yang kau lakukan padanya???" tanya Anna menahan amarah.

__ADS_1


William terlihat terdiam sejenak, lalu sebuah seringai muncul di bibirnya.


"Menurutmu?? Apa yang telah aku lakukan padanya???" tanya William sinis.


Anna mengepalkan tangannya semakin kuat mendengar pertanyaan sinis William.


"Lepaskan dia!! Kau sudah berjanji padaku, jika aku ikut denganmu kau akan melepaskannya!!" ujar Anna tajam.


William pun menatap putrinya itu dalam diam. Sepertinya putrinya sangat mencintai pria keturunan Boston itu, pikirnya. Dia tidak akan memberitahu putrinya bahwa pria itu telah berhasil melarikan diri darinya.


William pun membuang nafasnya kasar, lalu memandang Anna dengan sinis.


"Kau pikir aku sebodoh itu, melepaskannya dengan mudah???" tanyanya sinis.


"Aku tidak akan pernah membiarkan pria itu menemuimu lagi untuk selamanya!!" lanjutnya.


Anna menatap tidak percaya pada ayahnya itu. Sifat egoisnya tidak pernah berubah sejak dulu!!


"Kau benar-benar egois!!! Sejak dulu kau memang tidak pernah memikirkan perasaanku!! Perasaan ibuku!!! Yang kau pikirkan hanya dirimu sendiri!!!" teriak Anna marah.


BRAK!!!


PRANG!!!


William pun menggebrak meja kerjanya sambil berdiri dari duduknya, membuat gelas kopinya terjatuh dan pecah. Lalu menatap Anna dengan tajam.


"Jika kau sudah selesai, kau bisa kembali ke kamarmu!!" ujar William menahan amarahnya.


"Aku belum selesai!! Aku tidak mau tinggal disini bersamamu!!" teriak Anna lagi.


William pun menggertakan giginya kuat menahan emosinya yang hampir meledak.


"Penjaga!!!" teriaknya lagi memanggil penjaga yang ada di luar.


Seorang penjaga pun masuk ke dalam ruangan William lalu membungkuk hormat padanya.


"Bawa dia kembali ke kamarnya!! Dan kunci pintu nya dari luar!!" perintah William.


Penjaga itu pun mengangguk mengerti, lalu memegang tangan Anna untuk membawanya pergi.


"Tidak!! Aku mau pergi dari sini!!! Lepaskan aku!!!!" teriak Anna memberontak.


Namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan penjaga itu. Penjaga itu pun terus menyeret Anna sampai masuk ke dalam kamarnya.


"Maaf Nona, aku akan mengunci pintunya!" ujar penjaga itu cepat.


"Tidak!! Tunggu!!!" teriak Anna.


Anna dengan cepat mencoba menahan pintunya, namun penjaga itu telah menutupnya dan mengunci pintunya dari luar.


Tok... Tok... Tok...


BUK!!!


BUK!!


"Buka pintunya!!!!" teriak Anna sekuat tenaga mencoba memukul dan menendang pintu di depannya dengan kuat.


Namun sayang pintu itu telah terkunci dari luar. Anna yang sudah lelah berteriak seketika terduduk lemas di atas lantai sambil menyandarkan tubuhnya pada pintu.


Perlahan air matanya pun turun di pipinya. Dia tidak bisa lagi menahan sesak di dalam hatinya. Dia sangat mencemaskan Alex. Apa yang telah ayahnya lakukan pada pria itu??


Anna pun menyentuh dadanya yang terasa sakit,


'Alex... Aku merindukanmu..' ujar Anna sedih dalam hatinya.


Bersambung...


Halo, dukung selalu cerita ini ya dengan kasih like dan komen yang banyak 🙏☺️

__ADS_1


Terimakasih..


__ADS_2