
William masuk ke dalam mobilnya untuk menyusul anak buahnya yang membawa Alex menuju ke markas miliknya.
Sepanjang perjalanan William terlihat termenung di kursinya. Pikirannya teringat dengan ucapan Anna yang mengatakan bahwa dirinya jahat, dan kemudian putrinya itu berkata bahwa dia membencinya.
Dengan kasar William mengacak pun rambutnya frustasi. Tidak!!! Yang dia lakukan saat ini sudah benar, pikirnya. Dia memang harus menjauhkan putrinya dari pria itu. Pria itu terlalu berbahaya untuk Anna.
Lagipula dia sudah bersumpah pada dirinya sendiri, untuk tidak terlibat kembali dengan keluarga Boston maupun keluarga Wijaya seumur hidupnya.
William lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar dan menatap keluar jendela. Tiba-tiba mobil yang membawanya berhenti mendadak. Terlihat orang-orang sedang berkumpul di pinggir jalan mengerumuni sesuatu di depan sana.
"Apa yang terjadi??" tanya William kesal pada anak buahnya.
"Maaf Tuan, sepertinya ada kecelakaan atau sesuatu yang terjadi di depan sana" ujar bawahannya itu.
"Cepat periksa apa yang terjadi!!" perintah William.
Lalu dengan cepat anak buahnya keluar dari dalam mobil untuk memeriksa sesuatu di depan sana yang membuat kemacetan di jalan raya itu.
Anak buah William mencoba menerobos kerumunan orang-orang yang sedang mengelilingi sesuatu di depan sana. Saat sudah berhasil menerobos, seketika matanya terbelalak menatap sesuatu di depan sana. Lalu dengan cepat pria itu kembali ke mobil untuk melapor pada William.
"Tu... Tuan!!!!" ujar pria itu panik sekaligus takut.
William menatap tajam pada anak buahnya itu,
"Cepat katakan apa yang terjadi!!!!" ujarnya marah.
Anak buahnya terlihat sedikit gugup dan takut menatap William yang terlihat sudah emosi.
"I... Itu... Di depan sana.... Se... Sepertinya pria itu berhasil meloloskan diri dan melukai anak-anak yang lain!!!" ujarnya takut.
Seketika William membelalakkan matanya dan dengan cepat keluar dari dalam mobil untuk menghampiri kerumunan itu.
Saat sudah berhasil masuk, William melihat anak buahnya yang membawa Alex tadi telah terkapar dan tergeletak penuh luka di atas aspal. William mengepalkan tangannya kuat menahan emosi.
Brengsek!!! Pria itu benar-benar telah melarikan diri!!! geramnya marah.
"Cepat bereskan kekacauan ini sebelum polisi datang!!!" perintah William pada anak buahnya yang lain.
BRAK!!!!
William pun dengan keras memukul mobil di depannya. Sialan!!! Dia kehilangan pria itu, pasti akan sulit baginya untuk menangkapnya kembali!!! kesalnya dalam hati.
-
Roy mengemudikan mobilnya dengan cepat menuju ke rumah Alex. Dia menatap pria yang masih tak sadarkan diri itu di kursi belakang. Roy masih bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa sahabatnya ini bisa berakhir menyedihkan seperti ini??? Apa yang telah di lakukan William padanya??
Jika dia tidak kembali ke restoran tadi, mungkin saja sahabatnya ini telah di bawa pergi entah kemana oleh William.
__ADS_1
Setelah beberapa menit perjalanan. Roy pun sudah sampai di depan gerbang besar menuju kediaman Alex. Setelah menempelkan kartu kunci milik Alex, Roy pun kembali melaju memasuki hutan.
Saat sudah berada di depan rumah Alex, Roy mencoba membopong tubuh Alex seorang diri. Setelah sampai di depan pintu, Roy pun mengetuk pintu itu dengan tidak sabaran.
Tok.. Tok...
Selang beberapa lama, Bibi Van pun membukakan pintu. Seketika matanya terbelalak kaget melihat Alex yang terlihat tak sadarkan diri dalam rangkulan Roy.
"Astaga!! Apa yang terjadi pada Tuan Alex????" ujar Bibi Van terkejut.
"Aku akan jelaskan nanti! Bisakah Bibi tolong aku membawanya ke kamar!" ujar Roy terburu-buru.
Dengan cepat Bibi Van pun membantu Roy membopong tubuh Alex menuju kamarnya.
Setelah sampai di kamar Alex. Roy pun meletakan tubuh Alex di atas tempat tidur dan melepaskan jas dan juga sepatunya. Lalu menutupi tubuh Alex dengan selimut.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Tuan Alex?? Lalu, dimana Nona Anna??" tanya Bibi Van khawatir.
Roy pun terdiam sesaat,
"Sepertinya Alex telah di beri obat bius" jawab Roy.
"Dan.... sepertinya ayah dari gadis itu yang telah melakukannya" lanjut Roy.
Bibi Van pun terlihat mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Roy.
Roy pun menatap pada Bibi Van sesaat, lalu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi diantara Alex dan Anna. Mulai dari dendam Alex pada William, lalu penculikan Anna, sampai Alex yang akhirnya jatuh cinta pada tawanannya sendiri.
Namun sayangnya, saat kebahagiaan sudah menghampiri Alex, tiba-tiba ayah dari gadis itu merampasnya kembali.
Bibi Van pun berdoa dalam hatinya, semoga Alex bisa kembali dipersatukan dengan Anna.
-
Daniel meletakkan tubuh Anna yang tak sadarkan diri di atas tempat tidurnya. Membuka sepatunya dan menyelimutinya dengan selimut. Dia pun menatap Anna dengan tatapan sendunya.
Sebenarnya dia tidak ingin menyakiti dan membuat gadis yang dia cintai ini sedih. Tetapi, ini semua demi kebaikan Anna dan dirinya. Pria tadi bukanlah pria yang baik untuk Anna.
Perlahan Daniel pun menyentuh pipi Anna dengan lembut. Dia berharap momen ketika mereka masih kecil dulu bisa terulang kembali. Saat dia bersedih, Anna selalu berusaha untuk menghiburnya. Begitu pun sebaliknya, dia ingin menghibur Anna dan membuat Anna melupakan pria bernama Alex itu dan kembali lagi bersamanya seperti dulu.
"Maafkan aku Anna, aku melakukan semua ini demi kebaikanmu" ujar Daniel pelan.
Lalu perlahan Daniel mengangkat tangan Anna dan menciumnya dengan lembut.
"Maafkan aku..." bisiknya lagi sambil menutup matanya.
-
__ADS_1
Alex terlihat gusar dan resah dalam tidurnya. Keningnya terlihat berkerut dan keringat membasahi seluruh tubuhnya.
Roy yang sedang tertidur sambil bersandar dan duduk di samping tempat tidur Alex pun seketika merasakan pergerakan dari tubuh Alex.
Roy pun terbangun dan menatap wajah Alex yang terlihat gelisah dalam tidurnya
"Alex!! Kau sudah sadar???" ujar Roy mencoba menyadarkan Alex.
Dalam tidurnya Alex bermimpi saat dia sedang berjalan bergandengan dengan Anna, tiba-tiba gadis itu menatapnya sebentar, lalu melepaskan genggaman tangannya dari Alex.
"Maaf Alex, aku harus pergi. Aku tidak bisa terus bersama denganmu!" ujar Anna.
"Sepertinya kita memang tidak bisa hidup bersama! Aku harap kau bisa melupakanku!!" lanjut Anna dengan wajah sedihnya.
*Lalu Anna pun berjalan menjauh dari Alex.
Dalam mimpinya itu Alex berusaha untuk mengejar Anna, namun tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali. Suaranya pun tidak terdengar walaupun dia berusaha untuk berteriak sekuat tenaga*.
"Jangan.... Jangan pergi!!!" bisik Alex dalam tidurnya.
Roy yang panik pun dengan kuat berusaha kembali untuk membangunkan Alex.
"Alex!! Sadarlah!!" ujar Roy sambil mengguncangkan tubuh Alex.
"Jangan!!! Jangan pergi!!!" teriak Alex.
Lalu dengan cepat dia terbangun dan terduduk dari tidurnya. Nafasnya memburu dan keringatnya membasahi seluruh wajahnya.
"Anna!!" ujar Alex panik.
Dengan cepat Alex menatap Roy yang berada di sampingnya,
"Anna!!! Dimana dia???" teriak Alex keras sambil menarik kerah baju Roy dengan kuat.
"Dimana Anna!!!!!" teriaknya lagi.
Roy pun terlihat hanya pasrah dan menatap iba pada Alex yang terlihat frustasi di depannya.
"Dia tidak ada disini" ujar Roy pelan.
Seketika Alex pun melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Roy.
'Tidak ada???' pikir Alex bingung.
Bersambung...
Mohon maaf ya sedikit menggantung dan keterlambatan up nya 🙏🙏
__ADS_1
Dukung selalu cerita ini dengan kasih terus like dan komennya ya ☺️
Terimakasih 🙏❤️