
Para anak buah Leonard telah kembali ke dalam markas sambil membopong tubuh Anna yang tak sadarkan diri..
Atau lebih tepatnya berpura-pura tak sadarkan diri..
"Untuk sementara, kurung wanita ini di dalam sel sebelum ada perintah dari Tuan Leonard!!" perintah salah satu pria yang langsung di laksanakan.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan yang cukup gelap, seperti sebuah sel di bawah tanah.
Seorang pria yang menggendong tubuh Anna pun memasukkan gadis itu ke dalam sel dan menyandarkannya di sudut ruangan yang cukup gelap.
"Apa kita biarkan dia pingsan seperti ini???" tanya pria itu pada pria yang lain.
Salah satu pria maju dan memeriksa wajah Anna yang pucat,
"Biarkan saja! Lagipula jika dia mati pun sepertinya tidak masalah" jawabnya acuh.
Salah satu pria yang lain pun ikut menyentuh wajah Anna dan tersenyum penuh arti,
"Hey.. Bukankah dia sangat cantik??" ujarnya pada yang lain.
"Bagaimana kalau kita....." lanjutnya terputus saat pria yang lain memukul kepalanya dengan kuat.
BUGH!!!
"Jangan berani-beraninya kau berpikiran kotor seperti itu!!! Tuan Leonard bilang, gadis ini harus tetap aman untuk sekarang!!!!" ujarnya keras.
"Lagipula, apa kau mau bercinta dengan wanita yang hamil besar seperti ini???" tanyanya tak habis pikir.
Pria yang tadi di pukul pun mengangguk pasrah dan mulai menjauhi tubuh Anna.
Mereka pun berdiri dan mulai meninggalkan Anna di ruangan itu dan menguncinya dari luar.
Setelah dirasa orang-orang itu telah benar-benar pergi, Anna pun perlahan membuka matanya dan menatap ke sekitar.
Sepertinya ia telah berada di markas Leonard kembali, pikirnya.
Anna pun mencoba mengangkat tubuhnya dan berdiri dengan susah payah untuk maju ke depan.
Anna menyentuh sel di depannya dan mencoba untuk membukanya,
BRAK!!
BRAK!!
Anna mencoba membuka pintu sel itu, namun sayang pintu itu sulit untuk terbuka.
Gadis itu meraih gembok yang terkunci di pintu dan mencoba membukanya dengan paksa. Namun, lagi-lagi usahanya gagal.
"Ayolah!!" bisik Anna yang masih berusaha untuk membuka gembok itu.
Namun usahanya sia-sia..
Pintu itu tak kunjung terbuka. Anna menyandarkan kepalanya di pintu sel itu dengan frustasi. Sekarang apa yang harus dia lakukan agar bisa keluar dari sini, pikirnya.
"Ayolah Anna... Berpikir!!" ucapnya pada diri sendiri.
Saat Anna tengah memikirkan cara untuk keluar dari tempat itu, tiba-tiba saja gadis itu mendengar sebuah suara dari sudut atas tempat itu.
Tit..
Tit...
Dengan cepat Anna mengarahkan pandangannya ke atas dan melihat cahaya merah yang tiba-tiba menyala di sudut atas ruangan itu.
Anna seketika membelalakkan matanya dengan panik,
Itu.. Itu adalah kamera pengawas!!
Dengan cepat Anna pun kembali berjalan mundur ke posisi sebelumnya dan kembali terduduk sambil berpura-pura tak sadarkan diri.
Gawat!! Dia tidak boleh sampai ketahuan!! pikirnya.
Jika sampai ketahuan, maka tamat sudah riwayatnya..
Alex perlahan membuka matanya dengan susah payah.
Pria itu mendesis saat merasakan kepalanya yang terasa sangat sakit dan juga pusing.
"Akhh.." desisnya kesakitan.
Pandangannya masih terlihat sabur dan gelap. Alex mencoba menyentuh kepalanya namun, seketika pria itu mulai membuka matanya dan menyadari tangannya yang sulit untuk di gerakkan.
SREK!!
SREK!!
Alex mencoba kembali mengangkat tangannya, namun nihil, tangannya sulit untuk di gerakkan.
Pandangan pria itu pun mulai jelas, dan dengan cepat Alex pun mengarahkan pandangannya pada tangannya dan sedikit terkejut saat melihat kedua tangan dan kakinya yang terikat di atas tempat tidur.
SREK!!
Alex mencoba kembali menarik tangan dan kakinya, namun tetap tidak bisa. Tangan dan kakinya seperti diikat kuat oleh sebuah besi yang menempel di atas kasur yang di tempatinya saat ini.
SREK!!!
__ADS_1
Alex kembali mencoba melepaskan ikatan itu, namun tetap tidak berhasil.
Prok..
Prok..
Prok..
Tiba-tiba terdengar sebuah tepukan tangan dari samping tempat tidur Alex. Dengan cepat pria itu mengalihkan pandangannya dan melihat Leonard yang tengah tersenyum puas kearahnya.
Leonard pun mendekat kearah Alex dan berdiri di dekat pria itu dengan senyuman liciknya,
"Woah!! Woah!! Hahaha!! Kenapa Alex??? Apa kau tidak bisa bergerak???" tanyanya sambil meledek kearah Alex.
Alex menatap tajam pada Leonard sambil mencoba kembali melepaskan tangan dan kakinya dari tempat tidur itu.
"DASAR BAJINGAN!!!!" geram Alex tajam.
Leonard semakin tersenyum puas melihat kondisi Alex yang tak berdaya dan berjalan kearah sebuah kursi yang tak jauh dari tempat Alex lalu duduk dengan santai sambil menyilangkan kakinya.
Leonard menyeringai pelan lalu mengambil sebuah rokok yang berada di atas meja dan menyalakannya.
Pria itu meniup asap rokoknya dengan santai dan kembali menatap Alex dengan tatapan mencemooh,
"Ternyata kau masih berani melawanku walaupun kau sudah tak berdaya seperti itu.." ujar Leonard sinis.
Alex menatap tajam pada Leonard sambil masih berusaha menggerakkan tubuhnya agar terlepas dari tempat tidur itu.
Tatapan Alex mengarah pada semua kabel yang terpasang di tubuhnya. Pria itu menggertakkan giginya dengan kuat dan kembali menatap Leonard dengan tatapan tajamnya.
"Apa yang kau inginkan????" desisnya tajam pada Leonard.
"Alex... Alex... Kau masih bertanya apa yang aku inginkan??" tanyanya mencemooh.
Leonard menegakkan tubuhnya dan menyeringai tajam,
"Apa kau tidak lihat???" tanyanya menyeringai.
"Aku.. sedang membawamu ke neraka.." lanjutnya tajam.
Leonard kembali tertawa pelan dan menatap puas pada wajah Alex yang terlihat semakin tajam menatapnya.
"Oh.. Apa kau ingin melihat sesuatu???" tanyanya tiba-tiba pada Alex.
Leonard pun tertawa dan memutar kursinya untuk menghadap ke sebuah layar di depannya.
"Aku yakin.. kau pasti menyukainya.." lanjut Leonard dengan seringai liciknya.
KLIK!!
Leonard pun menekan sebuah tombol. Lalu seketika layar itu pun menyala dan memperlihatkan cctv di salah satu ruangan.
Leonard kembali menyeringai dan mengarahkan kamera itu pada seseorang yang tak sadarkan diri sambil terduduk di sudut ruangan itu.
"Kau pasti menyukainya.." ujar Leonard tersenyum puas sambil memperbesar layar itu dan memfokuskannya pada seorang gadis yang tak sadarkan diri di ruangan itu.
DEG!!!
Seketika Alex pun membelalakkan matanya dengan jantung yang berdebar kencang,
__ADS_1
'Gadis itu... Gadis itu adalah istrinya... Anna...'
"KEPARAT SIALAN!!!!!!!!!! APA YANG KAU LAKUKAN PADA ISTRIKU!!!!!!!!" teriak Alex sambil memberontak kuat seperti orang yang kesetanan.
PRANG!!
PRANG!!!
Alex terlihat menggerakkan seluruh tubuhnya untuk melepaskan diri dari ikatan di ranjang itu.
"BAJINGAN!!!!!!!! AKAN KUBUNUH KAU!!!!!!!!!!!!!!!!!!" teriaknya lagi.
Leonard semakin tertawa puas melihat Alex yang telah terpancing olehnya. Pria itu sangat menyukai pemandangan di depannya.
"Kau benar-benar menyedihkan.." ujar Leonard dengan seringainya.
Lalu pria itu seketika menekan kembali salah satu tombol sambil menatap kearah Alex,
KLIK!!!
"AAAAARRRRGGGGGGHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!" teriak Alex yang seketika merasa sekujur tubuhnya seperti di sengat oleh listrik bertekanan sangat tinggi.
Tubuh Alex bergetar kuat di atas ranjang itu sambil berteriak kesakitan.
KLIK!!
Leonard kembali menekan tombolnya dan seketika teriakan Alex pun berhenti.
Pria itu terlihat menutup matanya sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya. Pikiran Alex tiba-tiba menjadi kalut dan tubuhnya terasa kaku. Nafasnya terlihat memburu dan keringat mulai membasahi tubuh telanjangnya.
Leonard kembali tertawa puas dan mulai bangkit dari duduknya sambil berjalan menghampiri Alex,
"Bagaimana rasanya???" tanya Leonard tajam.
Alex tidak merespon pertanyaan Leonard dan terlihat tak berdaya.
Leonard kembali menyeringai dan mencengkram wajah Alex dengan kuat,
"Ini belum seberapa brengsek!!! Aku akan membunuhmu secara perlahan dan menyakitkan!!!" desisnya tajam.
Leonard pun menaruh rokok di tangannya yang masih menyala di atas perut Alex dan menekannya dengan kuat.
"Kau akan merasakan neraka yang sesungguhnya!!!!!!!!!" lanjutnya dengan tatapan penuh kebencian.
Sedangkan Alex terlihat tidak bereaksi dengan panasnya rokok Leonard di tubuhnya akibat sengatan listrik tadi yang langsung mematikan indra perasa di dalam tubuhnya.
Tetapi, walaupun tubuhnya tidak bereaksi, pikiran dan hati Alex masih tertuju pada sang istri..
Dia harus segera menolongnya, dia tidak mau sesuatu yang buruk menimpa Anna dan calon anak mereka..
'Sayang.. Bertahanlah.... sebentar lagi....' ujarnya dalam hati.
Bersambung..
Hallo, tolong di bantu like, komen, vote dan hadiahnya ya ☺️
Huhu.. sedih ni pembaca makin hari makin kurang, mungkin karena author jarang up juga 🤧
Tapi buat yang udah baca jangan lupa tinggalin jejak ya, dan kasih hadiahnya buat author walaupun recehan 🥲
Oh iya, novel kedua author yang judulnya Mysterious Man sudah up ya ☺️
Yuk bantu di ramaikan 😁🙏
__ADS_1
Terimakasih ❤️