
Seketika dari belakang Alex muncul William, Peter, Donna, Jonas dan juga Key dengan senyuman mereka.
Alex pun mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya dan menatap Anna dengan lembut,
"Anna Elizabeth Pratama... Maukah kau menikah denganku?????" ujar Alex lantang.
Anna membelalakkan matanya dan menatap Alex dengan tidak percaya. Gadis itu menggigit bibirnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Pria itu memegang sebuah cincin di dalam kotak kecil yang di genggamnya.
Alex tersenyum lembut pada Anna dan menatap gadis itu dengan intens. Jantung pria itu berdegup dengan kencang menunggu jawaban dari gadis yang sangat dicintainya itu.
Anna menatap ke arah ayahnya William yang tersenyum lembut sambil mengangguk pelan padanya. Lalu tatapannya mengarah pada Peter yang juga sedang tersenyum.
Terlihat Donna menatap Anna dengan penuh haru, jantung wanita itu juga berdegup kencang menunggu jawaban Anna. Begitu juga dengan Jonas dan Key yang menatap padanya.
Anna menghela nafasnya pelan dan menatap Alex dalam,
"Alex... Kau tau.... Aku juga bukan wanita yang sempurna. Aku memiliki banyak kekurangan.." ujar Anna pelan.
"Terkadang, aku merasa aku tidak begitu pantas berada di sampingmu.." lanjutnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Alex menatap tidak terima dengan ucapan Anna dan hendak menyangkal ucapan gadis itu. Namun dengan cepat gadis itu mengarahkan telunjuknya di bibir dan menggeleng,
"Alex... Sejak saat pertama aku bertemu denganmu, mungkin hal itu menjadi salah satu kejadian yang aku benci.." ujarnya.
"Tapi seiring berjalannya waktu... Aku merasa nyaman berada di sampingmu" lanjutnya lembut.
"Kau selalu mengerti diriku... kau selalu berusaha melindungiku, membuatku nyaman, dan membuatku merasa tenang jika berada di dekatmu"
"Dan.... Kau tau... aku juga selalu ingin berada di sampingmu.. dalam suka maupun duka...." bisiknya bergetar.
Anna menatap Alex dan menundukkan wajahnya untuk mendekat pada wajah Alex yang sedang bersimpuh di depannya. Gadis itu perlahan menyentuh pipi Alex dengan lembut. Setetes air mata pun mengalir di pipinya. Anna tersenyum pada Alex dan menatap kedua mata pria itu,
"Alexander Wijaya.... Aku bersedia... Aku bersedia menikah denganmu..." ujar Anna lembut.
Seketika Alex membelalakkan matanya dan menatap gadis itu dengan senyuman yang merekah di bibirnya. Mata pria itu berkaca-kaca saat mendengar jawaban dari Anna. Segala kerisauan di dalam benaknya seketika hilang di gantikan dengan kebahagian yang tiada tara.
Suara tepuk tangan terdengar dari keluarga yang menyaksikan kejadian romantis itu. Terlihat Donna tidak bisa menahan tangis penuh harunya. Begitu pula dengan William yang menatap putrinya dengan penuh haru.
Alex pun bangkit dan berdiri sambil terus menatap Anna dengan tatapan bahagianya. Tangan pria itu meraih tangan Anna yang berada di pipinya dan mengecupnya dalam.
"Terimakasih..." bisiknya.
Alex pun menyematkan cincin di jari manis Anna. Gadis itu menatap cincin itu dengan air mata haru di pipinya. Alex dengan lembut menghapus air mata di pipi Anna.
"Aku mencintaimu..." bisik Alex.
Lalu pria itu meraih tubuh Anna dan memeluknya dengan erat. Anna pun menenggelamkan wajahnya pada dada Alex dan membalas pelukan pria itu.
Perlahan William, Peter, Donna, Jonas dan Key pun menghampiri mereka dengan wajah bahagia.
"Selamat Alex..." ujar Jonas bangga.
Alex pun melepaskan pelukannya dari Anna dan menyambut uluran tangan Jonas,
"Terimakasih paman" ujarnya.
Donna yang masih menangis memeluk tubuh Alex dengan tersedu,
"Tidak ku sangka keponakanku yang dingin ini adalah pria yang sangat romantis hiks..." ujarnya.
Alex hanya tersenyum kecil dan membalas pelukan Donna,
__ADS_1
"Terimakasih bantuannya Bibi" ujar Alex.
Donna pun melepaskan pelukannya dan mengangguk pelan. Dia pun menghampiri Anna dan memeluknya erat,
"Selamat sayang... Aku sangat senang sekali" ujar Donna.
Anna membalas pelukan Donna dan tersenyum lembut,
"Terimakasih Bibi" ujarnya.
Lalu Key pun mengulurkan tangannya pada Alex dengan ragu,
"Selamat Kak Alex" ujarnya ragu.
Alex terdiam sejenak, lalu meraih uluran tangan Key,
"Terimakasih" ujar Alex tulus.
William pun menghampiri Alex sambil mendorong kursi roda milik Peter. Pria itu menepuk pundak Alex dengan wajah tegasnya,
"Selamat" ujarnya singkat.
Alex pun menatap William dan mengangguk pelan,
"Terimakasih... Ayah mertua" ujarnya yang membuat William tersenyum tipis.
William pun menghampiri Anna yang sedang menatapnya dengan air mata yang tertahan. Pria itu tersenyum lembut dan membuka kedua tangannya untuk menyambut pelukan Anna.
Dengan cepat Anna pun memeluk tubuh William dengan erat,
"Sebentar lagi putriku akan menjadi istri orang lain... Selamat sayang" ujar William menahan air matanya.
"Terimakasih ayah..." ujarnya.
Alex menatap pemandangan itu dan tersenyum lembut. Lalu pandangannya beralih pada Peter yang berada di depannya. Pria tua itu menatap Alex dengan senyumnya,
"Ku ucapkan selamat untukmu" ujar Peter pelan.
Alex pun terdiam dan mengulurkan tangannya pada Peter,
"Terimakasih... Kakek... Kau yang paling berjasa atas semua ini" ujar Alex datar, namun terlihat ketulusan dari matanya.
Peter sedikit terkejut mendengar ucapan cucunya itu. Dengan perlahan dia pun menyambut uluran tangan Alex dan tersenyum bahagia,
"Aku memang harus melakukannya" ujarnya penuh haru.
Peter pun menghampiri Anna dan tersenyum padanya,
"Ku ucapkan selamat untukmu juga" ujarnya.
Anna pun berlutut dan mengambil tangan Peter,
"Terimakasih kakek... Aku sangat senang kau berada disini" ujar Anna tersenyum tulus.
Peter menatap Anna dan membalas senyuman gadis itu,
"Aku juga berterimakasih padamu.. Kau telah mengubah pikiranku" ujarnya tersenyum.
Setelah itu mereka semua pun berkumpul di satu meja untuk merayakan hari lamaran yang sukses hari ini. Terlihat beberapa pelayan telah menyiapkan makanan yang begitu banyak di atas meja. Mereka pun duduk di kursinya masing-masing dan menikmati makanannya disertai obrolan-obrolan ringan.
Sejak tadi Alex tidak pernah melepaskan senyumnya dari Anna yang berada di sebelahnya. Pria itu terlihat sangat bahagia dan selalu menggenggam erat tangan calon istrinya itu.
__ADS_1
Donna yang memperhatikan hal itu hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah Alex,
"Ekhem.. Baiklah, bagaimana kalau kita tentukan tanggal pernikahan sekarang??" usul Donna.
Yang lain pun terlihat mengangguk setuju. Donna menatap Alex dan menyeringai padanya,
"Jadi... Alex, kau ingin tanggal berapa??" tanyanya.
Alex pun menatap Donna dan melihat senyuman menggoda yang ada di wajah Bibinya itu. Alex pun berdehem sebentar dan menatap Donna dengan serius,
"3 hari dari sekarang" ujar Alex tegas.
"Ukhuk!! Ukhuk!!"
Seketika Anna terbatuk saat mendengar ucapan Alex. Alex yang khawatir pun dengan segera mengambil air dan mengusap punggung Anna,
"Kau tidak apa-apa???" tanya Alex cemas.
Anna pun meraih gelas itu dan meminumnya. Lalu setelah itu, Anna menatap Alex tidak percaya,
"Apa maksudmu?? 3 hari lagi???" tanya Anna.
Alex pun menatap Anna dan mengangguk yakin,
"Iya sayang, pernikahan kita akan berlangsung 3 hari lagi" ujarnya yakin.
Donna pun tersenyum senang dan menatap yang lain,
"Aku setuju... 3 hari lagi!!! Aku bisa mengatur segalanya. Bagaimana dengan yang lain, apa ada yang keberatan??" tanya Donna.
Yang lain terlihat menggeleng dan menyetujui ucapan Donna,
"Lebih cepat lebih baik" ujar Jonas sambil berkedip pada Alex.
Anna pun menatap tidak percaya pada mereka semua. 3 hari??? Itu terlalu cepat, pikir Anna. Gadis itu bahkan masih gugup karena lamaran hari ini, di tambah pernikahannya yang hanya tinggal hitungan hari.
Bukannya tidak senang, tetapi Anna merasa butuh waktu setidaknya untuk bersiap. Anna pun menatap William yang berada di sebelahnya. Pria itu terlihat mengangguk dan mengusap tangan Anna untuk menenangkannya.
"Tidak apa..." ujarnya lembut.
Anna pun menghela nafasnya dan mengangguk pelan. Baiklah sepertinya semua tidak ada yang keberatan kecuali dirinya.
Tiba-tiba tangan Alex meraih tangannya dan menatapnya dengan lembut. Anna pun menghela nafasnya dan sedikit demi sedikit keraguannya memudar saat pria itu menatap dirinya. Baiklah, mungkin 3 hari adalah waktu yang cukup, pikirnya.
-
Hari sudah gelap, saat ini keluarga Alex dan Anna sedang berada di apartemen milik keluarga Wijaya di Paris.
Anna sedang duduk bersama William di atas balkon. Dia menatap pria itu dengan banyak pertanyaan di dalam benaknya. William yang sadar dengan tatapan Anna pun tersenyum padanya,
"Sepertinya kau butuh penjelasan bukan???" tanya William.
Anna pun menatap William dengan ragu,
"Ayah... bagaimana bisa ayah dan kakek Alex terlihat akur seperti sekarang?? Apa yang terjadi??" tanya Anna.
Bersambung...
Halo, dukung selalu cerita ini, jangan lupa kasih like, komen, vote dan hadiahnya 🙏
Terimakasih ❤️
__ADS_1