
Daniel melangkahkan kakinya mendekati dokter yang sedang memeriksa kondisi Anna. Setelah dokter selesai memeriksa, dokter itu pun mengangguk dan tersenyum pada Daniel.
"Bagaimana kondisinya dokter??" tanya Daniel.
Dokter itu pun membalikkan tubuhnya menatap Daniel,
"Kesehatannya mulai membaik, hanya saja tekanan darahnya masih cukup rendah. Nona ini harus masih banyak beristirahat dan makan makanan yang bergizi. Aku akan meresepkan beberapa obat dan juga obat penambah darah serta vitamin" ujar dokter itu.
Daniel pun mengangguk dan tersenyum pada dokter itu,
"Syukurlah... Terimakasih" ujar Daniel.
Dokter itu pun menepuk pundak Daniel,
"Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu" ujarnya, lalu berlalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Daniel pun menghampiri Anna di tempat tidurnya. Gadis itu terlihat melamun dengan matanya yang sedikit sembab. Dia pun menghela nafasnya dan berdiri di samping tempat tidur,
"Kau merasa lebih baik???" tanya Daniel tiba-tiba.
Anna menatap Daniel sekilas lalu mengangguk pelan. Daniel pun menarik kursi di samping tempat tidur dan duduk.
Mereka pun saling terdiam beberapa saat,
"Anna.... Bolehkah aku bertanya sesuatu??" ujar Daniel tiba-tiba.
Anna pun menatap pria itu sejenak lalu mengangguk pelan.
"Jika.. Seandainya kau tidak pernah bertemu dengan pria itu... Apakah kau akan membuka hatimu untukku??" tanya Daniel penuh harap.
Anna mengalihkan pandangannya dari Daniel, lalu menghela nafasnya pelan.
"Sejak kecil aku adalah anak yang kesepian, bahkan aku tidak mempunyai teman satu pun. Lalu... Tiba-tiba seorang anak laki-laki datang dengan wajah cerianya... Dia selalu mendekatiku dan mencoba berteman denganku. Namun, aku belum mau terbuka dan dekat dengannya... Tapi, anak itu tidak pernah menyerah dan selalu datang hampir setiap hari untuk bertemu denganku. Sampai aku merasa tidak kesepian lagi dan mulai membuka diri padanya. Anak itu membuat hariku lebih berwarna dan ceria. Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengannya, teman pertamaku.. Aku selalu menganggapnya sebagai seorang sahabat, seorang kakak, dan seorang pelindung untukku.." ujarnya lalu terdiam sejenak.
"Dan selamanya akan tetap seperti itu, tidak akan pernah berubah..." ujar Anna menegaskan.
Daniel merasakan hatinya seperti terbelah menjadi dua dan hancur berkeping-keping. Dia pun menunduk sejenak, lalu mengangkat kembali wajahnya menatap Anna dengan senyum yang dia paksakan,
"Jadi... Sekeras apapun aku mencoba, kau tetap akan menganggapku sebagai seorang sahabat..." ujarnya pelan.
Anna pun menatap mata Daniel yang terlihat sedih dan kecewa. Namun, dia tidak bisa membiarkan pria itu terus berharap padanya.
"Daniel... Kau adalah teman terbaikku, teman yang selalu mengerti aku, teman yang selalu berkorban untukku.. Aku tidak ingin kehilangan sosok teman sepertimu" ujar Anna menatap Daniel dalam.
"Aku menyayangimu Daniel... sebagai teman" lanjutnya.
__ADS_1
Daniel pun tersenyum miris dan menganggukkan kepalanya. Anna perlahan mengangkat tubuhnya dan duduk menghadap pria itu yang sedang tertunduk sedih.
Anna pun mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Daniel, membuat pria itu seketika menatap wajah Anna,
"Jadi.... Maukah kau tetap menjadi sahabatku??" tanya Anna penuh harap.
Daniel menatap tangan Anna dan terdiam sejenak. Lalu dengan berat hati dia mengangkat tangannya dan menautkan jari kelingkingnya pada gadis itu sambil mengangguk pelan,
Senyuman pun terpancar di wajah Anna, dan dengan pelan gadis itu mengayunkan jari mereka yang sedang bertautan.
"Terimakasih..." ujar Anna tulus.
Daniel pun perlahan tersenyum sambil menatap wajah Anna yang tersenyum senang. Mungkin ini yang bisa dia lakukan untuk membuat gadis itu bahagia, pikir Daniel. Walaupun hatinya terluka, tetapi Daniel akan mencoba untuk kuat dan tegar.
Setidaknya dia masih bisa menemani gadis ini dan selalu berada di sampingnya. Daniel hanya berharap semoga ada keajaiban yang dapat membuat hati Anna terbuka untuknya. Namun, jika memang ini yang terbaik, dia rela menerimanya asalkan gadis ini bahagia...
-
Seorang pria tengah membawa kopi hangat di tangannya. Dia berjalan perlahan menuju ruang kerjanya. Setelah masuk dia pun duduk dan meneguk kopi hangat itu dengan pelan.
"Hahhh.... Kopi hangat di pagi hari memang sangat nikmat" ujarnya senang.
Pria itu pun mengambil kaca mata di atas meja dan mulai memakainya. Perlahan dia membuka laptopnya dan mulai fokus dengan pekerjaannya.
Dia harus memeriksa beberapa laporan dan mengoreksinya. Walaupun pekerjaan itu sangat membosankan, tetapi dia mau tidak mau harus melakukannya.
Tiba-tiba sebuah ketukan pintu membuat pandangannya teralih dari layar di depannya. Pria itu menghela nafas dan kembali menatap layar laptop di depannya,
"Masuk" ujarnya malas.
Seorang pelayan membuka pintu dan membungkukkan badannya,
"Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda di bawah" ujarnya melapor.
Pria itu mengernyitkan keningnya dan menatap tidak suka mendengar ucapan pelayan itu. Siapa yang ingin bertemu dengannya pagi-pagi buta seperti ini?? pikirnya kesal.
"Mengganggu saja!! Katakan padanya aku tidak ingin bertemu dengan siapapun!!" ujarnya kesal.
Pelayan itu pun terdiam dan menunduk sedikit takut,
"Tapi Tuan....." ujarnya ragu.
BRAK!!!
Pria itu pun menggebrak mejanya dan melepas kacamatanya dengan kasar,
__ADS_1
"Sial!!! Siapa dia!!! Benar-benar telah membuat pagi indah ku terganggu!!!" gerutunya,
Sambil berjalan kearah pintu dan melewati pelayan itu untuk turun ke lantai bawah melihat siapa orang yang ingin bertemu dengannya pagi-pagi buta seperti ini.
Dia pun berjalan turun ke lantai bawah sambil terus mengomel tidak jelas,
"Dasar tidak tau diri!!! Beraninya seseorang mengganggu pagi ku!! Lihat saja aku akan....." ujarnya terpotong saat melihat seorang pria tengah duduk di sofa dan terlihat berantakan.
"A.... Alex!!!!!!!! Apa yang terjadi?????" teriaknya cemas.
Dengan cepat dia melangkah menghampiri Alex yang terlihat menyandarkan tubuhnya di atas sofa.
"Apa yang terjadi denganmu???? Kenapa kau berantakan seperti ini????" tanyanya.
Alex terlihat terkulai lemas sambil menutup matanya,
"Roy, bisakah kau tidak berisik!!!!" gerutunya.
Roy pun duduk menghampiri Alex dan melihat kedua borgol yang tergantung di pergelangan tangan pria itu dan bajunya yang kotor.
"Bagaimana aku tidak berisik!!! Aku sedang mencemaskanmu!!!!" omel nya.
"Pelayan!!!! Berikan dia air minum sekarang!! Ayo cepat!!!" ujar Roy cerewet.
Pelayan itu pun mengangguk dan melangkah cepat ke arah dapur untuk membawakan segelas air.
"Ya ampun!!! Selama hidupku, aku belum pernah melihat seorang Alexander Wijaya se kacau ini.." ujar Roy prihatin.
"Kenapa tanganmu di borgol seperti ini??? Apakah kau di tangkap oleh polisi dan kabur??? Lalu bukankah seharusnya kau berada di Jepang??? Kapan kau kembali???" tanya Roy bertubi-tubi.
Alex menutup matanya rapat mendengar kecerewetan temannya itu yang membuat kepalanya terasa semakin sakit.
"Bisakah kau diam!!! Kau membuat kepalaku semakin sakit!!!" ujar Alex tajam.
Roy pun menghela nafasnya dan mengelus dadanya perlahan. Memang harus memiliki kesabaran yang ekstra untuk berbicara dengan manusia keras kepala di depannya ini.
"Baiklah... Baiklah... Kau berhutang penjelasan padaku!!!" ujar Roy pasrah.
Bersambung...
Cukup singkat episode kali ini, ngak papa ya 😁
Kemarin udah panjang 🤣🤣
Yang penting bisa update..
__ADS_1
Jangan lupa kasih like dan komennya ya 🤗
Terimakasih 🙏❤️