Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Cinta Yang Menghancurkan Persahabatan


__ADS_3

"Baiklah... Kurasa rapat hari ini cukup sampai disini" ujar Alex.


Para rekan bisnisnya pun mulai berdiri dari duduknya dan saling membungkuk lalu membubarkan diri.


Sebelum keluar dari ruangan, mereka menghampiri Alex dan bersalaman dengannya,


"Syukurlah anda sudah sehat kembali Tuan. Aku juga turut prihatin atas kejadian yang menimpa anda beberapa waktu lalu" ujar salah satu rekan bisnisnya.


Alex tersenyum tipis dan mengangguk pelan,


"Iya, terimakasih.." ujar Alex.


Alex pun dan beberapa rekan bisnisnya masih mengobrol ringan. Namun tiba-tiba Harry masuk ke dalam ruangan dengan wajah cemasnya.


Pria itu membungkukkan badannya pada Alex dan rekan kerjanya. Harry mendekati Alex dan berbisik pelan padanya,


"Tuan, Nona Anna..." ujarnya mencoba untuk tidak membuat Alex panik.


Namun seketika Alex mengernyitkan keningnya dan menatap Harry dengan tidak sabaran. 'Ada apa dengan istrinya?? pikir Alex'


Pria itu pun permisi pada rekan kerjanya untuk sedikit menjauh dan berbicara dengan Harry,


"Ada apa dengan istriku????" tanya Alex cepat.


Harry menghela nafasnya dan menatap Alex serius,


"Tadi Bibi Van menghubungiku karena Tuan tidak mengangkat panggilannya. Bibi Van bilang.. Nona Anna pingsan saat mereka berbelanja. Dan... sekarang Nona Anna berada di rumah sakit" ujar Harry.


DEG!!!


Seketika Alex membelalakkan matanya dan jantungnya pun berdegup dengan kencang,


"APA????" ujar Alex cukup keras, membuat beberapa rekan kerja yang masih berada di ruangan itu menatap kearahnya.


Dengan cepat Alex membalikkan tubuhnya dan berlari keluar ruangan. Harry yang terkejut melihat reaksi Alex seketika berpamitan pada orang-orang yang masih berada di ruangan itu dan mengatakan bahwa Tuan nya mempunyai urusan mendadak dan harus segera pergi.


Harry berlari mengikuti Alex yang sudah berada di ruangannya. Pria itu mengambil handphone nya dan melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari nomor Bibi Van.


Sial!!! Mengapa dirinya bisa lupa tidak membawa handphonenya tadi, kesalnya dalam hati.


Alex mencoba kembali menghubungi Bibi Van,


Tut...


("Hallo Tuan") ujar Bibi Van di balik sana.


Alex mencoba menenangkan dirinya dan menghembuskan nafasnya pelan,


"Bibi Apa yang terjadi dengan Anna??? Kenapa dia, bisa pingsan?? Sekarang Bibi ada di rumah sakit mana???" tanya Alex tidak sabaran.


Pria itu terlihat sangat cemas dan panik,


("Maaf Tuan, aku tidak tau, saat kami berbelanja tadi tiba-tiba Nona terlihat pucat dan kelelahan, lalu setelah itu Nona tidak sadarkan diri") terang Bibi Van sedih.


Alex menyentuh keningnya, dan dengan cepat meraih kunci mobilnya yang berada di atas meja,


"Kirimkan aku alamat rumah sakitnya!!! Aku akan kesana sekarang!!!!" ujar Alex cepat.


Pria itu pun mematikan panggilannya dan dengan segera melangkah keluar.


Harry mencoba mengejar Alex dan berusaha menenangkannya, namun Tuan nya itu telah lebih dulu masuk ke dalam lift dengan cepat.


Harry berhenti di depan lift dengan nafas yang memburu. Dia tidak bisa menyusul pria itu.

__ADS_1


Semoga saja Tuan nya itu bisa tenang dan tidak ugal-ugalan di jalanan, harap Harry di dalam hatinya.


Dan seperti yang sudah di pikirkan Harry, Alex dengan cepat menaiki mobilnya dan melaju dengan sangat cepat. Suara klakson dari mobil lain mulai terdengar saat mobil Alex menyelip mobil-mobil itu dengan sangat brutal.


Untungnya Alex adalah pengemudi yang handal. Jadi pria itu tidak sampai menabrak mobil-mobil yang lainnya.


'Sayang... Tunggu aku...' ujar Alex dalam hatinya. Sekarang yang ada di dalam pikirannya hanya ada Anna. Persetan dengan mobil-mobil lain yang berada di jalanan. Yang jelas dia ingin segera bertemu dengan istri tercintanya itu.


-


-


Seorang wanita dengan perlahan membuka matanya. Dia mengerjapkan matanya dan mencoba menyesuaikan pandangannya.


Anna menatap langit-langit yang berada di atasnya. Gadis itu merasa kepalanya masih sedikit sakit dan pusing.


"Apa yang harus aku lakukan, Anna...." bisik seseorang dengan suara yang bergetar.


Dengan cepat Anna mengarahkan pandangannya ke samping dan melihat seorang pria yang sedang menunduk dengan bahu yang bergetar sambil menyandarkan kepalanya di tangan gadis itu.


Anna mengernyitkan keningnya dan menatap ke sekitar. Dimana ini??? pikirnya.


"A... Alex...." bisik Anna pelan.


Dengan cepat Daniel mengangkat kepalanya dan menatap gadis yang dicintainya itu telah siuman.


"Anna!!!" ujar Daniel senang.


Seketika Anna membelalakkan matanya karena terkejut melihat Daniel yang berada di hadapannya,


"Ka.. Kau....." bisik Anna.


Daniel berdiri dari duduknya dan mengusap rambut Anna dengan lembut,


Dengan refleks Anna memalingkan wajahnya saat pria itu menyentuh rambutnya. Daniel yang sadar bahwa Anna menghindari sentuhannya, seketika terdiam dengan wajah sedihnya,


"Maaf...." bisik Daniel.


Pria itu pun menarik tangannya dan menunduk pelan. Anna masih enggan untuk menatap Daniel dan tidak bersuara apa-apa.


Daniel mengangkat wajahnya dan menatap Anna dengan sedih,


"Aku tau... Perbuatan ku waktu itu sudah sangat mengecewakanmu... Aku minta maaf..." ujarnya pelan.


Anna masih tidak bergeming dan masih enggan untuk menatap wajah Daniel. Daniel tersenyum miris dan mencoba menahan air matanya,


"Aku tau apa yang telah aku lakukan saat itu salah.. Aku terlalu bodoh karena mengikuti egoku dan mencoba membuat hubunganmu dan suamimu retak..." ujarnya.


"Aku pikir... Jika aku melakukannya, maka aku bisa mendapatkanmu.. Tapi... Nyatanya aku malah membuatmu semakin menjauh dan semakin membenciku.." lanjutnya.


Daniel menatap punggung Anna dengan sedih,


"Anna.... Apakah kau tau... Sejak dulu, aku selalu berharap bisa terus hidup bersamamu... Tapi, saat orang tua ku membawa ku ke luar negri, aku merasa sangat sedih.."


Daniel terdiam sesaat dan mengingat kembali masa lalu,


"Namun.. Di dalam hatiku, aku bertekad akan kembali menemuimu setelah aku menjadi orang yang sukses dan mapan... Saat itulah aku akan melamarmu dan memenuhi janjiku dulu pada ayahmu.." lanjutnya.


Daniel kembali menunduk dan tersenyum miris,


"Tapi.... Sayangnya.. Aku tidak pernah bisa mewujudkan janjiku itu..."


"Saat aku mendengar kau mencintai pria lain dan akan menikah dengannya.. Aku merasa hancur dan merasa tidak ada lagi tujuan untuk hidup..." lanjut Daniel sedih.

__ADS_1


Anna mendengarkan ucapan Daniel sambil menggigit bibirnya, gadis itu mencoba untuk menahan air matanya.


"Aku seperti kehilangan arah... Aku tidak tau apa lagi yang harus aku lakukan untuk melanjutkan hidup... Karena tujuan hidupku adalah kau...." ujar Daniel dalam.


Daniel kembali terdiam dan mengangkat wajahnya keatas untuk menahan air matanya. Pria itu menghela nafasnya dalam dan kembali menatap punggung Anna sambil tersenyum miris,


"Anna... Mungkin, hidupku tidak akan lama lagi..." bisik Daniel.


"Dokter bilang... Ginjalku bermasalah, begitu juga dengan paru-paruku" lanjutnya.


Seketika Anna pun membelalakkan matanya terkejut, namun masih enggan menatap wajah Daniel,


"Sebelum aku mati... Aku ingin meminta maaf padamu... Aku tidak tau sampai kapan aku masih bisa melihatmu.. Kuharap, setelah aku mati nanti, kau akan bisa memaafkanku..." ujar Daniel dalam.


Setetes air mata pun menetes di pipi Anna. Gadis itu menggigit bibirnya kuat agar tidak menangis sesenggukan.


Pria itu...


Sahabat kecilnya itu...


Seketika segala kenangan mereka dulu berputar di dalam kepala Anna.


Pria itu... Selalu ada untuknya, selalu melindunginya seperti seorang kakak. Dan walaupun pria itu di luar negri dulu, Daniel selalu mengirimkan email untuknya dan menanyakan kabarnya.


Daniel... Sahabat terbaiknya.. Sahabat kecilnya..


Mengapa harus terjadi hal seperti ini di antara mereka??? pikir Anna sedih.


Daniel menghapus air matanya dan tersenyum tipis menatap punggung Anna,


"Baiklah.. Aku tidak akan mengganggumu lagi.. Setelah ini... Dan mungkin untuk selamanya...." ujarnya sedih.


Daniel pun menghela nafasnya dan membalikkan tubuhnya untuk meninggalkan ruangan itu. Pria itu melangkah kearah pintu dengan hati yang hancur.


Anna masih terdiam di posisinya dengan air mata yang berlinang,


'Apakah semuanya harus berakhir seperti ini???' pikir Anna sedih.


Daniel meraih ganggang pintu dan hendak membukanya. Namun dengan cepat Anna membalikkan tubuhnya dan menatap punggung Daniel.


Gadis itu hendak memanggil Daniel namun tiba-tiba seseorang menerobos masuk dengan cepat dan memukul kuat wajah Daniel sampai pria itu tersungkur ke atas lantai,


BUGH!!!!


"BAJINGAN!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!"


Bersambung...


Halo, keep support this story ya,


Jangan lupa kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya ☺️


Terimakasih..


Oh iya, buat yang mau bantu promo novel ini, boleh kok..


Dengan catatan kasih link dan sinopsis nya aja ya..


Jangan di post per episode, karena itu akan merugikan author dan bisa memicu orang-orang melakukan plagiat..


Mohon di bantu ya, cukup share link aja 🙏


Dan suruh pada baca di aplikasi ini BUKAN di Facebook atau yang lainnya ya ☺️

__ADS_1


Terimakasih ❤️


__ADS_2