
Sebuah mobil masuk ke dalam pekarangan rumah yang luas. Seorang pengawal dengan sigap segera menghampiri mobil itu dan membukakan pintu.
Alex keluar dari dalam mobil dengan wajah dinginnya. Hari sudah hampir gelap. Setelah urusannya selesai dengan Leonard, Alex menyerahkan semua kontrak dan berkas-berkas kerjasama mereka pada Harry, dan membiarkan pria itu mengurus segalanya.
Harry cukup terkejut dengan rencana Alex untuk bekerjasama dengan Leonard. Namun pria itu tidak berani berkata apapun, Harry yakin Alex pasti memiliki tujuan yang lain untuk bekerjasama dengan perusahaan Leonard.
Alex memasuki rumah dan berpapasan dengan Bibi Van yang sedang membersihkan ruang tamu. Bibi Van dengan segera membungkuk dan menyapa Alex,
"Selamat malam Tuan" sambutnya.
Alex mengangguk pelan kearah Bibi Van,
"Selamat malam Bibi" balasnya.
Alex lalu mengarahkan pandangannya kearah ruang tamu,
"Dimana Anna??" tanyanya.
Bibi Van juga menatap kearah ruang tamu dan tersenyum,
"Nona Anna sedang berada di ruang makan bersama Nona Erika. Mereka sedang menyiapkan makanan untuk makan malam" jawabnya.
Alex terdiam sejenak dan mengangguk pelan,
"Kalau begitu, aku masuk dulu" ujarnya.
Alex pun melangkah masuk dan berjalan kearah ruang makan. Pria itu menatap istrinya yang tengah sibuk menyiapkan makanan di atas meja bersama Erika. Mereka berdua terlihat saling mengobrol dan tertawa pelan.
Alex menatap pemandangan itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Pria itu pun menghela nafasnya dan mulai berjalan kearah meja makan.
Erika melihat kedatangan Alex dan tersenyum kearahnya. Anna pun mengikuti arah pandang Erika dan tersenyum pada Alex,
"Kau sudah pulang??" tanya Anna.
Alex seketika tersenyum lembut dan menghampiri sang istri. Pria itu mengangguk pelan dan memeluk tubuh Anna sambil mengecup keningnya,
"Maaf, aku pulang terlambat" ujarnya lembut.
Anna membalas pelukan Alex dan tersenyum lembut,
"Tidak apa-apa, aku mengerti" ucapnya pelan.
Erika yang melihat pemandangan di depannya itu langsung membuang wajahnya dan berpura-pura fokus kembali meletakkan makanan di atas meja. Entah mengapa hatinya merasa sesak melihat pemandangan itu.
Erika menggelengkan kepalanya dan mencoba membuang jauh-jauh segala perasaan yang mengganggunya itu,
"Bagaimana pertemuanmu hari ini??" tanyanya Anna.
Alex mengusap pelan rambut Anna dan kembali tersenyum,
"Semuanya berjalan lancar" jawabnya.
Anna kembali mengangguk dan melepaskan pelukannya,
"Kalau begitu, ayo bersihkan diri dulu, setelah itu kita makan malam bersama.. Hari ini aku memasak makanan kesukaanmu, dan.. Erika juga membantuku" ujar Anna sambil tersenyum kearah Erika.
Erika yang merasa namanya disebut pun seketika mengarahkan pandangannya kearah Alex dan Anna sambil tersenyum pelan,
"Aku hanya membantu sedikit.." ujarnya merendah.
Alex menatap Erika sekilas dan mengangguk pelan,
"Kalau begitu, aku akan membersihkan diri dulu.." ujarnya terputus.
Dan Alex pun mendekatkan wajahnya pada Anna lalu berbisik padanya,
"Bisakah.. Istriku ini membantuku" bisiknya penuh arti.
Anna pun seketika terlihat tersipu malu dan menatap sang suami,
"Hmm.. Maaf Erika, aku akan keatas dulu sebentar" ujarnya pada Erika.
Erika pun menatap Anna dan tersenyum,
"Oh, silahkan.." ujarnya sambil tersenyum.
Setelah itu Alex pun menggenggam tangan Anna dan menuntunnya untuk naik ke lantai atas bersama. Erika membuang wajahnya dan seketika senyumannya pun menghilang.
Wanita itu duduk di kursi dan menghela nafasnya sambil menyentuh kening,
"Cukup Erika!! Tujuanmu kemari untuk memata-matai rumah ini. Jangan buat tujuanmu terganggu dengan hal-hal yang tidak penting!!" bisiknya pada diri sendiri.
__ADS_1
Erika pun kembali membuang nafasnya dan mulai merapihkan kembali piring-piring yang berada di atas meja.
Jam menunjukkan pukul 12 malam. Erika terlihat gelisah di atas tempat tidurnya.
Setelah makan malam tadi, Erika telah mengabari Leonard tentang dirinya yang diajak berkeliling oleh Anna tadi sore, walaupun hanya di lantai satu dan taman saja.
Erika juga memberitahu Leonard bahwa rumah Alex di kelilingi oleh hutan yang cukup luas dan lebat dengan hewan buas di dalamnya.
Erika baru mengetahui dari Anna bahwa hutan di sekeliling rumah Alex ini diisi oleh hewan-hewan buas. Dia pikir ini hanya hutan biasa, tetapi ternyata di dalamnya terdapat banyak hewan buas.
Saat di telepon tadi juga Leonard memberitahu Erika bahwa Alex mengunjunginya di kantor tadi sore dan berencana untuk bekerjasama dengannya.
Kabar itu cukup mengejutkan bagi Erika karena setahunya Alex sejak dulu tidak pernah ingin bekerjasama dengan Leonard. Dan, Erika mulai cukup gelisah, karena dirinya takut Alex telah mencurigai rencananya dan Leonard.
Drrtt...
Suara pesan masuk terdengar dari handphone Erika. Wanita itu mengambil handphonenya dan membuka pesan yang ternyata dari Leonard,
/*Jika ada kesempatan, pergilah secara diam-diam ke lantai atas untuk mencari tau informasi tentang apa saja yang berada disana*/
Erika seketika menghela nafasnya dengan kasar. Wanita itu memijit keningnya dengan pelan. Bagaimana mungkin dirinya bisa ke lantai atas secara diam-diam?? pikirnya. Tentu saja dia akan ketahuan karena di setiap sudut rumah ini dipasang kamera pengawas.
"Sekarang bagaimana caranya aku bisa ke lantai atas??" ujarnya dengan cemas.
Erika pun bangkit dari tempat tidur dan mulai melangkah menghampiri pintu. Wanita itu membuka pintu dengan pelan dan mengintip keluar dengan hati-hati.
Di luar lampu terlihat sudah dipadamkan beberapa, membuat suasana terlihat redup dan hening. Erika melangkah keluar sambil mengarahkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Wanita itu berjalan dengan langkah yang gemetar.
Erika terus berjalan dan memperhatikan kamera pengawas yang menyala di sudut ruangan. Jantung wanita itu semakin berdegup kencang. Erika pun memutuskan untuk berpura-pura melangkah ke arah dapur untuk mengambil air minum.
Saat berada di dapur, Erika mengambil gelas dan mengisinya dengan air. Wanita itu dengan perlahan meminum airnya. Mata Erika diam-diam menelisik ke arah kamera pengawas yang berada di dapur.
Erika meneguk habis air minumnya dan terlihat frustasi. Sepertinya dia tidak bisa melakukan ini, pikirnya takut.
Erika pun kembali menyimpan gelasnya dan hendak berjalan kembali ke kamar.
Saat Erika keluar dari dapur, seketika wanita itu terkejut saat melihat Alex yang tengah turun dari lantai atas.
Erika dengan panik bersembunyi di balik tembok dengan jantung yang berdegup kencang. Wanita itu bersembunyi untuk beberapa saat.
__ADS_1
Erika perlahan mencoba mengintip di balik tembok yang tidak jauh dari dapur. Wanita itu melihat Alex yang sedang membuat segelas susu.
'Apakah Alex membuat susu untuk dirinya?' pikir Erika.
Wanita itu seketika terpesona dengan wajah Alex yang terlihat serius dan telaten membuat susu. Erika menelisik setiap lekuk wajah pria itu dan turun kearah tubuh Alex yang sedang memakai kaos putih polos. Tubuh kekarnya terlihat jelas dari balik kaos itu.
Erika kembali sadar dari keterpesonaannya saat Alex telah selesai membuat susu dan membawanya keluar dari dapur. Wanita itu dengan segera kembali bersembunyi di balik tembok.
Setelah dirasa Alex telah berjalan kembali ke lantai atas, Erika pun kembali mengintip dan melihat tubuh Alex yang mulai menghilang.
'Pasti pria itu membuatkan susu untuk istrinya' pikirnya lagi.
Tiba-tiba Erika merasa cemburu dan iri pada Anna..
Sebenarnya.. Sejak pertama bertemu dengan Alex, Erika sudah menyimpan perasaan pada pria itu. Tapi sayangnya Alex tidak pernah menatapnya sedikitpun.
Berbagai cara pernah Erika lakukan untuk mendapat sedikit perhatian dari Alex, tetapi... hasilnya nol.
Dulu dia pernah berharap bahwa ayahnya akan menjodohkannya dengan Alex. Namun, sebelum itu semua terlaksana, Alex telah lebih dulu menolaknya secara terang-terangan.
Saat itu Erika merasa patah hati untuk pertama kalinya. Dia selalu berharap suatu hari nanti perasaan Alex akan berubah padanya.
Namun, takdir berkata lain..
Kematian ayahnya membuat Erika merasa kecewa dan dendam pada Alex. Perasaannya pada Alex dia kubur jauh-jauh di dalam hatinya.
Tetapi..
Sepertinya takdir sekarang kembali mempermainkannya..
Mengapa..
Mengapa sekarang perasaannya kembali mulai tumbuh seperti dulu???
Padahal sudah jelas-jelas pria itu telah membunuh ayahnya!!
Seharusnya dia merasa muak dan benci pada pria itu.
Tapi.. entah mengapa, hatinya tidak bisa benar-benar membenci pria itu..
Perasaannya..
Perasaannya masih sama seperti dulu..
Bersambung...
Halo, support selalu cerita ini ya,
Jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️
__ADS_1
Yuk, bikin author semangat lagi nulis dengan tinggalkan jejak di kolom komentar 🙏😁