Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Me And You


__ADS_3

"Baiklah kalau begitu, ayo aku antar kalian ke kamar.... Oh iya, Key.. Apakah kau ingin ikut???" tanya Donna pada Key.


Key pun tersadar dari lamunannya lalu menggeleng pelan,


"Tidak, aku harus mengerjakan sesuatu" ujar Key pelan.


Donna pun mengangguk mengerti dan mulai berjalan ke lantai atas diikuti oleh Alex dan Anna.


Anna tersenyum pada Key dan berlalu pergi. Sedangkan gadis itu kembali membalas senyuman Anna dengan terpaksa sambil mengepalkan tangannya kuat.


Gadis itu memang cantik, pikir Key. Tetapi tubuh Key lebih terlihat sexy dan berisi di bandingkan gadis tadi, pikirnya lagi.


Seorang pria tidak mungkin menolak tubuh seorang wanita. Mungkin dia masih bisa bersaing dengan wanita tadi untuk merebut hati Alex. Key pun tersenyum dalam hatinya, sepertinya masih ada kesempatan. Kita lihat saja apakah dia bisa merebut Alex dari kekasihnya itu atau tidak, pikirnya.


-


Donna, Alex dan Anna telah sampai di lantai 3. Donna membuka salah satu pintu yang memperlihatkan sebuah kamar yang luas dengan dekorasi yang sangat elegan dan mewah.


"Anna, ini adalah kamarmu" ujar Donna.


Anna menatap takjub kamar yang baru saja di masukinya itu. Kamar ini di dominasi dengan warna hijau tosca dan juga warna peach. Warna-warna lembut ini membuat Anna merasa nyaman berada di dalam kamar ini. Dan kamar ini pun beraroma bunga yang sangat lembut ketika pertama kali dia masuk.


"Apa kau suka???" tanya Donna pada Anna.


Anna tersenyum dan mengangguk pelan,


"Kamar ini sangat indah dan nyaman" ujar Anna.


Donna tersenyum menanggapi ucapan Anna,


"Kamar ini dulunya adalah kamar dari mendiang Diana, ibu Alex..." ucap Donna pelan.


Seketika Anna menatap Donna dengan terkejut,


"I... Ibu Alex??? Ka.. Kalau begitu sebaiknya aku di kamar yang lain saja. Aku merasa tidak enak.." ujar Anna pelan.


Donna pun menyentuh tangan Anna dan tersenyum menenangkan padanya,


"Tidak apa-apa Anna, lagipula aku yakin ibu Alex pasti akan senang karena calon menantunya akan tidur di kamar ini" ujar Donna.


Alex mengeratkan genggaman tangannya pada Anna, lalu tersenyum pada gadis itu dan mengangguk pelan. Dan akhirnya Anna pun hanya bisa pasrah.


Tok..


Tok..


Terdengar suara ketukan pintu, Donna pun mengarahkan pandangannya pada pintu kamar yang masih terbuka dan memperlihatkan seorang pengawal yang membungkukkan badannya pada Donna.


"Nona, ini barang yang anda inginkan. Aku sudah mengambilnya dari kamar Tuan Peter" ujarnya lalu memberikan barang itu pada Donna.


Donna pun mengangguk dan mempersilahkan pengawal itu untuk kembali.

__ADS_1


Donna menghampiri Alex dan memberikan barang itu padanya,


"Ini handphone, dompet dan juga kunci mobilmu. Aku menyuruh pengawal kakekmu diam-diam untuk mencari dan mengambilnya kembali" ujar Donna.


Saat Alex hendak mengambilnya, Donna pun menarik kembali tangannya dan menatap Alex dengan tajam,


"Ingat!!! Kau tidak boleh pergi dari sini setelah aku memberikan barang-barangmu!!! Kau telah berjanji padaku Alex!!!" ujar Donna tajam.


Alex menatap Donna dengan datar lalu mengambil barang-barangnya dengan cepat.


"Aku bukanlah orang yang ingkar janji!!" tegas Alex.


Donna pun menghela nafasnya lega. Tiba-tiba handphone Alex bergetar dan memperlihatkan nama Harry di layar. Alex pun mengangkat teleponnya,


"Hallo Harry ada apa???" tanya Alex.


Terdengar Harry menghela nafasnya lega saat Alex menjawab panggilannya,


("Huhh.. Akhirnya Tuan mengangkat teleponku juga...") ujar Harry.


("Tuan, aku ingin mengabarkan bahwa masalah investasi kemarin semuanya telah terselesaikan dengan baik.. Dan juga para investor telah kembali berinvestasi. Untung saja Tuan bertindak dengan cepat") lanjut Harry.


Alex yang mendengar hal itu pun menatap Donna di depannya yang sedang mengobrol dengan Anna. Pasti wanita itu yang telah membantunya membereskan masalah kemarin, pikir Alex.


("Oh iya Tuan, apakah Tuan akan ke kantor hari ini??? Ada beberapa petinggi perusahaan yang ingin bertemu dengan Tuan hari ini") ucap Harry.


Alex pun menghela nafasnya pelan,


"Baiklah, aku akan ke kantor hari ini. Kau aturlah jadwal pertemuannya" ujar Alex lalu mematikan teleponnya.


"Kau akan ke kantor hari ini???" tanya Anna.


Alex pun mengangguk dan mengusap pipi Anna dengan lembut,


"Iya, para petinggi perusahaan ingin mengadakan pertemuan denganku hari ini" ujar Alex.


"Apa... kau mau ikut denganku ke kantor???" tanya Alex.


Anna menatap Alex sejenak dan mengangguk pelan. Mungkin akan lebih baik dia ikut dengan Alex ke kantor. Masih cukup canggung baginya untuk tinggal sendiri di rumah ini, pikir Anna.


Donna terlihat sedikit kecewa dan menghela nafasnya,


"Kukira aku bisa bersenang-senang denganmu hari ini.. Kita bisa berbelanja dan melakukan perawatan jika kau mau tinggal" ujar Donna membujuk Anna.


Anna terlihat tidak enak pada Donna dan kembali berpikir. Namun untungnya Alex dengan cepat merangkul tubuh Anna,


"Dia akan ikut denganku!!!" ujar Alex tegas.


Donna pun menghela nafasnya kecewa dan pasrah. Dia tidak ingin berdebat dengan Alex yang keras kepala itu,


"Baiklah... Baiklah... Tapi ingat, setelah dari kantor kalian harus pulang kembali ke rumah ini!!!" ujar Donna mengingatkan.

__ADS_1


Alex pun tidak menanggapi ucapan Donna dan menuntun Anna untuk pergi bersamanya. Namun saat di depan pintu Alex membalikkan wajahnya pada Donna,


"Oh iya, Terimakasih atas bantuanmu" ujar Alex singkat, lalu berlalu pergi bersama Anna.


Donna tertegun sesaat dan tersenyum senang. Setidaknya sekarang hubungannya dengan Alex sedikit demi sedikit mulai membaik. Dia ingin keluarga Wijaya ini kembali harmonis tanpa adanya kebencian. Dan Donna berharap setelah Peter membaik, dia akan berubah dan mulai menerima kenyataan tanpa memaksakan kehendaknya yang membuat siapapun terluka lagi nantinya.


-


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit akhirnya Anna dan Alex telah tiba di kantor Alex.


Alex menggenggam tangan Anna dan menuntunnya masuk ke dalam kantor. Pandangan para karyawan mengarah kagum pada kedua pasangan itu. Ada juga yang merasa patah hati karena Boss nya yang tampan dan dingin itu sepertinya telah mempunyai tambatan hati.


Setelah memasuki lift akhirnya Anna dan Alex sampai ke lantai atas dan berjalan menuju ruangan kerja Alex.


Alex membuka pintunya dan menuntun Anna untuk masuk. Saat mereka sudah masuk tiba-tiba Alex menutup pintunya dan menyandarkan tubuh Anna di balik pintu dan menguncinya.


Anna yang terkejut seketika menatap Alex dengan pandangan bingungnya. Alex mengunci tubuh Anna di balik pintu dan menyentuh dagu gadis itu dengan lembut agar wajah mereka saling berhadapan. Tangan Alex yang satunya menarik pinggang Anna dan menempelkannya pada tubuhnya.


"Akhirnya kita bisa berduaan saja disini..." bisik Alex dengan suara seraknya.


Anna mencoba menahan dada Alex dan menatap mata pria itu yang menatapnya dengan intens,


"A.. Alex... Bukankah kau harus...." ujar Anna terpotong saat jari telunjuk Alex menempel lembut di bibirnya.


"Ssshhh.... aku sangat merindukanmu... dan aku tidak bisa menahannya lagi" bisik Alex lalu dengan lembut menempelkan bibirnya pada bibir merah muda Anna.


CUP!!!!


Alex ******* pelan bibir Anna dan menghisapnya dengan lembut. Tangannya menekan tengkuk Anna dengan lembut untuk memperdalam ciumannya. Satu tangannya menuntun tangan Anna agar merangkul lehernya.


Perlahan Anna pun membalas ciuman Alex. Mereka saling ******* dan memainkan lidah mereka. Alex menarik pinggang Anna agar tubuh gadis itu semakin menempel pada tubuhnya.


Terdengar suara decakan dari ciuman panas mereka yang memenuhi ruangan. Ciuman Alex semakin dalam dan bertempo cepat. Tangannya menyentuh pinggul Anna dan meremasnya pelan, membuat ******* pelan terdengar dari mulut Anna.


Alex pun melepaskan ciumannya dan menatap wajah Anna dengan penuh gairah.


"Aku mencintaimu, sayang.." bisik Alex.


Lalu pria itu kembali mencium bibir Anna dengan rakus. Dan dengan cepat dia menggendong tubuh Anna dan mendudukkan gadis itu di meja kerjanya membuat beberapa berkas yang berada di atas meja berserakan di atas lantai.


Anna yang terkejut pun mencoba untuk menghentikan Alex, namun Alex menahannya dan semakin memperdalam ciumannya. Dia tidak bisa berhenti dan tubuhnya sangat menginginkan gadis ini..


"Sayang.... Kau benar-benar membuatku hilang kendali..." bisik Alex di sela-sela ciumannya.


Seketika bulu kuduk Anna meremang saat mendengarkan bisikan Alex yang penuh dengan gairah.


'Apakah dia bisa menghentikan pria ini sekarang???' pikir Anna.


Bersambung....


Hai, support selalu cerita ini dan jangan lupa kasih like komen yang banyak 😊

__ADS_1


Boleh kasih vote dan gift nya juga..


Terimakasih ❤️❤️❤️


__ADS_2