Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Nama Yang Tidak Asing


__ADS_3

Pagi ini Alex kembali berangkat ke kantor. Banyak pekerjaan yang menunggunya. Walaupun sebenarnya dia tidak ingin pergi ke kantor karena ingin bersama gadisnya di rumah, tapi Harry bilang hari ini banyak laporan yang harus di tanda tangani oleh Alex dan juga ada rapat yang harus dia hadiri.


Alex duduk di kursi kerjanya dan mulai berkutat dengan berkas-berkas yang menumpuk.


Tok.. Tok..


Terdengar suara ketukan pintu dari luar,


"Masuk" ujar Alex singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas-berkas di tangannya.


Harry masuk ke dalam ruangan Alex sambil membungkukkan badannya lalu berjalan menghampiri meja Alex.


"Tuan, ini ada undangan makan malam dari Tuan Daniel McCartney. Disini tertulis makan malam ini bertujuan untuk mempererat kerjasama antara dua perusahaan" ujar Harry menjelaskan.


Alex masih fokus dengan berkasnya dan tidak begitu tertarik mendengar perkataan Harry barusan.


"Letakkan saja disana" ujar Alex singkat.


Harry pun menganggukkan kepalanya dan menyimpan undangan itu di atas meja kerja Alex dan berlalu pergi meninggalkan ruangan Tuan nya itu.


-


William duduk termenung di meja kerjanya. Pikirannya masih teringat dengan kejadian saat dia bertemu Alex di Paris. Pria itu bisa menyerang orang-orangnya seorang diri dan dengan keras kepalanya pria itu tidak ingin mengembalikkan putrinya kepadanya.


Apa yang harus dia lakukan untuk membawa Anna kembali??? pikir William gusar.


Tok.. Tok..


William tersadar dari lamunannya saat mendengar suara ketukan pintu dari luar.


"Masuk" ujarnya singkat.


Kemudian pengawalnya membuka pintu dan membungkukkan badan padanya,


"Tuan, Tuan Daniel ingin bertemu dengan anda" ujar pengawal itu.


William terdiam sejenak, lalu menghembuskan nafasnya pelan,


"Biarkan dia masuk!" ujarnya.


Pengawal itu pun membungkuk dan keluar, lalu tidak lama kemudian Daniel pun masuk ke dalam ruangan William.


"Selamat pagi Paman" sapa Daniel lalu masuk ke dalam ruangan William.


"Pagi" ujar William singkat.


William mempersilahkan Daniel untuk duduk di kursi yang berada di depan mejanya.


Mereka lalu saling terdiam beberapa saat dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.


"Aku tidak berhasil membawa Anna" ujar William memecah keheningan.


Daniel yang sudah tau hanya diam menanggapi perkataan William. Sebenarnya dia sangat sedih karena dia tidak bisa bertemu dengan Anna. Saat di bandara kemarin, dia hanya melihat Anna sekilas. Gadis itu sudah tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik.


Ada kerinduan yang membuncah di hati Daniel saat melihat gadis itu. Apakah Anna nya itu masih mengingat dirinya atau tidak?? pikir Daniel.


Tapi melihat gelagat Anna saat bersama pria itu. Terlihat Anna sama sekali tidak risih dan tidak terlihat seperti seseorang yang sedang di sekap ataupun diculik.


Apakah mereka sudah dekat dan memiliki hubungan? pikir Daniel gusar.


"Kemarin aku melihat pria itu bersama Anna di Bandara" ujar Daniel.


William seketika menatap pada Daniel, dan melihat ekspresi sedih di wajahnya.

__ADS_1


"Aku merasa sepertinya mereka berdua memiliki suatu hubungan. Bukan hanya hubungan sandiwara semata" lanjutnya.


William tidak menyangkal perkataan Daniel. Dia juga berpikir sepertinya putrinya dan pria itu memang memiliki suatu hubungan. Saat di Paris pun terlihat keduanya berjalan bergandengan tangan dan dari tatapan mereka William sudah bisa menebak hubungan diantara mereka berdua seperti apa.


Entah apa yang sudah di lakukan pria bernama Alex itu pada putrinya. Tapi William tidak akan pernah merestui hubungan mereka.


"Apa kau menyerah??" tanya William tajam pada Daniel.


Daniel terdiam sesaat, lalu menatap William.


"Aku tidak pernah menyerah dengan perasaanku pada Anna!" ujar Daniel serius.


William menatap mata Daniel yang menatapnya dengan tatapan bersungguh-sungguh. Tatapan pria ini sama dengan tatapan Alex saat dia bertekad untuk tidak akan memberikan Anna padanya.


William menghela nafasnya sejenak,


"Aku tidak akan pernah membiarkan putriku bersama dengan pria keturunan Boston itu!!" ujar William tegas.


Daniel hanya terdiam mendengar ucapan William,


"Bagaimana kerjasama mu dengan perusahaan milik pria itu??" tanya William tiba-tiba.


Daniel menghela nafasnya lalu menatap William,


"Semua berjalan lancar... Malam ini aku mengundangnya untuk makan malam bersama" ujar Daniel.


Seketika William mengarahkan pandangannya pada Daniel,


"Bisakah kau memancingnya untuk membawa Anna kesana?" tanya William cepat.


Daniel berpikir sejenak mendengar pertanyaan William. Dia berpikir mungkin sedikit sulit baginya untuk memancing pria itu membawa Anna pada makan malam nanti.


Kemudian pikirannya tertuju pada Roy. Mungkin pria itu bisa diajak kerjasama. Lagipula Roy adalah teman Alex. Mungkin dia bisa mencobanya.


"Aku akan mencobanya!" jawab Daniel.


"Apa yang paman rencanakan setelah itu??" tanya Daniel penasaran.


William hanya terdiam, lalu berdiri dari duduknya,


"Kau akan lihat nanti" ujarnya sambil menepuk pundak Daniel.


-


Sudah menjelang sore hari, namun Alex masih berkutat dengan berkas-berkasnya. Pikirannya tidak fokus pada berkas-berkas itu karena dia memikirkan Anna sejak tadi. Rasanya dia ingin membuang semua berkas-berkas ini lalu segera pulang ke rumah untuk menemui gadis itu. Dia sangat merindukannya...


Tiba-tiba Alex merasakan handphone nya bergetar. Dengan cepat Alex mengambil handphonenya dan melihat nama Roy tertera disana. Lalu Alex menghela nafas dengan kecewa. Tadi dia sempat berpikir bahwa Anna yang menghubunginya, namun Alex harus menelan kekecewaannya.


Dengan malas Alex pun mengangkat panggilan telepon dari Roy.


"Ada apa??" tanya Alex malas.


("Kenapa kau terdengar tidak bersemangat setiap aku menelpon mu!!!") gerutu Roy.


"Cepat katakan apa mau mu sebelum aku mematikan telpon nya! Aku sangat sibuk!" ujar Alex.


("Huh... Baiklah... Baiklah... Apa kau di undang oleh anak dari keluarga McCartney untuk makan malam hari ini??") tanya Roy.


Alex terlihat tidak tertarik dengan pertanyaan Roy barusan,


"Dia memberiku undangan, tapi aku tidak akan datang" ujar Alex dingin.


("Ya ampun, mana bisa seperti itu Alex!! Dia telah berinvestasi banyak di perusahaan mu!! Setidaknya kau harus menyambut dengan baik niatnya untuk mengajakmu makan malam!!") ujar Roy tak habis pikir.

__ADS_1


Alex terlihat tidak begitu tertarik dengan pembicaraan Roy. Namun pria itu ada benarnya juga. Perusahaan McCartney telah berinvestasi cukup besar si perusahaannya. Alex terlihat berfikir sejenak.


("Dia juga mengundangku untuk datang. Setidaknya kau datang saja, walau hanya sebentar. Kau juga bisa membawa gadismu itu jika kau mau haha") lanjutnya.


("Kalau begitu sampai bertemu nanti malam! Aku sedang sibuk, bye!!") ujar Roy yang tersenyum senang di ujung sana karena akhirnya dia bisa mengakhiri telepon lebih dulu sebelum Alex melakukannya seperti biasa.


Alex hanya menatap teleponnya dengan acuh setelah temannya itu menutup panggilannya.


Sial!!! Sepertinya malam ini dia juga sulit bertemu dengan Anna. Dengan kesal Alex pun memijit kepalanya..


-


Hari sudah mulai gelap, Anna berdiri di pinggir balkon sambil menatap pemandangan di luar. Sejak pagi tadi dia belum bertemu dengan Alex. Anna tau mungkin pria itu sedang sangat sibuk hari ini. Jujur, dia sangat merindukan pria itu saat ini.


Anna menghembuskan nafasnya pelan lalu menutup matanya untuk menikmati angin malam yang berhembus.


Tiba-tiba sebuah tangan memeluk tubuhnya dari belakang,


"Apa kau sedang menungguku??" ujar pria itu lembut.


Seketika Anna membuka matanya lalu memalingkan wajahnya ke samping dan melihat wajah Alex yang sangat dekat dengannya. Alex pun tersenyum lembut pada Anna lalu mencium pipinya.


"Aku merindukanmu" bisik Alex di telinga Anna.


Anna merasakan desiran di hatinya mendengar ucapan Alex. Dengan perlahan Alex pun membalikkan tubuh Anna untuk menghadap padanya, lalu menyentuh wajah Anna dengan lembut.


"Aku sangat merindukanmu" bisik Alex lalu dengan perlahan wajahnya mendekat pada wajah Anna.


CUP!!


Alex menempelkan bibirnya dengan lembut pada bibir Anna. Dia merasakan perasaannya membuncah karena kerinduannya pada gadis itu. Alex merasa dia bisa gila jika sehari saja tidak bertemu dengan kekasihnya itu.


Dengan perlahan Anna pun membalas ciuman Alex. Mereka saling ******* dan menghilangkan kerinduan pada satu sama lain. Alex memeluk tubuh Anna dengan erat dan memperdalam ciumannya.


Setelah mereka berciuman cukup lama. Anna pun mulai merasa kehabisan nafas, lalu dengan pelan tangannya mendorong tubuh Alex untuk menghentikan ciuman mereka.


Alex merasakan nafas Anna yang memburu di wajahnya. Lalu dengan lembut tangannya mengusap bibir Anna yang masih basah.


"Maaf, aku terlalu merindukanmu" ujar Alex pelan.


Anna pun menatap wajah Alex lalu tersenyum,


"Sepertinya kau sangat sibuk hari ini" ujar Anna pelan.


Alex mengusap pipi Anna lalu menganggukkan kepalanya,


"Ada banyak berkas yang harus aku periksa dan tanda tangani" ujar Alex.


"Kau sudah makan malam??" tanya Anna.


Alex pun menggelengkan kepalanya, lalu menatap Anna dengan perasaan bersalah.


"Malam ini aku akan makan malam dengan rekan bisnisku. Dia mengundangku untuk hadir" ujar Alex sedikit kesal.


Anna terlihat sedikit kecewa dengan perkataan Alex, namun dia memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


"Oh, begitukah?" ujar Anna pelan.


Alex merasa bersalah menatap wajah Anna yang terlihat sedikit kecewa.


"Maaf kita tidak bisa makan malam bersama. Perusahaan milik keluarga McCartney telah berinvestasi cukup besar di perusahaan ku. Aku merasa tidak enak jika menolak undangannya" ujar Alex sambil mengusap pipi Anna dengan lembut.


Seketika Anna menatap wajah Alex. McCartney??? pikir Anna. Sepertinya dia tidak asing dengan nama itu..

__ADS_1


Bersambung...


Dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih komen dan like yang banyak. Terimakasih 🙏❤️😁


__ADS_2