
"Ma.. Maaf Tuan, tetapi... tetapi Bibi Van yang mengizinkannya untuk masuk. Baru saja orang itu masuk, karena dia kehujanan di luar sini" ujarnya takut.
Alex pun memicingkan matanya, Bibi Van??
Jika Bibi Van mengizinkan orang lain masuk, itu tandanya tamu itu bukanlah orang asing, pikir Alex.
Lalu siapa yang bertamu?? pikirnya.
Alex pun membawa Anna masuk ke dalam rumah, mereka berdua melangkah kearah ruang tamu. Anna menatap Alex yang terlihat bergegas ke ruang tamu dengan tatapan sedikit kesal bercampur penasaran.
'Seorang wanita??' pikir Anna lagi.
'Apa itu Key.. atau Bibi Donna??' pikirnya lagi.
Anna pun menggeleng cepat saat dirasa tebakannya itu tidak mungkin. Jika yang datang Key atau Bibi Donna, maka pengawal tidak akan menahannya di luar sampai kehujanan, pikirnya.
Langkah Alex pun berhenti disusul dengan Anna yang langsung mengarah kearah sofa. Terlihat seorang wanita tengah duduk dengan rambut yang basah sambil memunggungi mereka.
Dari belakang sini, Anna seketika dapat mengetahui siapa wanita itu..
"Erika??" ujar Alex pelan.
Seketika wanita itu pun membalikkan tubuhnya dan berdiri saat melihat kearah Alex dan Anna.
Erika terlihat tersenyum lega menatap kearah pasangan suami istri itu. Tubuh Erika terlihat basah, wanita itu hanya memakai selembar handuk untuk menutupi bajunya yang basah.
"A.. Alex.." ujarnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca menatap kearah Alex.
Wanita itu menunduk dan mulai menangis. Anna terkejut melihat keadaan Erika dan langsung menghampiri wanita itu,
"Kenapa kau menangis?? Apa yang terjadi??" tanya Anna khawatir.
Erika menutup mulutnya dan masih menangis tersedu. Anna membawa tubuh Erika kembali duduk di atas sofa dan merangkul tubuh wanita itu,
"Tenangkan dirimu dulu.." ujar Anna pelan.
Erika mencoba untuk tenang dan menghentikan tangisannya. Sedangkan Alex, pria itu hanya diam sambil menatap Erika.
Setelah selang beberapa saat, Erika pun mulai tenang dan berhenti menangis. Wanita itu menghapus air matanya dan menghela nafasnya pelan,
"Maaf.." ujarnya pelan.
Anna mengangguk pelan dan mengusap bahu wanita itu dengan lembut,
"Apa yang terjadi??" tanya Alex tiba-tiba.
Erika mengangkat wajahnya sekilas untuk menatap Alex. Wanita itu kembali menunduk sambil memainkan jarinya dengan gugup,
"Leonard... Leonard berhasil memenangkan gugatan atas harta kami" ujarnya menahan tangis.
Anna seketika membelalakkan matanya dengan terkejut,
"Dia.. Dia telah mengambil semuanya.. Dan.. Dan mengusirku keluar dari rumah" bisik Erika sambil menahan tangisnya.
"Aku hiks.. Aku tidak tau sekarang harus tinggal dimana.. Aku tidak mempunyai apapun sekarang" lanjutnya tersedu.
Anna menatap prihatin pada Erika dan mencoba untuk menenangkan wanita itu,
"Bagaimana bisa??" tanya Alex ragu.
Erika hanya menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Alex,
"Aku tidak tau..." bisiknya bergetar.
Alex pun dengan segera mengambil handphonenya sambil menjauh dari ruang tamu untuk menghubungi seseorang,
"Hallo Pak George, jelaskan padaku apa yang terjadi??" tanyanya tajam.
__ADS_1
Terdengar suara helaan nafas dari balik sana. Alex dapat merasakan kegugupan Pak George saat ini,
("Ma.. Maaf Tuan.. Kita... Kita kalah banding dengan Leonard... Se.. Sekali lagi maafkan aku.. Aku sudah berusaha semampuku...") ujarnya gugup.
Alex memicingkan matanya, pria itu seketika merasa curiga. Selama ini, Pak George adalah orang yang sangat tegas, keras dan mempunyai pendirian yang tinggi. Tetapi, baru kali ini dia mendengar ucapan putus asa dari pria itu,
"Katakan padaku apa sebenarnya yang terjadi??" tanya Alex tajam.
Tidak terdengar suara jawaban dari Pak George untuk beberapa saat. Alex semakin menaruh curiga pada pria itu,
("Tidak ada Tuan, kita.. kita memang telah kalah.. Leonard itu.. mempunyai bukti dan kedudukan yang kuat.. Jadi.. Jadi tidak ada lagi yang bisa kita lakukan.. Kita telah kalah...") ujarnya pelan.
("Sekali lagi maaf Tuan Alex.. Aku telah gagal membantumu kali ini..) lanjutnya.
Alex terdiam sejenak dan menghela nafasnya lalu mematikan panggilan itu tanpa mengatakan hal apapun lagi. Pria itu terlihat berpikir dan kembali menatap kearah Erika dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Maafkan aku Anna... Aku sudah menganggu kalian malam-malam begini.." ujarnya pada Anna sambil menahan tangisnya.
"Aku.. Aku tidak tau kemana lagi aku harus pergi.." lanjutnya mulai menangis.
"Aku tidak punya siapapun lagi di dunia ini.. Hanya kau dan Alex saja yang cukup aku percaya sekarang.." lanjutnya.
Anna menatap iba pada wanita itu dan kembali menenangkannya,
"Tidak apa-apa.. Malam ini kau bisa tidur disini" ujar Anna tersenyum pelan.
Seketika Erika pun mengarahkan pandangannya pada Anna,
"Apa.. Apa tidak apa-apa??" tanyanya ragu.
Anna pun tersenyum dan mengangguk pelan,
"Tidak apa, disini masih banyak kamar yang kosong" lanjut Anna.
Alex pun kembali melangkah masuk ke ruang tamu. Anna seketika berdiri dari duduknya untuk menghampiri Alex,
Anna menghampiri Alex dan menatap pria itu dengan penuh harap,
"Sayang... Apa tidak apa-apa jika kita membiarkan Erika tidur disini untuk malam ini??" tanya Anna.
"Ini sudah cukup larut dan di luar pun masih hujan lebat..." lanjut Anna.
Alex terdiam sejenak dan menatap kearah Erika yang menunduk sambil menunggu jawaban Alex,
"Tentu saja.. Kau boleh tinggal disini malam ini" ujar Alex.
Erika pun seketika mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Alex,
"Terimakasih.." ujarnya tersenyum.
Setelah itu Bibi Van pun membawa Erika menuju kamar yang berada di lantai bawah, beberapa pengawal pun membantu membawa koper Erika menuju kamarnya.
Setelah berada di kamar, Erika pun mulai membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya.
Erika menatap kamar yang di tempatinya saat ini dengan tatapan yang sulit diartikan. Wanita itu mengelilingi kamar sambil memperhatikan setiap detail apapun yang berada di kamar yang cukup luas dan nyaman itu.
Tok..
Tok..
Terdengar suara ketukan dari luar. Erika pun bergegas menghampiri pintu dan membukanya perlahan,
CKLEK!!
Anna tersenyum kearah Erika sambil membawa tas kecil Erika yang masih tertinggal di ruang tamu tadi,
"Ini milikmu.." ujarnya.
__ADS_1
Erika pun megambil tas itu dan tersenyum pada Anna,
"Terimakasih.." jawabnya.
"Apa.. kau mau masuk dulu??" tanya Erika.
Anna pun menggeleng pelan,
"Tidak, aku hanya ingin mengantar itu saja.." jawab Anna.
"Istirahatlah.. Kau pasti lelah" lanjutnya.
Erika terdiam sejenak dan menatap Anna yang tersenyum padanya,
"Kalau begitu aku permisi dulu" pamit Anna yang bergegas kembali melangkah meninggalkan kamar Erika.
Erika terdiam di depan pintu dan menatap punggung Anna yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah itu Erika pun menghela nafasnya dan kembali menutup pintu kamar untuk beristirahat.
Anna masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu menatap kearah Alex yang terlihat sedang duduk diatas sofa sambil menatap serius laptop yang berada di depannya,
"Kau sedang apa??" tanya Anna.
Alex menatap kearah Anna dan tersenyum padanya,
"Tidak ada.. Hanya sedang mencari sesuatu" jawabnya.
Alex menepuk sofa yang berada di sampingnya, memberikan kode pada Anna untuk duduk di samping pria itu. Anna pun melangkah kesana dan duduk di samping suaminya.
Alex dengan segera menyandarkan kepalanya di atas paha sang istri. Pria itu menatap wajah istrinya sambil menyentuh pipinya dengan lembut. Sedangkan Anna mengangkat tangannya dan mengusap rambut Alex,
"Besok aku akan carikan tempat tinggal untuk Erika" ujar Alex tiba-tiba.
Anna pun menatap Alex dan mengangguk pelan,
"Aku sangat prihatin padanya.. Dia harus mengalami hal seperti ini" ujar Anna pelan.
Alex hanya terdiam mendengarkan ucapan Anna. Pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Anna yang menyadari hal itu pun langsung mengusap pipi suaminya dengan lembut,
"Ada apa?? Sepertinya ada sesuatu yang menganggu pikiranmu??" tanya Anna pelan.
Alex menyentuh tangan Anna dan menatapnya dengan lembut,
"Tidak ada... Aku hanya sedang memastikan sesuatu" ujarnya.
Anna mengerutkan keningnya sambil menatap Alex dengan penuh tanya. Pria itu tersenyum dan menatap wajah istrinya,
"Aku akan memberitahumu nanti, jika semuanya sudah jelas" lanjut Alex.
Pria itu merasa sedikit ganjal saat berbicara dengan Tuan George tadi. Sebuah kecurigaan muncul dipikiran Alex. Instingnya berkata ada sesuatu yang tidak beres disini. Dan Alex akan mencari tahunya sendiri.
Dan..
Untuk memastikan semuanya, Alex harus bertemu dengan pria bernama Leonard itu..
Bersambung..
Halo, dukung selalu cerita ini ya, jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️
Banyakin komentarnya ya dan jempolnya juga 😁🙏
Terimakasih..
Dan, kalau baca novel jangan sampai lupa waktu ya, apalagi buat ibadah 😁🥰
Yuk ramaikan kolom komentarnya, sepi nih.. 😔
Pembaca pada ngilang, bikin semangat juga ilang 🤧
__ADS_1