
Hari sudah cukup larut saat Erika kembali ke kediaman Alex. Wanita itu masuk ke dalam rumah sambil mencoba menenangkan detak jantungnya.
Erika menghela nafasnya dan mulai mencoba bersikap seperti biasanya. Hari sudah menunjukkan pukul 8 malam, dan biasanya waktu makan malam sudah terlewat. Alex dan Anna biasanya akan langsung pergi ke kamar mereka setelah makan malam.
Erika melangkah masuk dan tidak melihat siapapun di dalam rumah. Namun saat dirinya hampir melangkah kearah kamarnya dia berpapasan dengan Anna,
"Erika.. Kau baru pulang??" tanya Anna ramah.
Erika terlihat cukup terkejut dan mencoba untuk tersenyum,
"Ah... Iya, ada beberapa urusan yang harus aku selesaikan tadi" jawabnya mencoba tenang.
Anna pun tersenyum dan mengangguk mendengar ucapan Erika,
"Apa kau sudah makan malam??" tanyanya lagi.
Erika seketika mengangguk menjawab pertanyaan Anna,
"Sudah.. Aku sudah makan di luar tadi" jawabnya.
Anna kembali tersenyum dan mengangguk,
"Kalau begitu.. Aku akan ke kamar dulu" ujar Erika yang ingin cepat-cepat segera masuk ke dalam kamarnya.
Anna mengangguk kembali dan mempersilahkan Erika untuk masuk ke dalam kamarnya. Namun, baru saja dia hendak melangkah tiba-tiba Anna meringis kesakitan sambil menyentuh perut dan pinggangnya,
"Shhh.." rintih Anna pelan.
Seketika Erika pun mengarahkan pandangannya pada Anna dengan cemas,
"Kau tidak apa-apa??" tanyanya sambil menghampiri Anna.
Anna menaruh tangannya di samping sebuah meja dan menggeleng pelan,
"Ah.. Hanya nyeri biasa" ujarnya mencoba tenang.
Erika masih menatap cemas pada Anna dan menuntun gadis itu untuk duduk,
"Duduklah dulu" ucapnya.
Erika mendudukkan Anna di salah satu sofa dan mengusap pelan pinggang gadis itu. Anna merasa sedikit lebih baik dan tersenyum pada Erika,
"Terimakasih.." ujarnya tulus.
Erika tersenyum pada Anna dan mengangguk pelan. Wanita itu menatap perut Anna cukup lama,
"Perutmu sudah terlihat sangat besar, pasti sangat berat dan pegal ketika berjalan ya??" tanyanya pelan.
Anna hanya tersenyum kecil menanggapi pertanyaan Erika,
"Iya, begitulah.." ujar Anna.
Erika menatap dalam pada perut Anna dan seketika tenggelam dalam lamunannya,
"Jika aku tidak mengalami keguguran, mungkin saat ini aku sudah melahirkan anak pertamaku" ucapnya tiba-tiba dengan sedih.
Anna menatap wajah Erika prihatin dan mengusap pundaknya,
"Jangan bersedih, mungkin Tuhan punya rencana lain di balik itu semua.. Yang jelas calon anakmu pasti telah berada di surga dan bahagia disana" ujarnya menghibur.
Erika mengangguk pelan dan tersenyum,
"Kau benar.." jawabnya pelan.
Erika kembali mengusap pinggang Anna dan memperhatikan perut gadis itu,
"Perutmu terlihat jauh lebih besar dari usia kandunganmu.. Apa, apa dokter tidak mengatakan apapun??" tanyanya.
"Jika aku boleh tau... Apa jenis kelamin calon anakmu??" tanya Erika penasaran.
Anna menatap kearah perutnya dan tersenyum sambil mengusap perutnya dengan lembut,
__ADS_1
"Dokter bilang calon anakku sehat.. Dan, untuk jenis kelaminnya... aku belum tau" ucap Anna.
Erika mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Anna,
"Apa karena jenis kelaminnya belum terlihat??" tanyanya penasaran.
Anna menggeleng pelan dan tersenyum,
"Bukan, dokter sudah tau jenis kelaminnya. Tapi, aku bilang pada dokter untuk merahasiakannya dan memberitahuku saat usia kandunganku menginjak 7 bulan" ujarnya.
"Dan.. Satu minggu lagi usia kandunganku memasuki tujuh bulan" lanjutnya tersenyum senang.
Erika yang mengerti ucapan Anna pun seketika mengangguk pelan,
"Oh.. Jadi begitu.." ujarnya lalu tersenyum.
Erika kembali memperhatikan perut Anna dan tersenyum penuh arti,
"Apa.. kau tidak berpikir jika janin yang berada di dalam perutmu itu tidak hanya satu??" tanyanya menggoda.
Anna seketika mengernyitkan keningnya dan menatap bingung pada Erika,
"Maksudmu??" tanyanya tidak mengerti.
Erika pun tertawa pelan melihat reaksi polos Anna. Wanita itu mengakui kecantikan dan kemurnian hati Anna. Erika tidak heran jika Alex bisa sampai bertekuk lutut pada gadis di depannya ini, pikirnya.
"Maksudku.. Bagaimana kalau ternyata janin yang berada di dalam kandunganmu itu ada dua??" tanyanya iseng.
Anna seketika membelalakkan matanya dan menatap Erika dengan terkejut.
Dua?? pikirnya.
Namun saat Anna hendak menjawab pertanyaan Erika, tiba-tiba Alex yang baru pulang pun langsung menghampiri Anna dengan cepat,
"Sayang, kau belum tidur??" tanyanya pada Anna.
Alex pun langsung mengalihkan tatapannya pada Erika dan terlihat mencoba mengontrol ekspresi wajahnya pada wanita itu,
Erika terlihat sedikit gugup dan tersenyum pelan pada Alex,
"Iya.. Aku baru saja tiba..." jawabnya pelan.
Alex mengangguk pelan dan kembali menatap Erika dengan tatapan yang sulit diartikan,
"Bagaimana dengan pekerjaanmu tadi??" tanyanya lagi.
Erika menatap Alex dan seketika merasa canggung,
"Baik.. Semua berjalan dengan baik. Dan, aku juga telah menemukan apartemen baru untuk aku tinggal. Mungkin besok lusa aku baru akan pindah kesana" ujarnya mencoba tenang.
Anna tersenyum mendengar ucapan Erika dan menatap wanita itu dengan bangga,
"Wah.. Syukurlah.. Aku senang mendengarnya. Tapi.. Mungkin setelah kau pindah, aku akan merasa kesepian" ujar Anna pelan.
Erika menatap Anna dan tersenyum padanya,
"Tentu saja tidak.. Aku.. Aku berharap setelah aku pindah, kita masih bisa tetap bertemu" ucapnya pada Anna.
Anna yang mendengar hal itu pun seketika mengangguk dan tersenyum,
"Tentu saja, kau boleh kemari kapanpun kau mau" ujar Anna senang.
Erika membalas senyuman Anna dan dengan segera berdiri dari duduknya,
"Kalau begitu.. Aku akan ke kamar dulu untuk membersihkan diri dan beristirahat" ujarnya.
Erika pun mengarahkan pandangannya pada Alex dan tersenyum tipis padanya,
"Selamat malam" pamitnya.
Alex menatap kepergian Erika dengan tatapan tajamnya. Setelah siang ini dia diberitahu pengawalnya bahwa Erika pergi ke sebuah apartemen, Alex malah semakin merasa waspada dan curiga pada wanita itu.
__ADS_1
Sebenarnya apa tujuan Erika datang kemari dan berpura-pura dengan semua ini?? pikirnya.
Anna menggenggam tangan Alex dan menyadarkan pria itu dari lamunannya,
"Alex.." sahutnya pelan.
Alex seketika mengalihkan pandangannya pada Sang istri,
"Iya sayang... Ada apa??" tanyanya.
Anna menatap wajah Alex dan menghela nafasnya,
"Sebenarnya ada apa denganmu??" tanyanya tiba-tiba.
"Kau... Kau seperti menaruh curiga pada Erika" lanjut Anna.
Anna terdiam sejenak dan kembali menatap Alex,
"Memangnya ada apa?? Apa yang terjadi??" tanya Anna.
Alex pun seketika terdiam dan menghela nafasnya sambil mengusap pipi Anna dengan lembut,
"Baiklah, ayo kita ke atas terlebih dahulu.. Setelah itu, aku akan ceritakan semuanya padamu" ujar Alex.
Pria itu pun menuntun sang istri untuk melangkah ke lantai atas dengan hati-hati menuju kamar mereka. Alex akan menceritakan tentang apa yang terjadi hari ini dan mengapa dia mencurigai Erika pada istrinya itu.
Disisi lain, Erika yang berada di balik tembok seketika menutup mulutnya dengan panik.
Dia sejak tadi sebenarnya belum kembali ke kamarnya dan memilih menguping obrolan Anna dan Alex.
Dan.. benar seperti dugaannya, Alex memang benar-benar telah mencurigainya dan Leonard.
Erika pun dengan cepat melangkah ke dalam kamar dan mengunci pintunya. Wanita itu mengeluarkan handphone dari dalam tasnya untuk menghubungi seseorang dengan tidak sabaran.
Tut..
Panggilan pun tersambung dan selang beberapa detik panggilannya pun diangkat oleh seseorang di balik sana,
"Hallo Leo!!" ujar Erika panik.
Erika menggigit kukunya dan mencoba untuk menghela nafasnya kembali,
"Benar seperti dugaanku... Alex... Alex memang benar-benar telah mencurigaiku" ujarnya panik.
Terdengar kekehan dari balik sana yang membuat Erika langsung mengerutkan keningnya dengan bingung,
"Mengapa kau tertawa?? Tidak ada yang lucu Leo, ini keadaan genting!!!!" ujarnya lagi panik.
Leonard menghela nafasnya pelan dan kembali berbicara dengan tenang,
("Aku sudah mengiranya sayang.. Jadi.. Kau tidak perlu panik ataupun takut..") jawab Leonard di balik sana dengan santai.
Erika mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Leonard,
"Apa maksudmu??" tanyanya.
Leonard terdiam sejenak dan melanjutkan ucapannya dengan tegas,
("Sudah kubilang kan... Kita akan langsung pada rencana terakhir kita..") ujarnya terputus.
("Dan.. Aku yakin.. rencana ini tidak akan gagal!!") lanjutnya optimis.
Bersambung..
Halo, support selalu cerita ini ya,
Jangan lupa kasih like, vote, komen dan hadiahnya ☺️
Yuk, bikin author semangat lagi nulis dengan tinggalkan jejak di kolom komentar 🙏😁
Dan, jangan lupa kalau baca novel jangan lupa waktu ya, dan ibadah juga ☺️🙏
__ADS_1