
"Susun semua kertas ini berurutan berdasarkan tanggal!!" ujar Alex dingin.
Anna membelalakkan matanya menatap kertas-kertas itu..
Apa?? Sebanyak ini??
"Sebelum makan siang, aku ingin semua kertas itu telah selesai tersusun!" tegas Alex.
Anna menatap kesal pada Alex.
"Bukankah ini terlalu banyak? Mana bisa aku menyelesaikannya secepat itu?" ujar Anna.
Alex menatap tajam pada Anna.
"Apakah aku mengizinkanmu untuk mengajukan keberatan?" tanya Alex.
Anna menggigit bawah bibirnya untuk menahan kekesalannya, dan berhenti protes pada pria itu. Berbicara dengannya selalu membuat amarah Anna meningkat.
Dengan berat hati Anna mulai menyusun kertas-kertas yang menumpuk itu.
-
Anna meregangkan tubuhnya yang terasa pegal. Sudah beberapa jam dia menyusun kertas-kertas itu, dan masih tersisa setengahnya lagi.
Anna menatap jam yang ada di dinding. Waktu menunjukkan pukul 12.15 siang, bukankah waktunya untuk makan siang? Anna sudah mulai merasa lapar..
Anna menatap Alex yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Apakah pria itu tidak lapar? Sejak tadi dia hanya berkutat dengan pekerjaannya.
Anna menatap Alex yang terlihat fokus pada berkas di tangannya.
Pria itu memakai kacamata kerjanya, membuat dia terlihat berbeda menurut Anna.
Terlihat lebih dewasa dan tenang.
Berbeda ketika pria itu berada di rumah. Dia terlihat seperti seorang pria misterius yang kejam.
Anna memegang perutnya yang berbunyi, dia benar-benar lapar sekarang. Apakah pria itu tidak akan membiarkannya makan siang sebentar saja?
Alex menatap Anna dari sudut matanya. Memperhatikan Anna yang sedang memegang perutnya..
Tok.. Tok..
Seseorang mengetuk pintu ruang kerja Alex.
"Masuk" ujar Alex.
Harry masuk ke dalam ruangan Alex dan membungkuk memberi hormat.
"Tuan, Nona Gracia ada di luar.. Dia bilang ingin bertemu sebentar saja" ujar Harry sedikit takut jika boss nya akan marah.
Alex menghembuskan nafasnya sebentar. Wanita itu belum menyerah rupanya.
Alex menatap Anna yang sedang berkutat dengan pekerjaannya. Seringai licik muncul di wajahnya..
"Biarkan dia masuk!" ucap Alex pada Harry.
"Baik Tuan.." jawab Harry dan bergegas keluar.
__ADS_1
"Hei kau! Cepat kemari!" ujar Alex pada Anna.
Anna menatap Alex dengan pandangan bingungnya. Apakah pria itu memanggilnya?
"Iya kau! Kau pikir siapa lagi yang ada di ruangan ini?" ujar Alex mencemooh.
Anna berdecak kesal, lalu berdiri dari kursinya dan melangkah menghampiri Alex.
Anna berdiri di samping Alex dengan wajah kesalnya. Namun dengan tiba-tiba Alex menarik tangan Anna kuat dan membuat Anna terjatuh di atas pangkuan Alex.
"Apa yang kau la-...." ucapan Anna terhenti ketika seseorang masuk ke dalam ruangan Alex.
Gracia membuka pintu ruang kerja Alex dan masuk dengan senyum di wajahnya.
"Hai Alex.. Selamat si-.." ucapnya terhenti saat melihat Anna yang berada di pangkuan Alex.
Anna yang masih syok menatap Gracia yang masuk dengan tatapan terkejutnya. Siapa wanita itu? Tunggu.. sepertinya Anna tidak asing dengan wajahnya. Apakah dia pernah bertemu dengan wanita itu sebelumnya? Anna mencoba berpikir dimana dia pernah bertemu wanita itu sebelumnya..
Gracia menatap Anna dengan pandangan tidak sukanya. Lalu dia melangkah dan duduk di kursi depan meja kerja Alex.
"Maaf.. Aku tidak tau bahwa ada 'kekasihmu' disini" ujar Gracia dengan nada kesalnya.
Gracia menatap Anna dengan pandangan tidak sukanya yang terang-terangan dia tunjukkan pada Anna.
"Hai, tidak ku sangka kita bertemu lagi" tambah Gracia mencoba berbasa-basi.
"Apakah kita pernah bertemu sebelumnya? Dimana ya?" tanya Anna polos yang membuat kekesalan Gracia bertambah.
"Ha Ha Ha Ternyata kau suka bercanda.. Tentu saja kita bertemu saat di pesta waktu itu" ujar Gracia dengan senyum palsunya. 'Sialan.. Wanita ini sengaja memancing amarahku' kesalnya di dalam hati.
Anna nampak berpikir sebentar,
Ternyata wanita ini yang saat itu mengatakan bahwa dia adalah gadis bayaran Alex. Wanita yang menyebalkan menurut Anna.
Untuk apa wanita ini datang ke tempat kerja pria kejam ini? Apakah dia tidak ada pekerjaan lain? tanya Anna di dalam hati.
Oh.. Anna mengerti sekarang. Sepertinya wanita ini menyukai pria kejam ini. Namun sepertinya perasaannya hanya bertepuk sebelah tangan.
"Ada perlu apa kau kemari?" tanya Alex dingin.
Gracia kembali menatap Alex dan tersenyum padanya.
"Oh, aku mengantarkan sedikit oleh-oleh dari ayahku yang baru pulang dari Paris untukmu dan juga.. aku membawakan makan siang untukmu, aku tau sepertinya kau belum makan siang kan?" ucap Gracia meletakkan makanannya di meja Alex.
Anna menatap makanan yang di berikan Gracia dengan tatapan berbinar. Itu adalah Lasagna, makanan favoritnya. Dan kebetulan sekali dia benar-benar lapar saat ini..
"Terimakasih atas hadiah yang ayahmu berikan" ujar Alex dingin.
"Tapi kau bawa kembali makanan ini, aku tidak membutuhkannya!" tegas Alex.
Anna membelalakkan matanya pada Alex. Kenapa pria ini menolak makanannya? Jika dia tidak mau, setidaknya dia bisa memberikan makanan itu padanya.
"Tu.. tunggu.." ujar Anna menahan tangan Alex yang hendak mendorong makanannya kembali pada Gracia.
Alex menatap Anna dengan tatapan tajamnya.
Anna menelan ludahnya takut melihat ekspresi Alex yang marah. Namun, demi makanan enak ini dia tidak akan menyerah dengan pria kejam ini. Sudah lama sekali dia tidak makan makanan favoritnya itu..
__ADS_1
Dengan tiba-tiba Anna merangkul leher Alex.
"Sayang.. Bukankah tidak baik menolak hadiah dari orang lain?" ujar Anna tiba-tiba dengan wajah menggodanya pada Alex.
Walaupun orang lain akan mengira Alex masih terlihat dengan wajah dinginnya. Namun terlihat ada keterkejutan dari wajah Alex atas sikap Anna barusan.
Gracia mengepalkan tangannya kesal melihat adegan menjijikkan di depan matanya.
"Jadi apa yang kau inginkan?" ujar Alex menatap Anna dalam.
"Terima saja hadiah yang dia berikan!" jawab Anna menyentuh pipi Alex dengan mata berbinar.
Tidak peduli apa yang dia lakukan sekarang, yang terpenting Anna menginginkan makanan yang di berikan wanita itu.
Entah mengapa saat gadis itu menyentuh pipinya, sesuatu di dalam tubuh Alex terasa seperti tersengat sesuatu, membuat Alex candu merasakannya.
"Baiklah, terserah kau saja!" ujar Alex.
Anna tersenyum senang mendengar ucapan Alex. Saking senangnya Anna dengan tidak sadar mencium pipi Alex.
"Terimakasih!!" ujarnya senang.
Alex mengerjakan matanya atas tindakan Anna yang mencium pipinya tadi.
Sejenak pikirannya melayang entah kemana..
Namun dengan cepat Alex membuang pikiran itu dari otaknya dan kembali menatap Gracia yang terlihat sangat kesal dan muak dengan tindakan Anna tadi.
"Akan ku terima semua hadiah ini" ujar Alex singkat pada Gracia.
"Oh.. Baguslah!" balas Gracia dengan tidak rela.
Gracia membuang nafasnya sebentar untuk menghilangkan kekesalannya.
"Oh iya Anna, aku hanya ingin tau.. apakah William Pratama adalah ayahmu?" tanya Gracia dengan senyum meremehkannya.
Anna seketika menatap Gracia dengan pandangan tidak sukanya. Kenapa wanita ini tiba-tiba bertanya seperti itu?
"Iya" jawab Anna singkat.
"Benarkah?" ucap Gracia dengan ekspresi pura-pura terkejutnya.
Ada apa dengan wanita ini? pikir Anna.
Alex menatap tajam pada Gracia. Namun Gracia hanya membalas tatapan Alex dengan senyum liciknya.
"Dengar-dengar perusahaan ayahmu sudah bangkrut ya.. Aku turut prihatin" ujar Gracia berpura-pura sedih.
Anna membelalakkan matanya mendengar ucapan Gracia. Apa maksud perkataan wanita ini? Bangkrut??
Bersambung...
Halo.. Mohon maaf ya up nya kadang suka lama, maklum anak masih bayi harus di urus dulu hehe..
Makasih ya yang udah selalu ngikutin cerita ini, semoga ngak bosen 🤭
Selalu di tunggu like dan komen-komen nya, suka bikin mood naik 😁
__ADS_1
Banyak-banyak komen ya 🤗
Ditunggu episode selanjutnya, terimakasih!!!