Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Pregnant


__ADS_3

Seorang pria tengah duduk di sebuah kursi sambil menunduk, menunggu seorang dokter yang telah selesai memeriksanya.


Dokter itu mengecek kembali sebuah berkas di tangannya dan menghela nafasnya,


"Tuan Daniel, bukankah sudah ku ingatkan untuk tidak bergadang, minum, merokok dan makan sembarangan?? Sekarang kondisi ginjalmu semakin memburuk.." ujar dokter itu serius.


Daniel mengangkat wajahnya dan menatap datar pada dokter di depannya,


"Maaf dokter.." ujarnya pelan.


Daniel tidak menampik ucapan dokter itu. Beberapa bulan terakhir memang pola hidupnya berantakan. Setelah dia kehilangan Anna, Daniel mulai sering mabuk, merokok dan tidak bisa tidur.


Entah mengapa pria itu mulai merasa tidak bersemangat untuk hidup.


Daniel menghela nafasnya dan menatap pesimis pada dokter itu,


"Apakah... aku akan mati???" tanyanya putus asa.


Dokter itu menatap Daniel dan tersenyum kecil,


"Mengapa Tuan begitu putus asa?? Semua manusia pasti akan mati pada akhirnya" ujar dokter itu.


"Tuan.. Jika anda terus hidup seperti ini, maka anda hanya akan menyakiti diri sendiri. Sekarang belum terlambat untuk sering berobat dan mengubah pola hidup anda seperti dulu" lanjutnya serius.


Daniel kembali menundukkan wajahnya dan menutup matanya,


"Apakah hanya karena patah hati, anda akan menyia-nyiakan hidup berharga anda yang hanya sekali ini???" tanya dokter itu.


Dokter itu pun menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menatap Daniel dengan serius,


"Ada banyak perempuan di luar sana. Salah satunya pasti ditakdirkan untuk anda. Jadi, jika kehilangan satu wanita bukan berarti anda tidak mempunyai cinta yang lain.." ujarnya.


"Jodoh itu sudah diatur oleh Tuhan.. Seperti juga kematian. Jadi.. jalani hidup anda sebaik mungkin, pasti Tuhan telah mempersiapkan sesuatu yang indah untuk anda.." lanjutnya.


Dokter itu pun berdiri dan menepuk bahu Daniel,


"Semangatlah..." ujarnya sambil tersenyum.


Daniel mengangkat wajahnya dan menghela nafasnya pelan sambil mengangguk pelan pada dokter itu,


Daniel mengambil berkas yang di berikan dokter dan berdiri dari duduknya,


"Terimakasih dokter..." ujarnya dan melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.


Daniel berjalan pelan di koridor rumah sakit sambil menatap berkas di tangannya dalam diam. Pria itu menghela nafasnya dan melangkah kembali.


Saat Daniel sudah hampir tiba di pintu keluar, seketika pria itu berpapasan dengan seorang gadis yang tak sadarkan diri sambil di dorong menggunakan kasur dorong khas rumah sakit.


Seketika Daniel membelalakkan matanya dan mengikuti seorang perawat yang mendorong kasur itu beserta seorang wanita paruh baya yang terlihat cemas disampingnya.


"Anna???? Ada apa dengannya????" ujarnya panik.


Bibi Van mengarahkan pandangannya pada Daniel,


"Nona pingsan saat kami berada di supermarket tadi" ujarnya khawatir.


Daniel pun menghela nafasnya dan menunggu di luar ruangan bersama Bibi Van dengan cemas,


"Kenapa dia bisa pingsan???" tanya Daniel panik.

__ADS_1


Bibi Van menatap Daniel dengan cemas sambil menggeleng pelan,


"Aku tidak tau.. Mungkin Nona kelelahan saat berbelanja" jawabnya.


Daniel membuang nafasnya kasar dan mencoba untuk tenang. Semoga saja Anna baik-baik saja, harap Daniel dalam hatinya.


Sedangkan Bibi Van sejak tadi terus berjalan kesana-kemari sembari mencoba untuk menghubungi Alex. Namun, sepertinya pria itu sedang sibuk dan tidak bisa mengangkat panggilannya.


Setelah menunggu beberapa lama, seorang perawat pun keluar dari ruangan,


CKLEK!!


Dengan cepat Daniel dan Bibi Van pun menghampiri perawat itu,


"Bagaimana keadaannya suster??" tanya Daniel cepat.


Perawat itu pun membalas dengan tersenyum kecil,


"Bisakah saya berbicara dengan suami Nona ini??" tanya perawat itu.


Seketika Daniel pun terdiam, lalu Bibi Van pun menghampiri perawat itu hendak berbicara, namun dengan cepat Daniel menahannya sambil memberikan kode pada Bibi Van,


"Suaminya sedang sibuk dan sulit di hubungi... Jadi.. kau bisa berbicara denganku saja. Aku adalah anggota keluarga Nona ini" ujar Daniel.


Bibi Van pun sedikit terkejut mendengar ucapan Daniel. Apakah benar pria ini masih satu keluarga dengan Nona Anna?? pikirnya.


Perawat itu pun terdiam sesaat lalu mengangguk pelan,


"Baiklah, anda boleh masuk" ujarnya.


Daniel pun mengikuti perawat itu dan masuk ke dalam ruangan. Pria itu menatap Anna yang sudah diberi infus dan masih belum sadar dari pingsannya.


Daniel pun duduk di hadapan seorang dokter yang sedang membaca sebuah berkas di tangannya. Dokter yang menyadari kehadiran Daniel pun kembali menyimpan berkasnya dan tersenyum ramah pada pria itu.


"Selamat pagi Tuan.. Apakah anda suaminya??" tanya dokter itu.


Daniel menatap dokter itu dan berdehem pelan,


"Bukan.. Aku.. Aku kakaknya" ujar Daniel berbohong.


Dokter itu pun menatap Daniel sejenak dan mengangguk pelan,


"Bagaimana keadaannya dokter??? Dia sakit apa??" tanya Daniel khawatir.


Dokter itu pun tersenyum mendengar pertanyaan Daniel,


"Nona ini tidak sakit apapun Tuan" ujarnya menggantung.


Daniel mengernyitkan keningnya menatap tidak mengerti pada dokter itu,


"Jadi.... Apa yang terjadi???" tanya Daniel lagi tidak sabaran.


Dokter itu pun menegakkan posisinya dan mengulurkan tangannya pada Daniel.


Daniel yang masih kebingungan pun dengan ragu meraih uluran dokter itu dengan wajah tidak mengertinya,


"Selamat Tuan.. Sebentar lagi anda akan mempunyai seorang keponakan, dan Nona ini akan menjadi seorang ibu.." ujar dokter itu.


DEG!!!

__ADS_1


Seketika Daniel pun merasakan jantungnya bagai di hantam oleh batu besar. Terasa begitu sesak dan nyeri. Sepertinya kesempatan untuknya sudah benar-benar tidak ada lagi, pikirnya sedih.


Dokter itu pun terdiam dan mengernyitkan keningnya melihat ekspresi wajah Daniel yang sepertinya tidak begitu senang mendengar kabar baik itu,


"Tuan... Anda baik-baik saja??" tanyanya.


Seketika Daniel pun sadar dari lamunannya dan menatap dokter di depannya,


"Ah... Aku... Aku sangat senang... sampai aku tidak bisa berkata apa-apa.." ujar Daniel pelan dengan wajah datarnya.


Dokter itu pun memberikan hasil tesnya pada Daniel,


"Ini hasil tes nya Tuan, usia kandungannya sudah memasuki 5 minggu" lanjutnya lagi.


Daniel pun mengambil berkas itu dan menatapnya dengan tatapan kosong,


"Tuan bisa memberikan hasilnya nanti pada suami dan Nona ini setelah dia sadar nanti." ujar dokter itu.


Daniel terdiam sesaat dan menatap dokter itu dengan ragu,


"Dokter... Jika suaminya datang nanti, bisakah dokter tidak memberitahunya dulu tentang kehamilan Nona ini??" tanya Daniel.


Seketika dokter itu pun mengernyitkan keningnya,


"Ma.. Maksudku.. Aku ingin memberikan kejutan pada mereka nanti" lanjut Daniel.


Dokter itu pun tersenyum dan mengangguk mengerti,


"Baiklah Tuan... Kalau begitu aku permisi dulu. Tuan bisa menemani Nona ini di dalam dan menunggunya siuman" ujar dokter itu.


Daniel pun berdiri dari duduknya dan mengangguk.


Setelah dokter keluar dari ruangan, Daniel pun melangkah menghampiri Anna yang masih terbaring di tempat tidur.


Pria itu duduk di samping tempat tidur Anna dan menatap wanita itu dalam. Daniel mengangkat tangannya dan menggenggam tangan Anna dengan lembut,


"Mungkin jika kau mendengar hasil tes ini... kau pasti akan sangat senang karena sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu.." ujar Daniel pelan.


Pria itu menghela nafasnya dan mengusap tangan Anna dengan lembut,


"Tapi.... Tidak denganku...." lanjutnya sambil menunduk.


Pria itu pun tersenyum miris,


"Kau tau Anna... Setelah kehilanganmu hidupku tidak baik-baik saja. Kupikir aku bisa menjalani hidupku kembali dengan normal. Tapi ternyata... aku tidak bisa..." ujarnya sedih.


Tidak terasa air mata pun mengalir di pipinya. Daniel menyandarkan kepalanya di atas tangan Anna sambil menunduk sedih,


"Aku merasa tidak bersemangat untuk hidup..."


"Apa yang harus aku lakukan sekarang Anna??? Apa aku harus merebutmu dan memaksamu untuk hidup bersamaku..." bisiknya lirih.


Bersambung...


Keep support this stroy..


Jangan lupa kasih like, komen, vote dan hadiahnya ya ☺️


Terimakasih 🙏❤️

__ADS_1


__ADS_2