
Alex mengepalkan tangannya kuat dan menatap Anna dengan intens dan dalam.
"Ya! Aku cemburu!!" ujar Alex tajam.
Anna menghela nafasnya sesaat. Jadi pria ini cemburu dengan Kak Brian? Sungguh kekanakan, pikir Anna..
Alex mengangkat tangannya menyentuh wajah Anna dengan lembut,
"Kau tau? Aku tidak suka melihat pria ingusan tadi menatapmu dengan pandangan seperti itu!!" ujar Alex menatap Anna dalam.
"Oh!! Dan satu hal lagi... Kau bilang pada pria itu bahwa aku adalah kakak sepupumu, benar??" ujar Alex dengan seringainya.
Anna menatap Alex dengan gugup. Jadi pria ini juga kesal karena Anna menyebutnya sebagai kakak sepupu!
"Te.. Tentu saja aku bilang begitu, memangnya aku harus bilang apa?" ujar Anna gugup.
Alex mengelus bibir bawah Anna dengan lembut, dan menatapnya tajam.
"Aku sangat tersinggung!" ujar Alex.
Alex semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Anna sampai hidung mereka saling bersentuhan.
"Kau harus di beri hukuman!!" bisik Alex dalam.
Lalu dengan cepat Alex menempelkan bibirnya pada bibir Anna. Anna yang kaget dengan tindakan Alex mencoba mendorong tubuh Alex. Namun dengan cepat Alex mengangkat tangan Anna ke atas tubuhnya dan menahannya di tembok.
Alex ******* bibir Anna dengan pelan dan lembut. Membuat Anna yang semula memberontak, terhanyut dengan ciumannya.
Ciuman Alex yang semula perlahan dan lembut, kini menjadi Ciuman dengan tempo yang cepat dan rakus.
Tangan Alex yang semula menahan tangan Anna di tembok, kini menuntun tangan Anna untuk merangkul lehernya.
Alex menekan tubuhnya pada Anna dan terus **********. Anna yang sudah merasa kehabisan nafas, mencoba mendorong tubuh Alex dengan kuat.
Alex melepaskan ciumannya, lalu menatap Anna dalam.
"Kau adalah milikku!!" ujar Alex dengan suara seraknya.
Alex kembali ******* bibir Anna dengan rakus. Anna yang kewalahan hanya bisa pasrah dengan perlakuan Alex.
Tangan Alex mengelus pinggang Anna perlahan sambil terus ******* bibirnya.
Alex melepaskan ciumannya pada bibir Anna, lalu beralih pada lehernya. Alex mencium leher Anna dan meninggalkan bekas merah disana. Anna menggigit bibirnya menahan ******* yang keluar dari mulutnya.
Tubuhnya terasa panas dengan sentuhan Alex. Otak dan tubuhnya kini tidak bekerjasama. Walaupun otaknya ingin segera menghentikan perlakuan Alex, namun tubuhnya berkata sebaliknya, tubuhnya menikmati setiap sentuhan Alex disana.
Tidak!! Ini tidak benar!! Dia harus menghentikan pria ini sekarang, tegas Anna dalam hatinya.
Tok.. Tok..
Suara pintu yang terketuk menyadarkan Anna. Anna berusaha mendorong tubuh Alex agar menjauh dari tubuhnya.
Terimakasih Tuhan! Akhirnya ada hal yang bisa menghentikan pria buas ini, ujar Anna dalam hatinya.
"Ada yang mengetuk pintu!!" ujar Anna mendorong tubuh Alex dengan kuat.
__ADS_1
Tok.. Tok...
Dengan kesal Alex menjauhkan tubuhnya dari tubuh Anna.
"****!!!" umpat Alex.
Alex melangkah dengan marah lalu membuka pintunya dengan keras. Lidya yang berada di balik pintu seketika menundukkan wajahnya takut melihat ekspresi Alex yang sepertinya sangat marah.
"Kau sungguh mengganggu!!" geram Alex.
Lidya dengan cepat membungkukkan badannya pada Alex.
"Ma... Maaf Tuan, ta.. tapi... ada Tuan Roy di lantai bawah, dia ingin bertemu dengan Tuan sekarang" ujar Lidya takut.
Alex menatap tajam pada Lidya, lalu menghembuskan nafasnya kasar.
"Aku akan ke bawah!!" ujar Alex tajam lalu menutup kembali pintunya.
Lidya mengangkat kepalanya setelah mendengar pintu kembali tertutup. Dia memperhatikan penampilan Alex barusan. Rambutnya yang sedikit berantakan dan kancing kemejanya yang terbuka, memperlihatkan otot-otot di tubuhnya.
Apa yang sedang dilakukannya di dalam sana? pikir Lidya.
Apa jangan-jangan?????
Dengan panik Lidya melangkah cepat ke kamar Anna dan membukanya kasar.
Tangan Lidya terkepal kuat melihat kamar Anna yang kosong.
Apa jangan-jangan gadis itu sedang berada di dalam ruangan pribadi Alex??
Sialan!!!! ****** itu harus segera ku habisi!!! ujarnya marah dalam hati.
Anna menatap Alex yang sudah kembali dengan gugup. Mengigat apa yang mereka lakukan tadi membuat Anna merasa malu. Anna bisa merasakan gairah pria itu yang menggebu-gebu padanya.
Jika saja tidak ada yang mengetuk pintu tadi, Anna tidak tau apa yang akan terjadi padanya setelah itu.
Alex mengancingkan kembali kemejanya lalu menghampiri Anna dan mengelus pipinya yang masih memerah.
"Ada Roy di bawah, aku akan menemuinya sebentar" ujar Alex lembut sambil tersenyum.
"Kau tunggu disini!" lanjutnya lalu kembali melangkah keluar dari ruangannya.
Anna menghela nafasnya lega. Dia tidak mungkin menunggu pria itu disini. Anna dengan cepat melangkah keluar dari ruangan Alex.
Saat sudah keluar dari ruangan Alex, Anna berpapasan dengan Lidya.
Lidya menatap Anna dengan tatapan tidak sukanya. 'Ternyata gadis itu memang berada di dalam ruangan Tuan Alex!!' geramnya dalam hati.
Seketika pandangannya tertuju pada leher Anna yang terlihat ada bercak merah disana. Lidya menggertakkan giginya kuat. Sialan!!! gadis ini benar-benar seorang ******!!! geramnya dalam hati.
Lidya memasang senyum palsunya pada Anna,
"Nona.. Apa yang Nona lakukan di ruangan Tuan Alex??" ujar Lidya menahan amarah.
Anna terlihat gugup mendengar pertanyaan Lidya,
__ADS_1
"Oh.. A.. Aku baru saja bersih-bersih" ujar Anna tersenyum gugup.
"Oh.. Begitu kah??" ujar Lidya mengepalkan tangannya kuat.
"Iya" jawab Anna singkat.
"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku" ujar Anna lalu melangkah melewati Lidya menuju kamarnya.
Lidya sudah tidak bisa mengontrol lagi emosinya. Dia menggigit bibirnya sampai berdarah untuk menahan kemarahannya.
'Lihat saja, aku akan buat perhitungan denganmu!!!!' geramnya dalam hati.
-
Alex menuruni tangga dengan wajah kesalnya, lalu menatap Roy yang sedang duduk di atas sofa.
"Untuk apa kau kemari!!!" ujar Alex tajam.
Roy seketika menatap pada Alex yang terlihat kesal melihatnya.
Ya ampun.. Sepertinya sahabatnya ini dalam suasana hati yang buruk, pikirnya.
"Ya ampun Alex, mengapa kau berbicara seperti itu?? Memangnya aku tidak boleh berkunjung kesini??" ujar Roy dengan wajah yang dibuat sedih.
Alex menghiraukan perkataan Roy dan menatapnya tajam,
"Aku hanya heran saja, apa yang membuat seorang Alexander Wijaya tidak masuk kantor hari ini" ujar Roy.
Alex menatap Roy dan menghembuskan nafasnya kesal,
"Kau sudah menganggu kesenanganku!" ujar Alex sinis sambil berjalan menghampirinya.
Seketika Roy menyeringai melihat bibir Alex yang masih sedikit membengkak karena ciumannya tadi.
"Memangnya apa yang sedang kau lakukan?? Apa kau sedang bercinta???" goda Roy dengan senyum menjengkelkan.
Alex menggertakkan giginya kuat. Sialan, temannya ini memang mudah sekali membaca raut wajahnya.
Roy tertawa melihat wajah Alex yang sedikit memerah. Ini adalah sebuah kemajuan yang pesat, pikir Roy.
Sepertinya gadis itu benar-benar telah membuat Alex tergila-gila..
"Ada keperluan apa kau kemari??" ujar Alex mengalihkan pembicaraan.
Alex lalu duduk di depan Roy dan meminum minuman yang sudah ada di atas meja.
Seketika senyum di wajah Roy menghilang. Dia menatap Alex dengan serius.
"Apa kau sudah tau bahwa William telah kembali ke negara ini??" tanya Roy serius.
Seketika Alex menggertakkan giginya kuat menahan amarah..
Bersambung...
Halo, support terus cerita ini ya, tolong tinggalkan like dan komen sebanyak-banyaknya 🤗🙏❤️
__ADS_1