
Peter pun menghela nafasnya dan menatap Donna dengan serius,
"Dia... mempunyai hubungan dengan putri William... William Pratama" ujar Peter.
Seketika Donna membelalakkan matanya dan menutup mulutnya tidak percaya,
"Wi.... William Pratama????????"
"Iya, pria itu ternyata masih hidup. Dulu aku sempat menyuruh orang untuk menghabisinya. Kupikir dia telah mati dalam kecelakaan itu. Tapi ternyata, sekarang dia masih hidup dengan tenang setelah membunuh Diana dan juga Frans. Aku tidak terima akan hal itu!!! Dan..
sekarang, Alex berhubungan dengan putri dari pembunuh kedua orang tuanya. Ini sungguh tidak masuk akal!!!" ujar Peter emosi.
Donna menghela nafasnya dan kembali memijit tangan Peter untuk menenangkannya.
"Sudahlah ayah, semua itu telah berlalu. Dulu juga ayah yang memutuskan untuk tidak melaporkan William kepada polisi. Lagipula.... Aku masih tidak percaya bahwa William yang telah membunuh Kakak" ujar Donna pelan.
Tatapan Peter pun menajam pada Donna yang berada di sampingnya,
"Mengapa kau tidak percaya??? Jelas-jelas dia membawa senjata dan tiba-tiba muncul ke rumah kakakmu!!! Untuk apalagi selain membalaskan sakit hatinya?? Aku tidak melaporkannya karena aku tidak ingin membuat nama keluarga Wijaya buruk di mata orang-orang" ujar Peter emosi.
Donna pun menghela nafasnya mendengar ucapan ayahnya itu,
"Tetapi saat itu Frans juga membawa senjata. Ayah juga tau bahwa hubungan kakak dan Frans tidaklah baik" ujar Donna.
Peter pun terdiam sesaat dan menggelengkan kepalanya kuat,
"Jadi kau berpikir Frans yang telah membunuh Diana??? Itu hal yang tidak mungkin!! Semua kejadian mengerikan itu pasti bermula dari pria brengsek itu!!" marah Peter.
"Arrghhh" rintih Peter tiba-tiba saat kepalanya kembali terasa sakit.
Dengan panik Donna pun berdiri dan menyandarkan tubuh Peter di tempat tidur,
"Sudah cukup ayah... Jangan pikirkan apapun. Istirahatlah, aku akan mengambil obat yang di resepkan dokter tadi" ujar Donna dengan cepat mengambil obat yang berada di atas meja di dekat tempat tidur.
Donna pun membantu Peter untuk meminum obatnya. Setelah itu Peter pun terlihat lebih tenang dan mulai menutup matanya, mencoba untuk kembali tertidur.
"Istirahatlah ayah" ujar Donna lembut.
Donna menatap Peter yang mulai tertidur. Dia menghela nafasnya dengan berat. Sepertinya ayahnya masih belum bisa melupakan masa lalu. Sejak dulu Donna tidak pernah percaya bahwa William yang telah membunuh kakaknya Diana.
Dia tau bagaimana hubungan kedua orang itu, mereka adalah dua insan yang saling mencintai, namun harus dipaksa berpisah karena keegoisan Peter. Donna juga dulu sering melihat William secara diam-diam selalu datang ke makam Diana setiap hari, bahkan saat pemakamannya. Donna tau William datang setelah orang-orang beranjak pergi. Jadi, dia tidak percaya bahwa William lah yang telah membunuh Diana, orang yang sangat dia cintai...
Sepertinya Donna harus mencari tau kembali kebenarannya. Untung saja William masih hidup, dia harus bisa bertemu dengan pria itu dan menanyakan langsung padanya.
-
William melangkahkan kakinya ke meja makan dan duduk di salah satu kursi. Seorang pelayan menyiapkan beberapa makanan di atas meja. Hari ini William akan pergi ke kantor untuk bekerja seperti biasa.
"Bisakah kau panggilkan Anna di kamarnya, suruh dia untuk makan disini bersamaku sekarang" perintah William pada pelayan tadi.
Pelayan itu pun mengangguk dan mulai melangkah ke lantai atas menuju kamar Anna.
Tok... Tok...
Anna yang sedang membaca buku seketika mengarahkan pandangannya pada pintu yang terketuk.
"Masuk" ujar Anna singkat.
__ADS_1
Pelayan itu pun membuka pintu dan membungkukkan badannya pada Anna,
"Nona, Tuan menyuruh Nona untuk sarapan bersama di bawah sekarang" ujar pelayan itu.
Seketika Anna terdiam sesaat. Apakah dia tidak salah dengar?? pikir Anna bingung. Tumben sekali ayahnya menyuruhnya untuk sarapan bersama.
"Baiklah, aku akan ke bawah sebentar lagi" ujar Anna pelan.
Pelayan itu pun mengangguk dan kembali menutup pintu. Anna pun dengan ragu bergegas turun ke lantai bawah. Setelah di bawah Anna menatap William yang belum menyentuh makanannya dan terlihat sedang menunggunya.
Lalu tatapan mereka pun bertemu. Willian terdiam sesaat lalu kembali menatap pada Anna,
"Duduklah, ayo kita sarapan bersama" ujar William.
Anna pun perlahan melangkah ke meja makan dan duduk berhadapan dengan William. Mereka mulai memakan sarapan mereka dalam diam. Suasana terlihat sedikit canggung diantara ayah dan anak ini.
William pun berdehem pelan untuk mencairkan suasana,
"Apa kau sibuk hari ini??" tanya William tiba-tiba.
Anna terdiam sejenak, lalu menatap William sekilas,
"Tidak, aku selalu berdiam diri di rumah" jawab Anna singkat.
William kembali terdiam dan menatap Anna dengan ragu,
"Apakah kau mau ikut bersamaku ke kantor??" tanya William.
Anna seketika menatap William tidak percaya. Apakah ayahnya baru saja mengajaknya pergi ke kantor?? tanya Anna di dalam hatinya.
Anna merasa hatinya sedikit tersentuh atas ucapan William tadi. Baru kali ini ayahnya mau melibatkan dirinya dalam urusan pekerjaannya. Tidak dipungkiri ada rasa senang dalam hatinya.
Anna pun terlihat berpura-pura berpikir dan akhirnya mengangguk pelan.
"Baiklah" jawab Anna singkat.
William pun menghela nafasnya dan mengangguk pelan,
"Baiklah, kalau begitu habiskan sarapan mu" ujar William yang diam-diam merasakan kehangatan di dalam hatinya.
Jadi seperti ini rasanya berbincang dan sarapan bersama dengan putrinya. Rasanya beban di dalam pikirannya sedikit berkurang. William sedikit menyesal, kenapa tidak sejak dulu dia luangkan sedikit waktunya untuk sarapan bersama putrinya ini.
William pun bertekad di dalam hatinya, untuk memperbaiki hubungannya dengan Anna. Dia ingin putrinya itu bisa bersandar dan mencurahkan isi hatinya pada dirinya. Mungkin William sudah membuang cukup banyak waktu untuk kebersamaannya dengan Anna.
Tetapi sekarang perlahan dia akan memperbaiki segalanya dan mulai menjadi seorang ayah yang sesungguhnya untuk putrinya itu.
-
William dan Anna telah tiba di perusahaan. Anna menatap gedung yang cukup megah di depannya ini dengan kagum. Mereka pun mulai melangkah masuk ke dalam.
Perusahaan milik William ini masih terbilang baru dan pegawainya pun tidak begitu banyak. Tetapi setidaknya William sudah mulai berhasil merintis kembali perusahaannya yang sempat bangkrut.
"Bagaimana pendapatmu???" tanya William tiba-tiba saat mereka sudah memasuki lift.
Anna menatap William dan mengangguk pelan,
"Bagus" jawab Anna singkat.
__ADS_1
Pintu lift pun terbuka dan mereka melangkah menuju ruangan William yang berada di lantai atas.
"Duduklah" ujar William pada Anna saat mereka sudah masuk ke dalam ruangan.
Anna pun duduk dan mulai mengamati setiap sudut ruang kerja ayahnya. Desainnya sangat simple dan elegan. Anna kembali mengarahkan pandangannya ke arah meja kerja William. Seketika matanya terbelalak melihat foto dirinya saat masih kecil berada disana.
Anna menatap foto itu cukup lama lalu menatap punggung ayahnya yang sedang sibuk membereskan beberapa barang di sudut ruangan.
Walaupun ayahnya selalu bersikap dingin dan terkesan acuh padanya tetapi perkataan ibunya benar.. di dalam hati ayahnya Anna tau dia begitu menyayangi dirinya, hanya saja ayahnya tidak tau bagaimana cara menunjukkannya.
Anna pun bangkit dari duduknya dan menghampiri William,
"Ada yang bisa ku bantu" ujar Anna pelan.
William pun menatap Anna sejenak lalu tersenyum tipis padanya,
"Bantu aku membereskan buku-buku ini di rak" ujar William.
Anna pun mengangguk dan mulai membantu membereskan buku-buku itu. Mereka mulai terlihat sedikit dekat walaupun ada kecanggungan disana. William menatap putrinya sekilas lalu tersenyum di dalam hatinya.
Sepertinya ada sedikit kemajuan dalam hubungan mereka, William berharap kedepannya hubungan mereka akan semakin membaik.
-
Setelah beres-beres di ruangan kerjanya. William mengajak Anna untuk berkeliling di perusahaannya. Dia ingin Anna melihat setiap sudut perusahaan yang di bangunnya ini.
Saat mereka melewati beberapa ruangan, terdengar suara keributan dari beberapa pegawai yang sedang bekerja.
"Wahhh tampan sekali!!!"
"Siapa dia???"
"Tampannya!!!!!!!!"
"Apakah dia aktor???"
"Akhhhh sungguh pria yang tampan"
Terdengar suara teriakan beberapa pegawai wanita. Anna dan William saling bertatapan lalu menghampiri para pegawai itu.
"Ada apa ini????" ujar William marah.
Seketika pandangan William pun mengarah pada seorang pria yang berjalan menghampiri mereka.
"Kau???" ujar William kesal.
Anna yang terkejut pun membelalakkan matanya saat melihat siapa orang yang telah membuat para karyawan wanita disana histeris,
"A.... Alex????"
Bersambung...
Halo, support selalu cerita ini ya jangan lupa kasih like dan komen yang banyak 🤗
Hadir dengan cover yang baru... semoga makin banyak pembaca dan makin suka sama cerita ini ☺️
Terimakasih 🙏❤️😘
__ADS_1