Gadis Penakluk Pria Dingin

Gadis Penakluk Pria Dingin
Stay


__ADS_3

Donna perlahan berjalan mendekati Alex dan berdiri di depannya dengan bibir yang bergetar menahan tangis,


"Mungkin kau tidak mengenaliku.. Aku adalah adik dari ibumu.. Aku adalah bibi mu Alex..." ujarnya sambil meneteskan air mata.


Alex mengerjapkan matanya dan mencoba menilik wajah wanita di depannya itu. Wajah wanita ini sekilas mirip sekali dengan ibunya.


Seketika ada kehangatan di hati Alex saat memandangi wajah Donna. Dia merasakan ibunya berada di hadapannya saat ini dan menatapnya dengan lembut...


"Alex.. Jangan terlalu di ambil hati atas sikap kakekmu. Dia hanya menginginkanmu untuk kembali tinggal di rumah ini" ujar Donna pelan.


Alex menatap Donna dan mendengus pelan,


"Aku tidak akan pernah mau kembali tinggal di rumah ini!! Bukankah dulu dia yang telah mengusirku dari sini??? Sekarang dengan tidak tau malunya dia menginginkan aku untuk kembali??? Aku tidak sudi!!!!" geram Alex.


Donna menghela nafasnya pelan dan mencoba untuk menenangkan Alex,


"Alex.... Bukan seperti itu....." ujar Donna.


Alex tidak mengidahkan ucapan Donna dan memotong ucapan wanita itu,


"Apa kau tau bagaimana rasanya menjadi seorang anak yang masih berusia 12 tahun dan tiba-tiba di usir dari rumahnya tanpa alasan yang jelas??? Apa kau bisa bayangkan bagaimana takutnya dia menghadapi itu semua???? Dan bagaimana dia menjalani hidupnya selama ini????" ujar Alex tajam.


"Kau tidak akan pernah mengerti!!!" lanjutnya sinis.


Donna meneteskan air matanya dan mengangguk pelan,


"Kau benar.... Aku tidak akan pernah mengerti. Tapi, Alex kau tidak tau apa yang sebenarnya terjadi saat itu, sampai kakekmu harus mengeluarkanmu dari rumah ini" ujar Donna bergetar.


Alex membalikkan badannya dan menjauh dari Donna,


"Aku tidak peduli alasan apapun itu!!!! Tidak seharusnya kalian mengusir seorang anak yang baru saja kehilangan kedua orang tuanya seperti itu!!!!" ujar Alex tajam.


Donna hanya menunduk dan pasrah mendengar ucapan Alex. Ucapan pria itu memang benar, tidak seharusnya dulu Alex yang menjadi korban keegoisan Peter.


Hanya demi membersihkan nama keluarga Wijaya dari gosip miring karena kematian Diana dan Frans. Alex harus diasingkan seorang diri...


Donna pun menghapus air matanya dan menatap punggung Alex,


"Kau benar Alex... Maafkan aku yang saat itu tidak berada di sampingmu. Setelah menikah aku pindah ke Inggris, seharusnya saat itu aku segera kembali dan membawamu bersamaku. Tetapi aku tidak melakukannya.... Sekarang aku hanya bisa menyesali semua itu... Maafkan aku..." ujar Donna sedih.


Alex tidak bergeming dan hanya diam menanggapi ucapan Donna,


"Sudah cukup!! Aku tidak butuh penjelasan apapun darimu!! Yang aku inginkan hanya bisa segera keluar dari rumah ini!!! Aku tidak ingin terlibat kembali dengan keluarga ini!!!!" ujar Alex sambil membalikkan badannya ke arah Donna dan hendak melangkah ke arah pintu.


Donna menghapus air matanya dengan cepat dan menahan Alex di depan pintu,


"Tunggu Alex!!! Bisakah kau tinggal disini selama beberapa hari ke depan??? Kumohon.... Setelah itu aku akan membujuk kakekmu agar membiarkanmu pergi dari sini" bujuk Donna memohon.


Alex menatap Donna dengan tajam dan menghiraukan perkataannya. Pria itu mencoba kembali melangkah melewati Donna, namun Donna tidak menyerah dan kembali mencoba menghentikan langkah Alex.


"Alex.... Kumohon.... Hanya beberapa hari saja sampai kakekmu membaik" bujuk Donna sambil menahan tangan Alex.

__ADS_1


Alex tidak menghiraukannya dan menghempaskan tangan Donna di tangannya dengan kasar. Dia melangkah dengan cepat dan hendak menuruni tangga.


Donna berpikir keras, cara apa yang harus dia lakukan agar pria itu mau tinggal di rumah ini. Donna pun dengan cepat membalikkan tubuhnya menghadap Alex setelah mendapatkan sebuah ide.


"Kau boleh membawa gadis itu kemari jika kau mau!!!" ujar Donna tiba-tiba yang membuat langkah Alex terhenti seketika.


Alex membalikkan badannya dan menatap Donna dengan mata tajamnya.


"Aku tau, kau berhubungan dengan seorang gadis yang tinggal bersama denganmu saat ini. Dan aku juga tau bahwa gadis itu adalah anak dari William Pratama, mantan kekasih ibumu" ujar Donna.


Alex menggertakan giginya kuat dan memandang sinis pada Donna,


"Ternyata kalian semua adalah penguntit yang handal!!!" sindir Alex tajam.


Donna menghela nafasnya dan menatap Alex dengan serius,


"Alex, apakah kau tau apa yang di lakukan William pada kedua orang tuamu???" tanya Donna tiba-tiba.


Alex mengepalkan tangannya kuat mendengar pertanyaan Donna,


"Aku tau atau tidak, itu tidak ada urusannya denganmu!!!" geram Alex.


Donna terdiam sejenak dan menatap Alex dengan serius,


"Aku percaya William tidak mungkin membunuh ibumu.. Aku cukup yakin akan hal itu, karena William sangat mencintai ibumu. Bahkan saat ibumu melahirkan dirimu, dialah yang menemaninya di rumah sakit tanpa sepengetahuan Frans. Saat itu Frans sedang berada di luar kota. William selalu mendatangi ibumu tanpa sepengetahuan siapapun kecuali aku..." ujar Donna.


Alex terlihat semakin mengepalkan tangannya menahan amarah di dalam dirinya. Donna yang sadar pun menghela nafasnya dan menatap Alex dengan lembut,


Alex memicingkan matanya dan menatap Donna dengan tatapan curiganya. Untuk apa wanita ini ingin bertemu dengan Anna, pikir Alex.


"Bukankah aku juga boleh melihat calon menantu dari mendiang kakakku???" tanya Donna dengan senyumnya.


Alex hanya terdiam dan menatap Donna dengan datar,


"Kau tidak perlu khawatir, aku akan menjemputnya sendiri dan membawanya ke rumah ini bersamaku" lanjut Donna.


"Jadi.... Kumohon, kau tinggallah disini" ujar Donna memohon.


Alex terlihat berpikir sejenak dan menatap Donna yang terlihat sangat berharap padanya. Melihat wanita itu membuat Alex membayangkan wajah ibunya yang sedang memohon padanya.


Dengan pasrah, akhirnya Alex pun mengangguk pelan pada Donna,


"Baiklah, hanya beberapa hari saja. Setelah itu aku akan pergi dari sini" ujar Alex tajam.


Donna pun tidak bisa menutupi raut bahagianya. Dia tersenyum senang dengan mata yang berbinar. Donna pun mengangguk dan melangkah mendekati Alex,


"Baiklah, aku berjanji" ujar Donna.


Alex pun menatap datar pada wanita itu dan melangkah kembali ke kamar tadi. Namun Alex berhenti sejenak dan menatap Donna dari samping tubuhnya.


"Bawa gadis itu secepatnya padaku!!" ujar Alex lalu berlalu pergi.

__ADS_1


Donna pun tersenyum dan mengangguk cepat,


"Tenang saja, aku akan segera membawa calon menantuku" gumam Donna senang.


Setelah itu Alex pun masuk ke dalam kamar. Donna kembali terdiam dan menghela nafasnya.


Semoga saja setelah ini hubungan keluarga ini semakin membaik dan Peter pun akan mulai berubah dan menerima kenyataan, harap Donna dalam hatinya.


-


"Nona....."


"Nona...."


Anna mengerjapkan matanya perlahan saat seseorang menyentuh bahunya pelan dan mencoba untuk membangunkannya.


"Nona..." ujar Bibi Van lembut.


Anna pun membuka matanya dan mengusapnya pelan. Pandangannya pun mulai terlihat jelas dan Anna pun bergegas duduk dari tidurnya,


"Bibi... Ada apa????" tanya Anna setengah sadar.


Bibi Van menghela nafasnya dan menatap Anna dengan lembut,


"Nona, sepertinya semalaman Nona tertidur di sofa ini... Aku membangunkan Nona agar Nona segera pindah ke dalam kamar... Disini sangat dingin" ujar Bibi Van.


Anna pun perlahan mulai sadar dan mengarahkan pandangannya ke segala arah,


"Bibi, sudah jam berapa ini??? Apa Alex sudah pulang???" tanya Anna sedikit panik.


Bibi Van terdiam sesaat dan menatap Anna dengan lembut,


"Sekarang sudah jam 4 pagi Nona... Dan, sepertinya Tuan Alex belum juga pulang ke rumah" ujar Bibi Van pelan.


Anna pun terdiam dan menunduk lesu. Jadi, semalam Alex tidak pulang ke rumah?? pikir Anna sedih. Anna pun dengan cepat bangkit dari duduknya dan menghampiri telpon yang ada di atas meja. Dia membuka laci dan mencari nomor telpon Alex disana.


Anna menekan tombol dan mencoba menghubungi Alex Namun tidak kunjung ada jawaban dari pria itu. Anna tidak menyerah dan mencoba mencari nomor telepon Harry yang berada di buku telpon. Namun panggilan itu juga tidak kunjung mendapat jawaban.


Anna pun menyerah dan terduduk lesu. Pikirannya sudah tidak menentu dan cemas. Apakah dia harus menyusul Alex ke kantornya?? pikir Anna bimbang.


Bersambung....


Dukung terus cerita ini ya, jangan lupa kasih like dan komen yang banyak ☺️


Thank you 🙏❤️❤️❤️


Otak lagi buntu nih 🥴


Mikir dari pagi masih mempet aja sampe sekarang..


Tapi setidaknya bisa up hari ini, semoga besok otaknya mulai lancar ya...

__ADS_1


Sepertinya butuh healing nih, cari inspirasi 😅


__ADS_2