
William sedang duduk tenang di kursi sofa ruang tamu sambil membaca buku di tangannya. Pandangannya terlihat fokus dan konsentrasi dengan bacaannya. Namun seketika pandangannya mengarah pada Daniel yang baru saja turun dari atas tangga.
William menutup bukunya dan menatap Daniel yang melangkah kearahnya dengan pandangan yang tertunduk lesu,
"Apa dia baik-baik saja??" tanya William pada Daniel.
Daniel pun menatap William dan duduk di hadapan pria itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Dia terlihat sangat terpukul" ujar Daniel sedih.
Pria itu menyentuh keningnya dan memijitnya dengan pelan.
"Aku tidak tega melihatnya seperti itu Paman" lanjutnya.
William pun terdiam dan membuka kaca mata bacanya.
"Sudahlah, mungkin ini yang terbaik untuknya. Setelah melewati beberapa hari ke depan mungkin kesedihannya akan berangsur menghilang" ujar William menghibur.
Daniel pun membuang nafasnya lalu meletakkan kembali lencana emas yang di berikan William tadi. Sebelumnya William telah menyuruh Daniel untuk menunjukkan lencana itu pada Anna agar meyakinkan gadis itu bahwa memang benar Alex yang telah tewas dalam kecelakaan kemarin malam.
"Paman.... Bolehkah aku bertanya???" tanya Daniel ragu sambil menatap lencana itu.
William menatap arah pandang Daniel yang mengarah pada lencana di depannya. Dia sudah bisa menebak apa yang akan di tanyakan oleh pria itu.
"Lencana ini.... Bukankah ini benar lencana milik keluarga Wijaya?? Mengapa... Paman memiliki lencana ini???" tanyanya penasaran.
William menghela nafasnya sejenak dan mengambil lencana itu,
"Ini memang lencana milik keluarga Wijaya.. Bagaimana aku bisa memilikinya, kurasa kau tidak perlu tau" ujar William datar.
Daniel pun terdiam dan kembali menatap William. Rasa penasarannya tidak bisa dia bendung lagi,
"Apakah... Karena lencana ini, pria bernama Alex itu menculik Anna waktu itu dan mencari keberadaan Paman???" tanyanya lagi.
William pun memasukan lencana itu ke dalam saku mantel tidurnya.
"Anggap saja begitu" ujar William singkat.
Daniel kembali menghela nafasnya dan menyerah. William sepertinya tidak ingin dia ikut campur dengan urusannya. Daniel pun memilih diam dan tidak bertanya lagi.
"O ya Paman, tentang pertunangan ku dengan Anna... Kurasa kita harus memundurkan jadwalnya. Kita harus membiarkan Anna menenangkan dirinya terlebih dahulu. " ujar Daniel.
William terdiam sejenak dan mengangguk setuju,
"Iya, kau benar. Kita undur beberapa hari lagi" ujar William.
"Bagaimana dengan orang tuamu?? Kapan mereka akan tiba di Jepang??" tanya William.
"Mereka akan tiba besok lusa" jawab Daniel.
__ADS_1
William pun mengangguk menatap Daniel,
"Baguslah.." ujarnya.
Daniel menatap jam di tangannya, hari sudah menunjukkan pukul 9.30 malam. Sepertinya dia harus segera pulang sekarang dan membiarkan Paman William beristirahat.
"Baiklah Paman, sudah larut malam. Sebaiknya aku pulang sekarang" ujar Daniel bangkit dari duduknya.
William juga bangkit dari duduknya dan mengangguk pada Daniel,
"Iya, istirahatlah. Mungkin besok kau bisa kembali membujuk dan menghibur Anna agar tidak terus bersedih" ujar William.
"Baik Paman" jawab Daniel.
Mereka pun melangkah ke arah pintu dan Daniel pun berpamitan untuk pulang. Setelah Daniel benar-benar pergi, William kembali masuk dan menatap lencana di tangannya.
Sekarang putra Diana dan Frans itu telah tiada, lalu apa yang harus dia lakukan pada lencana ini?? Apakah dia harus mengembalikannya pada keluarga Wijaya?? pikirnya.
Tidak!!! Dia tidak ingin terlibat kembali dengan keluarga itu. Hatinya sampai sekarang masih terasa sakit karena perlakuan ayah Diana yang selalu meremehkan dan merendahkannya dulu. Sampai dia tega memisahkan hubungan mereka dan menikahkan Diana dengan pria lain. Mungkin untuk sementara dia akan kembali menyimpan lencana ini, pikirnya.
Lalu William pun kembali melangkah menuju kamarnya. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti karena kakinya menendang sesuatu yang berada di bawah lantai.
William menatap sebuah buku yang berada di bawah sana lalu mengambilnya. Matanya memicing tajam dan kembali menatap buku itu yang ternyata adalah buku diary milik mendiang istrinya, Merry.
Siapa yang telah mengambil buku ini?? pikirnya curiga.
-
Sebelumnya dia telah menghubungi William untuk meminta izin menemui Anna. Kebetulan hari ini William sedang ada urusan bisnis dan tidak ada di rumah.
Daniel pun langsung masuk ke dalam rumah, dan di sambut oleh seorang pelayan yang membukakan pintu untuknya.
"Bagaimana keadaan Nona??" tanya Daniel pada pelayan itu.
Pelayan itu pun membungkuk pada Daniel,
"Nona sejak kemarin belum keluar dari kamarnya. Dan Nona belum memakan apapun sejak kemarin. Saya sudah mencoba mengetuk pintunya, namun Nona tidak kunjung membuka pintu" ujar pelayan itu khawatir.
Daniel pun menghela nafasnya dan mengangguk mengerti. Gadis itu pasti benar-benar sangat terpukul, pikirnya prihatin.
"Baiklah, aku akan mencoba membujuknya" ujar Daniel.
Lalu dia pun melangkah ke arah tangga menuju kamar Anna. Daniel menatap pintu kamar Anna yang tertutup rapat dan menarik nafasnya dalam. Semoga saja dia bisa berhasil membujuk Anna agar keluar dari kamarnya.
Tok.. Tok..
"Anna... Apa kau sudah bangun??? Ini aku Daniel" ujar Daniel lembut.
Tidak terdengar suara apapun dari dalam dan pintu pun tidak terbuka. Daniel mencoba kembali mengetuk pintu sedikit lebih keras.
__ADS_1
Tok... Tok...
"Anna.. Kumohon buka pintunya.. Aku membawakan makanan kesukaanmu. Ayo kita sarapan bersama" bujuk Daniel.
Namun nihil, kembali tidak ada respon dan tidak terdengar suara apapun dari dalam. Seketika kecemasan muncul dalam hati Daniel. Dia takut Anna berbuat sesuatu yang nekat dan berbahaya. Atau gadis itu sedang pingsan di dalam sana.
Dengan cepat Daniel pun mencoba mendobrak pintu di depannya.
BRAK!!!
"Anna!!!! Apa kau baik-baik saja??? Apa kau bisa mendengar????" teriak Daniel cemas.
BRAK!!!
Kembali Daniel mendorong pintu itu dengan kuat dan..
BRUK!!!
Pintu pun terbuka..
Dengan cemas Daniel mengarahkan pandangannya ke arah tempat tidur. Namun sayang, Anna tidak berada disana. Lalu pria itu berjalan masuk menuju kamar mandi dan membuka pintunya. Namun nihil, Anna juga tidak berada di dalam kamar mandi.
Pandangan Daniel mengarah ke setiap sudut ruangan dengan cemas, mencoba untuk mencari keberadaan Anna. Namun sayang, dia tidak menemukan gadis itu dimana pun.
Seketika pandangannya mengarah kearah jendela yang terbuka. Mata Daniel terbelalak lebar memikirkan kemungkinan terburuk.
Tidak!!! Tidak mungkin Anna berani kabur dari rumah ini!!!! pikir Daniel.
Daniel pun berlari kearah jendela dan melihat sebuah tali yang terikat di pagar balkon yang menjuntai sampai ke bawah sana.
"Tidak!!!! Anna!!!" ujar Daniel panik.
Daniel pun dengan segera mengeluarkan handphone di dalam saku jas nya untuk menghubungi William.
Tut.... Tut....
(Nomor yang anda tuju sedang.....)
Daniel mematikan handphonenya dengan kasar karena William tidak menjawab panggilannya. Sial!!! Dia harus mencari Anna sekarang juga!!!
Daniel pun berlari turun ke lantai bawah dan mulai menyalakan mobilnya dengan cepat. Dia harus segera menemukan Anna.
Dia tidak menyangka bahwa Anna akan melakukan hal senekat ini. Dia takut Anna akan tersesat. Daniel tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Anna. Bagaimanapun juga dia harus segera menemukan gadis itu sampai ketemu.
'Anna..... Dimana kau?????' ujar Daniel cemas dalam hatinya.
Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya, kasih like dan komen yang banyak 🤗😁
__ADS_1
Terimakasih 😘🥰